
"Semuanya stand by! Sepuluh menit lagi acara akan dimulai. Zeze dan tim segera siapkan kamera. Acara welcome baby Akila akan segera dimulai."
Zeze mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, menandakan ia menerima perintah yang disampaikan oleh bos nya. Dikedua tangannya, sebuah kamera DSLR siap membidik sang empunya hajat yang tak lain adalah Keluarga Sanjaya.
Alunan musik gamelan berbunyi mengiringi kedatangan sang tuan rumah. Nyonya Kiara Putri Sanjaya bersama suaminya, Tuan Aindra Elang Putra Wilson.
Mereka berjalan beriringan dengan membawa box lucu yang menjadi tempat tidur putri mereka. Bayi mungil berparas cantik jelita itu diberi nama Akila Adriani Putri Wilson.
Hiruk pikuk acara penyambutan generasi penerus keluarga Sanjaya sepertinya tidak mengusik bayi mungil itu. Akila masih saja terlelap dalam tidur indahnya. Sesekali nampak senyuman indah terukir dibibir manis bayi itu. Entah, mungkin Akila sedang bermimpi indah.
Zeze segera membidik keluarga bahagia itu. Berbagai pose sudah ditangkap oleh kameranya. Tamu-tamu mulai berdatangan dan tugas Zeze pula mengabadikan para tamu yang ingin berfoto dengan tuan rumah.
Ditengah keramaian acara welcome baby Akila, hadirlah Jun sebagai seksi sibuk ke sana ke mari. Tugasnya mengecek para tamu yang hadir. Setiap tamu yang hadir memiliki barcode yang harus di scan guna mengantisipasi adanya penyusup.
Dan tugas Juna lah, mengamati dengan seksama setiap tamu yang hadir. Ia berada di barisan paling depan, memimpin sepuluh anak buah yang bertugas membantunya untuk mengecek para tamu.
Lain Juna, lain pula Athalia. Istri dari Mayjuna July Agustino itu di daulat sebagai seksi konsumsi. Atha ditempatkan di bagian stand makanan. Ia ditugaskan untuk mengecek ketersediaan makanan, kelayakan makanan dan membantu para tamu untuk memilih makanan.
Ya, kali aja ada tamu yang galau mau makan apa. Atha bisa memberikan referensi makanan kepada tamu itu agar tidak bingung dalam memilih.
Jika Juna berada di barisan depan, Atha sebaliknya. Ia berada di bagian belakang. Meskipun Kiara dan Elang memakai jasa EO terbaik di Jakarta. Namun, tetap saja harus ada orang dalam yang mengecek setiap part agar tidak terjadi kekacauan dalam acara itu.
Cekrek...
Zeze tersenyum lebar ketika melihat sosok uang baru saja ia bidik. Laki-laki bergelar CEO paling tampan dan rupawan itu muncul. Ia berjalan dengan gagahnya, menampakkan wajah dinginnya kepada dunia.
Dira berdiri di depan podium. Ia mengambil alih tugas Elang untuk memberi sambutan kepada para tamu. Untung saja Elang tidak gila panggung. Ia merelakan saja kakak iparnya itu berpidato. Entah apa yang disampaikan Dira, semua terasa tidak nyambung dan absurd.
"Zeze, tolong potret keluarga Sanjaya dalam formasi lengkap!"
Zeze mengangguk. Ia kembali mengangkat jempolnya dan segera berlari ke arah pemandu acara. Zeze memberi kode jika ia akan melakukan pemotretan untuk keluarga Sanjaya. Dengan bantuan host ganteng paling mahal abad ini, anggota Keluarga Sanjaya bisa dikumpulkan.
"Tolong, tukang fotonya mundur sedikit ya! Saya tidak kuat jika terlalu dekat dengan kamera" perintah Dira.
Zeze mengangguk. Ia mundur beberapa langkah dan mulai memberi aba-aba kepada mereka. Dalam hitungan ketiga, Zeze berhasil mengambil beberapa foto keluarga Sanjaya dengan beberapa gaya.
Zeze juga menyuri beberapa foto Dira yang akan ia jadikan sebagai koleksi pribadinya. Lumayan, bisa dipajang di kamar sebagai teman tidur.
