
Atha mengendap-endap keluar dari kamarnya. Ia menoleh ke kanan-ke kiri mencari keberadaan Juna. Atha melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Masih pukul delapan malam, rasanya Juna pasti belum selesai mengerjakan tugas-tugasnya dari Kiara.
"Aku nelpon di mana nih?" guman Atha bingung.
Ia mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang nyaman untuk menelepon. Atha akan menelepon Ayesha. Ia akan membahas tentang tes DNA yang tadi ia minta. Atha tidak mau Juna mendengar hal itu karena Atha khawatir Juna tidak setuju dan bisa merusak rencananya.
"Ah, iya!" seru Atha ketika ia mendapatkan ide.
Atha segera mengirim pesan kepada Juna, memberi tahu jika ia akan membeli makanan di depan.
Pesan terkirim, tapi belum terbaca. Atha merasa bersyukur. Ia bahkan berdoa supaya Juna tidak segera membaca pesannya.
Buru-buru Atha mengambil jaket dan memakai sandai. Ia membuka pintu rumah dan menutupnya dengan perlahan. Secepat kilat, Atha berlari menuju pos ronda. Tempat biasanya abang-abang gerobak menjual makanan.
"Neng, malam-malam begini kok lari marathon? Mau ikut lomba?" tegur abang penjual nasi goreng yang sudah mengenal Atha.
Atha mengerem dengan kedua kakinya. Ia berhenti berlari dan menoleh kepada abang penjual nasi goreng sembari nyengir kuda.
"Bang!" panggil Atha.
"Opo toh cah ayu?."
"Nasi goreng dua, tapi jangan cepet-cepet bikinnya" kata Atha membuat penjuak nasi goreng itu merasa heran.
"Neng Atha sehat? Biasanya kalau pesen nasi goreng minta buru-buru dibikinin sekarang kok malah sebaliknya?" tanya si abang penjual nasi goreng.
"Eh? Itu...itu... Saya masih belum lapar. Jadi pesan saja dulu. Saya tunggu di pojokan sana ya, bang" Atha buru-buru ngacir sebelum ia diintrogasi lagi oleh si penjual nasi goreng.
Abang penjual nasi goreng hanya mengangkat bahu melihat tingkah aneh pembelinya. Ia sedikit heran dengan Atha yang memilih duduk di pojokan sedangkan di tempatnya banyak kursi kosong yang memang ia sediakan untuk pembeli.
Tak mau ambil pusing, si Abang penjual nasi goreng mulai menyiapkan pesanan Atha. Ia mengawali actionnya dengan menggeprek bawang putih dan bawang merah lalu mencincangnya sampai halus.
Sedangkan Atha, masih saja duduk di pojokan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia kbawatir kepergok Juna yang bisa saja tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tuttttt........
Nada tunggu terdengar dari ponsel Atha. Ia menghitung dari satu sampai lima berharap Ayesha segera menjawab. Baru sampai hitungan ke-empat, Yesha menjawab panggilan Atha. Atha tentu saja senang hingga dirinya tidak sadar jika baru saja ia berteriak kegirangan.
"Atha...! Kenapa kau berteriak? Ada kecoak kah?" tanya Yesha heran.
"Tidak! Tidak ada kecoak di sini. Aku hanya senang karena kau menjawab teleponku."
Ayesha mengerutkan dahinya. Meski Athalia tidak dapat melihatnya, Othor berbaik hati memberi tahu pembaca sekalian.
"Sesenang itukah kau menerima telepon dariku?."
"Sangat sangat senang. Karena aku akan membahas masalah tes DNA itu" ucap Atha bersemangat.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah hasilnya sudah keluar?" tanya Atha lagi.
"Atha, kau baru memberi sampel mereka tadi siang dan sekarang kau bertanya hasilnya? Bukankah kau sendiri seorang dokter? Kau pasti tahu kan berapa lama hasil tes DNA itu akan keluar?" ucap Yesha kesal.
"Aku tahu jika butuh waktu sehari sampai tiga hari . Tapi aku yakin kau bisa mengerjakannya selama beberapa jam" kata Atha.
"Kau gila...!!! Kau pikir aku tidak sibuk sampai rela begadang untuk menganalisa DNA kedua sampel itu? Atha, jadwal operasiku sangat padat. Lagipula aku juga tidak mau gegabah dalam bekerja. Bersabarlah! Tiga hari lagi aku akan memberi tahumu" ucap Yesha kemudian ia menutup sambungan telepon secara sepihak.
Atha menunduk lesu. Semangatnya yang sudah membara kini mulai meredup. Tiga hari katanya? Ah, waktu yang terasa lama bagi Atha. Atha pasti tidak akan bisa tidur nyenyak selama tiga hari ke depan.
Ia bangkit dari tempat duduknya, berjalan gontai menghampiri abang penjual nasi goreng yang sejak tadi menunggunya. Tanpa adanya percakapan antara keduanya, Atha lamgsung menyodorkan selembar uang lima puluh ribu dan langsung mengambil dua bungkus nasi goreng yang disodorkan oleh si penjual.
Atha langsung berlalu. Ia mengacuhkan panggilan si abang penjual nasi goreng yang hendak memberikan uang kembaliannya. Dengan tangan kanannya, Atha memberi kode agar si abang penjual nasi goreng mengambil uang kembaliannya. Ia melanjutkan perjalanan, pulang ke rumah Pamannya yang ia tempati sekarang.
Ceklek.!
Atha membuka pintu rumah dengan perlahan. Suasana sepi yang ia lihat menandakan jika Juna belum selesai dengan pekerjaannya. Atha mengambil ponselnya, mengecek apakah pesannya sudah dibaca oleh Juna atau tidak.
