HEI JUN

HEI JUN
13


__ADS_3

Ngenjreng....


Juna memperhatikan Suhri yang sedang sibuk menyetel senar-senar gitar akustik miliknya. Sudah sepuluh menit berlalu dan Suhri belum juga selesai.


Hari ini pelajaran ditiadakan karena guru-guru akan mempersiapkan ujian sekolah untuk kelas XII. Guru-guru yang menjadi panitia sedang rapat sejak jam tujuh pagi sedangkan yang tidak menjadi panitia bisa bebas berkeliaran.


Juna yang memang tidak didapuk sebagai panitia ujian sekolah, bisa bergerak bebas melancarkan rencana untuk menyatakan cinta kepada Lia. Sejak Andika mendukungnya untuk mengejar Lia, Juna mulai bergerak. Ia meminta bantuan Suhri untuk melancarkan rencananya karena hanya Suhri, murid Juna yang bisa bermain gitar.


Untung saja Suhri mau membantu Juna. Murid tengil itu ternyata baik juga. Suhri malah memberi Juna ide tambahan agar rencananya lebih romantis meski kemungkinan nantinya Juna akan kena tegur Pak Zaini karena membuat keributan dan mengganggu rapat panitia.


"Sudah, Ri?" tanya Juna.


Juna dan Suhri berada di bawah pohon mangga yang letaknya di depan ruang kelas XII. Suhri sengaja memilih tempat itu karena berseberangan dengan perpustakaan yang dijadikan ruang panitia ujian sekolah.


Lia memang didapuk menjadi panitia. Guru baru itu ditunjuk sebagai sekretaris karena kecakapan dan kelincahannya dalam bergerak. Pantas saja Pak Zaini langsung memberikan dia tugas sepenting itu meskipun Lia belum sebulan bekerja di SMA Cendekia.


Berbeda dengan Juna, bertahun-tahun mengajar di sana. Tapi jarang sekali menjadi panitia. Paling setahun dua sekali, saat classmeeting siswa. Itupun karena classmeeting semuanya berisi tentang olahraga dan Juna adalah satu-satunya guru olahraga yang dimiliki SMA Cendekia.


"Suhri, sudah apa belum?" tanya Juna lagi karena sejak tadi Suhri tak menyahut.


"Riyan, Pak, Riyan. Please deh jangan sebut nama kampungan itu terus" gerutu Suhri.


"Iya, maaf ya, Suhri. Eh, Riyan maksud saya. Bagaimana sudah selesai belum?."


"Sebentar, Pak. Ini nadanya kurang pas. Repot kalau nanti sumbang. Bu Lia bukannya terpesona tapi ilfeel. Bukannya klepek-klepek malah masuk angin" kata Suhri.


Juna mengangguk membenarkan ucapan muridnya. Ia kembali menunggui Suhri dengan sabar. Meskipun hatinya saat ini deg-degan tak karuan.


"Betewe Pak Juna mau nyanyi lagu apa?" tanya Suhri dengan tangan yang masih fokus dengan senar gitanya.


"Mmmhhh.... apa ya? Saya juga bingung" kata Juna sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lah? Pak Juna bagaimana? Mau nembak cewek kok amunisinya nggak disiapin dengan mateng. Wah... pantes jomblo akut" cibir Suhri.


Juna melirik bocah tengil itu. Berani sekali dia mengatai Juna jomblo akut? Apa dia tidak sadar kalau Juna adalah gurunya? Andai saja Juna tidak butuh bantuannya, pasti Juna sudah mencakar bibir Suhri sampai kriting.


"Kamu ada ide?."


"Yah... kalau lagu saja dari saya. Mending saya aja deh yang nembak Bu Lia. Gini-gini saya juga ganteng. Malah gantengan saya dari pada Pak Juna" cibir Suhri lagi.


Juna langsung memukul punggung Suhri dengan sandal jepit. Ia memang mengganti sepatu olahraganya dengan sandal jepit karena tadi sempat ke kamar mandi sebentar.


"Jangan coba-coba deketin Bu Lia! Kamu sekolah aja belum tamat malah pengen nembak Bu Lia. Saya aja yang sudah mateng begini belum tentu diterima lho."


