HEI JUN

HEI JUN
39


__ADS_3

Tiga hari setelah Juna dan Athalia pergi jalan-jalan. Atha kembali datang ke gedung Sanjaya corp. Lima belas menit lagi jam makan siang. Ia ingin mengajak Juna makan siang bersama. Atha sudah memasak soto ayam untuk menu makan siang mereka. Tak lupa sebotol es teh yang mungkin Juna butuhkan untuk melepas dahaga.


Atha sudah mengirim pesan kepada Juna bahwa ia akan mengajaknya makan siang bersama. Namun, sudah lebih dari tiga puluh menit Juna belum juga membalas pesan dari Atha. Tanpa menunggu jawaban Juna, Atha memutuskan untuk meluncur ke kantor Juna. Toh Juna tidak akan menolak jika diajak makan siang olehnya.


"Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Juna" kata Atha ketika ia tiba di meja resepsionis.


Resepsionis itu menautkan kedua alisnya. Perempuan berkacamata itu merasa asing dengan nama yang diucapkan Atha.


"Pak Juna? Pak Juna siapa?" pertanyaan balik resepsionis itu membuat Atha gelagapan. Pasalnya Atha juga kaget ketika melihat respon resepsionis itu.


"Juna, karyawan di sini. Karyawan baru lebih tepatnya. Dia tinggal di mess karyawan" kata atha menjelaskan info yang ia tahu tentang Juna.


"Karyawan baru? Tinggal di mess? OB ya, bu? Tapi setahu saya tidak ada OB yang bernama Juna."


Atha langsung cemas. Tidak mungkin kan Juna membohonginya? Jelas-jelas kemarin Juna mengatakan seperti itu. Mengapa resepsionis itu tidak tahu?


Atha mengambil ponselnya. Untung saja kemarin ia sempat berfoto dengan Juna. Atha menyodorkan ponselnya agar resepsionis itu dapat melihat wajah Juna.


"Oh, ini sih Mas MayJuna. Ajudannya Mr. Adira" jawab resepsionis itu cekikikan.


"Ajudan?" tanya Atha kaget.


"Iya, Bu. Ajudan. Anak jujur dan sopan" jawab resepsionis itu lagi.


"Mas Mayjuna sedang ada pelatihan komputer, Bu. Mungkin setengah jam lagi selesai. Jika ibu mau menunggu, silakan duduk! Nanti saya infokan kepada Mas Mayjuna jika ada tamu untuk beliau" kata resepsionis itu dengan sopan.


Athalia mengangguk. Ia segera berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh resepsionis tadi. Atha memilih membaca majalah sembari menunggu kemunculan Juna.


Tepat tiga puluh menit lebih dua puluh detik, Juna muncul. Wajah Juna memancarkan keruwetan yang hakiki. Atha segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Juna.


"Atha? Kamu kenapa ada di sini?" tanya Juna heran. Ia tidak menyangka akan kedatangan tamu spesial di siang hari seperti ini. Bawa rantang lagi.


"Hei, Jun! Aku ingin mengajakmu makan siang" jawab Atha. Ia mengangkat perlengkapan makan siang yang ia bawa agar Juna dapat melihatnya.


"Ya ampun! Kamu baik sekali. Ayo, kita makan di kantin saja!" ajak Juna.


Atha mengangguk. Ia segera melangkahkan kakinya mengekori Juna. Sesekali Atha menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Dira yang mungkin saja muncul secara tiba-tiba di hadapannya.


Namun, Atha harus menelan kekecewaan karena sosok yang dicarinya tidak ia temui. Apakah Dira masih ada di Bali? Ataukah Dira sedang ada meeting di luar? Atha mencoba menerka-nerka sendiri hingga tanpa ia sadari jika merrka sudah tiba di kantin.


"Mau makan apa? Biar aku pesankan" tanya Juna.


Athalia menggeleng rupanya Juna tidak peka jika dirinya membawa rantang dan perlengkapan lainnya.


