
Juna kembali ke kantornya dengan tergesa-gesa. Setelah pembicaraan alot dengan Athalia yang tidak menemukan titik temu, Juna memutuskan segera kembali ke kantor untuk menemui Kiara.
Juna memaju mobilnya dengan kecepatan cepat, berharap masih sempat bertemu dengan Kiara dan Elang di kantor. Maklum saja pasangan suami istri itu sangat sibuk. Juna khawatir tidak bisa bertemu dengan mereka hari ini mengingat jadwal mereka yang padat dan kepentingan Juna yang mendesak.
Ting!
Juna langsung keluar dari lift yang membawanya dari lobbi ke lantai atas. Ia berlari dan langsung menghampiri meja Lita, sekretaris Kiara, yang saat itu sedang sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya.
"Miss Lita, apakah Nyonya bos ada?" tanya Juna.
Lita tidak langsung menjawab. Ia malah mengerutkan dahi melihat kedatangan Juna yang tiba-tiba.
"Miss, jangan diam! Jawab pertanyaanku! Apakah Nyonya bos ada?" Juna mengulangi pertanyaannya.
"A...a..ada, Pak Juna. Nyonya sedang makan siang dengan Tuan Elang."
Juna langsung berlalu dari hadapan Lita. Ia bergegas menuju ruang kerja Kiara. Sebenarnya Juna sungkan menganggu Kiara dan Elang. Namun, karena ia memiliki kepentingan yang mendesak. Juna membuang rasa sungkannya. Ia harus bergerak cepat mumpung pasangan suami istri itu sedang bersama.
Tok...tok..tok..
Juna mengetuk pintu. Ia masuk perlahan setelah mendengar suara Elang yang menyuruhnya masuk.
"Mas Juna? Sudah selesai urusannya?" tanya Kiara ketika melihat kepala Juna menyembul dari balik pintu.
Juna berjalan menghampiri mereka. Ia langsung duduk di sofa seberang yang di tempati Kiara dan Elang. Juna benar-benar lupa dengan tata krama saat masuk ke ruang CEO. Untung saja tidak ada Dira di sana sehingga tidak ada yang mengomel atau melempari Juna dengan dengan padat.
"Mas Juna kenapa? Sepertinya ada hal yang serius?" tanya Elang.
"Maaf jika saya mengganggu Mas Elang dan Nyonya bos. Saya mau minta bantuan kalian."
"Bantuan?" ucap Kiara dan Elang bersamaan.
Juna mengangguk.
"Tolong menjadi wali saya malam ini. Saya ingin melamar seorang gadis" ucap Juna mantap.
"APAAAAAA???!!!!" Kiara berteriak hingga tanpa sadar ia melempar piring yang sedari tadi dipegangnya.
"Kebiasaan! Sekarang kalau kaget mainnya lempar piring" ucap Elang. Ia lalu menelpon OB untuk datang ke ruangan Kiara guna membersihkan pecahan piring di lantai.
"Mas Juna mau melamar siapa?" tanya Kiara.
"Teman saya. Dia adalah seorang dokter, kalau tidak salah dialah yang merawat Nyonya dulu."
"Dokter yang merawatku? Siapa?" tanya Kiara lagi.
"Dokter Athalia. Nyonya pasti sudah tahu kan?."
"APAAAAA????!!!" Kiara berteriak lagi. Kali ini ia melempar piring makanan Elang.
Elang berdecak sebal. Makanan di piringnya baru di makan tiga suap, tapi istrinya sudah melemparnya ke lantai. Memang sejak Kiara hamil, tingkahnya semakin bar-bar saja. Kiara tidak bisa kaget sedikitpun. Ia akan melempar piring dengan spontan sehingga membuat stok piring di rumah mereka berkurang tiap minggunya.
"Mas Juna kenal dimana sama dokter Atha?" selidik Kiara.
"Saya mengenalnya ketika di kampung dulu. Atha adalah dokter bantu yang bertugas di Pulau tempat saya tinggal. Dia yang membantu saya saat saya mengalami kesulitan."
__ADS_1
Kiara menoleh kepada Elang. Ada sesuatu yang ingin Kiara sampaikan kepada Juna. Namun, ia ragu. Kiara meminta persetujuan dari Elang lewat tatapan matanya. Pasangan suami istri itu sudah terbiasa berkomunikasi dalam diam sekarang.
"Mas Juna, mmm...mmm... Apa Mas Juna yakin mau melamar dokter Atha? Kalau dia menolak bagaimana?" ucap Kiara ragu.
