HEI JUN

HEI JUN
12


__ADS_3

Juna sedang duduk di tengah lapangan bersama murid kelas XII. Hari ini adalah ujian praktek. Juna memilih materi senam lantai yang dijadikan syarat agar bisa ikut ujian akhir sekolah. Jumlah siswa yang tidak banyak membuat Juna memiliki sisa waktu yang banyak sebelum jam mengajarnya selesai.


Awalnya Juna ingin makan di warung Bu Udin. Siapa tahu dia bertemu dengan Lia. Juna belum melihatnya lagi setelah kemarin mereka berpisah di ruang guru. Namun, sepertinya Juna akan menunggu sampai jam mengajar selesai karena jam segini pasti warung Bu Udin belum buka.


"Pak, Bapak...!!! Pak...!!!" panggil salah satu murid.


"Eh, iya..? Kenapa?" tanya Juna.


"Mau tanya boleh?" kata murid itu lagi.


"Silakan! Mau tanya apa, Suhri?."


"Eh... Riyan, Pak. Bukan Suhri" protes murid itu.


"Loh?! Nama kamu Suhriyanto kan?."


"Benar. Tapi panggilannya Riyan. Jangan Suhri! Kampungan, Pak."


"Huuuu....." sontak murid-murid yang lain menyoraki Suhri.


"Eh...nggak boleh protes. Guru kita aja namanya Ahmad Junaidi dipanggil Juna. Kenapa aku yang bernama Suhriyanto nggak boleh dipanggil Riyan?Sudahlah teman-teman. Jangan banyak protes" kata Suhri membuat Juna menarik nafas panjang.


"Baiklah, Riyan. Kamu mau tanya apa?."


"Mau tanya apakah Pak Juna pacaran sama Bu Lia?."


"Wwhooooooo....!!!" murid-murid kembali bersorak mendengar pertanyaan Suhri.


Juna menggeleng-gelengkan kepala. Baru sehari berlalu sudah ramai menjadi gosip dikalangan murid. Juna jadi bertanya-tanya bagaimana nanti di kalangan para guru? apakah mereka juga mengghibah dirinya dan Lia?


Hmmm... Juna jadi dilema. Jika biarkan nanti semakin menjadi. Tidak dibiarkan, mubazirlah. Gosip seperti ini sangat disayangkan jika harus ditutup. Kapan lagi Juna bisa menjadi buah bibir di SMA Cendekia?


"Kok nggak dijawab, Pak?" tanya Suhri.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu?."


"Kepo, Pak. Maklum anak muda" jawab Suhri yang langsung disambut gelak tawa teman- temannya.


"Suhri cemburu, Pak. Dia kan naksir Bu Lia" sahut Wawan, salah satu teman Suhri.


"Whuuuuuuuu...." kembali terdengar sorakan dari murid-murid yang lain. Mereka bersorak sambil menertawai Suhri yang kini menunduk dengan wajah merah padam.


"Benar kata Wawan? Kamu naksir Bu Lia?" tanya Juna.


Sebenarnya hati Juna panas mendengar fakta ini. Tapi demi menjaga image di depan muridnya, Juna berlagak tenang. Lagi pula Suhri hanyalah anak ingusan yang tidak mungkin dilirik oleh Lia. Beda usia mereka jauh. Lebih cocok jika Suhri menjadi keponakan Lia daripada suaminya.


"Benar, Pak. Eh nggak Bapak. Wawan becanda tuh" kata Suhri mengelak.


Jawaban Suhri yang ababil itu tentu saja mengundang sorakan dari teman-temannya yang lain. Juna hanya mengulum senyum memperhatikan ulah mereka. Namanya juga murid, pasti ada saja tingkahnya.


"Eh, Pak. Saya juga keberatan lho kalau Pak Juna pacaran sama Bu Lia" kata Wardah, teman sekelas Suhri juga.


"Kamu dari sananya sudah berat, Wardah. Jangan banyak makan! Diet, biar seksi kayak Bu Lia" kata Juna menggoda Wardah yang memang berbadan gempal.


Ucapan Juna kembali mengundang gelak tawa murid kelas XII. Wardah yang menjadi korban candaan Juna hanya bisa merengut, memelototi teman-temannya yang tidak berhenti tertawa.


