HEI JUN

HEI JUN
32


__ADS_3

Tiga hari setelah Juna mengantarkan paket milik Pak Edo, ia kembali harus mengantarkan paket ke lembaga kursus MAHESA. Lembagan kursus itu rupanya lagi-lagi membeli banyak buku secara online. Juna sangat bersyukur. Lagi-lagi dirinyalah yang diberi tugas untuk mengantarkan paket-paket itu. Juna sangat semangat karena ia berharap bisa bertemu dengan Kiara di sana.


Tepat pukul delapan pagi Juna mulai bertugas. Ia sengaja mengantarkan paket untuk lembaga MAHESA paling awal dengan harapan bisa bertemu dengan Kiara lebih cepat. Namun anehnya Juna merasa ada yang tidak wajar saat melintasi jalan menuju gedung MAHESA.


Juna melihat banyak sekali orang memakai jas hitam dan kaca mata hitam. Mereka layaknya sekumpulan intel yang sedang berjaga. Pemandangan tidak lazim lainnya, ia melihat banyak sekali selebaran yang ditempel di tiang listrik, dinding dan papan pengumuman lainnya.


Ada apa ya? Jiwa keingintahuan Juna muncul. Ia yang semula ingin mengantarkan paket sepertinya harus menunda dulu. Rasa keingintahuan Juna lebih besar daripada rasa ingin bertemu dengan Kiara. Maklum, Juna belum berfikir untuk membuka hati lagi. Ia tertarik melihat Kiara karena gadis itu bertingkah sangat lucu, seperti murid-muridnya di SMA Cendekia.


Juna menepikan motornya. Di depannya banyak sekali orang yang berkumpul sembari membaca selebaran yang mungkin diberikan oleh seseorang. Juna mendekati salah satu dari mereka. Ia harus bertanya agar tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini.


"Permisi, Bu. Ini ada apa ya? Kok ramai-ramai berkumpul di pinggir jalan?" tanya Juna sopan.


Ibu itu menoleh ke arah Juna.


"Mas orang baru ya? Atau bukan orang sini?" tanya ibu-ibu itu.


"Iya, Bu. Saya bukan orang sini sekaligus orang baru" jawab Juna.


"Oh pantas saja!."


"Ngomong-ngomong ini ada apa, Bu? Orang meninggal? Kecelakaan? atau bagaimana?" tanya Juna penasaran.


"Oh ini lho, Mas. Anaknya Pak Edo hilang. Sudah tiga hari belum pulang. Orang-orang Pak Edo lagi nyebar fotonya siapa tahu ada yang melihat anak itu" sahut si Ibu.


Deg...


Anak Pak Edo? Apakah...?


"Maaf, Bu. Apakah Pak Edo yang ibu maksud adalah pemilik MAHESA?" tanya Juna.


Ibu itu langsung mengangguk. Jawaban Ibu tadi membuat Juna cemas.


"Anaknya perempuan, Bu?" tanya Juna lagi.


"Benar, Mas. Sebenarnya bukan anak kandung Pak Edo, anak sambung lebih tepatnya. Kemarin sih bilangnya mau pulang. Tapi saat Pak Edo pulang ke rumah, anak itu tidak ada di rumahnya" kata Ibu itu sambil menyodorkan selebaran yang sejak tadi dipegangnya.


"Ini, Mas, anak Pak Edo yang hilang. Coba Mas lihat siapa tahu pernah ketemu anak itu."


Juna menerima selebaran itu dengan was - was. Ia melihat wajah yang terpampang di selebaran itu. Fix! tepat seperti dugaan Juna. Anak Pak Edo yang hilang adalah Kiara. Juna membaca dengan seksama isi dari selebaran itu.

__ADS_1


Berdasarkan selebaran yang Juna baca, Kiara belum pulang sejak tiga hari yang lalu. Juna mengernyitkan dahi. Tiga hari yang lalu? Bukankah itu adalah hari dimana Juna melihatnya untuk pertama kali? Seingat Juna saat itu Kiara keluar dari ruangan Pak Edo kemudian berjalan ke arah timur. Juna kembali melihat Kiara di sawah.


Juna diam seraya berfikir. Apa mungkin Kiara terus berjalan ke arah timur dan tidak pulang? Atau mungkin Kiara tersesat, lupa jalan pulang sehingga ia terus berada di tempat itu? Jika dugaan Juna benar maka Kiara pasti masih berada di sekitar sana.


Juna bergegas kembali mengambil motornya. Niat hati langsung tancap gas ke lokasi sawah kemarin. Namun, apa daya tumpukan paket-paket yang belum diantar itu membuat Juna langsung membatu.


"Sial...!" Juna memaki dalam hati.


Juna harus mengantarkan paket-paket ini terlebih dahulu sebelum mencari Kiara ke sawah. Juna tidak ingin membuang-buang waktu. Ia langsung tancap gas menyusuri jalanan kampung inggris dengan cepat.


Mungkin saja hari ini dewi fortuna sedang berpihak kepada Juna. Alamat paket yang terakhir melewati daerah sawah yang memang ingin dituju oleh Juna. Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Juna berharap ia bisa menemukan Kiara di sana.


Juna terus melajukan motornya hingga tiba ke lokasi sawah kemarin. Ia menyusuri jalan setapak di sekitar sawah dengan pelan. Sesekali Juna menoleh ke kiri dan ke kanan berharap bisa menemukan Kiara.