"Dicoba saja, Nyonya. Untuk kali ini saya tidak mau kecolongan lagi. Saya harus gerak cepat" ucap Juna mantap.
"Apa Mas Juna tahu kalau Dokter Atha itu naksir ka....mmpppphhhhffftttt" Elang buru-buru menutup mulut Kiara. Ia tidak mau istrinya keceplosan tentang Atha dan kakak iparnya.
"Atha pernah cerita jika dia menyukai kakak kelasnya dan menurut ceritanya juga si kakak kelas sudah menolaknya. Kalau sudah begitu mengapa saya harus ragu untuk melamarnya, Nyonya?."
"Saya khawatir saja Mas Juna akan hidup dengan perempuan yang tidak mencintai Mas Juna" cicit Kiara.
"Kapan Mas Juna mau melamar dokter Atha?" kali ini Elang buka suara.
"Nanti malam, Mas."
"Baiklah, sekarang Mas Juna pulang dulu untuk bersiap-siap. Nanti jam 7 kami akan menjemput. Untuk seserahan, saya akan menyuruh Lita untuk mempersiapkannya. Mas Juna tinggal terima beres" ucap Elang yang langsung mendapat pelototan tajam dari Kiara.
Juna mengangguk. Ia lalu pamit untuk segera bersiap-siap. Juna melangkahkan kakinya dengan riang. Hatinya berbunga-bunga mendapat dukungan penuh dari Elang dan Kiara. Ia sungguh tidak sabar menunggu nanti malam.
"Kenapa kau malah mendukungnya? Kau tahu sendiri kan kalau dokter Athalia naksir si Kadir? Sampai sekarang Mama masih berusaha menjodohkan mereka" teriak Kiara kesal.
"Sayang, tenang! Tenang!."
"Bagaimana aku bisa tenang? Mas Juna pernah terluka, sering terluka malah. Sekarang ia ingin melamar orang yang tidak mencintainya? Hah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Mas Juna jika mengetahui hal itu."
Elang tersenyum. Ia paham akan kekhawatiran istrinya itu. Elang segera menarik tubuh Kiara dalam pelukannya.
"Kata Abang Dira, jodoh itu di tangan Tuhan. Manusia hanya membuka jalan. Kalau jodoh ya syukur, tidak jodoh ya ikhlaskan. Mas Juna sedang membuka jalannya. Kita tidak boleh menghalanginya. Lagipula ini kisah Mas Juna, sayang. Kita tidak boleh terlalu ikut campur" ucap Elang menasehati.
Kiara mengangguk. Perlahan emosi yang menguasai tubuhnya mereda.
"Kenapa pulang?" tanya Kiara heran.
"Kita kan wali dari Mas Juna. Kita harus bersiap-siap juga. Elang juga akan menyuruh Lita untuk mempersiapkan barang-barang yang akan kita bawa nanti."
***
Juna duduk dengan gelisah di hadapan orang tua Athalia. Tepat pukul tujuh malam, rombongan keluarga Juna yang terdiri dari Elang, Kiara, Lita dan beberapa maid di rumah Kiara tiba di rumah Athalia.
Berbekal alamat yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Mereka segera meluncur ke TKP. Dengan bantuan ponsel pintar yang menjadi penunjuk arah, akhirnya rombongan keluarga dadakan Juna tiba di rumah Athalia.
Mereka disambut oleh Pak Fajar dan Ibu Nora selaku orang tua dari Athalia. Wajah penuh keheranan langsung ditampakkan ketika mereka melihat rombongan keluarga Juna yang berdiri sembari membawa barang-barang seserahan.
Elang yang didapuk sebagai kepala rombongan langsung memberi sambutan, menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang. Orang tua Athalia seketika sumringah. Mereka langsung mempersilakan masuk, mengeluarkan berbagai makanan seadanya sebagai kudapan.
Sinar kebahagiaan nampak dari wajah kedua orang tua Athalia. Suasana yang semula canggung, perlahan mencair dan tercipta keakraban meski baru pertama kali bertemu.
"Nak Juna kenal Athalia di mana?" tanya Nora sembari tersenyum ke arah Juna.
"Emm...emm...kenal di kampung saya, Bu. Waktu itu Atha sedang bertugas menjadi dokter bantu" jawab Juna jujur.
"Kami sebagai orang tua dari Athalia sangat senang sekali kedatangan tamu seperti ini. Sudah lama kami menanti hari di mana anak gadis kami dilamar oleh seorang pemuda yang mencintainya" ucap Pak Fajar.