"Tapi beneran kok, Pak. Saya tidak setuju kalau Bapak pacaran sama Bu Lia" teriak Wardah membuat teman-temannya langsung berhenti tertawa dan menatap heran kepadanya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Wardah? Kamu cemburu sama Bu Lia? Kamu naksir saya?."


"Bukan saya, Pak. Tapi Fi..."


Wushhhh....


Seketika para murid perempuan kompak menutup mulut Wardah yang hampir keceplosan menyebutkan sebuah nama. Mereka langsung memelototi Wardah berjamaah sehingga membuat Wardah ketakutan.


"Woy... woy...woy... Wardah jangan di bekep!!! Kalian mau tanggung jawab kalau nanti Wardah kempes???" teriak Wawan dan ucapannya itu sukses membuat gelak tawa mereka pecah kembali.


Sebenarnya Juna juga ingin tertawa kencang. Namun, ia harus menjaga sikap dan menjaga perasaan Wardah. Bagaimanapun seorang perempuan pastilah sensitif dan mudah tersinggung. Apalagi jika menyangkut masalah fisik. Bisa berabe dan fatal akibatnya.


"Sudah-sudah! Sekarang kalian cepat ganti baju. Pelajaran olahraga selesai. Jangan sampai telat masuk kelas karena saya tidak mau ditegur oleh guru mata pelajaran selanjutnya. Kalian paham???."


"Paham, Pak!!!" jawab mereka serempak.


Mereka langsung membubarkan diri dan Juna segera membereskan peralatan yang dipakai dan membawanya kembali ke gudang. Juna mengurungkan niatnya pergi ke warung Bu Udin. Sepertinya ia ingin makan di ruang guru saja.


Juna segera memesan makanan lewat Pak Udin yang kebetulan berpapasan dengannya di gudang. Setelah itu Juna kembali melangkah menuju ruang guru.


Juna mendapati Andika sedang duduk sendirian di ruang guru. Kesempatan. Sepertinya Juna harus berbicara padanya sekarang tentang hubungan Andika dengan Lia. Juna tidak ingin hidup penuh dengan rasa penasaran karena tidak mendapat jawaban atas segala pertanyaannya.


"Dika, saya mau bicara" kata Juna menghampiri Dika yang sedang sibuk mengoreksi hasil ulangan murid-muridnya.


"Ngomong aja, Jun. Saya sambil ngoreksi ulangan, ya" sahutnya.


"Hmmm... mm... Dika, maaf ya. Saya hanya mau tanya apa kamu sedang PDKT dengan Lia?" kata Juna pelan dan hati-hati.


Dika langsung mengangkat wajahnya. Kedua alisnya menyatu, menatap heran ke arah Juna.


"Mmhh... saya hanya ingin tahu kedekatanmu dengan Lia. Saya heran saja kamu bisa akrab dengan Lia secepat ini dan yang lebih mengherankan lagi kamu memanggilnya honey."


Dika semakin menyatukan kedua alisnya. Ia semakin heran dengan pertanyaan Juna barusan.


"Honey? Hani kali, Jun. Sejak dia masih bayi, saya sudah memanggilnya Hani bukan Lia. Ada masalah?."


"Masalah, Dika. Hati saya nggak enak mendengarnya" ucap Juna keceplosan.


Andika tergelak mendengar ucapan Juna. Ia sepertinya mengerti dengan apa yang Juna rasakan dan apa yang ada dipikiran Juna.


"Pak Juna tahu nama panjang Lia?."


Juna menggeleng.


"Pantas. Namanya Amalia Hanifah. Kalau di rumah dipanggil Hani. Hani lho ya, bukan honey. Kalau di Jakarta dia dipanggil Lia. Saya sama dia memang dekat. Nenek Hani adalah sepupu nenek saya. Artinya...???."


"Kalian masih ada hubungan keluarga?."


"Benar sekali...!!! Asal Pak Juna tahu. Hani bisa terdampar di sekolah ini karena saya yang merekomendasikannya ke Pak Zaini. Jadi, Anda jangan paham salah."


"Salah paham, Dika" kata Juna membenarkan ucapan Dika.


"Iya, itu maksud saya. Ngomong-ngomong ada apa gerangan Anda menanyakan hal ini? Apakah ini sesuatu yang penting untuk Anda?" tanya Dika sok formal padahal watak aslinya dablek.


"Pentinglah. Ini menyangkut hati dan perasaan saya."


"Oh... Wahai kawanku!!! Apakah kau ada rasa dengan saudariku, Si Hani guru baru itu??."

