
Zeze menguap berkali-kali. Ia benar-benar mengantuk. Sejak pesawat yang mereka tumpangi lepas landas dari bandara Soekarbo Hatta menuju bandara Juanda-Surabaya, Zeze belum sedikitpun menutup matanya.
Entah setan apa yang bertengger dikedua pelupuk matanya sehingga dirinya tak mampu terpejam sedikitpun. Zeze yang biasanya gampang tertidur selama di perjalanan, mengalami insomnia tiba-tiba.
"Masih jauh nggak, Di?" tanya Zeze sembari kembali menguap.
Diandra yang sedang mengendarai mobil rental, melirik ke arah Zeze sekilas.
"Kita masih sampai di jembatan Suramadu, Kabupaten Bangkalan sedangkan Desa Papaten ada di Kabupaten Pamekasan" ucap Diandra menjelaskan kepada Zeze.
"Artinya?."
"Artinya masih jauh, Ze. Setelah Kabupaten Bangkalan, kita melewati Kabupaten Sampang. Barulah setelah itu kita masuk Kabupaten Pamekasan."
"Berapa lama lagi perjalanannya, Di?."
"Ya, kurang lebih dua jam."
Zeze langsung membulatkan kedua bola matanya. Tapi hanya sebentar karena ia kembali dalam mode kantuknya.
"Tidurlah, Ze! Nanti kalau sudah hampir sampai, aku bangunkan."
"Kamu yakin bisa nyetir sendiri?."
"Yakin dong. Sudahlah, kamu tidur saja! Lihat, Mbok De dan Arjuna juga masih tidur. Nanti kita berhenti sejenak warung bebek untuk mengisi perut."
Zeze mengangguk. Perlahan, kedua matanya kembali terpejam dan ia sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
'Madura tidak banyak berubah. Meskipun sudah lama aku meninggalkan tanah kelahiranku, tidak ada yang berubah dari tempat ini' gumam Diandra sembari terus fokus menyetir.
***
Mobil yang dikendarai Diandra berhenti di depan rumah besar berwarna putih. Ia sudah tiba di Desa Papaten, lebih tepatnya di depan rumah Diandra sendiri. Diandra menatap datar bangunan di depannya. Pandangannya tertuju pada plakat yang terpampang di halaman depan.
Rumah itu dijual. Hubungi 0877678xxx. Begitulah tulisan yang tertera pada plakat itu. Diandra termenung sejenak, ia mencoba mencerna apa yang sedang dilihatnya.
Ada apa ini? Mengapa rumah masa kecilnya akan dijual? Apakah Ayahnya tidak punya uang sehingga rumah itu mau di jual? Jika rumah itu akan dijual, lalu di manakah Ayahnya tinggal?
Diandra membuka pintu mobil dan bergegas keluar. Ia sengaja memakai kacamata hitam, untuk menyamarkan sedikit wajahnya. Diandra berjalan perlahan, menuju rumah masa kecilnya. Ia berhenti tepat di sebelah plakat bertuliskan rumah di jual tersebut.
"Diandraa.... !! Sudah sampai? Kenapa nggak bangunin?" tanya Zeze yang tiba-tiba saja keluar dari mobil dan berlari menghampiri Diandra.
Diandra tidak menjawab pertanyaan Zeze. Pikirannya masih fokus pada plakat itu. Zeze yang merasa diabaikan tentu saja merasa kesal. Ia mencubit bahu Diandra agar segera sadar dari mode melamunnya.
"Kenapa mencubitku?" tanya Diandra kesal.
"Kau mengabaikanku. Aku bertanya mengapa kau tidak membangunkanku?."
"Maaf, aku tidak mau mengganggu kalian."
"Hmm... Ngomong-ngomong kita sudah sampai? Apakah ini rumahmu? Tapi kalau ini rumahmu, mengapa ada plakat seperti itu?" Zeze langsung menyerbu Diandra dengan banyak pertanyaan.
"Ini rumahku. Tapi aku tidak tahu mengapa ada tulisan itu."
"Hm.... Hm... Hm..." Zeze nampak berfikir sejenak.
Tiba-tiba ada ibu-ibu yang menghampiri Diandra dan Zeze. Ibu-ibu menepuk bahu mereka sehingga baik Diandra dan Zeze langsung terjengkit kaget.
"Gendoruwoooo.....!!!" teriak Zeze.
Diandra langsung menutup mulut Zeze karena ucapan spontannya sangat berbahaya. Diandra melirik ibu-ibu itu, wajahnya langsung menampakkan raut tidak bersahabat kepada mereka.
"Siapa yang kalian bilang gendoruwo?." (bacanya pakai logat madura ya, hihihi).
"Ma-ma-maaf" ucap Zeze saat Diandra sudah melepaskan bekapan di mulutnya.
"Maaf, teman saya hanya kaget" kata Diandra membela Zeze.