"Umur Athalia sudah 27 tahun. Berkali-kali kami memintanya menikah. Namun, anak gadis itu tetap saja menolak dengan alasan sibuk kerja dan banyak pasien. Sering sekali kami terlibat adu mulut karena watak keras kepala Athalia yang tidak bisa dibujuk" lanjut Bu Nora menambahkan.
__ADS_1
"Begini Bapak dan Ibu, saya sebagai wali dari Mas Juna sebelumnya mengucapkan terima kasih atas sambutan yang sangat hangat kepada kami. Kami tidak mau basa-basi lagi. Seperti yang telah disampaikan di awal, kami mau melamar dokter Athalia untuk Mas Juna" ucap Elang.
Prang.
Terdengar suara benda pecah dari sebelah utara. Semua orang langsung menoleh dengan serempak. Nampak Athalia berdiri terpaku, menatap balik mereka dengan tatapan tajam dan tak bersahabat.
"Apa maksud Anda, Tuan Elang?" teriak Athalia membuat semua orang di sana langsung berdiri.
"Dokter, apakah Anda tidak mendengar secara lengkap ucapan saya tadi?" tanya Elang santai.
Pak Fajar langsung berjalan menghampiri Atha. Ia menarik tangan Atha dan mendudukkan di sofa.
"Sopanlah! Mereka tamu penting! Jaga tingkahmu!" bisik Pak Fajar di telinga Atha.
"Maaf, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Mari duduk kembali! Athalia hanya kaget" ucap Bu Nora mencairkan suasana.
"Maaf, jika kedatangan kami mengagetkan bu dokter. Kami datang sebagai perwakilan dari keluarga Mas Juna untuk melamar bu dokter sebagai istri Mas Juna."
"Tidak!" ucap Atha tegas.
"Atha!" tegur Pak Fajar. Beliau merasa tidak enak hati pada Juna dan lainnya.
"Bu dokter, tolong dipikirkan dulu! Kami tidak buru-buru" ucap Elang masih dengan ketenangan yang hakiki.
"Mengapa harus saya pikirkan, Tuan? Bukankah Anda tahu siapakah laki-laki yang saya harapkan untuk datang melamar saya?" ucap Atha lantang.
Deg.
Kiara langsung menatap Elang. Ia yang sedari tadi diam, merasakan aura intimidasi dari Athalia. Elang hanya mengangguk, meminta istrinya untuk tetap diam. Berbeda dengan Juna, Juna yang bingung dan tidak paham dengan pembicaraan mereka, langsung menoel paha Elang untuk meminta jawaban.
"Maksudnya apa? Siapa yang diharapkan Atha untuk datang melamarnya, Mas?" tanya Juna pada Elang.
Elang tidak menjawab. Ia hanya nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.
"Mr. Adirra. Siapa lagi hah?" ucap Athalia menjawab pertanyaan Juna yang tidak terjawab oleh Elang.
"APA???!!! Tuan Dira? Jadi cinta pertamamu adalah Tuan Dira?" tanya Juna tak percaya.
"Bukankan aku pernah menyebutkan namanya kepadamu, Jun? Mengapa kau masih kaget seperti itu?."
"Jadi...?" ucapan Juna terhenti. Lidahnya terasa kelu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Mama menjodohkan Abang Dira dengan bu dokter, tetapi Abang menolak" Elang akhirnya buka suara.
"Meski Tuan Adira menolak perjodohan itu, bukan berarti saya melupakan dirinya. Saya masih mencintainya" Atha berucap dengan tegas lantang.
"Tapi itu tidak boleh, Atha! Kau tidak boleh mencintainya" ucap Juna lirih.
"Kenapa? Sampai kapanpun aku akan tetap menjaga cintaku. Aku yakin suatu saat kami pasti bersatu, Jun."
"Jangan, aku mohon! Jangan! Lupakan Tuan Adira! Menikahlah denganku!" ucap Juna meski hatinya terasa perih mendengar kenyataan yang baru saja ia ketahui. Namun, niatnya untuk melamar Athalia masih tetap berlanjut.
"Aku tidak bisa, Jun."
"Jangan menunggunya karena dia sudah menikah!" ucap Juna.
__ADS_1
"APA????!!!!" teriak Elang dan Kiara bersamaan.
Seketika Kiara langsung pingsan. Semua orang langsung panik dan acara lamaran Juna pun kacau. Elang langsung mohon pamit. Ia menggendong Kiara dan segera membawa istrinya ke rumah sakit.