
Pagi ini Lily sedang berkutat di dapur mini milik Juna. Ia sedang membuatkan roti bakar selai cokelat untuk Juna sebagai menu sarapan. Diliriknya si empunya tempat, rupanya kekasih hatinya itu masih bergelung di bawah selimut.
Lily tersenyum sumringah melihat Juna yang masih terlelap. Setidaknya ia bisa bersantai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Lily memang tidak bisa memasak. Statusnya hanyalah pemilik restoran. Ia tidak pernah diizinkan masuk dapur karena ada chef yang bertugas untuk memasak di rumahnya.
Namun, untuk kali ini adalah pengecualian. Lily tidak mau meminta seorang chef untuk datang ke apartemen Juna. Ia tidak mau pagi romantisnya terganggu dengan kehadiran orang lain. Oleh sebab itu, ia memaksakan diri untuk berkutat di dapur, membuat sarapan meskipun hanya roti bakar dan teh hangat.
Ting!
Suara alat pembakar roti memecahkan lamunan Lily. Kedua netranya dapat melihat dua lembar roti yang menyembul kecokelatan. Lily bergegas mengambilnya dan meletakkan di piring. Ia memotong roti itu menjadi dua bagian diagonal sehingga tampak berbentuk segitiga lalu kedua tangannya dengan lihai mengoleskan selai cokelat dan memberikan parutan keju sebagai topping.
Hm... sepertinya Lily sedang berbunga-bunga. Niat awal hanya ingin memberinya selai cokelat. Namun, otaknya memberi ide ketika Lily melihat keju di dalam kulkas. Ia mengambil keju itu dan memarutnya, menjadikan keju itu sebagai topping. Tangan lentiknya mengatur keju-keju itu agar berbentuk emoticon hati.
Cantik! Kedua netra Lily memancarkan sinar kebahagiaan ketika melihat hasil karyanya. Andai saja Lily bisa memasak yang lain. Ia pasti akan membentuk makanan-makanan itu menjadi emoticon hati juga.
“Honey, bangun!” Lily membaringkan tubuhnya di sebelah Juna. Ia membelai rahang kokoh Juna sembari mengecup perlahan agar Juna tidak kaget.
Juna yang semalam memang sulit terpejam, sepertinya akan susah bangun. Tidak ada pergerakan dari Juna meskipun Lily mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada wajahnya.
“Honey, rahangmu manis sekali” ucap Lily lagi. Ia semakin kuat menghisap kulit rahang Juna.
“Eugghhhh....!” Juna menggeliat. Ia mulai mengeluarkan suara-suara tidak jelas. Serak khas orang bangun tidur.
Lily melebarkan senyumnya. Ia semakin menambah aksinya. Kedua tangan Lily yang semula diam, kini mulai bergerak manja.
“Eugggggghhh....!” leguhan suara Juna semakin keras. Juna mulai merasakan sentuhan di tempurung kura-kuranya. Ia langsung merinding ketika kedua tangan Lily mulai bermain di daerah terlarang.
“Besar” bisik Lily tepat di telinga Juna. Ia sepertinya tidak bisa menahan diri untuk bermain dengan benda lucu milik Juna.
Sebenarnya sejak semalam tangan Lily sudah gatal untuk memegang tempurung kura-kura Juna. Ia bahkan tidak bisa tidur ketika kedua netranya tidak sengaja melihat penampakan benda itu. Berkali-kali Lily harus menahan tangannya untuk tidak menyentuh benda itu. Khawatir, Juna akan memberikan respon yang berlebihan.
Tapi, sepertinya tidak untuk pagi ini. Benda keramat milik Juna itu terlalu menggemaskan untuk didiamkan sehingga Lily ingin bermain dengan milik kekasihnya itu. Kedua tangan Lily sepertinya ingin mengakrabkan diri dengan tempurung kura-kura Juna sehingga tidak mengindahkan peringatan si pemilik untuk pergi dan menjauh sesegera mungkin.
Plak.
Juna secara reflek memukul tangan Lily. Ia yang semula terlentang, mengubah posisinya menjadi miring ke kanan.
Lily menarik sudut bibirnya. Melihat pergerakan Juna yang masih terpejam dengan mulut yang berisik mengomelinya, membuat Lily ingin bermain lebih jauh lagi.
Lily bangkit dari tidurnya. Ia membuka kancing baju piyamanya dan menanggalkan baju itu. Tak lupa celana piyama yang langsung ia loloskan dari tubuhnya sehingga kini Lily hanya mengenakan perangkat dalam yang menutupi aset berharganya.
"Kita perlu perkenalan dulu, honey" gumam Lily.
Lily menarik bahu Juna agar kembali terlentang. Ia naik perlahan, berjalan merangkak di atas tubuh Juna. Lily melihat bibir sexy Juna. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Juna.
Satu.
Dua.
