
Satu minggu kemudian
Juna tiba di kantor Sanjaya corp dengan wajah lusuh. Ia melempar begitu saja tas yang ia bawa dan langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja. Juna memukul-mukul meja itu berkali-kali melampiaskan rasa kesalnya pada benda padat itu.
Ceklek
Lita masuk ke ruang kerja Juna. Sebenarnya ia tidak berniat masuk. Telinga tajamnya mendengar suara berisik dari ruang kerja Juna. Lita pikir ada maling yang beraksi. Ia sudah bersiap membawa tongkat baseball, berjaga-jaga jika dugaannya benar.
Namun, Lita dibuat kaget ketika melihat sosok yang sedang mengamuk. Si empunya tempat, yang tak lain adalah Juna sedang melempar-lempar benda apapun ke lantai.
Lita bergidik ngeri. Ia tidak pernah melihat Juna yang kalem dan manis menjadi horror seperti itu. Lita menutup pintu ruang kerja Juna dengan perlahan. Ia langsung berlari menuju ruang kerja Kiara untuk melapor.
"Mas Juna...!!!"
Kiara berteriak saat masuk ke ruang kerja Juna. Kedua netranya membola saat melihat ruang kerja Juna seperti kapal pecah.
Ada apa ini? Mengapa Juna bisa mengamuk? Kiara sudah memberi jatah bulan madu untuk Juna ke Paris selama seminggu. Harusnya ia mendapati Juna dengan wajah penuh bahagia sekarang. Apa yang terjadi di Paris? Mengapa Juna pulang-pulang mengamuk seperti ini?
"Hentikan, Mas!!! Guci itu kesayangan si Kadir! Dia bisa ngamuk kalau pecah" teriakan Kiara berhasil menghentikan tangan Juna yang hendak memecahkan guci. Ia menarik nafas panjang dan mengembalikan letak guci itu.
Juna langsung menjatuhkan badannya ke lantai. Ia terduduk lesu sembari bersandar di dinding.
"Ada apa? Apa yang terjadi, Mas Juna?" tanya Kiara lagi.
Sejak ia masuk ke ruangan Juna, tidak ada satupun pertanyaan Kiara yang dijawab oleh Juna. Kiara bukan cenayang yang bisa membaca pikiran Juna. Ia perlu tahu dari mulut Juna sendiri.
"Honeymoon nya gagal, Nyonya bos" ucap Juna lesu.
"Gagal? Apanya yang gagal?" tanya Kiara tidak mengerti.
"Athalia sedang kedatangan tamu saat di Paris. Emosinya jd naik lima kali lipat. Dia tidak bisa diajak bermesraan sedikitpun. Bawaannya ngamuk, Nyonya."
Kiara menutup mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Juna. Kiara bisa memahami bagaimana sedihnya Juna karena dulu ia pernah mengerjai Elang saat di Spanyol.
"Lalu kalian ngapain aja di Paris?."
"Kami hanya berdiam diri di hotel, Nyonya. Atha tidak mau diajak keluar. Saya sudah mengajaknya berjalan-jalan, mengiming-iminginya dengan berbelanja. Tapi Athalia tetap menolak, memilih tidur sepanjang hari" curhat Juna. Wajahnya semakin ditekuk.
Kiara menatap iba pada Juna. Laki-laki baik di hadapannya ini mengapa bernasib jelek. Apa salahnya hingga kisah percintaannya seperti itu. Tanpa sadar Kiara mulai menangis, hormon kehamilannya membuatnya gampang menangis
"Mas Juna, bangun dong! Kiara pengennya duduk jongkok, tapi perut Kiara sudah besar" kata Kiara dalam isaknya.
Juna mendongakkan wajahnya. Ia buru-buru bangun dari duduknya. Melihat Kiara menangis, membuat Juna tidak enak hati. Ia segera meminta maaf kepada Kiara karena sudah berkeluh kesah padanya.
Juna merutuki kebodohannya. Seharusnya ia tidak bercerita kepada Kiara. Seharusnya ia tidak mengadu kepada Kiara. Nyonya bos nya itu pasti sedih mendengar ceritanya.
"Maaf, saya sudah membuat Nyonya sedih" kata Juna tulus. Ia segera mengajak Kiara untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak sedih Mas Juna? Aku menyuruh kalian bulan madu dengan harapan hubunganmu dengan bu dokter semakin mesra. Kenapa hasilnya seperti ini? Mengapa bu dokter harus kedatangan tamu? Hu...hu...hu..." Kiara menangis tersedu-sedu.