Ternyata Tuhan benar-benar mengabulkan doa Atha. Juna belum membaca pesan yang sudah dikirim oleh Atha.
Atha segera ke dapur. Ia membuka nasi goreng yang baru saja ia beli lalu dengan cekatan Atha meletakkannya di atas piring.
Karena melihat tidak ada tanda-tanda Juna akan keluar dari kamar, Atha memutuskan untuk menyusul Juna. Perutnya sudah lapar. Mau makan duluan tentu saja tidak enak.
Atha berjalan menuju kamar depan, tempat Juna bersemedi mengerjakan tugas-tugas dari Kiara. Ia mengetuk pintu dengan perlahan sembari memanggil nama Juna. Lima kali panggilan, tak ada jawaban dari Juna.
Ceklek.
Atha berjalan perlahan mendekati Juna. Ia membangunkan Juna secara hati-hati agar Juna tidak kaget.
"Mas...Mas Juna! Ayo, bangun! Kamu belum makan!" bisik Atha sembari menepuk-nepuk bahu Juna.
Juna menggeliat. Ia menguap berkali-kali. Kedua netranya yang memerah menandakan jika Juna masih mengantuk.
"Kamu ketiduran, Mas. Ayo, makan dulu! Nanti setelah makan kita pindah ke atas" ajak Atha yang segera diiyakan oleh Juna.
Juna bangkit dan melangkah keluar dari kamar itu. Atha mengekori Juna dari belakang. Mereka berjalan bersama menuju meja makan yang berada di dapur.
"Saya cuci muka dulu" ucap Juna yang langsung berjalan ke arah wastafel. Ia memutar keran ke kanan dan segera membasuh mukanya.
Segarrrr....!!! Perlahan rasa kantuknya sedikit berkurang. Juna segera mematikan keran lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk. Entah itu handuk siapa. Juna tidak peduli. Ia lalu bergabung dengan Atha yang sudah siap di meja makan.
"Kamu membeli nasi goreng?" tanya Juna.
Atha mengangguk.
"Beli di mana?" tanya Juna lagi.
__ADS_1
"Di depan pos ronda."
"Di depan pos ronda? Kenapa tidak beli online saja sayang? Nanti kalau kamu diculik bagaimana?" kata Juna cemas.
"Aku hanya beli ke pos ronda, Mas, bukan ke Portugal. Lagi pula di sana juga ramai."
"Ini yang terakhir. Lain kali kalau kamu mau beli makanan di luar tidak boleh sendiri" ucap ajuna tegas.
"Salah sendiri tidak baca pesanku. Andai aku tahu kalau Mas Juna sedang tidur, pastilah aku akan ikut tidur" gerutu Atha.
Juna langsung mencubit kedua pipi istrinya. Ia gemas karena Atha selalu saja membantah ucapannya. Atha yang merasa kesakitan langsung saja memukul tangan Juna.
"Sayang, pipi kamu kok tambah chubby" kata Juna.
"Masak sih, Mas?" Atha buru-buru mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi kamera dan mengarahkan lensa pada wajahnya. Kedua netranya membulat ketika melihat kedua pipinya yang memang semakin chubby.
"Wah, nggak bisa ini! Aku harus kempesin nih pipi" kata Atha.
"Eh, jangan! Pipi kamu lucu lho seperti itu. Saya suka pipi kamu sekarang, chubby seperti Lia."
Atha memicingkan kedua matanya. Di saat mereka sedang berduaan seperti ini, Juna malah menyebutkan nama perempuan lain. Emosinya langsung naik.
"Jadi kalau pipi aku chubby seperti ini kamu ingat Lia? Ingat mantan gebetan kamu itu? Aku nggak nyangka ternyata kamu masih belum bisa move on dari dia" (ngamuk deh si Atha).
"Eh? Kenapa marah?" tanya Juna kaget.
"Mana mungkin aku tidak marah Jun? Kamu menyebutkan nama perempuan lain di saat bersamaku. Kamu belum move on! Kamu masih mengharapkan mantan gebetan kamu itu" ucap Atha lagi masih dalam mode emosi.
"Tidak, sayang! Saya tidak mengharapkan Lia lagi. Dia sudah menikah, saya juga sudah menikah. Di hati saya hanya ada kamu. Tidak ada wanita lain" kata Juna bersungguh-sungguh.
"Bohong kamu, Mas! Kamu bohong! Pokoknya kamu tidur di kamar bawah. Aku tidak mau tidur denganmu" ucap Atha kemudian ia bangkit dan berlari menaiki anak tangga.
Juna menggaruk tengkuknya, Ia sedikit heran dengan tingkah istrinya. Kemarin bertemu Diandra, Atha tidak mengamuk. Mengapa sekarang ia marah hanya karena Juna menyebutkan nama Lia?
Ah, bingung! Wanita memang membingungkan. Juna melahap nasi goreng yang belum disentuhnya. Biarlah dia makan duluan. Toh, Atha juga tidak akan mau makan jika masih dalam mode merajuk.
Juna akan mencari cara untuk merayu istrinya. Setidaknya ia harus mengisi perutnya terlebih dahulu agar aliran darahnya menuju otak semakin lancar.
Ting!
Ponsel Juna berbunyi, pertanda ada sebuah pesan masuk. Juna meletakkan sendok yang ia pegang dan beralih mengambil ponselnya.
Juna mengusap layar ponselnya. Nampak nama Kiara muncul sebagai pengirim pesan. Juna buru-buru membuka pesan dari Kiara, khawatir jika ada hal penting yang ingin disampaikan Kiara.
[Nyonya Bos]
Mas Juna besok berangkat ke Spanyol. Pernikahan rekan bisnisku ternyata dimajukan.
__ADS_1