"Kaget kok ngatain saya gendoruwo? Apa nggak ada kata-kata lain yang lebih manis?" ibu-ibu mendelik ke arah Zeze.
__ADS_1
Zeze nyengir kuda. Ia benar-benar merutuki mulutnya yang keceplosan tadi. Entah saat Zeze melihat ibu-ibu bertubuh gempal dengan surai panjang tak bersisir itu mengingatkannya pada sosok horror yang ia tonton di bioskop.
Andai saja ibu-ibu itu mau menyisir dan mengikat rambutnya, pastilah Zeze tidak akan mengatakan hal itu. Mungkin, mbok-mbok jamu lebih cocok.
"Kalian ini siapa? Kenapa berhenti di depan rumah Pak Narto?" tanya ibu-ibu tadi.
Zeze melirik ke arah Diandra. Rasanya Diandra lebih tepat menjawab pertanyaan ibu-ibu itu dari pada dirinya.
"Kami hanya orang yang kebetulan lewat. Saya mau bertanya, rumah ini dijual?" tanya Diandra.
Ibu itu mengangguk.
"Mengapa dijual? Apakah pemiliknya sedang butuh uang?" tanya Diandra lagi.
"Ya, namanya manusia pasti butuh uang toh. Pak Narto terjerat hutang dengan juragan Arya. Jadi rumah ini disita. Juragan Arya yang hendak menjual rumah ini. Tapi belum ada yang mau beli. Gosipnya sih karena nggak mau kena tulah."
"Tulah? Maksudnya apa?" tanya Diandra tak mengerti.
"Yang punya rumah ini dulunya orang yang sangat kaya raya. Tapi jatuh miskin karena anak perempuannya zina ama mantan pacarnya."
Deg.
Tangan Diandra langsung mengepal mendengar perkataan ibu-ibu itu. Ia menarik nafas panjang, mencoba meredam emosinya agar tidak keluar.
"Wah, anak perempuannya kok bisa zina! Nggak dinikahin aja sih ama pacarnya" celetuk Zeze. Ia tidak menyadari jika Diandra langsung menatap tajam ke arahnya.
"Anak perempuannya itu dinikahin ama juragan Arya. Nggak tau kenapa tuh perempuan malah main gila ama mantan pacarnya. Malah sampek beredar video panas mereka lho" ucap ibu-ibu itu bersemangat.
"Wah, ada linknya nggak? Lumayan buat dijual ama bule-bule di pantai" celetuk Zeze lagi.
Tuk!
Diandra langsung menjitak kepala Zeze. Ia benar-benar kesal dengan celetukan Zeze. Andai Zeze tahu siapakah perempuan yang dimaksud ibu-ibu tadi, pastilah ia akan kaget setengah mampus.
"Ngomong-ngomong Pak Narto sekarang tinggal di mana?" tanya Diandra mengalihkan pembicaraan.
"Oh, di gang lima."
"Iya, Mbak. Pak Narto tinggal bersama istei keduanya. Pak Narto kan kena stroke, nggak bisa jalan. Untung saja masih ada istri keduanya yang mau merawat Pak Narto. Istrinya itu telaten sekali."
Lagi, Diandra mengepalkan kedua tangannya. Telinganya kembali memanas mendengar pujian yang dilontarkan untuk selingkuhan ayahnya.
Diandra langsung pamit undur diri. Tanpa bertanya pun, Diandra sudah tahu di mana tempat tinggal ayahnya sekarang. Diandra pernah ke sana. Ia melabrak istri kedua Ayahnya dengan bringas. Sekarang, sepertinya Diandra akan kembali menunjukkan taringnya. Memberikan sedikit shock therapy untuk selingkuhan ayahnya sepertinya boleh-boleh saja.
"Mau kemana, Di?" tanya Zeze ketika melihat Diandra masuk kembali ke mobil. Zeze yang masih bingung, secara spontan mengikuti Diandra.
"Diam! Jangan banyak bertanya!."
Diandra kembali menyalakan mesin mobil. Ia lalu menjalankan mobil menuju gang lima. Perjalanan menuju rumah ibu tiri Diandra hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Diandra langsung tersenyum sinis ketika melihat Fira sedang menyapu di halaman depan.
"Dasar, anak haram!" guman Diandra.
"Eh? Anak haram? Siapa yang anak haram?" tanya Zeze bingung.
Diandra kembali mengacuhkan Zeze. Ia mematikan mesin mobil, membuka pintu dan langsung keluar hendak menghampiri Fira. Tak lupa, Diandra memakai kaca mata hitamnya. Selain agar nampak keren, Diandra juga tidak ingin banyak orang mengenali wajahnya.
"Hai, anak haram!" sapa Diandra membuat Fira menghentikan aktifitasnya.
