
Tepat pukul tujuh malam nanti, Lily akan mengajak Juna untuk makan malam bersama Papanya di restauran miliknya. Lily sudah menghubungi Papanya jika malam ini ada agenda penting yang harus dihadiri beliau, yaitu perkenalan dengan pujaan hati Lily.
Sejak pagi Lily sudah mewanti-wanti sekretaris Papanya untuk mengingatkan acara ini. Lily tidak peduli mau sesibuk apapun jadwal Papanya, malam ini beliau harus datang untuk makan malam bersama Lily dan Juna.
Lily ingin memproklamirkan Juna sesegera mungkin. Ia tidak mau kalah cepat. Insting wanitanya mengatakan jika Juna akan menjadi incaran gadis-gadis di luar sana. Lily tidak mau itu terjadi. Oleh sebab itu secepat mungkin Lily akan meminta Papanya untuk meresmikan hubungan mereka. Kalau perlu menikah esok haripun tak apa.
Saat ini Lily sedang menunggu Juna yang di make over di salon langganannya. Sudah tiga jam Juna melakukan perawatan intens dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lily memang tidak setengah-setengah dalam hal itu. Kesempurnaan adalah motto yang ia terapkan untuk seorang Juna. Lily tidak mau kesan buruk yang ditangkap Papanya saat melihat Juna untuk pertama kali. Bagaimanapun Papanya pasti menginginkan calon menantu yang tampan dan rupawan, yang sepadan dengan putri semata wayangnya.
"Sudah selesai, Nona" kata pegawai salon dan di belakangnya muncul Juna dengan jubah mandinya.
Sudut bibir Lily tertarik ke atas. Ia mengamati wajah Juna dengan seksama. Puas, itulah kata yang menggambarkan perasaan Lily saat ini. Wajah Juna yang lusuh dan kusam, kini berubah menjadi kinclong dan bersih. Tidak ada noda, tidak ada jerawat.
Lily tidak tahu saja bagaimana sulitnya orang-orang salon itu membersihkan wajah Juna yang penuh dengan noda. Mereka harus melakukan pembersihan secara detail dengan berbagai macam alat canggih. Komedo, jerawat dan flek hitam hilang dengan berkali-kali libas dan berkali-kali baluran masker.
"Ketampananmu meningkat 5%, honey. Sepertinya minggu depan aku akan membawamu kesini lagi agar kau semakin tampan" kata Lily.
Juna tersenyum kecut.
"Rambutmu agak panjang. Sepertinya kau akan semakin tampan jika rambutmu dipotong" lanjut Lily. Ia kemudian meminta pegawai salon untuk memotong rambut Juna.
Juna hanya pasrah. Ia menuruti saja kemauan Lily. Toh, selama itu baik untuk Juna tak apalah jika dituruti.
"Sepertinya aku harus pergi dulu. Ada masalah di resto. Nanti aku akan menjemputmu dan juga akan ada orang yang mengantar pakaianmu."
"Pakaian?" tanya Juna.
"Ya, kau harus berganti baju, honey. Mereka akan membantumu. Kau tenang saja. Ok?."
Cup.
Lily langsung mendaratkan kecupannya di bibir Juna.
"Lily...!!!" tegur Juna. Ia merasa malu karena Lily menciumnya di tempat umum. Banyak mata yang melihat adegan itu. Bahkan pegawai salon yang akan memotong rambutnya masih berdiri di samping Juna.
"Kenapa? Kurang?."
Cup
Cup
Cup
Lily semakin bringas mencium Juna. Ia bahkan menggigit bibir Juna dengan keras.
"Lily..!!!" Juna mendorong tubuh Lily. Untung saja Lily sempat berpegangan pada kursi yang diduduki Juna sehingga ia tidak terjatuh ke lantai.
"Apa kau tidak malu melakukan itu di hadapan banyak orang?" tanya Juna kesal.
"Malu? Hei, Jun! Kita hanya berciuman di hadapan mereka. Itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Bahkan kalau kau mau kita bisa melakukan adegan romantis yang lebih hot di sini" kata Lily sembari mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Juna.
"Terserah kau" ucap Juna pasrah. Ia malas berdebat dengan Lily.
Lily kembali mengecup singkat bibir Juna dan langsung berlari sebelum Juna memarahinya lagi.
Juna menarik nafas panjang. Ia meminta pegawai salon untuk melakukan tugasnya agar cepat selesai. Jujur saja Juna risih dengan dirinya yang hanya memakai bathrobe di salon itu. Ia ingin segera berpakaian agar terhindar dari tatapan lapar orang-orang di sana.
Dua jam kemudian, Lily kembali ke salon. Ia langsung mematung ketika melihat Juna yang sudah berganti baju. Tuxedo mewah melekat di badan Juna. Tak lupa dengan berbagai aksesoris yang menunjang penampilannya seperti jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Lily benar-benar tidak percaya. Saat ini tampilan Juna berubah 150 derajat. Ia berjalan mendekati Juna, menghirup aroma tubuh Juna yang maskulin dan menyegarkan indra penciumannya.
