HEI JUN

HEI JUN
131


__ADS_3

Arjuna menatap aneh pada sosok perempuan di hadapannya. Perempuan itu tersenyum ke arah Arjuna. Bocah laki-laki itu menoleh ke kanan meminta jawaban kepada laki-laki yang sejak kemarin ia panggil Papa.


"Itu Mama Arjuna. Mulai sekarang Mama Atha akan menjadi Mama Arjuna" ucap Juna mencoba memberi penjelasan kepada putra kecilnya.


Arjuna kembali menatap Athalia. Ia memindai penampilan Athalia dari atas sampai wajah. Kedua netranya perlahan mengembun lalu pecahlah tangis anak laki-laki Juna.


"Huaaa.... Dia bukan Mama. Dia bukan Mama. Mama aku bukan yang ini."


Baik Atha dan Juna kaget melihat reaksi Arjuna. Kenapa menangis? Harusnya Arjuna seneng bertemu Mama baru, begitu pikir Juna.


"Jagoan Papa, itu Mama kamu. Kenapa kamu bilang begitu, Nak?" tanya Juna.


"Dia bukan Mama aku, Papa. Mama aku tidak seperti itu. Hu.. .hu....hu..." Arjuna memukul-mukul bahu Juna. Ia memberontak ingin melepaskan diri dari gendongan Juna.


Juna memanggil Mbok De. Perempuan paruh baya itu segera berlari menuju kamar majikannya. Juna menyerahkan Arjuna kepada Mbok De. Putra kecilnya itu perlu ditenangkan dulu sedangkan Juna akan menenangkan istrinya.


Mbok De mengangguk. Ia segera membawa Arjuna keluar dari kamar Juna. Mbok De membawa ke ruang tengah, menyalakan televisi agar Arjuna bisa menonton film kartun.


Untung saja perhatian Arjuna bisa dialihkan sehingga bocah laki-laki itu bisa berhenti menangis dengan perlahan. Mbok De juga memberikan kue kering kepada Arjuna. Kebiasaan Arjuna ketika di Bali adalah menonton televisi sambil mengunyah makanan. Sehingga Mbok De selalu menyetok makanan kecil untuk Arjuna.


Juna mengintip sebentar, mengecek keadaan putranya. Melihat Arjuna sudah anteng menonton televisi bersama Mbok De membuat Juna bisa bernafas lega.


Juna menutup pintu. Ia menghampiri istrinya yang sedang duduk di pinggir kasur. Juna sudah menduga jika istrinya pasti sedih. Ia akan mencoba memberi pengertian agar Atha tidak berpikiran bermacam-macam.


"Sayangku..... Papa rindu sekali" Juna memeluk Atha dari belakang lalu ia mengelus perut istrinya.


"Dia tidak menerimaku, Pa" ucap Atha dengan suara bergetar.


"Dia masih butuh pengertian. Mama bisa sabar kan ya? Andai Arjuna masih bayi, pastilah ini tidak akan terjadi."


"Apa aku tidak pantas menjadi Mama nya?" tanya Atha lagi. Hormon kehamilan membuat Atha sangat sensitif.


"Pantas sekali, sayang. Kalau kalian bercermin, wajah kalian benar-benar mirip. Seperti durian dibelah sama kapak" ucap Juna.


Atha mendelik kepada suaminya. Bisa-bisanya di saat seperti ini Juna melawak dengan lelucon garing. Atha sedang bersedih, butuh dihibur bukan diberi lelucon seperti itu.


"Hari ini adek bayi rewel apa tidak?" ucap Juna mengalihkan pembicaraan.


Atha menggeleng.


"Adik bayi tidak mau sesuatu?."


Atha kembali menggeleng.


"Adik bayi, Papa mau beli mainan buat kakak Arjuna. Adik bayi tidak mau sesuatu? Uang Papa banyak lho. Bisa buat ngeborong barang diskon" ucap Juna kembali mengelus perut istrinya.