Acara inti dimulai. Setelah doa-doa dilantunkan untuk baby Akila, sampailah pada acara ramah tamah. Para tamu dipersilakan untuk menyantap berbagai hidangan yang tersedia di meja. Mulai dari masakan nusantara maupun masakan western.
Inilah waktu krusial bagi Athalia. Ia segera bersiap menyambut para tamu dan menjalankan tugasnya. Benar saja, baru hitungan ketiga kedua matanya dibuat berkunang-kunang dengan banyaknya tamu yang datang. Athalia yang semula segar dan siap tempur, seketika mual dan pusing.
Atha memilih mundur. Ia memanggil salah satu EO untuk menggantikan tugasnya. Ia menarik kursi tamu dan memilih duduk sejenak. Atha menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Rasa mual dan pusingnya sudah berkirang sedikit. Ia lalu meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan teh hangat.
Diteguknya teh hangat itu dengan perlahan. Aroma teh melati yang segar benar-benar membuat mualnya hilang. Atha meneguk teh hangat itu sampai tandas. Kesegaran tubuhnya sudah kembali pada semula.
"Kau kenapa, sayang?" tanya Juna yang tiba-tiba muncul di samping Atha.
"Tidak apa-apa, Jun! Aku hanya pusing. Melihat banyaknya tamu yang menyerbu meja makanan membuat mataku berkunang-kunang" ucap Atha.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu istirahat di kamar. Saya tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
"Tidak, Jun! Aku sudah tidak apa-apa. Kamu kembalilah ke depan! tidak perlu mengkhawatirkanku" ucap Atha.
"Bagaimana saya tidak mengkhawatirkanmu, Sayang? Saya melihatmu tidak baik-baik saja."
"Kau salah lihat, Jun. Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat sekarang! Kembalilah ke depan!" usir Atha.
"Hei, kamu mengusirku? Aku ke sini selain ingin melihatmu juga ingin makan. Perutku lapar sekali" ucap Juna sembari memegang perutnya yang keroncongan.
Atha mendengus kesal. Ia tidak habis pikir dengan Juna yang masih sempat minta makan saat bertugas. Padahal satu jam sebelum acara di mulai, Juna sudah makan dua piring nasi padang. Sekarang, ia malah minta makan lagi.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan" ucap Atha.
"Emmmmhhh... Ambilkan saya nasi goreng!."
"Baiklah!."
"Tambahkan ayam bakar dua potong" ucap Juna lagi.
"Jun, kau tadi sudah makan nasi padang dua piring dan sekarang kau mau makan nasi goreng dengan ayam bakar dua potong? Hei, Jun! Apakah perutmu tidak kekenyangan?" tanya Atha heran.
Juna menggeleng.
"Nasi padangnya sudah jadi keringat. Sekarang saya butuh asupan energi lagi. Sayang, tolong ambilkan sesuai pesananku ya" ucap Juna sembari mengedipkan mata ke arah Atha.
Atha bangkit dengan malas. Ia kemudian berjalan menuju meja yang berisi nasi goreng. Atha memgambil satu piring, lalu berjalan lagi menuju meja yang berisi ayam bakar. Sesuai permintaan Juna, Atha mengambil dua potong ayam bakar. Entah, suaminya itu akan menghabiskan makanan itu atau tidak.
Juna membuka mulutnya. Ia meminta Atha untuk menyuapinya.
"Ini di tempat umum, Jun! Apa kau tidak malu?" tanya Atha.
"Untuk apa malu? Kamu kan istriku" sahut Juna cuek.
Juna kembali membuka mulutnya meminta Atha agar segera menyuapinya. Mau tidak mau, Athalia mulai menyuapi Juna. Awalnya ia merasa canggung, tapi itu tidak berlangsung lama.
Atha mulai menikmati menyuapi suaminya itu. Sesekali ia menyeka ujur bibir Juna yang belepotan.
Ah, pemandangan itu sangat sayang untuk tidak diabadikan. Zezs yang tidak sengaja menangkap momen romantis Juna dan Atha, lamgsung membidik kameranha ke arah mereka berdua.
Cekrekk...
Zeze menjerit dalam hati. Melihat keromantisan pasangan itu membuatnya mupeng. Andai saja bisa gantian, Zeze ingin sekali berada di sana. Duduk berdua bersama Dira. Ah, pasti menyenangkan dan romantis sekali.
