HEI JUN

HEI JUN
135


__ADS_3

Juna sudah bersiap menuju SMA Cendekia. Pagi ini dia akan mengadakan rapat terbatas dengan para dewan guru dan kepala sekolah. Sebenarnya Juna belum tahu masalah apa yang terjadi di sana. Ia belum sempat menghubungi Pak Zaini untuk menanyakan apa yang terjadi. Biarlah, Juna bondo nekat. Apapun masalahnya, Juna yakin itu tidak akan serius.


Juna berangkat dari hotel menuju SMA Cendekia diantar oleh Pak Danu. Selama di perjalanan, Juna menyempatkan diri berkirim pesan kepada istrinya. Ia sedikit kaget mendengar kabar jika mertuanya datang ke rumah. Juna belum memberi tahu perihal Arjuna kepada mereka. Juna yakin kedua mertuanya itu pasti kaget. Ia akan segera pulang setelah rapat ini agar tidak terjadi masalah di rumahnya.


"Langsung masuk nih, Pak?" tanya Pak Danu.


Juna mengangguk. Gerbang SMA Cendekia sudah terlihat. Ia menurunkan kaca jendela mobil dengan perlahan sehingga Pak Udin bisa melihat keberadaannya di mobil.


Pak Udin memberi hormat, lalu membuka pintu gerbang. Mobil yang membawa Juna langsung masuk menuju parkiran khusus pemilik sekolah.


"Pak Danu bisa menunggu kan? Soalnya saya mau langsung pulang ke Jakarta setelah ini" tanya Juna.


"Pulang? Kenapa cepat sekali, Pak?" tanya Pak Danu heran.


"Saya rindu anak dan istri. Semalam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak" jawab Juna membuat Pak Danu tersenyum mesam-mesem.


Pak Udin melihat belum ada tanda-tanda pergerakan dari Juna. Ia berfikir Juna ingin dibukakan pintu. Tanpa berfikir lagi, Pak Udin segera berlari dan membukakan pintu mobil untuk Juna. Juna yang saat itu masih mengobrol dengan Pak Danu tentu saja kaget.


"Eh?" tanya Juna.


"Silakan, Pak! Maaf, telat membukakan pintu" ucap Pak Udin polos.


Juna tidak menjawab. Ia segera turun dari mobil dan meminta Pak Udin untuk mengantarkan Pak Danu ke warung milik istrinya. Juna meminta Pak Danu sarapan di sana. Ia yakin laki-laki itu belum sarapan karena harus mengantarkan Juna sepagi ini.


"Apakah semuanya sudah kumpul?" tanya Juna.


"Sudah, Pak. Mereka ada di aula" jawab Pak Udin.


Juna kembali mengangguk. Ia bergegas berjalan menuju aula. Langkahnya yang panjang, membuat Juna cepat sampai ke tempat itu. Benar saja, ketika Juna membuka pintu kedua netranha langsung melihat banyak orang yang duduk menunggu kedatangannya.


"Selamat datang, Pak May!" seru mereka bersamaan.


Pak Zaini bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan setengah berlari, menghampiri Juna.


"Maaf, saya tidak menyambut Pak May. Saya pikir Pak May akan datang pukul delapan" kata Pak Zaini tak enak hati.


"Tak apa. Sudah ada Pak Udin di bawah. Apakah semua dewan guru sudah hadir?" tanya Juna.


"Sudah, Pak. Mari, saya antar ke kursi Pak May!" ajak Pak Zaini.


Juna mengikuti langkah Pak Zaini. Ia mendapat kursi di tengah, diapit kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Acara rapat langsung dimulai. Mereka membaca doa terlebih dahulu dan mengikuti prosedur rapat yang ada.

__ADS_1


"Jadi masalahnya apa?" tanya Juna setelah ia mendapatkan pemaparan awal dari Pak Zaini.


"Pertama, fasilitas sekolah yang kurang seperti laboratorium dan beberapa peralatan di bidang seni dan olah raga."


"Butuh dana?" tanya Juna.


"Tentu, Pak. Karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit."


"Ada rinciannya?" tanya Juna lagi.


"Ada, saya sudah menerima dari wakil kepala sarana dan prasarana."


Pak Zaini menyerahkan daftar kebutuhan SMA Cendekia beserta rancangan dana yang dibutuhkan. Juna hanya manggut-manggu saja melihat deretan huruf dan angka di hadapannya. Ia pernah bekerja di sana. Jadi, sedikit banyak Juna mengetahui sedikit banyak tentang apa yang dibutuhkan di sekolah itu.


"Siapa yang menulis kebutuhan ini?" tanya Juna.


"Dewan guru, Pak. Lalu saya tulis ulang beserta rincian harganya" jawab Wakil Sarana dan prasarana (sarpras).


"Rencananya mau beli di mana?."


"Saya akan membeli di Surabaya, Pak. Lebih lengkap dan murah" jawab wakil sarpras lagi.


"Oh, kalau mau beli di Surabaya biar saya suruh Pak Danu saja. Setelah ini saya akan kembali ke Jakarta. Jadi, setelah Pak Danu mengantarkan saya ke Juanda, beliau bisa berbelanja barang-barang ini."


Juna menarik sudut bibirnya ke atas. Ia sudah paham dengan maksud ucapan laki-laki itu. Tentu saja mereka menolak usul Juna dan memilih agar bisa membeli langsung karena dengan begitu mereka bisa me mark up dana yang dipakai agar bisa masuk ke kantong pribadi.


Juna sudah hatam dengan itu. Dulunya, ia juga sering begitu. Jika ada rapat, Junalah yang disuruh membeli gorengan ke Bu Udin. Juna akan membeli 20 biji dan mengatakan jika yang dibeli adalah 30 biji. Sehingga ada uang lebih yang masuk ke kantongnya.


