
Diandra mengerang kesakitan ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Permainan panas dan kasar yang dilakukan oleh Arya benar-benar menyiksanya. Diandra ingin bangkit. Namun, kedua tangan dan kakinya masih di borgol. Panggilan alam juga datang pada Diandra. Ia ingin ke kamar mandi tapi tak bisa ia lakukan.
Di sampingnya, nampak Arya sedang terlelap sembari memeluk erat tubuh polosnya. Diandra ingin mendorong tubuh Arya menjauh dari tubuhnya. Ia yang lelah fisik merasa tidaknkuat menopang kepala Arya yang berada di dadanya.
"Bangun! Bangun! Aku mau ke kamar mandi" teriak Diandra dan hal itu tentu saja membangunkan Arya.
Arya mendusel-duselkan hidungnya pada belahan milik Diandra. Rasanya ia enggan untuk pindah tempat. Meski sudah berkali-kali Diandra berteriak agar Arya bangun. Rupanya, kenyamanan yang diperoleh Arya membuatnya enggan untuk segera membuka mata.
"Aarggghhhh!" Diandra berteriak kesal. Kalau sudah begitu, mau tidak mau Arya membuka kedua matanya.
"Kenapa berteriak? Bisakah kau membiarkan aku terlelap setelah pergulatan kita tadi?" tanya Arya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Aku ingin ke kamar mandi, bodoh! Lepaskan borgol sialan ini kalau kau tidak mau aku buang air di sini" umpat Diandra.
Arya membuka matanya dengan malas. Ia mengambil kunci borgol cadangan di laci. Arya buru-buru membuka borgol di tanhan dan kaki Diandra. Setelah itu ia mengangkat tubuh Diandra hendak membawanya ke kamar mandi.
"Turunkan aku! Aku bisa sendiri" bentak Diandra.
"Yakin? Kau sudah lama tidak bernina ninu, intimu terasa sempit sekali seperti perawan. Aku yakin kau akan kesulitan berjalan karena gempuranku tadi" ucap Arya dengan bangganya.
Diandra membuang muka. Ia membiarkan Arya membawa tubuh polosnya ke kamar mandi. Arya mendudukkan Diandra di closet lalu ia beralih ke bath tube untuk mengisinya dengan air.
"Keluar sana! Jangan di sini!" usir Diandra.
"Ya, tapi segera panggil saya jika air di bath tube sudah penuh."
"Cih! Aku tidak mau. Mau penuh atau tidak, aku tidak akan memanggilmu" kata Diandra kemudian mendorong tubub Arya.
Arya segera keluar. Ia tersenyum bangga melihat keadaan kamar yang dihuninya. Berantakan, akibat pergulatan antara dirinya dan Diandra. Sepertinya tongkat saktinya sudah sembuh dan ramuan yang diminumnya benar-benar tokcer sehingga membuat dirinya semakin beegairah untuk melakukan itu terus menerus.
"Halo!" Arya menghubungi salah satu bawahannya.
"Iya, Pak Arya. Apakah Bapak sudah selesai?."
"Belum dan rasanya saya tidak akan pernah selesai" ucap Arya dengan tawa yang menggelegar.
"Dengarkan baik-baik! Ramuan tadi sangat ampun. Orderkan yang banyak untuk saya! Selain itu saya ingin rujuk dengan Diandra. Tolong kamu urus semua karena saya ingin rujuk secepatnya" perintah Arya.
Arya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia kembali teringat dengan Diandra di kamar mandi. Suara gemericik air membuatnya yakin jika mantan istrinya sedang bermain air. Ia yang merasa tubuhnya lengket sepertinya harus bergabung dengan Diandra agar bisa melakukan ronde selanjutnya.
__ADS_1
Ceklek.
"Hei, mengapa kau masuk lagi? Keluar! Aku sedang mandi" teriak Diandra.
Arya tak menyahut. Ia semakin mendekati Diandra dan memeluknya dari belakang. Hanha dengan sentuhan seperti itu membuat tongkat Arya kembali berdiri. Ia memulai pemanasannya untuk melanjutkan ronde permainannha bersama Diandra.
"Hentikan, kambing!" umpat Diandra.
"Maaf, sayang! Aku tidak bisa berhenti. Kau terlalu nikmat untuk dianggurin. Sepertinya kita perlu melakukan ronde selanjutnya karena milikku sudah tidak tahan untuk berperang."
"Jangan mimpi!" Diandra menginjak kaki Arya.
Arya yang sigap tentu saja langsung bergerak cepat. Ia menangkap tubuh Diandra dan mengungkungnya. Arya tidak mau kecolongan. Ia kembali menancapkan tongkatnya tanpa menunggi Diandra siap.
Diandra memekik dan seketika bayangan ketika ia bermain dengan Juna muncul. Diandra merasa dejavu karena apa yang dilakukan Arya saat ini sama persis dengan yang ia lakukan terhadap Juna.
Diandra menjambak rambut Arya. Ia memberontak. Namun, karena permainan lihai yang Arya lakukan membuat tubuhnya memberikan respon yang baik pada Arya.