"Saya sudah kenyang" ucap Juna.
"Bagaimana tidak kenyang, Jun? Kau makan sampai bersih seperti ini. Lihat hanya ada tulang ayam dan acar di atas piringmu."
"Makanan di sini cocok dengan lidah saya. Jadi jangan heran kalau saya makan banyak" ucap Juna polos. Ia tidak sadar jika ucapannya barusan bisa menabuhkan genderang perang.
__ADS_1
Benar saja, wajah Athalia langsung masam. Ia menduga jika suaminya tidak cocok dengan masakan yang ia buat.
Atha langsung bangkit. Ia membawa piring kotor Juna ke belakang. Ia kesal sekali dengan ucapan Juna.
Atha memilih tidak kembali menghampiri Juna. Ia duduk di dapur sembari meredakan emosinya. Diteguknya jus jeruk yang berada di hadapannya. Entah, milik siapa jus jeruk itu. Atha tidak peduli.
"Maaf, Anda meminum jus jeruk itu?" tegur seseorang saat Atha sudah menghabiskan jus jeruk dalam gelas itu.
Atha tersentak kaget. Kedua netranya membulat tatkala melihat perempuan yang berada di hadapannya. Mulut Atha menganga. Ia tidak berkedip sedikitpun menatap sosok perempuan yang berdiri di hadapannya.
"Hello..? Kenapa Anda melamun?."
Pertanyaan perempuan itu sontak membuat Atha tersadar. Ia buru-buru meminta maaf akan kesalahannya yang asal ambil milik orang.
"Maaf" ulang Atha. Ia sebenarnya masih berada dalam mode terkejut.
"Tidak perlu gugup seperti itu. Aku hanya bertanya. Aku tidak akan menghakimimu. Lagipula hanya masalah jus jeruk. Aku bisa mengambilnya lagi."
Atha mengangguk. Lagi-lagi lidahnya kelu untuk berucap.
Tiba-tiba muncullah seorang perempuan paruh baya bersama bocah laki-laki. Mereka berjalan menghampiri perempuan itu.
"Ma...ma...mama...." teriak bocah laki-laki itu. Ia mengulurkan kedua tangannya sebagai kode jika bocah itu ingin digendong.
"Juna. Tadi ke mana saja sama Mbok De? Mama nyariin tahu."
Deg.
Atha langsung memegang dadanya. Nafasnya sesak ketika mendengar nama bocah laki-laki itu.
"Juna liat ican, Mamaaaa! Dicana banyak ican. Juna suka ican" teriak bocah laki-laki itu lagi.
Perempuan itu mendusel-ndusel hidungnya ke pipi gembul si bocah. Bocah laki-laki tertawa mendapat perlakuan seperti itu.
Tubuh Atha bergetar ketika melihat pemandangan di hadapannya. Wajah perempuan itu tidak asing baginya meskipun Atha hanya bertemu dengannya sekali. Dan bocah laki-laki itu. Ah, tidak! Atha tidak kuat untuk mengatakannya.
Atha memilih mundur ke belakang. Ia memutar badannya dan kembali ke tempat acara berlangsung. Kedua netranya mencari sosok Juna. Ia yang teringat Juna sedang bertugas di depan, buru-buru berlari untuk menghampiri Juna.
Benar saja, suaminya itu sedang duduk sembari mengobrol dengan salah satu anak buahnya. Atha mempercepat langkahnya untuk menghampiri Juna. Juna tidak boleh di sini. Juna harus segera pulang.
"Jun...!" panggil Atha.
"Ya, Sayang. Ada apa?."
"Kita harus pulang sekarang."
"Pulang? Kenapa?" tanya Juna tidak paham.
"Sepertinya aku pusing kembali dan mual sangat parah. Aku ingin pulang sekarang."
__ADS_1
"Baiklah, jika kau sedang sakit. Kita pulang sekarang. Tapi saya harus pamit kepada keluarga Sanjaya" ucap Juna.
"Tidak usah, Jun. Kamu pamit saja lewat telepon. Aku sudah tidak kuat. Mataku berkunang-kunang" ucap Atha kemudian ia menarik tangan Juna agar meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya.