HEI JUN

HEI JUN
54


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


"Selamat pagi, Nyonya Bos!."


Kiara langsung menghentikan aktifitasnya ketika mendengar seseorang menyapanya. Suara itu terdengar tidak asing di telinga Kiara. Tapi, Kiara lupa dengan pemilik suara itu.


Kiara mengangkat wajahnya. Ia langsung memiringkan kepala ketika melihat sosok laki-laki sedang berdiri di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum ke arah Kiara. Manis dan renyah, begitulah penilaian Kiara pada senyuman laki-laki itu.


Kiara menggeser kepalanya. Ia berusaha melihat apakah ada orang lain yang masuk selain laki-laki itu. Biasanya Lita akan mengekori tamu yang masuk ke ruangannya, mengetuk sebelum masuk dan menanyakan apakah dirinya mau menerima tamu atau tidak.


Aneh. Laki-laki ini masuk seorang diri. Dari gaya bicaranya, Kiara dapat menangkap jika laki-laki itu sepertinya sudah akrab dengannya. Sayangnya Kiara tetap tidak ingat siapakah sosok laki-laki itu meskipun ia sudah berusaha keras memaksa otaknya untuk mengingat.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Kiara. Kedua netranya masih mengamati laki-laki itu dengan detail.


Entah mengapa sekilas Kiara melihat laki-laki itu mirip dengan suaminya. Hanya saja postur tubuh Elang yang lebih pendek dan lebih kecil dari laki-laki itu. Andai saja Elang dan laki-laki itu berjalan bersama-sama, pasti banyak orang akan menduga jika mereka adalah kakak-adik.


Laki-laki itu berpostur tinggi besar, mungkin setinggi Dira. Kulitnya putih, tapi tidak seputih oppa-oppa Korea yang suka menari di atas panggung. Wajah laki-laki itu khas Indonesia, alisnya cukup tebal, dan hidungnya mancung.


Sungguh, Kiara benar-benar seperti melihat suaminya tapi dalam usia yang berbeda. Kalau Kiara tidak salah menduga, laki-laki itu mungkin seumuran Dira atau lebih tua.


"Nyonya bos, mengapa melamun? Apakah Nyonya benar-benar melupakan saya sehingga tidak mengenali saya?" tanya laki-laki itu lagi.


"Maaf, saya memang merasa tidak mengenal Anda. Tapi entah mengapa saya merasa wajah Anda itu tidak asing" ucap Kiara lalu berfikir sejenak.


"Anda sangat mirip dengan suami saya. Apakah Anda kakaknya? Tapi itu tidak mungkin karena suami saya adalah anak tunggal. Atau mungkin saja Anda adalah saudara suami saya dari ibu yang berbeda? Wah, kalau benar seperti itu berarti Anda adalah anak yang disimpan!" tebak Kiara asal.


Laki-laki itu tidak menjawab. Ia malah tertawa cekikikan mendengar jawaban dari Kiara.


"Kenapa Anda tertawa? Ada yang lucu?."


"Anda yang lucu, Nyonya. Bagaimana bisa Anda membuat praduga seperti itu? Saya bukan anak yang disimpan oleh mertua Anda. Tapi saya anak yang dipungut oleh Kakak Anda."


"Kadir?" tanya Kiara kaget.


"Yap, CEO paling tampan dan rupawan."


"Lalu kau?."


"Ajudan Mr.Adirra. Anak jujur dan sopan."


Kiara langsung membuka mulutnya dengan lebar ketika laki-laki itu menyebutkan clue atas identitasnya. Kiara langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri laki-laki itu dan mencubit pipinya dengan gemas.


"Aduh... Aduh... Nyonya. Sakit!" rintih laki-laki itu sehingga Kiara dengan spontan melepaskan capitannya.


"Kau ajudan si Kadir?" tanya Kiara lagi.


Laki-laki itu mengangguk.


"Mayjuna July Agustino?."

__ADS_1


Laki-laki itu mengangguk lagi. Kali ini ada seutas senyum yang ia tampakkan.


"Bagaimana bisa Anda tidak mengenali saya padahal Anda sendiri yang menarik saya dari Spanyol ke Jakarta?" tanya Juna terkekeh.


"Mas Juna operasi plastik ya? Sumpah ini nggak kayak Mas Juna yang gue kenal satu tahun yang lalu. Mas Juna berubah. Nggak nyangka gue. Aduhhhh... Ini lagi! Mas Juna kok bisa mirip sama Elang sih? Waktu operasi plastik emang request minta kayak wajah Elang?" cerocos Kiara yang lagi-lagi membuat Juna tertawa cekikikan.


"Saya tidak operasi plastik, Nyonya. Ini asli lho wajah saya. Mungkin ini bawaan air di Barcelona, bikin ganteng. Saya juga heran kenapa wajah saya bisa berubah ganteng seperti ini" kata Juna nyengir.


Kiara manggut-manggut. Bisa jadi memang begitu. Kiara jadi ingat Elang dulu bulukan sebelum pergi ke Spanyol. Beberapa tahun di Spanyol membuat wajah Elang berubah. Elang muncul dengan tampilan baru yang membuat Kiara pangling dan tidak mengenali mantan kekasihnya itu.


"Eh?" Juna memandang perut Kiara yang buncit.


"Ini anak saya? Apa kabar anak Papa?" sapa Juna menggoda Kiara.


Kiara menyipitkan matanya.


"Anak?" beo Kiara.


Juna mengangguk.


