
Juna tertegun ketika mendapati dua orang berpakaian perlente berdiri di depan pintu rumahnya. Kedua orang itu mengenakan jas hitam. Tak lupa dengan kaca mata hitam yang menambah kesan keren pada mereka.
Juna memindai penampilan mereka. Ia mengamati dengan detail kedua sosok yang menampakkan wajah dingin di hadapannya. Siapa mereka? Rentenirkah? Mafia? Atau apa? Juna baru sebulan pindah ke Pare, kenalannya hanya terbatas. Jadi pantaslah jika sekarang Juna dibuat bertanya-tanya dengan kehadiran dua orang asing itu. Kalangan atas, begitulah dugaan Juna.
"Maaf, Pak, kami mengganggu pagi-pagi. Perkenalkan nama saya Edward dan ini adalah atasan saya, Mr. Adira. Saya adalah asisten beliau" kata orang yang memperkenalkan diri bernama Edward
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mr.Adira? Edward? Nama-nama mereka terdengar bagus dan asing di telinga Juna. Tidak mungkin mereka adalah kenalan Juna. Kenal dimana coba?
Apa mungkin mereka adalah salah satu penerima paket yang komplain karena paketnya rusak? Atau mereka dari petugas ekspedisi yang akan memberi Juna surat peringatan karena kinerja Juna jelek? Juna langsung cemas. Apalagi melihat dari cara berpakaian mereka, ia yakin jika mereka adalah orang-orang berduit.
"Maaf jika Anda bingung. Kami kesini untuk bertemu Juna" kata Edward lagi.
"Juna? Saya sendiri, Pak. Anda apa ya? Oh iya sebelumnya mari masuk dulu! Tidak elok jika berbincang di luar seperti ini" ajak Juna mempersilakan kedua tamunya untuk masuk.
"Kamu Juna?" tanya orang yang Edward panggil dengan sebutan Mr.Adira.
Juna mengangguk dan Dira langsung melepas kaca mata hitamnya, mengamati Juna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Edward, apa kau tidak salah informasi? Kata Om Edo yang memberi info tentang keberadaan Kiara adalah muridnya. Masak muridnya segede ini? Apa dia tidak naik kelas bertahun-tahun? Atau dia memang mengalami pertumbuhan fisik yang cepat?" bisik Dira yang masih bisa terdengar oleh Juna.
"Maaf, Tuan. Info dari Tuan Edo seperti itu. Orang yang menelponnya adalah Juna, anak berumur 13 tahun" kata Edward membalas berbisik kepada Dira.
"Tiga belas tahun???" Dira kembali mengamati Juna. Rasanya tidak mungkin jika orang yang duduk di hadapannya adalah anak berumur 13 tahun. Kalau 31 tahun, mungkin Dira akan percaya.
"Ehem... ehem... Adik Juna. Sebelumnya saya ingin memastikan dulu info yang saya dapat dari ayah sambung saya mengenai adik Juna, orang yang menelpon beliau dan memberi info tentang adik saya, Kiara" kata Dira.
"Kiara? Oh... bagaimana keadaannya, Mister? Apakah Kiara sudah ditemukan?" wajah Juna langsung sumringah mendengar nama Kiara disebut oleh laki-laki itu.
"Ya, Kiara sudah kami temukan berkat info dari adik Juna. Ngomong-ngomong dik Juna kelas berapa ya? Kok gede begini?" tanya Dira lagi yang membuat Juna mengernyitkan dahi.
"Maaf, Tuan. Saya sudah tidak bersekolah. Saya sudah lulus bertahun-tahun yang lalu. Mengapa Tuan bertanya seperti itu?."
"Lho? Dik Juna bukannya masih sekolah ya? Om Edo bilang kalau muridnya yang memberi info tentang penculikan Kiara."
"Maaf, Tuan, sepertinya Pak Edo salah sangka! Saya hanyalah pengantar paket dari ekspedisi XXT bukan seorang murid seperti apa yang dikatakan beliau" jawab Juna.
Mr. Adira menepuk wajahnya. Wajahnya langsung merah padam mendengar ucapan Juna. Ia benar-benar kesal. Bagaimana bisa ayah sambungnya itu salah memberi info? Pantas saja Dira kaget melihat Juna yang katanya berumur 13 tahun tapi berperawakan umur 31 tahun.
Edo harus disentil kumisnya karena membuat CEO yang paling tampan dan rupawan malu. Dira memerintahkan Edward menjadwalkan hal itu di dalam buku catatannya. Dira khawatir ia lupa untuk menyentil kumis ayah sambungnya.
"Mas Juna, saya panggil mas saja ya karena sepertinya kita seumuran" kata Dira.
Juna mengangguk.
"Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Adiraka Marcel Putra Sanjaya, CEO paling tampan dan rupawan di bumi ini. Saya adalah kakak dari Kiara, gadis yang diculik kemarin. Saya kesini untuk mengucapkan terima kasih karena atas info dari Mas Juna, adik saya bisa ditemukan" kata Dira memberi sambutan.