"Aku membawa makanan, Jun. Apa kau tidak melihat jika aku membawa lunch box?."


"Lunch box?."


"Iya. Kalau di kampungmu namanya rantang" jawab Athalia sembari menunjukkan sekali lagi benda yang ia bawa.



"Jadi, itu rantang?" tanya Juna.


"Iya, Juna."

__ADS_1


"Maaf, aku pikir itu tas kerjamu" kata Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Atha langsung menepuk dahinya. Bagaimana bisa Juna mengira jika lunch box yang dibawanya adalah tas kerja? Atha lupa jika Juna terlalu polos. Juna seperti burung camar yang lama mendekam di sangkar. Tidak tahu perkembangan zaman, dan ah sudahlah! Atha sepertinya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan seperti apa lugunya seorang Juna, laki-laki yang ia temui di pantai.


"Kamu masak apa?."


"Soto."


"Kamu memasaknya sendiri?" tanya Juna lagi.


"Tentu saja, Jun. Apa kau juga berfikir aku hanya bisa menyuntik pasien?" Atha mulai berada di mode sensitifnya.


"Ti... Tidak, Atha. Aku hanya bertanya saja" cicit Juna.


Atha mengeluarkan dua mangkuk plastik dan beberapa peralatan makan lainnya. Ia mulai menyajikan soto untuk Juna dan dirinya sendiri. Wangi kuah soto benar-benar menggugah selera makan Juna. Ia sudah tidak sabar untuk melahap soto ayam buatan Athalia.


"Enak?" tanya Atha ketika melihat Juna yang tidak berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Juna tidak menyahut. Ia mengacungkan jempolnya sebagai jawaban atas pertanyaan Atha.


Atha melirik ke arah mangkuk Juna. Rupanya lontong yang tadi ia potongkan untuk Juna sudah mau habis. Untung saja Atha membawa banyak. Ia khawatir Juna masih lapar jika hanya makan satu ruas lontong.


"Mau nambah, Jun?" tawar Atha.


Juna langsung mengangguk. Efek lapar dan rasa soto yang enak membuat Juna tidak cukup dengan satu porsi saja.


Atha menambahkan potongan irisan lontong dan bahan-bahan yang lain ke dalam mangkuk Juna. Tak lupa juga Atha menambah kuah soto ayamnya untuk Juna.


Mangkuk keduapun habis. Atha menyodorkan botol minumannya yang sudah ia isi dengan es teh. Juna tanpa malu langsung meneguknya dan hampir menghabiskan setengahnya.


"Masakanmu enak sekali. Jangan heran jika aku lahap sekali tadi!."


"Kalau kamu mau aku akan datang setiap hari kesini. Aku akan memasakkan berbagai makanan untukmu."


"Tidak usah, Atha. Aku lebih senang kau menjadi istriku. Jadi kau tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk mengantarkan makan siang. Karena aku dengan senang hati akan pulang untuk makan siang bersamamu."


Plak.


Atha langsung memukul lengan Juna. Lagi-lagi Atha menganggap ucapan Juna sebagai lelucon yang tidak seharusnya ia lontarkan.


"Kenapa memukulku?" tanya Juna protes.


"Spontan, Jun" jawab Atha.


"Apa kau malu mendengar ucapanku tadi?."


"Hentikan leluconmu, Juna! Aku tidak mau mendengarkannya lagi" Atha mencubit lengan Juna dengan gemas.


"Lelucon? Kamu pikir aku bencanda hah? Aku serius Atha. Katakan kapan kau siap aku nikahi? Besok? Lusa? Atau malam ini? Aku sudah siap lahir batin untuk menjadi suamimu" kata Juna yang entah sejak kapan ia berubah menjadi sosok seperti Suhri, muridnya.


"Kamu sepertinya sedang konslet, Jun. Pelatihan komputer tadi membuat syaraf-syaraf di otakmu terganggu. Makanlah! Dan jangan membuat lelucon lagi!" ucap Atha tegas.