Fira mengernyitkan dahi. Kedua netranya memindai sosok perempuan di hadapannya. Antara asing dan tidak asing. Fira memberanikan diri mendekati Diandra.
"Maaf, cari siapa?" tanya Fira sopan.
"Aku mencari ayahku. Di mana dia?."
"Ayah? Ayah siapa?" tanya Fira bingung.
"Ayahku bukan ayahmu. Kamu ini hanya anak haram" ucap Diandra lalu ia melepas kaca mata hitamnya.
Sapu lidi yang dipegang Fira seketika jatuh. Ia kaget bukan main melihat Diandra yang tersenyum licik kepadanya. Diandra menatap tajam pada Fira. Tatapan penuh kebencian yang selalu Diandra berikan padanya.
__ADS_1
Glek.
"Mbak Dian..."
"Jangan panggil aku, Mbak! Aku bukan saudaramu."
Rasa benci itu masih ada. Rasa benci itu menyelimuti relung hati Diandra kembali.
"Kita ini bersaudara, Mbak. Kita satu ayah. Sudah sepantasnya lah saya memanggilmu dengan sebutan Mbak."
"Tapi aku tidak mau. Kau hanya anak haram, hasil hubungan gelap Ayah dan perempuan tidak tahu diri itu."
Plak.
"Cukuplah kau menghina kami, Diandra! Kau mengatakan diriku adalah perempuan tidak tahu diri. Lalu bagaimana denganmu? Perempuan pezina yang menyebabkan kehancuran Ayahmu sendiri" ucap Bu Tatik.
"Kau?" Diandra memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Bu Tatik. Ibu kandung Fira itu rupanya sudah berani melawan Diandra.
"Apa?" tantang Bu Tatik.
"Kau memang anak tidak tahu diri. Ayahmu menikahkanmu dengan Arya agar kau tetap bisa hidup enak. Tapi apa balasanmu? Kau malah bermain gila dengan Juna. Lihat akibat perbuatanmu! Ayahmu jatuh miskin dan terkena stroke" teriak Bu Tatik.
Fira menarik tangan Bu Tatik. Ia berusaha menjauhkan Bu Tatik dari Diandra. Fira tahu ibunya sedang emosi tinggi. Ia harus bertindak cepat sebelum terjadi peperangan antara ibunya dan Diandra.
"Lepaskan ibu, Fira! Ibu belum selesai bicara."
"Kita masuk saja, Bu. Tidak enak dilihat tetangga" bujuk Fira.
"Peduli apa dengan tetangga. Biar mereka semua tahu jika perempuan pezina ini sudah kembali. Perempuan yang sudah menghancurkan ayahnya sendiri."
"CUKUP...!!! CUKUP AKU BILANG...!!!" teriak Diandra histeris.
Teriakan Diandra yang nyaring seperti iti tentu saja membuat Zeze kaget. Ia buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri Diandra.
"Dian, ada apa?" tanya Zeze. Ia mencoba menenangkan Diandra.
"Masuklah! Kau tidak perlu ikut campur."
"Tapi, Di..."
"Masuklah...!!!" perintah Diandra lagi.
Tiba-tiba Mbok De keluar dari mobil. Arjuna terbangun dan menangis. Mbok De berusaha menangkan Juna. Namun, bocah laki-laki itu terus memanggil Diandra.
"Nyonya, Den Juna menangis."
Deg.
Fira dan Bu Tatik langsung mematung ketika melihat bocah laki-laki itu. Mereka seperri dihantam palu besi tatkala melihat bocah laki-laki itu bergelayut manja dalam gendongan Diandra.
Juna, nama bocah laki-laki itu semakin membuat Fira dan Bu Tatik tak dapat berkata sepatah katapun. Apakah itu anak Diandra dan Juna? Apakah itu hasil perbuatan mereka di masa lalu?
"Ma...ma...ma..."
"Juna mau apa?."
"Es klim. Dicini puanassss, Mama."
"Oke, Juna masuk ke dalam mobil! Mama sebenatar lagi akan menyusul."
Diandra menyerahkan Juna kepada Mbok De kembali. Ia memberi kode kepada Zeze dan Mbok De untuk masuk ke dalam mobil.
"Mbak... anak itu? Anak itu anak Pak Juna?" tanya Fira dengan suara bergetar.
Diandra kembali melemparkan senyum sinisnya.
"Menurutmu?."
"Kau hamil di luar nikah? Diandra, kau benar-benar menjijikkan" maki Bu Tatik.
__ADS_1
Diandra tertawa mendengar makian Bu Tatik. Rupanya, kembali ke Desa Papaten membuat sisi gilanya kembali muncul.
Diandra memutar tubuhnya. Ia berjalan perlahan menuju mobilnya. Diandra seperti sedang mempermainkan ibu dan anak itu. Ia memilih meninggalkan Fira dan Bu Tatik yang masih berdiri mematung dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala mereka.