"Sekarang bu dokter masih kedatangan tamu?" tanya Kiara.
Juna menggeleng.
"Sudah selesai ya?" Wajah Kiara langsung berbinar.
Juna menggeleng lagi.
"Saya tidak tahu, Nyonya."
"Tidak tahu? Mas Juna tidak bertanya? Tidak mengecek? Pembalutnya masih ada apa sudah habis?" Kiara mengerutkan dahi.
"Athalia kembali terlebih dahulu, Nyonya. Dia hanya dua hari di Paris."
"APA????!!!!"
Juna tersentak kaget. Teriakan Kiara yang melengking seperti itu tidak mungkin membuatnya tak kaget. Juna melihat raut wajah Nyonya bos nya merah padam. Salahkah ucapan Juna?
"Jadi Mas Juna dibiarin sendirian di Paris????" teriak Kiara lagi.
Lita langsung masuk saat mendengar teriakan bos nya. Ia membawa nampan berisi ketoprak dan teh hangat sebagai pengalihan emosi Kiara.
Lita segera menyodorkan nampan yang dibawanya. Kiara menolak nampan itu dan menyuruh Lita kembali. Kiara merasa sakit hati. Ia akan membuat perhitungan dengan Athalia. Kiara tidak terima Juna ditinggalkan begitu saja di Paris.
Dimana hati seorang dokter Athalia? Apakah dia tidak merasa bersalah telah meninggalkan suaminya begitu saja? Kiara harus melabrak Atha. Perempuan itu tidak bisa dibiarkan lagi.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Saya baru sampai di Jakarta dan langsung kesini."
"Mas Juna , jangan kemana-mana! Jangan kembali ke apartemen bu dokter! Pulang saja ke apartemen Mas Juna sendiri!."
"Nyonya mau kemana?" tanya Juna. Ia tiba-tiba merasa takut melihat raut wajah Kiara yang menyeramkan.
"Kiara lapar, mau beli cilok di Kemang."
Kiara langsung beranjak pergi. Ia menyuruh Lita agar sopir pribadinya menyiapkan mobil. Kiara juga meminta Lita untuk mencari info keberadaan Atha. Apakah di apartemen atau di rumah sakit.
Lita langsung bergerak cepat. Hanya dengan sekali telepon, Lita sudah mengetahui keberadaan Atha. Ternyata Atha sedang berada di rumah sakit. Lita segera mengirim pesan kepada Kiara mengenai keberadaan Atha.
Tanpa banyak bicara, Kiara menyuruh sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tak lupa ia juga mengirim pesan kepada Dira agar menyusulnya. Kiara ingin melabrak Atha. Ia butuh sekutu. Rasanya Abang absurdnya itu bisa dijadikan sekutu.
Sesampainya di rumah sakit, Kiara langsung menuju ruang kerja Atha. Berdasarkan informasi dari Lita, Athalia sekarang sedang berada di ruangannya. Ia baru selesai bertugas.
Kiara tidak ingin kecolongan. Ia melepas alas kakinya agar bisa berjalan lebih cepat. Kiara tidak peduli jika banyak mata yang memandangnya. Ia hanya ingin sampai di ruangan Atha. Ia ingin langsung mengamuk.
Plakkk.
__ADS_1
Kiara langsung melemparkan alas kakinya ke meja Atha. Kilatan amarah nampak di kedua matanya. Kiara melihat sendiri Athalia sedang duduk santai sembari menikmati secangkir cokelat panas. Bagaimana bisa Atha sesantai itu? Apakah dia tidak khawatir dengan Juna?
"Aku tidak tahu jika dokter tidak terkenal sepertimu ternyata tidak mempunyai empati. Kau tega sekali meninggalkan Mas Juna di Paris?" Kiara menggebrak meja kerja Atha. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
Atha menarik nafas panjang. Ia mencoba tidak terpancing emosi juga.
"Apa salah Mas Juna hingga kau mencampakkannya? Apa kurangnya Mas Juna? Mengapa kau tega memperlakukan suamimu seperti itu?."
"Aku tidak mencampakkannya. Sejak awal aku memang tidak ingin bulan madu dengannya?" ucap Atha tenang.
"Tidak bisakah kau menghargai usahanya untuk membuatmu jatuh cinta. Dia ingin membangun keluarga yang harmonis denganmu. Mas Juna ingin membentuk keluarga bahagia denganmu."
"Tapi aku tidak mau!!!" Athalia memotong perkataan Kiara.
"Aku tidak menginginkan hal itu. Aku tidak menginginkan Juna menjadi suamiku."
"Tapi aku yang kau inginkan bukan?" Dira muncul dari balik pintu.
"Kiara sarang burung my little pony, kau sedang mengandung. Jangan biarkan calon keponakanku tertekan akibat kau sedang emosi. Keluarlah! Jajan dulu yang banyak! Elang sedang menuju kesini. Mungkin masih di parkiran" perintah Dira.
Kiara mengangguk. Ia mengambil alas sepatunya yang tergeletak di meja Atha. Dira menahan tawanya, adiknya itu ternyata masih sama. Masih suka melempar sepatu jika sudah marah.
Kiara segera keluar dan benar saja dirinya melihat Elang yang berlari ke arahnya. Elang langsung memeluk Kiara dan menuntunnya pergi.
Kini tinggallah Athalia dan Dira di ruang kerja Atha. Kedua manusia itu menampakkan ekspresi yang berbeda. Atha dengan wajah pucat pasi sedangkan Dira dengan wajah dingin mengintimidasi.
"Sebenarnya aku tidak mau muncul di cerita si Juna karena aku punya cerita sendiri. Kau tahu? Gara-gara sibuk menulis ceritamu, si othor nggak lanjut-lanjut menulis ceritaku. Bikin emosi nih si othor" omel Dira bersedekap.
"Aku tidak tahu jika kau sudah over dosis menjadi fans beratku sehingga kau menelantarkan suamimu. Hei, dokter tidak terkenal! Haruskah aku turun tangan untuk menyelesaikan masalah kalian?" tantang Dira.
Atha menelan ludah. Ia benar-benar ketakutan melihat sosok Dira yang menyeramkan seperti itu. Dira yang konyol dan lucu berubah menjadi seram dan mengerikan. Atha sampai tidak berani menatap wajah Dira. Tatapan mata Dira benar-benar membunuh.
"Apa kau ingin Juna menceraikanmu? Itu hal mudah untuk menyuruhnya melayangkan gugatan dan sidang perceraian kalian akan selesai dalam satu bulan" ucap Dira memberi penawaran.
"Aku bisa mencarikan perempuan lain yang bisa menerima Juna. Relasiku sangat banyak, Juna tinggal menyebutkan kriteria wanita seperti apa yang ia mau. Hei, dokter tidak terkenal! Jangan di atas angin! Sepertinya Juna asal maju saja saat menikahimu."
Perkataan Dira benar-benar pedas dan menusuk hati Atha. Atha sudah tidak bisa menahan bulir-bulir bening di kelopak matanya. Ia membiarkan tetesan air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun aku akan mencintaimu" ucap Atha terisak.
"Terima kasih! Tapi aku tidak membutuhkan cintamu. Istriku sudah banyak menghujaniku dengan cinta. Aku tidak butuh cinta dari orang lain" tolak Dira tegas.
"Mr. Adirra, apakah tidak ada sedikit saja kesempatan untukku? Aku siap menunggumu sampai kapanpun. Aku siap. Tolong beri aku kesempatan!."
Dira menggeleng. Ia menarik sudut bibirnya ke atas.
"Jangan meminta kesempatan padaku karena aku tidak sedang bermain monopoli. Daripada kau menungguku lebih baik bukalah hatimu pada Juna. Dia suamimu sekarang. Kau sudah terlalu banyak menyakitinya."
__ADS_1
"Kenapa semua memikirkan perasaan Juna? Mengapa tidak ada yang memikirkan perasaanku? Aku mencintaimu, mengapa kau menikah dengan perempuan lain? Aku tidak mencintai Juna, mengapa dia memaksa menikahiku?" Atha meluapkan isi hatinya. Ia menangis tersedu-sedu di hadapan Dira.
"Wahai penggemar beratku! Dengarkan baik-baik ucapan idolamu ini! Jodoh itu di tangan Tuhan, manusia hanya membuka jalan. Tuhan sudah menutup jalanmu untuk menjadi mendampingku tetapi Tuhan membuka jalanmu untuk menjadi pendamping Juna. Maka dari itu berhentilah berharap menjadi istriku. Terima kenyataan jika kau ditakdirkan sebagai istri Juna" ucap Dira berceramah panjang kali lebar.