"Beda, Pak. Kita ini berbeza. Pak Juna itu jomblonya sudah menahun. Kalau saya jomblonya unyu-unyu. Siapa sih yang akan menolak pesona Suhriyanto, calon penerus tahta perusahaan Rengginang Mak Sare yang terkenal itu? Pak Juna lihat saja. Saya nyanyi satu huruf saja, Bu Lia pasti langsung klepek-klepek."


"Jangan kepedean kamu!" Juna kembali menepuk punggung Suhri dengan sandal. Ia gemas sekali memiliki murid tengil dan over PD seperti Suhri.


"Jadi laki-laki kudu pede, Pak. Optimis. Berpikir positif. Jangan melempem kayak krupuk Bu Udin yang lupa di tutup toplesnya."


"Sudah, Ri, Cepat selesaikan! Kapan saya mulai mengutarakan cinta ke Bu Lia kalau kamu berbicara terus?" tegur Juna.


"Lah...? ini juga sudah selesai, Pak. Lagian meskipun sudah selesai kalau Pak Juna belum tau mau nyanyi lagu apa, tetep aja nggak bakalan mulai" sungut Suhri tetap saja menyalahkan Juna.


Juna diam, berfikir kira-kira lagu apa yang cocok ia bawakan untuk mengutarakan isi hatinya kepada Lia. Juna memang jarang mendengarkan musik. Ia lebih sering mendengarkan komentator sepak bola sehingga tak heran jika pengetahuannya di dunia musik sangat minim.

__ADS_1


"Lagu cinta aja deh, Pak. Lagunya Dewa 19. Romantis banget. Bu Lia pasti klepek-klepek. Percaya deh sama Suhriyanto" kata Suhri memberi saran.


"Lagunya yang mana, Ri?."


Suhri menepuk jidatnya. Ia kemudian meletakkan gitarnya dan pergi meninggalkan Juna seorang diri di bawah pohon mangga. Tak lama Suhri kembali bersama Fira yang berjalan di belakangnya.


"Kamu kenapa bawa Fira?."


"Mau bawa Bu Lia, nanti Pak Juna ngamuk" sambar Suhri cuek.


Suhri berbicara dengan Fira setengah berbisik. Juna yang tak tahu apa yang sedang mereka bahas, memilih diam. Ia hanya melihat Fira mengangguk-angguk mendengarkan instruksi dari Suhri.


Suhri mengambil gitarnya lagi. Ia duduk dengan Fira yang berdiri di sebelahnya.


"Dengerin, Pak Juna! Fira mau nyanyi. FIRAAAAA SIAP????"


Fira mengangguk.


"Tu, wa, tu, wa, ga, pat."


"Aku jatuh cinta."


Jreng... jreng...


"Untuk kesekian kali..."


Jreng... jreng...


"Baru kali ini ku rasakan"


"Pak, jangan diem aja! Sambung lagunya!" kata Suhri yang entah sejak kapan dia dan Fira sudah berhenti bernyanyi.


Juna yang sejak tadi terlena dalam alunan lagu mereka, tentu saja kaget.


"Eh??? Kenapa berhenti?" tanya Juna.


"Bapak ini mau nembak cewek apa ditembak cewek? Fira kan hanya memberi contoh. Pak Juna yang nerusin dong" protes Suhri gusar.


"Wahhh... padahal kalian nyanyinya bagus lho" kata Juna. Ia malah tidak menanggapi protes dari Suhri yang sejak tadi menahan emosinya menghadapi Juna.


"Jelas bagus lah, Pak. Saya dan Fira sering ngeband bareng. Memangnya Pak Juna, nggak pernah gabung sama kita-kita" kata Suhri menyombongkan diri.


Juna menghela nafas panjang. Baru sekarang ia yang diceramahi anak didiknya. Biasanya Juna yang menceramahi murid-muridnya hingga telinga mereka panas karena ceramah Juna tak kunjung usai.


"Pak Juna mau nyanyi nggak?" tanya Suhri.


"Mau lah! tapi saya tidak tahu lagu yang itu."


"Oh, No...!!!!!!! Pak Juna udah tua begini ngapain aja sih? Masak lagunya Dewa 19 aja nggak tahu? Mereka band legend lho, legend Pak" kata Suhri emosi.


"Saya sibuk ngajar. Makanya nggak tahu."


"Pantes jomblo."


Juna hendak memukul punggung Suhri lagi. Namun, tiba-tiba Pak Udin datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Pak Juna disuruh Pak Zaini ke ruangannya."


"Eh, saya? ada apa ya, Pak Udin?."