Juna tidak mau hal ini terjadi. Sebagai orang yang tahu harga dan trik, Juna tidak mau kecolongan. Ia tidak rela jika uangnya masuk ke dalam kantong pribadi mereka. Sudah cukup buncit perut bapak-bapak itu. Juna tidak mau menambah lemak dalam tubuh mereka.


"Keputusan saya tidak bisa ditolak. Saya tetap akan meminta Pak Danu yang membeli barang-barang ini. Kalian fokus saja mengajar. Sekian lama saya menjadi pemilik sekolah ini, belum satupun telinga saya mendengar sebuah prestasi yang diraih oleh para siswa" cibir Juna.


"Lho, ada apa. Mereka juara 1 pramuka tingkat kecamatan" kata Pak Zaini tak terima.


"Pramuka itu pelajaran ekstra. Lombanya juga kurang greget. Saya mau setelah fasilitas sekolah ini lengkap, ada siswa yang berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains. Saya tidak mau dengar mereka hanya jago dalam pramuka. Kurang greget" ucap Juna lagi.


Para wakil kepala sekolah saling melirik. Mereka yang tidak pernah berinteraksi dengan Juna sebelumnya, merasa kaget dengan sikap Juna. Mereka pikir pemilik sekolah yang sekarang bisa dengan mudah diporotin, ternyata mereka salah besar pemirsah. Kecewa...kecewa...kecewa.


"Ada lagi yang mau di bahas?" tanya Juna.


"Ada Pak" kali ini Bu Endang selaku bendahara sekolah angkat tangan.

__ADS_1


"Silakan!."


"Selama bertahun-tahun, kami bekerja di sini dengan gaji minimalis. Bayangkan, Pak. Kami di bayar 3000 per jam. Gaji yang kami dapatkan sebulan hanya mampu mencukupi kebutuhan kami selama seminggu sehingga kami harus mencari penghasilan tambahan. Mungkin, Pak May bisa mempertimbangkan lagi gaji kami."


Juna kembali manggut-manggut. Sebenarnya sudah lama ia ingin menaikkan gaji guru di SMA Cendekia. Namun, karena kesibukan Juna di Jakarta membuatnya melupakan SMA itu. Juna merasa bersalah, seharusnya dari dulu ia menaikkan gaji mereka.


"Bukannya kalian mendapatkan tunjangan dari pemerintah?" tanya Juna.


"Tidak semua, Pak. Beberapa saja. Itupun cair tiga bulan sekali" jawab Bu Endang.


"Oh" jawab Juna, padahal ia sudah tahu jawabannya.


"Saya akan menaikkan gaji kalian, tapi kalian harus menaikkan kualitas mengajar juga. Ngajar minimalis kok minta gaji selangit? Kalian harus memperlihatkan kinerja terbaik kalian. Kalau kalian bekerja hanya santai-santai saja, tidak mungkin dong saya gaji besar?" ucap Juna seakan berkaca pada dirinya dahulu.


"Mulai hari ini, skema gaji akan saya ubah. Semakin bagus performa kalian dalam mengajar, maka semakin besar bayaran yang akan kalian dapatkan. Meski saya tidak ada di sini, saya akan menempatkan beberapa orang yang bertugas mengevaluasi kinerja kalian. Sehingga saya bisa tahu mana yang bersungguh-sungguh, mana yang hanya main-main saja."


Gluk.


Para guru saling pandang. Mereka tidak menyangka jika Juna setegas itu. Juna tentu saja akan melakukan hal itu karena dia sudah hatam dengan watak dan kinerja dewan guru di sana. Juna tidak akan main-main. Ia akan membuat perubahan di SMA Cendekia. Setidaknya sekolah itu tidak tenggelam di tengah sawah dan bisa muncul di tengah hati masyarakat.


"Apa ada lagi yang mau dibahas?" tanya Juna.


"Ada, Pak. Ini ada proposal rancangan kegiatan sekolah selama satu tahun ke depan. Kami butuh persetujuan Pak Juna sebagai pemilik sekolah" ucap wakil kesiswaan.


"Saya akan mempelajari proposal ini. Nanti jika saya sudah selesai, saya akan menyerahkan langsung kepada Pak Zaini. Paham?."


"Paham, Pak" jawab mereka serempak.


"Apa ada lagi?" tanya Juna.


Semua menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu rapat saya tutup. Saya pelajari dulu proposalnya dan tunggu kabar berikutnya" ucap Juna kemudian ia menutup rapat dengan doa.


Juna langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia hendak meninggalkan aula. Namun, Pak Zaini mencegah kepergian Juna karena mereka akan makan siang bersama.


Seperti biasa, Pak Zaini akan meminta keluarganya untuk memasak. Beragam masakan rumahan sudah siap.


Juna menelepon Pak Danu, meminta laki-laki itu datang ke aula. Juna tidak mungkin makan seorang diri sedangkan ada Pak Danu yang menunggunya.


Pak Zaini mempersilakan Juna untuk mengambil makanan terlebih dahulu. Juna nampak sumringah melihat masakan di hadapannya. Mirip masakan Ibunya dan itu membuat Juna merindukan Bu Tias.

__ADS_1


Asyik menyantap makanan yang disediakan membuat Juna tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang menatap sendu ke arahnya. Fira, tak berkedip sedikitpun melihat Juna. Hatinya kembali berdesir tatkala mihat pujaan hatinya berada di tempat yang sama dengannya.


"Selamat datang kembali, Pak. Saya senang bisa melihat Pak Juna kembali."


__ADS_2