"Cih! Situ masih perjaka juga malah ngaku-ngaku benih situ. Mas Juna, sejak kapan otaknya geser sebelah?" cibir Kiara membuat Juna tertawa.


"Nyonya lebih suka begini apa saya yang polos seperti dulu?" tanya Juna.


"Sekarang atau lima puluh tahun lagi yang saya suka adalah Elang. Jadi jangan ngadi-ngadi apalagi mimpi" jawab Kiara ketus


Kiara kembali duduk. Ia memberi kode kepada Juna untuk duduk di hadapannya. Kiara menghubungi Elang, meminta suaminya itu untuk datang ke kantornya. Ia akan membahas mengenai penempatan Juna di Jakarta. Apakah di Sanjaya.Corp atau di ABW Group, perusahaan milik keluarga Elang.


Elang mempercepat langkahnya. Ia khawatir jika orang itu mengaku-ngaku dirinya. Wajahnya yang sebelas dua belas dengan dirinya bisa saja membuat istrinya itu salah mengenali. Disinilah jiwa posesif Elang muncul. Ia langsung menampakkan wajah dingin dan judes.


"Sayang, Siapa orang ini?."


"Dia...."


"Hai, Mas Elang! Apa kabar?" ucap Juna memotong perkataan Kiara.


"Ba...ba...ik. Hei, kamu siapa? Kenapa wajahmu mirip denganku? Saudaraku? Penggemarku? Atau...?."


"Dia Mas Juna" jawab Kiara.


"Mas Juna? Mantan tunangan Lily?" tanya Elang lagi.


Kiara kembali mengangguk. Seketika Elang langsung memeluk Juna.


Mereka bertiga langsung terlibat pembicaraan serius. Mengobrol dengan Juna yang sekarang tentu saja berbeda dengan Juna satu tahun yang lalu. Juna yang sekarang sudah lebih terasah pengetahuannya. Gaya bicaranya lebih luwes dan santai. Bahkan seringkali Juna melemparkan lelucon yang membuat Kiara dan Elang tertawa.


Sungguh, Barcelona telah mengubah sosok Juna. Melihat perubahan positif pada diri Juna, membuat Kiara menjadi yakin untuk memberikan jabatan penting padanya. Sesuai kesepakatan, Kiara dan Elang akan menempatkan Juna di Sanjaya.corp, ia akan ditempatkan di divisi keuangan.


Awalnya Kiara akan menjadikan Juna sebagai manager. Namun, Juna menolak dengan alasan ia masih belum pantas dan masih perlu banyak belajar. Kiara tidak memaksa. Ia segera menandatangani surat penempatan dan penugasan Juna.

__ADS_1


"Apakah saya langsung bekerja hari ini?" tanya Juna.


"Tidak. Kau boleh melihat-lihat divisimu dulu. Lita akan mengantarmu dan memperkenalkan kepada orang-orang di divisimu" ucap Kiara.


"Hmm...setelah itu apakah saya boleh pergi?" tanya Juna lagi.


"Mas Juna mau kemana?" Kiara balik bertanya.


"Saya ingin bertemu dengan kawan lama."


"Kawan lama ama gebetan lama? Mas Juna mau ketemu cem-cemannya ya?" goda Elang dan itu sukses membuat wajah Juna memerah.


"Kalau Mas Juna mau ketemu gebetan, nggak apa-apa kok. Pergi aja. Mas Juna bisa kenalan besok. Butuh mobil apa mau naik taksi?" tanya Kiara.


"Kalau boleh saya mau meminjam mobil kantor" ucap Juna malu-malu.


Kiara dan Elang nyengir berjamaah. Kiara langsung menghubungi Lita melalui intercom. Ia meminta untuk disiapkan mobil karena Juna akan memakai salah satu mobil kantor. Lita juga diminta untuk memberikan kunci mobil itu dan bila perlu mengantarkan Juna ke basemen.


Rupanya Kiara masih khawatir dengan Juna. Ia takut Juna kesasar dan hilang sehingga meminta Lita untuk mengantarkan sampai basemen.


"Kau berlebihan, sayang. Dia bukan anak kecil lagi" bisik Elang.


"Aku hanya khawatir. Sudahlah jangan protes!" sungut Kiara kesal.


"Masih ingat jalanan di Jakarta, Mas?" tanya Kiara.


Juna mengangguk.


"Apa Mas Juna butuh seseorang untuk menemani?" tanya Kiara lagi.


Juna menggeleng.


"Baiklah kalau begitu. Mas Juna, hati-hati di jalan" ucap Kiara. Ia menghembuskan nafas panjang.


Juna mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan Kiara.


"Sayang..." panggil Kiara.


"Hemm..."


"Aku penasaran Mas Juna akan bertemu dengan siapa."


"Lalu?."


"Kita buntutin yuk!" ajak Kiara. Ia sengaja memasang wajah memelas agar suaminya itu mau menuruti kemauannya.


Elang menggeleng. Ia merasa tidak penting mengikuti kemana Juna pergi. Toh, Elang sudah tahu siapa yang akan ditemui Juna tanpa harus menjadi penguntit.


"Tapi aku penasaran" rengek Kiara.

__ADS_1


"Jangan penasaran! Daripada mengikuti Mas Juna, lebih baik kamu bersiap-siap. Bukankah lima belas menit lagi kita akan meeting dengan klien dari Singapura?."


Elang segera bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu mengajak Kiara untuk bergegas ke ruang meeting karena khawatir pihak klien sudah datang menunggu mereka.


__ADS_2