"Kenapa harus diskon, Jun?" tanya Atha.


"Biar dapat banyak. Kalau belanja di Matamata kan beli 1 dapat 5, jadi kita cuma perlu beli 10 baju buat satu bulan lebih" kata Juna bangga.


"Kamu hemat apa pelit sih, Jun? Bukankah uangmu banyak?."


"Banyak sih, tapi kalau ada yang diskon kenapa beli yang harga normal. Otak dagang memang begini, Sayang" jawab Juna cekikikan.


Atha memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia menghempaskan kedua tangan Juna dan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ayo, kita belanja! Hari ini tidak boleh ada yang bersedih. Kita belanja, belanja, dan belanja" ajak Juna dengan semangat berkobar-kobar.


"Nggak mau. Mama nggak mau belanja barang diskonan" Atha memalingkan wajahnya.


"Ya ampun, sayangku! Papa hanya becanda. Mama boleh beli apapun. Mau diskon atau tidak. Mau borong seluruh isinya juga boleh" kata Juna.


"Sungguh?."


"Sungguh. Ayo! Mau ganti baju apa langsung?" tanya Juna.


"Langsung saja" jawab Atha bersemangat.


"Oke! Papa pesen taksi online dulu. Sepertinya besok Papa akan membeli rumah dan mobil."


"Apa? Rumah dan mobil?" tanya Atha kaget.


"Ya, sayang. Apartemen ini terlalu kecil untuk kita. Sekarang sudah ada Arjuna dan Mbok De. Beberapa bulan lagi, ada adek kecil yang membuat anggota keluarga kita semakin banyak. Papa rasa kita harus beli rumah."


"Lalu apartemen ini?."


"Buat investasi. Siapa tahu nanti kita butuh tempat berdua untuk mengasah keris" goda Juna.


Atha melempar sebuah bantal kepada Juna. Suaminya itu masih bisa berfikir ke arah sana. Entah setan apa yang meracuni Juna sehingga kadar kemesyuman Juna sudah tidak normal.


Atha bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan Arjuna dan Mbok De. Langkahnya terhenti ketika melihat mereka sedang menonton televisi.


"Arjuna..." panggil Atha.


Arjuna berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah Athalia. Wajah Arjuna yang semula datar berubah menjadi kusut. Ia bergerak mundur, mencari perlindungan pada Mbok De.


"Juna sayang. Juna mau ikut Mama? Mama mau beli mainan pesawat lho" bujuk Atha. Ia mendekati Arjuna sembari mengulurkan kedua tangannya.


Arjuna tetap menggelengkan kepala.


"Papa juga ikut lho, Sayang. Katanya kita juga mau keliling liat baby shark."


"Baby shark?" Juna menatap Mbok De, meminta jawaban pada perempuan paruh baya itu.


"Iya. Papa sama Mama mau ngajak Juna lihat baby shark" kata Mbok De.


"Juna boleh tangkap baby sharknya?."


"Boleh, dong. Ayo, sini sama Mama! Nanti Mama belikan alat pancing buat nangkep baby shark" ucap Atha.


Arjuna menatap Mbok De. Perempuan itu mengangguk memberi kode agar Juna mau menerima uluran tangan Athalia. Bocah laki-laki itu bangkit dengan perlahan. Ia berjalan mendekati Atha dengan ragu.


Hap


Atha memeluk bocah laki-laki. Ia mencium pipi Arjuna dengan gemas. Atha bersiap menggendong Arjuna. Namun, gerakannya terhenti karena teriakan Juna yang melengking.


"Mama, Jangannnn!!!!" Juna buru-buru menghampiri mereka. Ia mengambil alih Arjuna dan langsung menggendongnya.


"Papa, Juna tidak boleh gendong sama Mama?" tanya bocah laki-laki itu bingung.