Bisa jadi Kiara sedang bermain-main bulir padi di sini seperti kemarin. Mungkin saja Kiara tidak sengaja ikut pulang bersama petani, pemilik sawah ini karena terlalu senang bermain di sawah.


Tiga puluh menit Juna menyusuri lahan sawah itu dan hasilnya nihil. Tidak ada Kiara di sana. Juna menarik nafas panjang. Ia memilih melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan paket yang terakhir.


Lelah mengantarkan paket, Juna berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minuman. Keadaan minimarket yang ramai membuat Juna harus memarkirkan motornya di sisi pinggir.


Juna bergegas masuk mengambil sekaleng minuman dingin dan membayarnya. Ia sengaja tidak langsung pergi tetapi duduk dahulu sembari menikmati minuman yang ia beli. Toh semua paket sudah selesai Juna antarkan sehingga Juna bisa beristirahat sejenak.


Juna meneguk minuman yang ia beli dengan perlahan dan...


Juna langsung berdiri dengan reflek. Ia mengucek kedua matanya untuk memastikan jika ia tidak salah lihat. Gadis itu? Kiara kah?


Juna melihat Kiara sedang tidur di mobil. Ia segera berlari mendekati mobil itu. Namun, sialnya mobil itu malah bergerak meninggalkan area minimarket sehingga membuat jarak Juna semakin jauh.


Juna segera mengambil ponsel dan....


Cekrek...


Juna berhasil mengambil foto mobil itu dari belakang. Ia segera berlari menuju motornya, mengambil selebaran yang tadi diberikan oleh ibi-ibu itu. Juna akan menghubungi nomor ponsel yang tertera pada selebaran itu.


Tik...tik...tik...


Tangan Juna gemetar. Untuk menekan nomor handphone Pak Edo saja, Juna harus melakukannya berkali - kali. Benar - benar mengulur waktu. Kalau terus begini, Kiara bisa-bisa semakin jauh dibawa kabur.


Juna menarik nafas dalam berkali-kali. Ia harus tenang. Jika Juna terus-menerus dalam keadaan panik, ia tidak akan bisa menghubungi keluarga Kiara.

__ADS_1


"Halo...." telepon terhubung. Terdengar suara berat bernada putus asa dari seberang.


"Ha.... ha... lo, Pak" jawab Juna gugup.


"Ini dengan siapa? Nomor Anda tidak terdaftar di ponsel saya."


"Sa... sa... saya Juna, Pak Edo. Sa.. sa...saya cuma mau memberi tahu jika saya baru saja melihat anak Pak Edo" kata Juna dan sialnya kenapa ia malah gugup seperti itu.


"Sungguh??? Anda tidak berbohong??? Dimana Anda melihat Kiara??? Tolong katakan, Pak!" teriak Pak Edo.


"Saya melihat anak bapak dibawa mobil berwarna putih ke arah gumul, Pak."


"Gumul? Alun-alun?" tanya Pak Edo memastikan.


"Iya, Pak."


"Pak, saya bisa minta tolong. Tolong ikuti mobil itu....."


"Mohon maaf, Pak. Karena saya gugup, saya sepertinya kehilangan jejak. Bukannya mengikuti mobil itu, saya malah diam mematung di depan minimarket" kata Juna menyesal.


Juna bisa mendengar helaan nafas panjang Pak Edo. Pasti Pak Edo kembali putus asa atas diamnya Juna. Namun, tiba-tiba Juna ingat jika tadi ia berhasil mengambil foto mobil itu dari belakang.


"Pak Edo, Maaf. Saya mau memberi tahu kalau saya tadi berhasil memotret mobil yang membawa anak bapak dari belakang. Saya tadi melihat anak bapak sedang tidur di mobil dan ada seorang laki-laki yang menyetir mobil itu."


"Pak... Pak... tolong segera kirim fotonya! Saya mohon, Pak. Tolong juga kirim lokasi Bapak sekarang. Saya akan segera mengirim orang ke sana" kata Pak Edo dengan nada suara yang bergetar.


"Baik, Pak. Saya kirim sekarang."


Juna memutus sambungan telepon dan mengirim foto yang diminta Pak Edo. Syukurlah plat nomor mobil itu terlihat jelas. Juna yakin Pak Edo bisa melacak keberadaan mobil itu dengan cepat. Tak lupa Juna mengirimkan lokasi keberadaannya sekarang, lebih tepatnya foto minimarket yang ia singgahi saat ini.


"Halo, Pak" Pak Edo kembali menghubungi Juna.


"Halo, Pak Edo."


"Terima kasih atas informasinya, Pak."


"Sama-sama, Pak. Maaf saya hanya bisa membantu seperti ini. Andai saya tidak gugup, pasti saya kejar mobil itu sampai dapat" kata Juna penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Pak. Informasi dari Bapak sudah sangat membantu sekali. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih" kata Pak Edo tulus.

__ADS_1


"Sama - sama, Pak."


Juna memutuskan sambungan telepon. Ia segera menaiki motornya, menghidupkan mesin dan melajukan untuk kembali ke tempat kerjanya. Selama di perjalanan, Juna tidak berhenti berdoa semoga Kiara segera ditemukan dan bisa kembali bersama keluarganya.


__ADS_2