__ADS_1


Juna mendengus sebal ketika melihat jiwa pujangga Andika keluar. Maklum saja, Dika sebenarnya ingin menjadi guru bahasa Indonesia. Tetapi gagal. Dika pernah bercerita ketika dulu mendaftar kuliah, ia memilih bahasa indonesia dan IPA. Namun, karena nilai IPA nya lebih bagus dari pada kemampuan bahasanya, maka Andika diterima di jurusan pendidikan biologi. Jadi jangan kaget jika melihat cara berbicaranya bermajas dan banyak peribahasa. Karena Dika masih terbawa jiwa sastranya yang terpendam.


"Tak perlu kau jawab. Tingkahmu sudah menampakkan jika kau sedang cemburu" kata Dika seolah sedang menyidang Juna


"Bisa tidak kalau kamu bicara seperti manusia biasa?."


"Bisa... bisa... asal bayarannya cocok" jawab Dika terkekeh pelan.


"Dika... seriuslah!!!" tegur Juna karena ia benar-benar sedang tidak ingin bercanda sekarang.


"Oke..oke.. kalau kamu mau saya serius. Katakan apa ada yang bisa aku bantu? Atau ada yang ingin kamu tanyakan?."


"Apakah Lia punya pacar?."


"Tidak!!! Dia tidak minat pacaran. Sekali pacaran, sepuluh hari kemudian putus. Hahahahahaha...." jawab Dika terkekeh.


"Kalau aku melamarnya bagaimana?"


"Apa??? Serius, Pak???" tanya Dika kaget.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Juna bertanya lagi.


"Salah sih nggak. Tapi beda umur kalian lumayan jauh lho. Saya takut aja Hani tidak sesuai ekspektasi Pak Juna" kata Dika dengan raut wajah serius.


"Pak Juna jangan tersinggung ya? Saya bicara fakta. Selisih umur kalian kurang lebih delapan tahun. Pak Juna yang dewasa, berbeda jauh dengan Hani yang sebenarnya pecicilan, manja dan kekanak-kanakan. Begini-begini saya tahu lho tipe cewek idaman Pak Juna. Keibuan, penurut dan pandai memasak."


"Memangnya Lia tidak seperti itu?"


"Hani kekanak-kanakan. Saya takutnya Pak Juna kecewa dan tidak tahan dengan sifat manjanya."


"Pendekatan aja dulu. Siapa tahu jodoh" kata Juna.


"Kalau Pak Juna yakin, pepet terusssss. Gerak cepat, Pak. Karena yang naksir Hani banyak cuma Hani saja yang tidak merespon" kata Dika mengompori.


"Kamu mendukung?."


"Dukung dong. Nggak tega juga lihat Pak Juna terus menjomblo. Takut jadi bujak lapuk" kata Dika sembari tertawa cekikikan.


Juna menimpuk bahu Andika dengan buku. Berani sekali dia mengatai Juna bujang lapuk. Juna baru berumur 30 tahun. Belum tua juga, pikir Juna.


Juna kembali ke tempat duduknya ketika melihat seorang murid perempuan mengantarkan makanan pesananku. Juna memperhatikan wajahnya. Hmmm... Fira? lagi - lagi dia yang mengantarkan makanan Juna. Entah ini kebetulan atau bagaimana. Junapun tidak mengerti.


"Terima kasih ya, Fira. Kamu sering sekali disuruh Bu Udin mengantarkan pesanan saya?" tanya Juna.


"Sama-sama,Pak. Saya hanya kebetulan lewat, Pak Juna. Mari, permisi" kata Fira menunduk.


Fira kemudian keluar dari ruang guru dengan terburu-buru. Ia terlihat salah tingkah. Juna sedikit heran dengan tingkahnya. Namun, untuk apa Juna peduli? Biarkan saja. Mungkin Fira buru-buru akan masuk kelas, pikir Juna.


"Anak itu kenapa?" tanya Dika.


"Tak tahulah."


"Kok kayak gugup begitu? Wajahnya merah merona lagi kayak kepiting rebus" kata Dika lagi.


"Mungkin kepanasan. Soalnya dia tadi baru selesai olahraga."


Dika tak menyahut lagi. Ia kembali fokus pada kertas-kertas ulangan muridnya sedangkan Juna mulai mengisi perutnya yang keroncongan dengan lontong pecel pesanannya.

__ADS_1


__ADS_2