Nyaman. Aroma tubuh Juna membuat Lily ingin memeluk Juna dengan erat. Entah ramuan apa yang digunakan mereka sehingga tubuh Juna bisa seharum itu. Lily suka. Ia benar-benar menyukai aroma tubuh Juna saat ini.
__ADS_1
"Kamu tampan sekali" bisik Lily di telinga Juna.
Lily memang tidak berbohong dengan ucapannya. Wajah cerah, rambut basah, dan kulit Juna yang sawo matang membuat kesan hot dan sexy di mata Lily. Tak heran jika Lily menatap lapar ke arah Juna. Ia ingin sekali langsung mengurung Juna seharian di kamarnya. Melakukan syuting atau sekedar pemanasan olahraga.
"Lily, bisakah kau melepas pelukanmu?" tanya Juna.
"No, honey."
"Tidak? Kenapa? Aku tidak bisa bergerak jika kau peluk terus seperti itu" gerutu Juna kesal.
"You are so hot and sexy. Membuatku tidak mau jauh-jauh darimu" bisik Lily lagi.
Juna mendengus sebal. Ia yang memang tidak terlalu paham bahasa asing tentu saja menganggap ucapan Lily barusan sebagai angin lalu. Hot kata? Memangnya Juna kompor? Begitu pikir Juna.
"Sebaiknya kita segera berangkat. Aku sudah tidak sabar ingin mengenalkanmu dengan Papa" ucap Lily dan ia langsung menarik Juna keluar dari salon.
Di luar sopir pribadi Lily sudah menunggu majikannya. Sopir pribadi Lily langsung membukakan pintu mobil ketika melihat bos nya berjalan ke arahnya. Ia mempersilakan Lily dan Juna masuk dengan sopan.
Juna masuk ke dalam mobil Lily dengan dahi yang berkerut. Ia merasa heran dengan mobil yang ia naiki.
"Perasaan tadi mobilnya warna hijau. Kenapa sekarang jadi silver? Apa mungkin Lily memiliki bisnis jual beli mobil?" gumam Juna yang untungnya tidak terdengar oleh Lily.
Mobil yang membawa Lily dan Juna segera melaju. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, mereka sudah tiba di Witz Town Resto. Juna kembali dibuat kagum dengan bangunan di depannya.
Apalagi ini? Bangunan mewah yang berdiri di hadapan Juna jauh lebih besar dari hotel tempat ia menginap saat pelatihan dulu. Juna mulai mengira-ngira berapa kocek yang harus dikeluarkan untuk membangun gedung sebagus itu. 1 Milyar? 2 Milyar? Ah, sudahlah! Otak dan dompet Juna tidak mampu untuk memikirkan itu.
"Silakan!."
Sopir pribadi Lily membuka pintu mobil. Lily dan Juna segera keluar. Lily menggandeng tangan Juna dengan mesra. Mereka berjalan beriringan memasuki restauran milik Lily.
"Selamat datang, Nona! Selamat datang Tuan!."
"Tuan besar sudah menunggu" lapor salah satu pelayan di restauran Lily.
Lily mengangguk. Ia segera mengajak Juna menuju ruang VVIP yang sudah ia pesan untuk acara makan malam bersama Papanya.
"Malam, Papa" Lily langsung memeluk Papanya yang sedang duduk sembari menikmati teh hangat di cangkirnya.
"Malam, Princess. Kamu cantik sekali" puji Papa Lily.
"Dan? Dia siapa?" tanya Papa Lily lagi ketika melihat sosok Juna yang berdiri mematung di belakang Lily.
"Mari, duduk dulu. Aku akan memperkenalkan dia pada Papa" ajak Lily.
Lily menyenggol lengan Juna, memberi kode agar menarik kursi untuknya. Tapi dasar Juna saja yang tidak peka. Ia malah diam saja sehingga Lily menarik sendiri kursi yang akan ia duduki.
"Siapa dia?" tanya Carlos, Papa Lily.
"Dia kekasihku, Papa. Calon menantumu" ucap Lily. Tak lupa ia mengecup pipi Juna dengan cepat.
Juna memutar kedua bola matanya dengan malas. Sepertinya besok ia harus memakai helm agar Lily tidak mengecup pipinya sesuka hati.
"Benarkah? Lily, sudah berapa lama kau mengenalnya, Nak?" tanya Carlos.
"Aku mengenalnya baru-baru ini. Saat resepsi pernikahan Elang lebih tepatnya."
"APA???!!!" teriak Carlos.
Juna langsung tersentak kaget. Ia mengelus dada mendengar teriakan Carlos. Lily dan Carlos berbicara dalam bahasa Spanyol sehingga Juna tidak paham akan isi pembicaraan mereka. Juna menduga pasti anak dan ayah itu sedang bertengkar.