"Jagoan Papa, Mama sedang hamil adek Arjuna. Di dalam perut Mama ada adek Juna. Kalau Mama gendong Juna, adek nanti sakit. Juna gendong sama Papa aja ya" bujuk Juna.

__ADS_1


Arjuna mengangguk.


"Mama, jangan gendong Arjuna! Ingat, ada adek bayi di situ!" tegur Juna memperingatkan istrinya.


"Maaf, Papa. Terlalu bersemangat" jawab Atha cekikikan.


Ponsel Juna berdering. Taksi online yang dipesan Juna sudah berada di depan lobby. Juna segera mengajak Atha dan lainnya untuk keluar. Hari ini mereka akan bersenang-senang menghabiskan uang Juna untuk berbelanja.


***


Juna sedang berada di ruang kerja Kiara. Hari ini ia harus memberikan laporan keuangan bulan lalu. Kiara sedang mengecek laporan yang diberikan oleh Juna. Juna diminta tetap berada di ruang kerja Kiara sampai Kiara selesai mengecek laporan itu.


"Bagus! Semuanya tidak ada yang miss" ucap Kiara bangga.


"Terima kasih, Nyonya Bos."


"Oh, iya! Saya dengar dari Lita, Mas Juna kemarin ke Bali. Ada apa?" tanya Kiara.


"Oh, saya menjemput Arjuna!."


"Arjuna? Siapa?" tanya Kiara bingung.


"Anak saya" jawab Juna singkat.


"Anak????" Kiara langsung menutup mulutnya. Ia tentu saja kaget mendengar jawaban Juna.


Juna paham dengan reaksi Kiara yang shock seperti itu. Ia lalu menceritakan perihal Arjuna dan fakta yang menyebutkan jika Arjuna adalah anak biologisnya.


"Segera legalkan anak itu! Kiara akan minta tim pengacara Sanjaya untuk mengurus semuanya. Mas Juna, kenapa masalah seperti ini tidak bercerita pada Kiara?" protes Kiara kesal.


"Ehmm... Maaf, Nyonya! Saya tidak mau merepotkan kalian terus. Saya sungkan" ucap Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Kiara hanya menggelengkan kepalanya. Rasanya gemas sekali melihat tingkah Juna yang seperti itu.


"Kiara dengar dari Lita, Mas Juna mau beli rumah dan mobil?."


"Benar, Nyonya Bos! Apartemen saya terlalu kecil untuk ditempati kami berempat. Saya juga mengajak pengasuh Arjuna untuk tinggal bersama saya karena tidak mungkin Atha mengasuh Arjuna seorang diri dengan kondisi hamil seperti itu."


Kiara kembali menggelengkan kepalanya. Ia menekan nomor extension Lita, meminta Lita untuk masuk ke ruang kerjanya.


"Selamat siang, Nyonya Bos dan Pak Mayjunakuh" Lita mengedipkan sebelah matanya, menggoda Juna seperti biasa.


"Lita! Jangan ganjen! Kamu mau sama mutasi ke Tobelo?" wajah garang Kiara membuyarkan mode genit Lita. Secepat kilat perempuan itu mengubah raut wajahnya menjadi mode serius.


"Siap, Nyonya Bos! Adakah tugas untuk saya?" kata Lita.


"Mas Juna mau beli rumah dan mobil. Carikan rumah yang dekat dengan kantor. Rumah yang besar dengan halaman yang luas. Untuk mobilnya belikan saja pajero sport."


"Jangan, Nyonya! Kebagusan" teriak Juna.


"Saya mau beli mobil yang kecil saja seperti jazz atau mobilio" lanjut Juna lagi.


"Nggak ada! Sekali pajero, tetap pajero! Lita, segera cari rumah dan mobil sesuai eprintah saya tadi. Besok saya mau semua sudah ada."


"Siap, Nyonya Bos!" teriak Lita kemudian ia balik badan dan keluar dari ruang kerja Kiara.

__ADS_1


__ADS_2