
Atha mengacak-acak isi tasnya. Ia mencari benda pipih yang sudah dua minggu lebih tidak ia pegang. Sejak tragedi pingsan di hotel dan berakhir dengan menginapndi runah sakit, Atha sama sekali tidak melihat ponselnya. Dimana benda itu? Apakah tertinggal di hotel? Ataukah tertinggal di rumah sakit?
Lelah mencari di tasnya. Atha segera keluar dari kamarnya. Ia mencari keberadaan ibunya untuk meminjam ponsel. Atha akan menghubungi Juna guna menanyakan keberadaan ponsel miliknya. Siapa tahu suami kesayangannya itu menegetahui keberadaan benda pipih miliknya.
"Ibuuuuuuu....." teriak Atha.
Bu Nora kembali menarik nafas panjang. Belum sehari anak dan menantunya berada di rumahnya, kedua telinganya merasa sakit. Atha suka sekali berteriak padahal Bu Nora belum mengalami gangguan pendengaran. Bu Nora juga heran mengapa putri semata wayangnya itu berubah drastis. Atha yang biasanya berbicara lemah lembut seperti putri keraton, kini berubah seperti penyanyi rock yang suka berteriak.
"Ibuuuuuuuuuuu......." teriak Atha lagi.
Bu Nora segera mematikan kompor ketika mendengar teriakan Atha untuk kedua kalinya. Buru-buru Bu Nora beranjak dari dapur. Ia berjalan menghampiri anaknya yang sedang berdiri mencari keberadaannya di ruang tengah.
"Ah, Ibuuuuuuuuu.....! Akhirnya kau muncul" seru Atha saat melihat Bu Nora muncul dengan celemek yang belum dilepas.
"Ada apa, Atha? Mengapa kamu berteriak memanggil Ibu?."
Atha nyengir kuda. Ia menampakkan deretan gigi putihnya kepada Ibunya.
"Mau pinjam ponsel" Atha mengadahkan tangan kanannya.
"Ponsel? Untuk apa?" tanya Bu Nora heran.
"Mau nelpon Mas Juna. Ponsel Atha hilang, Atha mau nelpon Mas Juna siapa tahu dia yang menyimpan ponselnya."
Bu Nora mengangguk. Ia lalu memberikan ponsel miliknya. Atha menerima ponsel itu dengan senang. Dengan cepat, Atha mencari nomor ponsel Juna di daftar kontak. Ia segera menekan tombol dial dan menunggu panggilan tersambung.
"Selamat siang, Ibu. Ada apa Ibu menghubungi Juna? Apakah Atha baik-baik saja?" rentetan pertanyaan langsung keluar dari mulut Juna. Atha terkikik geli mendengar hal itu. Hatinya juga senang mengetahui Juna sangat khawayir kepadanya.
"Ini aku, Mas" sahut Atha.
"Sayang? Kamu kenapa memakai ponsel Ibu?" tanya Juna heran.
"Aku tidak menemukan ponselku. Apakah kamu tahu di mana ponselku, Mas?."
Juna diam sejenak. Ia nampak berpikir mengingat-ingat di mana keberadaan ponsel istrinya.
"Ah, iya! Di koperku, Sayang. Coba carilah di deretan perangkat dalamku!."
"Heuh?" Atha sedikit kaget.
"Kamu menyimpannya di mana?" Atha mengulangi pertanyaannya.
"Di koper, Sayang. Di deretan perangkat dalam. Kenapa?."
"Mas...!!! Itu ponselku! Mengapa kau mengumpulkannya bersama perangkat dalammu hah?" tanya Atha kesal.
"Saya terburu-buru jadi asal lempar" ucap Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya.
Atha tak menyahut. Ia langsung memutuskan panggilan telepon dengan Juna. Atha mengembalikan ponsel milik Ibunya dan segera kembali ke kamarnya.
"Koper Juna" gumam Atha, kedua netranya langsung memindai sekelilingnya.
__ADS_1
Atha kembali melangkah ketika melihat koper milik Juna di samping kasurnya. Ia mengambil koper itu lalu membukanya dengan perlahan.
Atha mencari ponselnya di tumpukan perangkat dalam milik Juna dan benar saja benda pipih itu terjepit diantara tumpukan benda segitiga itu.
"Mati?" gumam Atha lirih.
Atha segera mengambil charger dan menyambungkan pada ponselnya. Atha meletakkan ponsel itu di nakas, lalu ia naik ke atas kasur untuk merebahkan tubuhnya.
Perlahan, kedua netra Atha terpejam hingga satu jam kemudian ia terbangun karena perutnya berbunyi.
"Aduh, lapar lagi!" keluh Atha. Kedua tangannya memegang perutnya.
Atha turun dari ranjang tempat tidurnya. Ia hendak beranjak keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya urung berdiri ketika kedua netranya melihat ponsel miliknya.
"Ah, sudah terisi daya! Aku harus segera mengaktifkannya khawatir jika ada seseorang yang menghubungiku" gumam Atha.
Benar saja, ketika Atha mengaktifkan ponselnya banyak pesan masuk menimbulkan suara berisik di telinga Atha.
"Ayesha? Rajin sekali dia mengirimiku pesan?" tanya Atha.
Atha lalu menekan tombol calling. Ia akan menghubungi temannya itu yang sudah sangat rajin menghubunginya selama lebih dari dua minggu.
"Ha....."
"Atha....!!!!!! Kau kemana saja hah??????" teriak Ayehsa.
Atha langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Teriakan Ayesha membuat telinganya sakit.
"Tidak bisa...!!! Kau tahu, aku seperti orang gila mencarimu. Nomormu tidak aktif" amuk Ayesha.