"Ada yang salah, Papa?" tanya Lily dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
"Tidak. Papa hanya tidak menyangka saja kau akhirnya jatuh cinta" kata Carlos dengan nada suara yang sudah melunak.
"Ngomong-ngomong apa pekerjaannya?" tanya Carlos lagi.
"Dia assisten Mr.Adira. Dia yang memegang perusahaan baru Mr. Adira di Spanyol."
"APA?!!!" lagi-lagi Carlos berteriak dan itu tentu saja membuat Juna kaget kembali.
Mendengar Carlos berteriak lagi membuat Juna yakin jika Carlos tidak setuju dengan hubungannya dengan Lily. Juna berharap segera diusir dari tempat itu dan bisa kabur ke apartemennya.
"Kenapa Papa berteriak?" tanya Lily.
"Papa hanya tidak menyangka kau bisa mendapatkan kekasih yang hebat seperti dia. Kau tahu sendiri seperti apa Mr. Adira itu. Dia sangat pemilih dan perfeksionis. Jika laki-laki itu adalah assisten Mr. Adira, Papa sudah tidak meragukan lagi kehebatannya" ucap Carlos lega.
"Hmm... Ngomong-ngomong siapa namanya?" tanya Carlos lagi.
"Mayjuna July Agustino. Lucu kan namanya, Pa?" tanya Lily sembari mencengkram tangan Juna dengan gemas.
Carlos mengangguk.
"Aku ingin segera meresmikan hubungan kami, Pa. Menikah besok pun tak apa."
"Besok? Tidak, sayang. Kau ini anak Papa satu-satunya. Papa akan mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan kalian. Lagipula orang tua Mayjuna harus datang menemui Papa terlebih dahulu untuk melamarmu" tolak Carlos dan itu membuat Lily kecewa.
"Juna yatim piatu. Dia tidak punya keluarga selain Mr. Adira. Bagaimana mungkin keluarga Juna akan melamarku?" ucap Lily sedih dan sialnya Juna menduga Lily bersedih karena Carlos menolak hubungan mereka.
"Papa akan menghubungi Mr. Adira. Rasanya tidak sopan jika Papa mengadakan acara ini tanpa persetujuan beliau."
"Anda tidak perlu repot-repot Mr. Carlos"
Deg.
Dira tiba-tiba masuk dan bergabung dengan keluarga Lily. Semua orang langsung terperangah melihat kedatangan Dira yang tiba-tiba. Mereka tidak tahu saja jika Dira sudah mengirim orang untuk memata-matai Juna. Jadi ketika orang suruhannya melaporkan jika Juna berada di resto milik Lily, Dira langsung meluncur bersama Edward yang selalu setia mengekorinya.
"Anda tidak perlu repot-repot menghubungiku. Tidak perlu repot-repot meminta izin kepadaku. Putrimu dan anak buahku sudah saling cinta. Anda sebagai orang tua sudah seharusnya merestui hubungan mereka" ucap Dira dalam bahasa Spanyol.
"Jika Anda menginginkan Lily dilamar oleh keluarga Juna. Saya sebagai perwakilan keluarga Juna melamar Lily untuk menjadi istri seorang Mayjuna."
Edward kemudian menyerahkan satu set perhiasan mahal kepada Carlos.
Carlos langsung berkaca-kaca ketika menerima seserahan sederhana dari Edward. Ia benar-benar tidak menyangka jika putri semata wayangnya akan dilamar secepat itu. Terharu, begitulah perasaan Carlos saat itu.
"Saya terima lamaran Mr. Adira."
"Harus dong! Anda tahu sendiri kan kalau saya tidak terima penolakan" jawab Dira.
"Acara pertungan resmi Lily dan Juna akan diselenggarakan minggu depan" ucap Carlos.
"Boleh. Lebih cepat lebih baik."
"Hmm... Mr. Adira, kenapa Mayjuna sejak tadi tidak berbicara sepatah katapun? Apa dia bisu?" tanya Carlos.
"Ah, bukan Mr.Carlos. Dia tidak bisu hanya malu. Mayjuna memang orang yang sangat rendah hati. Jadi begitulah pembawaannya. Tenang, seperti air kolam" jawab Dira padahal sebenarnya Juna tidak paham dengan obrolan mereka.
"Baiklah kalau begitu kita lanjutkan makan malamnya. Mr. Adira dan Asisten Edward juga bergabung kan?" tanya Lily.
"Tentu dong. Ayo, Ed, kita makan!" ajak Dira tanpa malu.
Juna menggaruk tengkuknya ketika melihat mereka makan dengan lahap. Apa yang sudah terjadi? Mengapa Carlos belum mengusirnya juga? Apa mungkin Carlos ingin mengisi tenanganya dulu sebelum mengusirnya?
Ah, Juna menjadi bingung. Ia memilih bergabung menyantap makanan bersama yang lain. Toh, nanti Juna bisa bertanya kepada Edward tentang obrolan mereka tadi.
__ADS_1