HEI JUN

HEI JUN
62


__ADS_3

Pukul 10.00 WIB, Kediaman rumah Athalia.


"Sah???"


"Sah!"


Ucapan syukur langsung menggema dari para hadirin yang menyaksikan akad nikah Juna dan Athalia hari ini. Juna mengucapkan ijab kabul dengan lancar, dalam tarikan satu nafas. Terlihat sekali raut wajah Juna penuh kelegaan setelah berhasil menjalani detik-detik menegangkan dalam hidupnya.


Tes


Air mata bahagia langsung jatuh dari kedua netra Juna. Ia sekarang sudah resmi melepas status lajangnya. Mayjuna July Agustino berganti status di KTP ketika usianya menginjak 33 tahun.


Pelukan hangat tak henti-hentinya diterima Juna dari Haris dan Ines. Mereka benar-benar bahagia melihat adik bungsunya sudah menikah. Meskipun ada sedikit rasa sedih di hati mereka karena ketidakhadiran sosok Bu Tias. Emak yang selalu menanti kapan anak bungsunya menikah.


Pak penghulu meminta pengantin perempuan untuk turun. Lalu muncullah sosok Athalia yang berjalan menuruni anak tangga. Ia diapit oleh ibu dan bibinya. Jika raut wajah Juna memancarkan rasa bahagia, berbeda dengan Athalia. Wajah dinginnya menatap tajam ke arah Juna. Tak ada senyum yang Atha tampakkan.


Atha memang tidak bahagia di hari pernikahannya. Ia yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba saja diseret paksa dari rumah sakit. Ia dikurung di kamarnya semalaman. Ponselnya disita.


Atha bertanya-tanya ada apakah gerangan? Semalam, sikap orang tuanya biasa saja saat ia pamit untuk berangkat ke rumah sakit. Tidak ada kegiatan apapun di rumahnya.


Bagaimana Atha tidak kaget dan heran? Di seret pulang secara paksa dan mendadak. Dikunci di dalam kamar semalaman. Lalu ketika matahari belum muncul di atas peraduannya, Athalia kembali dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang asing di kamarnya. Mereka menyuruh Atha mandi, membantu memakaikan kebaya dan terakhir memoles riasan pada wajah cantiknya.


Athalia baru menyadari dengan situasi saat itu ketika mendengar Juna melafalkan ijab kabul. Tubuh Athalia langsung gemetar, nyaris tumbang. Untung saja orang-orang di sampingnya bergerak cepat. Mereka membantu Atha agar duduk di ranjang tidurnya dan menenangkannya. Mereka paham, Atha pasti kaget.


"Silakan dicium tangan suaminya!" perintah Pak penghulu membuyarkan lamunan Atha. Ia tidak tahu sejak kapan dirinya berada di hadapan Juna. Laki-laki itu menjulurkan tangannya, menunggu Atha untuk mencium tangannya.


Atha mendelik. Juna benar-benar membuatnya marah. Andai saja Ibunya tidak menyikut lengan Atha, ia tidak mungkin menerima uluran tangan Juna.


Atha mengambil tangan Juna dan mengecupnya dengan kilat. Setelah itu penghulu menyuruh Juna untuk mengecup kening Atha. Juna melakukan apa yang diperintahkan penghulu dengan perlahan. Ingin sekali Atha menginjak kaki Juna agar menyudahi menyentuh keningnya.


Juna memang sengaja berlama-lama melakukan hal. Ia ingin membangun chemistry dengan Athalia. Namun, siapa sangka. Lawan mainnya menolak disalurkan energi cinta dari Juna. Ia malah memberikan segudang kebencian kepada Juna yang sudah berani sekali menikahinya.


"Pengantin baru, udahan ya cium keningnya! Ini ada berkas yang harus ditandatangani" tegur pihak KUA.

__ADS_1


Juna nyengir kuda. Ia segera menandatangi berkas-berkas itu. Sesudahnya, Atha dan Juna berfoto sembari memperlihatkan buku nikah. Banyak kamera ponsel yang mengabadikan momen itu.


"Mas Juna, selamat ya! Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah, warohmah. Langgeng sampai kakek-nenek" Kiara langsung memeluk Juna. Ia sudah menganggap Juna sebagai kakaknya sehingga tidak canggung untuk melakukan itu.


Kiara mengurai pelukannya. Ia hendak menyalami Athalia. Namun, Kiara ragu ketika melihat wajah menyeramkan Atha. Ia menggigit bibir bawahnya, mengurungkan niat, memilih menganggukkan kepala saja dan langsung melipir ke belakang tubuh suaminya.