"Karena Om Edo mengatakan yang memberi info adalah muridnya, saya menyiapkan beasiswa pendidikan untuk Juna dari SMP sampai S2. Tapi berhubung salah informasi. Jadi sebagai ucapan terima kasih, saya akan memberikan sebuah mobil sport untuk Mas Juna. Besok Mas Juna bisa ikut Edward untuk memilih mobil mana yang disuka."
Juna melongo.
"Mo... mo... mobil?" tanya Juna tak percaya. Ia yakin jika kedua telinganya sedang salah mendengar.
__ADS_1
"Kenapa, Mas Juna? Kurang? Saya tambahin rumah kalau begitu" kata Dira enteng.
"Ru... ru... rumah?"
Belum selesai rasa terkejut Juna dengan tawaran mobil sport dari Dira, sekarang Juna ditawari hadiah rumah.
Juna memegang dadanya yang sesak. Untung saja dia tidak punya riwayat penyakit jantung. Juna bertanya-bertanya dalam hati. Siapakah orang yang sedang berbicara dengannya? Sekaya apa orang itu sehingga dia menawari Juna hadiah-hadiah mewah seperti menawari pisang goreng?
Juna benar-benar tidak habis pikir. Ia masih tak bisa berucap. Mulutnya menganga, matanya berkedip berkali-kali. Mungkinkah jika Juna sedang bermimpi? Tapi mustahi ini mimpi karena tadi Juna merasa sakit saat bangun tidur.
Rumah Juna yang tidak memiliki kasur mengharuskan ia tidur hanya beralaskan tikar. Jadi jangan heran jika Juna selalu merasa kesakitan seperti itu saat bangun tidur.
"Mas Juna, Mas...! Halo..! Halo-halo bandung" panggilan Dira membuyarkan lamunan Juna. Ia mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Juna.
"Eh, maaf Tuan. Saya tidak merespon ucapan Anda. Sa... sa.. saya hanya kaget saja" jawab Juna jujur.
"Kaget? Kenapa kaget, Mas? Kamu pikir saya badut yang sedang mengajak bermain cilukba?" tanya Dira dengan wajah kesal.
"Bu... bukan, Tuan. Saya hanya kaget dengan ucapan Tuan. Tuan tidak perlu memberi saya hadiah seperti itu. Saya ikhlas, Tuan. Sungguh" kata Juna menolak dengan halus.
"Oh tidak bisa, Mas. Seorang Adiraka tidak pernah menerima penolakan. Apalagi hadiah remeh seperti itu, sangat tidak sebanding dengan jasa Mas Juna."
Juna kembali tertegun mendengar ucapan Dira. Hadiah remeh katanya? Ya Tuhan! Juna kembali tidak bisa membayangkan sekaya apa orang di depannya? Apa pekerjaannya sehingga mengatakan hadiah-hadiah mewah itu sebagai hadiah kecil?
"Maaf, Tuan. Tapi penawaran dari Anda terlalu berlebihan untuk saya."
"Tidak ada yang berlebihan untuk orang yang telah membantu keluarga saya. Asal Anda tahu karena informasi Anda, nyawa adik saya bisa diselamatkan. Adik saya memang ngeselin dan menyebalkan. Namun, tetap saja dia berharga bagi saya. Jadi tolong terima hadiah mobil dan rumah itu dari saya" ucap Adiraka lagi.
Dira menghela nafas. Ia melirik kepada Edward seperti memberi kode atau berbicara lewat kedua netranya. Edward mengangguk seakan paham maksud dari keinginan Tuannya.
"Maaf, Mas Juna kalau saya boleh bertanya. Apakah Anda tinggal sendiri di sini?" tanya Edward.
"Iya, kedua orang tua saya sudah meninggal dan saudara saya semuanya ada di Madura."
"Sudah menikah?."
"Belum, Pak Edward."
"Kerjaannya apa?."
"Saya hanya kurir paket di ekspedisi XXT."
Juna kembali menggaruk kepalanya. Kenapa kedua orang ini malah lebih mirip petugas sensus penduduk? Juna benar-benar heran. Mimpi apa ia semalam sampai mendapatkan dua tamu aneh seperti ini? Pagi-pagi pula.
"Begini, Mas Juna. Karena Mas Juna sudah berjasa kepada keluarga Tuan Adiraka. Maka beliau ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih. Berhubung Anda menolak hadiah mobil dan rumah. Maka Tuan Adiraka mengganti hadiah itu dengan sebuah anak cabang perusahan beliau di New York. Bagaimana?" tawar Edward.
Anak cabang perusahaan? Juna lagi-lagi dibuat mematung dengan ucapan Edward. Nalarnya benar-benar tidak sampai. Bagaimana mungkin orang miskin seperti Juna diberi sebuah anak cabang perusahaan? Di New York lagi.
Juna hanyalah seorang guru olahraga, beralih profesi sebagai kurir paket. Lalu Edward menawarinya sebuah anak cabang perusahan di New York. Gila! Sepertinya kedua orang ini sudah gila, pikir Juna.