Arya yang sudah diselimuti hawa panas. Semakin mempercepat permainannya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk mengeksplor Diandra di tempat lain. Sepertinya Arya akan membeli apartemen agar bisa lebih leluasa bermain dengan Diandra. Kamar hotel miliknya kurang luas sehingga Arya merasa kurang bisa mengeksplor tubuh Diandra.
Dua jam bermain di kamar mandi membuat tubuh Arya melemas. Ia segera membersihkan diri dan tubuh Diandra. Diandra yang sudah lemas terlebih dahulu hanya bisa pasrah. Ia membiarkan Arya memandikan dirinya, mengeringkan badannya dan kembali menggendongnya ke luar dari kamar mandi.
Diandra tidak menyahut. Kedua netranya kembali terasa berat. Ia ingin tidur tetapi perutnya meronta minta di isi.
Arya yang mendengar suara kelaparan dari perut Diandra langsung tertawa terbahak-bahak. Ia segera menelepon bawahannya dan meminta agar mengirimkan makanan yang banyak untuknya.
"Sabar, sayang! Makanan segera datang. Kau benar-benar membuatku gila. Rasanya aku belum puas bermain denganmu."
Plak.
Diandra menampar pipi Arya dengan sisa-sisa tenaganya. Andai saja ia tidak lemas, pastilah Diandra bisa kabur dari cengkaraman Arya.
"Tamparlah selama kedua tanganmu belum aku borgol kembali. Ingat, setelah kau makan. Kita akan melanjutkan sesi selanjutnya" ucap Arya kembali tertawa terbahak-bahak.
"Cukup, Arya! Cukup! Aku lelah! Aku ingin pulang! Anakku pasti menangis mencariku" teriak Diandra .
Arya merebahkan tubuhnya. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh Diandra dan bergabung di dalamnya.
"Kau tidak perlu memikirkan anak itu lagi. Kita akan rujuk dan aku akan mengembalikan anak itu kepada mantan kekasihmu."
__ADS_1
"Apa?? Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak mau rujuk denganmu. Aku ingin kembali dengan Juna" teriak Diandra.
"Tidak bisa, sayang. Kau itu milikku. Aku pernah kehilanganmu sekali dan tidak mau kehilanganmu untuk kedua kali."
"Kau gila! Kau gila, Aryaaaaa....!" teriak Diandra lagi.
"Aku memang gila, tergila-gila padamu. Andai dulu aku segera berobat. Pastilah kau akan puas dengan milikku dan tidak akan bermain api dengan mantan kekasihmu. Aku akan menghapus semua tentang dia dan menggantinya dengan jejakku. Kau tidak bisa membantah atau nyawa anak itu akan lenyap di tanganku" ancam Arya.
****
Mbok De berkali-kali menghubungi Zeze. Ia ingin memberitahukan perihal Diandra yang belum pulang sejak kemarin. Arjuna terus menangis. Stok susu formulanya juga habis. Mbok De bingung harus bagaimana. Mau keluar dari hotel juga takut.
Mbok De sudah berkali-kali menghubungi Diandra. Namun, ponsel majikannya itu tidak aktif. Mbok De yang putus asa langsung beralih menghubungi Zeze. Rupanya teman majikannya itu juga tidak menjawab teleponnya.
"Bagaimana ini? Arjuna terus menangis" gumam Mbok De cemas. Ia mencoba menenangkan Arjuna yang kelaparan dan kehausan. Jangankan Arjuna, Mbok De sendiri merasa kelaparan. Ia belum makan sejam semalam karena uangnya habis.
Ponsel Mbok De berdering. Ia buru-buru menjawab panggilan itu. Mbok De bisa menghela nafas lega ketika mendengar suara Zeze dari seberang sana.
"Mbok De menelepon saya? Ada apa?" tanya Zeze.
"Nyonya Diandea belum pulang sejak kemarin. Ponselnya tidak aktif. Arjuna menangis terus karena susu formulanya juga habis. Neng Zeze, Mbok De bingung. Bagaimana Mbok De bisa membeli susu sedangkan uang Mbok de habis" cerita Mbok de tanpa jeda.
"Astagaaaa.... Kemana Diandra? Kemarin dia pulang kok Mbok De. Saya melihatnya sendiri jika Diandra masuk ke dalam taksi."
"Saya juga bingung, Neng. Bagaimana ini?" kata Mbok De dan kini ia sudah menangis tersedu-sedu.
"Mbok De sudah makan?."
"Belum, Neng."
Zeze menghela nafas berat.
"Mbok De tenang di sana. Zeze akan pesankan makanan dari sini. Zeze juga akan membelikan susu untuk Arjuna. Sabar ya. Maaf jika merepotkan" ucap Zeze.
"Lalu bagaimana kita kembali ke Bali, Neng?" tanya Mbok De lagi.
"Zeze akan kembali bertolak ke Jakarta. Jika Diandra belum kembali juga, kita kembali saja ke Bali. Toh, nanti Diandra juga bisa pulang sendiri" kata Zeze lalu ia pun mengakhiri teleponnya dengan Mbok De.
"Diandra, kamu di mana? Kamu tidak sedang melakukan hal aneh kan? Aku baru sampai di rumah dan sekarang harus kembali lagi ke Jakarta. Awas saja! Jika besok aku bertemu denganmu, aku akan membuat perhitungan denganmu" gumam Zeze kesal.
__ADS_1