"Maaf, Ayesha. Aku pergi ke Spanyol dan ada insiden di sana. Aku masuk rumah sakit dan dirawat selama dua minggu. Aku baru tiba di Jakarta hari ini" kata Atha menjelaskan.
"Spanyol? Athaaa.... apa kau membelikan oleh-oleh untukku?."
"Emmm....emm... Ada! Ada kok" sahut Atha cepat.
"Senang sekali rasanya...." seru Ayesha.
"Oh ya, sampai lupa! Hasil tes DNA suamimu dan anak itu sudah keluar. Aku menghubungimu karena ingin memberikan berkasnya" lanjut Ayesha.
Deg. Hati Athalia langsung berdenyut nyeri. Berada di Spanyol membuatnya lupa dengan masalah di Indonesia yang belum ia selesaikan.
Atha menatap perutnya yang masih datar. Kekhawatiran mulai melanda dirinya. Bagaimana jika Arjuna benar-benar anak Juna? Bagaimana jika Juna tidak akan menyayangi anak yang sedang dikandungnya?
Atha menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak di relung hatinya. Harusnya keberadaan janin di dalam perutnya bisa menjadi salah satu alasan Juna agar tidak berpaling padanya. Harusnya keberadaan janin itu bisa menjadikan alasan agar Juna mengacuhkan bayi Arjuna.
Atha ingin bersikap egois dan sisi lain hatinya melarangnya untuk melakukan hal itu. Kegamangan untuk membaca hasil tes DNA timbul di hati Athalia. Haruskan ia mengetahui fakta sebenarnya? Ataukah ia membiarkan saja hasil tes itu dan melupakan jika ada masalah bayi Arjuna yang belum selesai?
"Athaaaaa... Mengapa kamu diam? Hasil tesnya mau kamu ambil atau bagaimana?" tanya Ayesha membuyarkan lamunan Atha.
"Heuh? Eh, iya maaf! kamu fotokan saja hasilnya" ucap Atha asal.
__ADS_1
"Hei, tidak bisa! Documen ini bersifat rahasia. Harus diliat dan dibaca langsung oleh pemiliknya."
"Baiklah, tolong kirimkan saja ke alamat rumahku. Rumah orang tuaku" ucap Atha lesu.
"Okeee.... Silakan Anda mengirimkan detail alamat, nomor rumah, RT, RW, tak lupa dengan warna cat rumah sekalian...."
"Yesha, jangan becanda!" tegur Atha memotong perkataan Ayesha. Mood Atha sedang buruk. Ia tidak mau bercanda sedikitpun untuk saat ini.
"Aku akan mengirimkan alamat rumah ini...."
"Tolong kirimkan juga oleh-oleh untukku dari Spanyol" sambar Yesha cepat membuat Atha kembali menarik nafas panjang.
"Baiklah! Aku tutup teleponnya" pamit Atha.
"Tutup saja, akupun juga sedang sibuk. Jadwal operasi untukku sangat banyak" kata Ayesha bangga.
"Cih! Kamu harus sekolah lagi kalau ingin merasakan bagaimana tegangnya berada di ruang operasi" cibir Atha.
"Eh, kenapa harus sekolah lagi?" tanya Ayesha heran.
"Kau ini dokter ahli kejiwaan. Tugasmu menghadapi pasien-pasien yang mengalami masalah kejiwaan. Apa yang akan kau operasi jika semua pasienmu itu mengalami gangguan batin bukan fisik?" tanya Atha.
"Aku akan mengoperasi hatinya, menanamkan ketenangan dalam jiwanya dan menyirami sukmanya dengan penuh cinta" alunan sajak keluar dari mulut Ayesha.
Atha memutar kedua matanya dengan malas. Ia segera memutuskan sambungan teleponnya agar tidak lagi terlibat pembicaraan dengan Ayesha.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Juna baru saja tiba di rumah mertuanya. Rumah mertunya nampak gelap dari luar. Mungkin penghuninya sudah terlelap.
Untung saja pintu rumah tidak terkunci. Juna membuka pintu rumah dengan perlahan dan segera masuk. Rupanya Pak Fajar belum tidur. Mertua laki-laki Juna sedang asyik membaca koran sembari mendengarkan berita di televisi.
"Bapak belum tidur?" tanya Juna. Ia langsung mencium tangan mertuanya itu.
"Loh baru pulang? Bapak tidak tahu jika kamu belum datang. Bapak pikir kamu berada di kamar sejak tadi" kata Pak Fajar kaget.
"Saya baru pulang, Pak. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Ngomong-ngomong mengapa Bapak belum tidur?" tanya Juna lagi.
"Bapak mau nonton bola. Hari ini pertandingannya seru jadi sayang jika dilewatkan" ucap Pak Fajar bersemangat.
"Juna ke kamar dulu, Pak. Selamat menonton, Pak" ucap Juna kemudian ia berlalu menaiki anak tangga menuju kamar istrinya.
Ceklek.
Juna membuka pintu perlahan. Kedua netranya bisa melihay dengan jelas jika ostrinya sedang tidur pulas. Juna mendesah kecewa. Keinginannya untuk bernana nini nunu tidak dapat terlaksana.
Juna menutup pintu dengan pelan. Ia membuka pakaian yang ia kenakan dan bergegas menuju kamar mandi. Juna mandi dengan cepat. Kedua netranya sudah mengajak untuk tidur.
Usai mandi, Juna hanya melilitkan handuknya sebatas pinggang. Ia membuka koper miliknya, mengambil kaos singlet dan boxer lalu memakainya.
Juna yang sudah mengantuk memilih langsung bergabung dengan Athalia. Ia merebahkan tubuhnya di samping Athalia, tidur sembari memeluk tubuh istrinya dengan erat.
__ADS_1