
Bocah melipir dulu ya...
Atha mengucek-ngucek kedua matanya. Ia mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sudah waktunya untuk bangun dari tidur siang.
Perlahan, Atha mencoba mengumpulkan roh nya. Namun, ia meringis ketika merasakan sesuatu yang menindih perutnya. Apa itu? Mengapa sakit sekali? Atha menunduk dan mendapati tangan kekar Juna sedang melingkari perutnya.
Senyum mengembang terpancar dari bibir Atha. Ia menatap dengan intens wajah damai Juna yang sedang terlelap. Atha baru ingat jika tadi mereka langsung tidur siang. Atha memang tidur membelakangi Juna. Akibat lelah mengamuk di SMA Cendekia membuat Atha lamgsung tertidur. Ia bahkan tidak tahu jika Juna memeluknya.
Atha menggeser lengan Juna. Ia harus ke segera bangun dan mandi. Atha berencana memasak untuk makan malam mereka. Setidaknya sebelum Juna bangun ia sudah harusmenyelesaikan mandinya.
Atha segera bangkit dan beranjak dari tidurnya. Ia bergerak dengan perlahan agar tidak membangunkan Juna. Gegas, Atha ke kamar mandi. Entah mengapa Athalia ingin berendam. Ia buru-buru mengisi bath tube dengan air, menuangkan sedikit aromatherapy untuk memberikan sensasi segar pada otaknya.
Melihat air yang sudah hampir memenuhi bath tube, Atha segera menanggalkan bajunya. Ia masuk ke dalam bath tube dan memulai acara berendamnya. Terdengar siulan merdu dari bibir Atha. Niat awal yang ingin buru-buru mandi ternyata urung dilakukan Atha. Ia malah betah berendam sembari bersenandung riang.
Ceklek.
"A... Atha...???" Juna salah tingkah ketika dirinya masuk ke kamar mandi. Ia pikir tidak ada orang di dalam karena pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
Juna menelan salivanya, melihat tubuh Atha yang tertutup busa sabun membuat pikirannya travelling. Ia bingung harus berkata apa melihat wajah Athalia yang menatapnya dengan pandangan biasa saja.
"Kenapa, Jun? Kau mencariku?."
Juna hanya mengangguk. Bibirnya tidak mampu mengucapkan apa-apa.
"Maaf, aku terlalu nyaman berendam. Kau pasti sudah lapar."
Juna menggigit bibirnya. Bagian bawah celananya sudah semakin sempit. Juna semakin bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia keluar dari kamar mandi? Tapi mubazir rasanya jika dirinya keluar kamar mandi.
Istri cantiknya sedang mandi. Pemandangan yang belum pernah Juna liat sebelumnya. Entah mengapa ada keinginan Juna untuk ikut mandi bersama Atha. Namun, ia takut untuk mengatakannya.
"Juna, mengapa melamun? Kau lapar?" Atha menyadari jika suaminya itu sedang melamun.
Juna menggeleng.
"Kenapa? Mau ikut mandi?" tanya Atha seperti sedang sengaja memancing Juna.
"Bo.. Boleh?" dengan polosnya Juna masih bertanya seperti itu.
"Tentu saja. Kau membeli bath tube yang besar. Cukup untuk kita berdua. Ayo, kalau kamu juga mau mandi. Aku mandikan sekalian."
Glek.
Juna menelan ludahnya kembali. Mendengar kalimat itu membuat Juna seketika panas dingin. Ia melangkah dengan gemetar, mendekati Athalia yang sedang berendam.
"Atha" bisik Juna tepat di telinga istrinya.
"Kalau saya ikut mandi artinya saya buka baju" lanjut Juna.
"Tentu saja, Jun. Kau ini bagaimana? Mana ada mau mandi pakai baju? Sudah cepat buka bajumu jika memang mau ikut mandi!" ucap Atha. Ia langsung membantu melepaskan kaos yang dipakai Juna.
Juna menatap Atha tanpa berkedip. Ia seperti terhipnotis. Tangannya menurut saja ketika Atha menuntunnya untuk melepaskan celana pendeknya. Atha menarik tangan Juna. Ia menuntun Juna agar masuk ke dalam bath tube.
Byurrrr
Wajah Juna langsung terkena air sabun. Ia langsung tersadar dari lamunannya. Wajah Juna merah padam ketika kulit tangannya menyentuh kulit dada milik istrinya.
"A...A...Atha, kamu...kamu...tidak pakai daleman?" tanya Juna gugup.
__ADS_1
"Daleman? Untuk apa? Aku kan mau mandi, Jun" tanya Atha heran.