Bukan tanpa alasan Kiara merasa canggung dan takut seperti itu. Perjodohan Dira dan Atha yang gagal adalah penyebabnya. Kiara paham bagaimana rasa sakit hati Athalia yang ditolak mentah-mentah oleh Dira. Kakaknya itu bukannya meminta maaf, malah berkata seenaknya kepada Atha. Kiara malu, benar-benar malu.


"Mas Juna, selamat menempuh hidup baru. Doa yang terbaik dari kami untuk Mas Juna dan dokter Athalia" ucap Elang sembari menyalami Juna dan Atha. Elang yang merasa tidak ada masalah dengan Atha, bersikap biasa saja. Ia tidak peduli meski wajah Atha tidak ramah dan melancarkan sinar laser permusuhan padanya.


Kemudian satu-persatu undangan yang hadir memberi ucapan selamat kepada pengantin. Atha memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia berdalih tidak enak badan.


"Sabar" bisik Elang.


Juna mengangguk.


"Istri Mas Juna masih dalam fase patah hati. Kiara yakin Mas Juna punya stok sabar yang banyak untuk menghadapi dokter Atha" ucap Kiara tulus.


***


"Atha?"


Juna dibuat kaget ketika melihat istrinya sudah berganti pakaian. Baju kebaya yang dipakai Athalia berganti kemeja berwarna navy dan rok span hitam. Atha juga membawa snellinya beserta stetoskop yang ia simpan di saku snellinya.


"Kamu mau kemana?" Juna bertanya lagi.


Atha tidak menyahut. Ia sibuk menghapus riasan tebal pada wajahnya, menganti riasan yang lebih tipis dan natural.


"Sayang, mau kemana?" Juna mulai mendekati Atha. Ia memeluk istrinya itu dari belakang.


"Aku ada jadwal operasi" jawab Atha.


"Operasi? Bukankah aku sudah meminta izin cuti untukmu selama seminggu?."

__ADS_1


"Di sana kekurangan dokter. Aku membatalkan cutinya" sahut Atha padahal sebenarnya ia tidak tahu menahu masalah cuti yang dibicarakan Juna.


"Tidak bisa begitu. Sayang, ini hari pernikahan kita. Masih banyak tamu di bawah. Apa kata mereka jika kamu pergi begitu saja?."


"Aku tidak peduli."


"Sayang, aku mohon! Mengertilah! Orang tuamu akan malu jika kamu tidak ada. Tolong jangan pergi! Aku akan menelpon pihak rumah sakit agar tidak menyuruhmu masuk."


Pranggg


Athalia melempar botol parfum yang baru saja ia pakai. Juna yang saat itu hendak menelpon pihak rumah sakit, tentu saja kaget.


"Mengerti kamu bilang? bolehkah aku tertawa ha ha ha saat ini, Jun?" tanya Athalia ketus.


"Aku harus mengerti kalian yang bertindak semaunya padaku? Oh, Tuhan! Dimana rasa keadilan itu?" lanjut Atha.


"Kau menikahiku tanpa mengerti kemauanku. Kau memaksaku untuk mau menjadi istrimu. Juna, apakah kau mengerti perasaanku saat ini hah?."


"Aku paham, Atha. Aku paham. Kau sedang patah hati dan aku akan mengobati patah hatimu. Atha, sadarlah! Tuan Dira yang kau cintai sudah menikah. Dia sudah bahagia dengan istrinya" potong Juna cepat.


"Aku tidak peduli, Jun! Aku tidak peduli! Kak Dira sudah menikah atau tidak, rasa cintaku akan tetap ada untuknya. Aku hanya menginginkan dia buka kamu Jun."


"Hentikan menunggunya, Atha! Bukalah hatimu untukku. Aku akan membahagiakanmu semampuku."


"Omong kosong! Kau bilang akan membahagiakanku tapi nyatanya sekarang kau menyakitiku, Juna. Kau menikahiku. Kau menikahiku, Jun."


"Aku menikahimu bukan menyiksamu, Atha. Ayolah, pendam dulu emosimu! Kita turun ke bawah untuk menemui tamu. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Aku mohon Atha. Jangan pergi!" pinta Juna memelas.


"Aku tidak ada kewajiban untuk mengabulkan permohonanmu. Aku tetap akan pergi. Kau temui saja tamu itu sendiri."


"Tolong jangan begini, sayang!."


"Kamu yang membuatku seperti ini, Juna! Kau pikir aku akan bahagia jika menikah denganmu? Kau pikir kita akan mengarungi rumah tangga bersama? Tidak, Juna! Tidak! Kamu salah besar. Aku pastikan kau tidak akan bahagia dengan pernikahan ini. Cepat atau lambat kau akan menyerah dan pergi" ucap Athalia kemudian berlalu meninggalkan Juna yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


__ADS_2