"Saya nggak tahu, Pak. Pak Zaini cuma nyuruh buat manggil. Sudah cepetan! Pak Juna sudah di tunggu."


Juna bergegas berganti alas kaki. Dengan berat hati ia menyuruh Suhri untuk menunggunya karena Juna akan menghadap Pak Zaini dulu. Untung saja Suhri tidak keberatan. Ia memilih melanjutkan bernyanyi bersama Fira sembari menunggu Juna selesai menghadap Pak Zaini.


Tok...Tok...Tok...


"Permisi...Pak Zaini memanggil saya?" tanya Juna sopan.


Pak Zaini menyambut Juna dengan tersenyum. Ia menyuruh Juna masuk dan mempersilakan duduk.


"Ada apa, ya, Pak?."


"Begini, Jun. Saya baru saja mendapat telpon dari diknas. Sekolah kita diminta mengirimkan satu orang guru untuk mengikuti pelatihan di Surabaya. Berhubung sebagian guru bertugas sebagai panitia ujian sekolah. Maka saya memutuskan kamu yang berangkat mewakili sekolah kita" kata Pak Zaini.


Deg.


Pelatihan? Kenapa tiba-tiba begini? Seketika perasaan Juna berubah menjadi tidak enak.


"Pelatihan tentang apa, ya, Pak? Dan berapa lama pelatihannya?" tanya Juna hati-hati.


"Tentang kecakapan mengoperasikan IT. Pelatihannya selama seminggu."


Juna membulatkan kedua bola matanya. Seminggu? Itu artinya ia tidak akan bertemu Lia selama seminggu? Juna langsung gelisah. Acara nembak-menembaknya belum dimulai dan sekarang ia harus berpisah dengan Lia selama seminggu.


"Ke... ke... kenapa saya, Pak? Saya kan gaptek. Nanti malah malu-maluin di sana."


"Justru karena kamu gaptek. Jadi di sana kamu dilatih agar nanti kalau kamu mengajar kamu bisa sambil menggunakan laptop. Saya sebenarnya mau menyuruh Lisa. Tapi suaminya Lisa sedang sakit sehingga Lisa menolak. Oleh sebab itu saya menyuruh kamu yang ikut pelatihan" kata Pak Zaini membuat lutut Juna mulai lemas.


"Lalu kapan saya berangkat, Pak?."


"Hari ini jam dua belas. Sekarang kamu ke diknas dulu mengantarkan surat pengantar dari saya. Setelah itu kamu boleh pulang untuk bersiap-siap. Nanti sebelum jam dua belas kamu harus ke diknas lagi karena peserta yang ikut pelatihan berkumpul di sana" kata Pak Zaini lagi.


"Sialan! Kenapa harus sekarang sih? Kenapa tidak besok saja? Apa mereka tidak tahu kalau hari ini aku sibuk? Aku ada acara penting. Penting menyangkut nasib percintaanku dan Lia"


Juna mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin ia menolak perintah Pak Zaini? Atasannya itu pasti marah besar jika Juna menolak perintahnya. Juna semakin gelisah tak karuan. Pikirannya sudah tidak menentu.


"Mengapa melamun, Jun?" tanya Zaini mengagetkan Juna.


"Eh.. tidak, Pak. Saya tidak melamun kok."


"Kamu keberatan ikut pelatihan?" tanya Pak Zaini.


"Em... em... tidak, Pak. Saya tidak keberatan" jawab Juna berbohong.


"Sudah pasti kamu tidak akan keberatan. Kamu kan tidak punya tanggungan. Masih single kan ya?" kata Pak Zaini meledek Juna.


Juna tersenyum kecut. Pertanyaan Pak Zaini tadi sepertinya tidak perlu Juna jawab. Selama Juna belum memberikan fotokopi Kartu Keluarga yang baru, itu artinya status jomblonya belum berganti.


Pak Zaini mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan memberikannya kepada Juna. Ia menyuruh Juna segera berangkat ke diknas karena surat itu sudah ditunggu oleh pihak diknas.


Juna menerima amplop coklat itu dan segera pergi meninggalkan ruangan Pak Zaini. Langkah kakinya gontai membayangkan jika selama seminggu kedepan ia tidak akan bertemu Lia. Sudah gagal mengutarakan cinta, sekarang malah dikirim pelatihan selama seminggu. Nasib...nasib...

__ADS_1


__ADS_2