Perusahaan lokal saja ia tidak mampu apalagi di New York. Juna beranggapan jika mereka akan menawari Juna pekerjaan. Tidak mungkin kan mereka akan memberi perusahaannya? Bisa gulung tikar jika Juna yang memegangnya.
__ADS_1
"Mas Juna, sudah yak, jangan nolak terus! Gue udah capek ngomong serius ama lu. Gatel nih mulut pengen ngomel aja dari tadi" cerocos Dira membuat Juna langsung kaget karena perubahan gaya bicaranya.
"Tidak ada penolakan. Sekarang ikut Edward ke New York. Dia akan mengantarkanmu ke anak cabang perusahaan yang aku hibahkan padamu. Tidak usah berkemas karena aku yakin semua barangmu tidak ada yang berharga" perintah Adiraka yang lagi-lagi membuat Juna terkejut karena ia mengubah lagi cara berbicaranya.
"Eh... tidak bisa begitu dong, Tuan. Meski disini tidak ada yang berharga, saya tetap tidak bisa ikut dengan kalian. Pekerjaan saya bagaimana?."
Pok...
Adiraka kembali memukul wajahnya.
"Mas Juna, jika Tuan Adiraka sudah memberikan anak cabangnya kepada Mas Juna itu artinya Mas Juna menjadi pemimpin di perusahaan itu. Mas Juna tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan di sini karena di sana Mas Juna menjadi bos" kata Edward menjelaskan kepada Juna dengan sabar dan telaten.
"Bos? Bukan cleaning servis, Pak? Maaf Tuan, saya tidak ada ilmu tentang bisnis. Saya hanya seorang guru olahraga yang dipecat lalu beralih profesi sebagai kurir paket....."
"STOP...!!! Gue capek berdebat ama lu" teriak Dira memotong perkataan Juna.
"Juna, ikut Edward sekarang atau rumah ini gue bakar sampai hangus! Gue nggak suka ditolak karena itu sama saja mencoreng gelar CEO terbaik yang gue miliki. Ayo pergi sekarang atau gue seret ke KUA!" perintah Dira tegas.
"Tu... tuan... kenapa KUA? Memangnya Mas Juna mau dinikahkan?" tanya Edward tak mengerti.
Pok...
Adiraka memukul bahu Edward, membuat Juna tersentak kaget. Ia tidak mengerti dimana letak kesalahan Edward sehingga Tuan Adiraka memukulnya.
"Jangan diam saja, Juna!!! Ayooooooo....!!!" teriak Adiraka sembari menarik tangan Juna.
Juna yang masih heran hanya bisa melongo, mengikuti langkah Adiraka yang menyeretnya keluar dari rumah.
"Tuan, sebentar. Ini motor saya mau saya masukkan ke dalam rumah" kata Juna.
"Motor? Motor yang mana?" Dira celingak-celinguk mencari motor yang dimaksud oleh Juna.
Juna menunjuk motor bebek berwarna hijau pudar yang berada di samping rumahnya.
"Itu motor?" tanya Dira tak percaya.
Juna mengangguk.
"Edward, preteli segera. Fosil begitu dibilang motor" cibir Dira membuat Juna lagi-lagi menganga dengan ucapannya.
"Jangan, Tuan. Saya membelinya dengan hutang. Belum lunas lagi. Saya mohon, jangan dipreteli."
"Astaga, Junaaaa.....!!! Dengar baik-baik! Kamu tidak usah memikirkan benda fosil yang ada disini. Nanti saya akan beri kamu dollar untuk melunasi semua hutang kamu. Heran deh gue! Ditawari mobil sport nggak mau. Giliran motor fosil hampir punah, malah disayang. Juna... Juna..." omel Dira panjang kali lebar.
Juna kembali digiring masuk ke dalam mobil milik Dira. Ia duduk dengan kikuk. Juna tahu jika mobil yang dibawa Dira adalah mobil mewah. Bukan tipe-tipe mobil yang pernah dipakai oleh Pak Narto atau orang-orang kaya di desanya dulu. Juna khawatir ia akan mengotori mobil itu sehingga ia benar-benar berhati-hati.
Mobil mulai melaju. Juna tidak tahu ia akan dibawa kemana. Juna memilih diam, memalingkan wajah agar bisa mengamati jalan yang dilewati oleh mobil itu. Juna merasa benar-benar nyaman sehingga ia tertidur.
Juna terbangun ketika merasakan bahwa mobil tidak lagi melaju. Edward menyuruh Juna keluar dan betapa terkejutnya Juna ketika mendapati sebuah helikopter di hadapannya.
Adiraka menyuruh Juna naik ke helikopter terlebih dahulu. Ia menurut saja. Hal ini lebih baik daripada diseret lagi oleh Tuan Adiraka.
__ADS_1
Juna melihat Edward dan Adiraka berbicara sebentar sebelum akhirnya Edward naik ke helikopter. Kini helikopter itu mulai terbang mengudara. Juna tidak lagi bertanya. Ia hanya bisa pasrah sembari berdoa agar selamat sampai di tujuan. Meskipun ia tidak tahu kemana Edward akan membawanya.