Tiga.
Bibir Lily sudah siap menempel pada milik Juna. Namun, sialnya saat Lily akan memulai aksinya Juna membuka matanya. Kedua bola mata Juna membulat sempurna.
"Diandra...!!!" Juna berteriak dan mendorong Lily dengan spontan.
Dorongan Juna yang keras membuat Lily jatuh tersungkur ke lantai. Juna segera meringsut mundur. Ia langsung berkeringat dingin.
"Honey, kau?."
"Diam, Diandra! Jangan mendekat! Diam! Diam disitu!" teriak Juna lagi. Ia semakin ketakutan melihat Lily yang bangkit hendak mendekatinya.
Lily yang tidak paham dengan tingkah Juna terus saja melangkah. Niat hati ingin menenangkan Juna. Tapi justru yang sebaliknya terjadi. Juna semakin ketakutan dan mendorong Lily lagi.
"Honey...!!!."
Juna tidak mengindahkan teriakan Lily. Ia malah bangkit dan segera berlari. Juna membuka pintu apartemennya dan kabur dengan masih menggunakan piyama tidurnya.
Lily diam membeku.
__ADS_1
"Diandra? Siapa dia?" gumam Lily.
Lily bangkit dan mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai.
"Diandra? Apakah dia kekasih Juna?" gumam Lily lagi.
***
Tiga orang anak manusia sedang duduk melingkar di sebuah meja dengan nomor 17. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka diam, menampakkan ekspresi bermacam-macam. Elang duduk dengan menekuk wajahnya. Kiara duduk dengan menampakkan wajah cueknya dan Lily duduk dengan wajah berurai air mata.
Sejak Juna pergi meninggalkan Lily seorang diri di apartemennya, Lily tak henti-hentinya menangis. Hatinya sakit ketika mendengar Juna menyebut nama perempuan lain. Lily yang diliputi rasa kesal dan sedih segera menelpon Elang dan mengajak bertemu di restoran miliknya. Meski awalnya menolak, Elang dan Kiara datang juga menghampiri Lily yang menangis sesegukan di meja nomor 17.
"Kalian harus jawab dengan jujur. Siapa itu Diandra?" ucap Lily di sela-sela tangisnya.
Elang dan Kiara saling menatap. Mereka kompak mengangkat kedua bahunya.
"Katakan, El, siapa Diandra?" teriak Lily dan kini kedua netranya semakin aktif memproduksi air mata.
"Lily, aku benar-benar tidak tahu siapa dia. Mendengar namanya baru sekarang" jawab Elang jujur.
"Bohong! Kau pasti menutupi sesuatu dariku."
"Menutupi apa, Lily? Aku bahkan tidak tahu apa tujuanmu mengajakku datang kesini. Sejak tadi kau hanya menangis tanpa menjelaskan apa yang terjadi" ucap Elang kesal.
"Aku kesal."
"Sama. Aku juga kesal" sahut Elang membuat Kiara segera mencubit paha kanan Elang dengan gemas.
"Juna menyebutkan nama Diandra saat bersamaku. Hatiku sakit, El. Sakit! Siapa Diandra? Apakah dia sangat berkesan di hati kekasihku sehingga dia tidak bisa melupakannya? Pantas saja Juna selalu cuek padaku, El. Dia tidak mencintaiku. Hu...hu..hu...." Lily menutup wajahnya.
"Lah kemana aja sih nih bule? Mas Juna kan emang nggak suka sama situ. Situ aja yang ngebet main bikin acara aja" umpat Kiara dalam hati.
"Lily, tenanglah! Kau mungkin saja salah dengar. Lidah kan tidak bertulang. Bisa saja Mas Juna terpleset sehingga salah menyebut nama" bujuk Elang.
Lily menggeleng. Ia menarik tisu di hadapannya dan mengusapkan ke wajahnya. Selembar, dua lembar, tak terasa Lily sudah menarik berlembar-lembar tisu.
"Lalu siapa orang itu, El?" tanya Lily masih dengan isak tangis yang masih awet.
"Kadirrrrr......" sambar Kiara cepat. Ia jengah juga menonton drama tangisan Lily yang tak kunjung usai.
"Mr. Adira, maksudnya" ralat Elang.
"Apakah dia tahu siapa Diandra?" tanya Lily lagi.
"Ya.... belum pasti juga sih" jawab Elang sembari menggaruk tengkuk lehernya.
Lily kembali menangis mendengar jawaban Elang yang menggantung. Hatinya belum bisa tenang jika belum menemukan jawaban tentang sosok Diandra.
"Aku harus bertemu Mr.Adira. Aku harus bertemu dengannya. Hu...hu...hu..."
"Abang Dira sedang ada meeting dengan salah satu kliennya. Dia sibuk, Lily" jawab Elang.
"Aku tidak peduli. Aku harus bertemu dengannya. Hatiku tidak akan tenang, El."