Juna semakin kikuk. Apalagi saat Athalia membalikkan tubuhnya menghadap Juna. Ia lalu duduk di atas pangkuan Juna dan meletakkan kepalanya di dada bidang Juna. Atha mulai melancarkan aksinya. Ia menggigit perlahan kulit dada Juna sehingga hawa panas semakin menyelimuti tubuh Juna.
"Atha..."
"Hem...."
"Tyrex milikku bangun" jawab Juna malu-malu.
Sekuat tenaga Juna menahan diri agar tidak mem de sah. Atha sepertinya sengaja, ingin menyiksa Juna dengan permainan pelannya. Ia yang paham dengan kondisi mental Juna, sepertinya tidak ingin Juna kaget jika dirinya langsung aktif bermain-main dengan milik Juna.
Juna menutup kedua matanya. Has ratnya sudah tidak terbendung. Ia menempelkan bibir ranumnya pada bibir Atha. Awalnya pelan tapi lama-lama Juna semakin menunjukkan taringnya. Ia membabat habis bibir Atha dengan ganas. Manis dan enak, itulah yang dirasakan Juna ketika benda kenyal itu dihisapnya.
"Hah...."
Juna melepaskan pagutannya. Ia menghirup oksigen banyak-banyak begitu pula dengan Atha. Ia tidak menyangka jika pancingannya berhasil membangkitkan hawa panas dalam tubuh Juna.
"Atha..." panggil Juna.
"Hemmm??."
"Pindah ke kamar yuk!" ajak Juna malu-malu.
"Ke kamar? Udahan mandinya, Jun?" tanya Atha pura-pura polos.
"Di sini sempit. Saya mau jadi bayi" bisik Juna.
Atha tertawa. Ia mengangguk memberi izin kepada suaminya itu untuk pindah tempat.
Tanpa basa-basi, Juna langsung keluar dari bath tube. Ia menggendong tubuh Atha dan membawanya berdiri di bawah shower. Juna menyalakan shower, semburan air dingin segera mengguyur tubuh mereka.
Awalnya hanya menjilat pelan. Tapi lama-kelamaan, Juna menggigit pucuk gentong itu dengan keras. Gigitan Juna tentu saja membuat Atha berteriak. Juna tersadar, ia nyengir kuda dan kembali menggendong istrinya ke kamar.
Juna merebahkan Atha dengan perlahan. Ia lalu naik ke atas kasur hendak melanjutkan cosplay nya menjadi bayi besar.
"Jun..."
Atha menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Ia tidak berani melihat lebih lama anak tyrex Juna yang semakin membesar.
Juna tidak memperdulikan tindakan Atha. Saat ini dia hanya ingin menjadi bayi besar lagi. Juna segera melahap gentong milik Atha sembari membuat sedikit prakarya di sana. Tangan kiri Juna juga tidak diam. Tangan itu ikut bermain dengan gentong satunya.
Atha tidak bisa menahan teriakannya. Ia membiarkan saja suara-suara indah itu mengalun memenuhi kamar mereka.
"Aaaawwwww....." Athalia kembali memekik ketika tyrex Juna ternyata sudah mencoba membuka segel milik Atha.
Tyrex milik Juna kewalahan untuk membuka segel kandangnya. Berkali-kali ia mencoba mendorong, mengarahkan segala kekuatannya untuk membobol segel kandangnya.
"Junaaaaa....!!!!" lagi-lagi Atha berteriak. Ia memukul-mukul bahu Juna, melampiaskan rasa sakitnya pada Juna.
Juna yang tidak peduli dengan tindakan Atha, memilih lebih mengarahkan tyrex nya agar terus berkelana ke dalam kandangnya. Tyrex Juna yang semula bergerak perlahan, semakin lama bergerak semakin cepat. Hal itu membuat Atha semakin kacau tidak karuan.
"Jun.... Jun.... Jun...."
Juna menulikan pendengarannya. Tyrex nya sedang menjalani misi penting. Juna terus menggerakkan pinggulnya hingga akhirnya kedua insan itu memekik bersamaan.
Juna oleng. Ia jatuh tepat di atas tubuh Atha. Juna lalu tersadar, jika pipi Atha basah. Mungkinkah istrinya itu menangis? Apakah Juna terlalu kasar sehingga istrinya itu kesakitan?
__ADS_1
"Kau kesakitan? Ma... Maaf" ucap Juna terbata.
Atha menggeleng. Ia tidak mau membuat Juna merasa bersalah. Atha menarik nafas panjang. Ia mencoba meredam rasa sakitnya. Kedua tangannya memeluk Juna. Atha tidak menyadari jika tindakan kecilnya itu berdampak besar.
Tyrex Juna yang semula mengecil, perlahan kembali membesar di dalam kandangnya. Juna kembali siap tempur. Ia kembali bermain dengan gentong milik Atha. Kedua tangannya bermain nakal di pucuk gentong itu.