Juna tak menyahut. Ia kembali meneguk es teh yang dibawa Atha sedangkan Atha mulai menikmati soto ayam buatannya. Mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jun..."

__ADS_1


"Hem??" Juna menyahut panggilan Atha dengan dehaman saja.


"Aku ingin bertanya apakah semua karyawan makan siang di sini?."


Juna tak menyahut. Ia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban pertanyaan Atha.


"Oh iya, tadi saat aku tanya resepsionis. Katanya kamu bukan karyawan disini tetapi ajudan Mr. Adira. Apa itu benar, Jun?" tanya Athalia hati-hati.


"Ajudan?."


"Iya, Anak jujur dan sopan."


Juna memutar kedua bola matanya dengan malas. Setelah nama lengkapnya diganti dengan nama-nama bulan, sekarang muncul lagi sebutan untuk dirinya.


"Apakah Tuan Adira menyukaimu, Jun?" tanya Atha.


"Maksudmu apa, Atha? Tuan Dira masih normal dan akupun juga begitu" kata Juna dengan nada suara yang meninggi.


"Maksudku bukan begitu. Tuan Dira memberimu sebutan sebagus itu pasti karena dia suka dengan kinerjamu."


"Suka dengan kinerjaku? Bahkan aku belum resmi bekerja di tempat ini. Dan kau harus lihat bagaimana ia dengan seenaknya mengganti namaku menjadi aneh seperti ini" kata Juna sembari menyodorkan ID cardnya.


"Mayjuna July Agustino? Ini nama lengkapmu, Jun?" tanya Atha dan ia tidak bisa menahan tawa untuk kasus ini.


"Iya! Nama paksaan dari Tuan Adira. Orang tuaku memberi nama senderhana. Ahmad Junaidi, dengan harapan aku menjadi sosok yang sederhana dan baik. Lalu laki-laki itu dengan seenaknya mengubah namaku menjadi nama-nama bulan. Ah, sudahlah! Aku lapar lagi jika membahas hal itu" Juna kemudian menarik mangkuk soto Athalia dan menyantapnya.


"Dia manis sekali, Jun" ucap Atha tanpa sadar ia sudah keceplosan di depan Juna.


"Manis? Menyebalkan adanya. Kau harus melihat bagaimana Tuan Dira menyiksa Pak Edward dengan tugas-tugas yang aneh...."


"Pasti lucu dan menggemaskan, ya, Jun" kata Atha memotong ucapan Juna.


"Apakah dia mempunyai kekasih?" tanya Atha lagi.


"Aku tidak tahu. Lagipula kenapa kita malah membahas orang itu? Lebih baik kita sekarang membahas kapan kau siap menjadi istriku" sahut Juna tanpa dosa.


Cettasss...


Atha menyentil dahi Juna.


" Move On dulu dari sang mantan dan mantan calon gebetan, baru ngajak nikah! Dua perempuan itu masih membekas di hatimu kan, Jun?" tebak Atha.


"Tidak! Aku sudah melupakan mereka" jawab Juna tegas.


"Lupa! tapi kalau malam kau memimpikan salah satu dari mereka" ucap Atha cekikikan.


"Dari mana kau tahu?" tanya Juna kaget.


"Rahasia, Jun" jawab Atha. Ia kembali terkekeh melihat raut wajah Juna yang kesal.


"Dasar keturunan cenanyang! Bisa aja bongkar rahasia orang" umpat Juna dalam hati. Ia masih tidak habis pikir bagaimana Atha bisa tahu apa yang terjadi padanya padahal ia sendiri tidak bercerita kepada siapapun.


Atha dan Juna terus mengobrol sambil bercanda. Mereka menghabiskan jam makan siang bersama. Mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang mengamati mereka dari kejauhan. Sosok itu duduk sembari mengcekram kertas dengan keras.


"Tidak bisa dibiarkan! Dokter itu akan menjadi gangguan untuk Juna. Aku harus segera memisahkan mereka."

__ADS_1


__ADS_2