Puk.
Elang dan Kiara tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahu mereka. Reflek, pasangan suami istri itu menoleh ke belakang.
"Cari saya?" tanya Dira. Ia memasang wajah datar, sedatar papan tripleks yang biasa dijual di toko bangunan.
"Eh, kenapa bisa di sini?" tanya Kiara bingung.
"Gue meeting di meja sebelah sana" Dira menunjukkan meja nomor 9.
Brukk.
Lily langsung bangkit dan menubruk tubuh Dira.
"Hu...hu...hu... Mister.... Mister.... Mister...Adira... Hu...hu...hu..." Lily menangis di pelukan Dira.
__ADS_1
"Hih..! Hih...! Dakocan, lepasin! Lepasin! Jas gue mahal. Haram terkena air mata wanita tersakiti" ucap Dira segera mendorong Lily agar menjauh dari tubuhnya.
"Mr. Adira, saya sedang sedih. Hati saya sakit" adu Lily.
"Memangnya saya peduli" jawab Dira acuh.
Plak!
Kiara memukul paha Dira dengan keras. Kebiasaan kakaknya itu yang selalu ceplas ceplos membuatnya gemas. Andai saja bukan di tempat umum, Kiara sudah pasti menyumpal mulut Dira dengan kaos kaki suaminya.
"Mr. Adira, tolong katakan padaku. Siapakah Diandra?" ucap Lily dengan mata berkaca-kaca.
"Diandra? Hmm... Penjual nasi pecel langganan Juna" jawab Dira ngasal. Ia lalu menarik kursi di sebelah Kiara dan duduk di sana.
"Hush...! Ngarang aja!" tegur Kiara.
"Penjual nasi pecel? Jadi sainganku penjual nasi pecel? Tidak! Tidak! Hu...hu...hu..." Lily kembali menangis tersedu-sedu.
"Bukan, Lily. Bukan. Abang Dira hanya menjawab asal. Sudah berhentilah menangis" bujuk Elang lagi.
"Mr. Adira tolong jawab aku! Siapa Diandra itu? Hatiku sakit saat Juna menyebut nama wanita lain. Perih seperti diiris pisau belati."
"Oh, No! Oh, No! Oh, No, No, No, No, No" sahut Dira sembari menggoyangkan pinggulnya.
"Misterrrr....!!!" teriak Lily.
"Apaan sih?."
"Siapa itu Diandra?."
"Saya tidak tahu."
"Bohong."
"Terserah."
"Bantu aku."
"Tidak mau."
"Stopppppp!!!!" teriak Kiara menghentikan perdebatan Lily dan Dira.
"Lily, kalau kamu ingin tahu siapa Diandra. Tanyakan langsung pada Mas Juna. Bukan pada kami bertiga. Karena sejujurnya kami bertemu Mas Juna baru-baru saja. Kami tidak tahu latar belakang Mas Juna. Bagaimana kisah hidupnya dan kisah asmaranya. Hah, meladenimu benar-benar membuang waktuku. Harusnya aku tidak ikut Elang kesini. Jam tidurku kena diskon" omel Kiara. Ia segera bangkit dari kursinya dan bergegas pergi.
Elang segera bangkit mengejar Kiara. Istrinya itu pasti sedang dalam mode kesal sehingga Elang harus segera membujuknya agar kekesalan Kiara tidak berlarut-larut.
Kini tinggallah Dira dan Lily di tempat itu. Lily yang masih menangis tersedu-sedu sedangkan Dira menyantap kue milik Kiara yang belum sempat dihabiskan adiknya.
"Mister, beri tahu aku bagaimana caranya agar Mas Juna tidak berpaling dariku?" tanya Lily.
"Hamil anak Juna" jawab Dira asal.
"Jangan satu, sepuluh kalau bisa" lanjut Dira bertambah ngawur.
Lily diam membeku. Seketika otaknya langsung bekerja memikirkan jawaban laki-laki di hadapannya. Haruskah ia mengiyakan atau meminta saran yang lain? Lily bingung. Perlukah ia menghitung kancing untuk mendapatkan jawaban?
Ting.
Ting.
Ting.
Sepertinya tidak perlu karena otak Lily memberi respon positif, menyetujui saran yang diberikan oleh Dira. Hamil anak Juna sepertinya memang ide yang bagus. Dengan begitu Lily bisa mengikat Juna selamanya. Hubungan darah itu kental, sulit untuk dilepas dan Lily harus mengambil saran itu agar hubungannya dengan Juna semakin kental.
"Mr. Adira, terima kasih atas sarannya. Saya pamit dulu untuk mencari Juna" ucap Lily kemudian bangkit dari kursinya.
Dira tak menyahut. Ia malah sibuk menghabiskan kue milik Elang setelah kue milik Kiara bersih tak bersisa.
__ADS_1