Atha menarik nafas panjang. Ia harus bersiap-siap karena Tyrex Juna akan melakukan misi penting untuk kedua kalinya. Juna yang semula di atas, kini membalikkan posisinya. Ia ingin Atha yang memimpin Tyrexnya dalam menjalankan misinya. Bagaimanapun Tyrex milik Juna perlu dibimbing agar tidak ke sasar saat melakukan penjelajahan.
"Arrgggghhh.....!!! Juna....!!!!" Atha berteriak kencang.
Tyrex Juna menancap tajam di kandangnya. Juna menggerakkan pinggulnya, meminta Atha segera bergerak. Perlahan, Atha memulai aksinya. Diiringi rasa perih dan nikmat yang menjadi satu. Atha menjalankan tugas dengan baik.
Jika sebelumnya Juna tidak terlalu ramai berceloteh, kali ini suara Juna menggema memenuhi kamar mereka. Kenikmatan yang diberikan istrinya itu membuat Juna melayang. Tyrex Juna seperti terasah dengan kuat, menjepit sekali.
Atha juga semakin aktif. Tangannya bergerak di tubuh Juna. Tak lupa ia menuntun Tyrex milik Juna untuk menemukan posisi terbaik dan ternyaman.
Sungguh, Atha benar-benar membuat Juna melayang. Ia sudah tidak tahan untuk menyemburkan kecebong-kecebongnya. Secepat kilat, Juna membalik posisi mereka. Juna mengambil alih komando perang dan....
"Aarggggghhhh..."
Baik Juna dan Atha kembali memekik bersamaan. Nafas Juna dan Atha tersenggal-senggal. Peluh membasahi kedua insan yang sedang melakukan misi penting itu.
Juna melepaskan tyrexnya. Ia tidak ingin kembali khilaf dan menggempur istrinya lagi. Kedua netranya membola ketika melihat noda merah di sprei.
"A...Atha..." panggil Juna. Ia merebahkan tubuhnya di samping Atha.
Atha tidak menjawab ia masih sibuk menetralkan deru nafasnya yang tidak karuan. Juna memutar tubuhnya miring ke kiri. Ada pertanyaan di dalam kepalanya yang muncul setelah dirinya menyadari sesuatu.
"Atha... Kau?"
"Hem..?"
"Kau masih disegel?" terdengar nada keterkejutan pada ucapan Juna.
Atha mengangguk.
"Katamu kita sudah dua bulan menikah. Mengapa segelmu baru ku buka? Atha, apakah pernikahan kita bermasalah? Mengapa kau baru melepas mahkotamu sekarang?."
Juna menatap manik mata istrinya dengan cemas. Keraguan kembali menyelimuti hati Juna. Juna hanya khawatir jika Atha bukan istrinya. Juna pasti akan merasa sangat bersalah jika kenyataannya Atha bukan istrinya.
"Apa kau mau mengetahui yang sebenarnya?" tanya Atha.
Juna mengangguk.
"Aku belum menjadi istri yang baik untukmu, Jun. Aku memang menolak pernikahan kita. Kau belum pernah menyentuhku, Jun. Karena aku yang memang tidak ingin kau sentuh. Sekarang, aku sudah menerima pernikahan ini. Aku ingin menjadi istrimu seutuhnya. Juna, maukah kau memulai rumah tangga kita dari awal? Aku berjanji tidak akan mengacuhkanmu lagi. Aku berjanji akan mencintaimu segenap jiwa ragaku. Juna, maafkan aku" ucap Atha penuh penyesalan.
Hati Juna langsung menghangat. Ia menghargai kejujuran istrinya. Dipeluknya tubuh polos Athalia. Juna juga mendaratkan kecupan bertubi-tubi di dahinya.
"Maaf, jika saya lupa. Saya tidak peduli apa kesalahanmu di masa lalu. Saya bersyukur lupa akan hal itu. Sekarang, saya pegang janjimu. Jadilah istri yang baik untukku, yang mau menemaniku di saat suka maupun duka. Yang mau menemaniku sampai akhir hayatmu."
Atha mengangguk. Butiran bening seketika lolos membasahi pipinya. Atha memeluk erat tubuh Juna. Ia benar-benar bertekad untuk membahagiakan Juna.
"Saya mau memanggilmu sayang" bisik Juna.
"Aku akan memanggilmu sayang juga" balas Atha.
"Sayang, berikan saya anak yang lucu-lucu!."
__ADS_1
"Kau mau berapa, sayang?" balas Atha.
"Sepuluh" jawab Juna dan dengan cepat ia bangkit hendak melakukan permainan indah mereka untuk ketiga kalinya.