HEI JUN

HEI JUN
51


__ADS_3

"Honey, kau mau kemana?" tanya Lily ketika mendapati Juna hendak keluar dari tempat pestanya.


Langkah kaki Juna terhenti. Ia menoleh ke belakang. Nampak Lily sedang berdiri sembari melipatkan kedua tangan di dada.


"Aku, aku..." jawab Juna bingung.


"Kenapa? Kau mau pulang?" tanya Lily cemberut. Pasalnya pesta baru berlangsung selama satu jam dan Juna sudah memberikan sinyal-sinyal akan meninggalkan tempat pesta.


Bukan tanpa alasan Lily menduga seperti itu. Sejak Juna pamit dengan alasan haus, Lily belum lagi bersama Juna. Juna tidak kembali berada di sampingnya melainkan malah menempel pada Elang dan Kiara.


Kesal? Tentu saja. Lily merasa tidak diprioritaskan. Hatinya kecewa melihat tingkah Juna yang cuek di hari spesialnya. Juna seharusnya mengekori dirinya, menyapa para tamu undangan dan rekan-rekan bisnis Papanya. Bukan malah mengekori Elang dan Kiara, pasangan suami istri yang mungkin saja ingin berduaan di pesta ini.


"Honey, jawab aku! Kau mau kemana? Kau mau pulang?" tanya Lily lagi. Kali ini matanya sudah berkaca-kaca.


"Mm...tidak, Lily. Aku tidak ingin pulang. Aku mencari Mas Elang dan Nona Kiara, khawatir mereka meninggalkanku" jawab Juna.


Lily memicingkan kedua matanya. Ia tidak percaya dengan ucapan kekasihnya itu. Mana mungkin Juna mencari Elang dan Kiara ? Apakah ia tidak melihat jika mereka sedang asyik makan dengan Mr.Adira?


Huh! Lily menangkap kebohongan pada jawaban Juna. Sepertinya ia tidak bisa memberikan waktu lagi untuk Juna. Detik ini Lily harus segera menjalankan misinya, membuat Juna terikat dan dan tidak bisa lepas dari kehidupannya.


"Mereka sedang makan. Lihat!" Lily menunjukkan meja nomor tiga, tempat keluarga huru-hara itu sedang makan dengan lahap.


"Ah, iya! Maaf, Lily, aku tidak melihatnya. Aku akan segera menghampiri mereka" sahut Juna.


"Tidak! Kau harus bersamaku. Sejak tadi kau menempel dengan mereka. Honey, sekarang hari ulang tahunku. Seharusnya kau mendampingiku sejak acara di mulai" ucap Lily merajuk.


"Maaf, Lily...."


"Tidak ada kata maaf. Kamu jahat Juna" jawab Lily pura-pura sedih.


Juna menghela nafas. Malas rasanya jika harus melawan wanita merajuk. Andai saja Juna punya sayap, Juna ingin sekali terbang dan menghilang dari hadapan Lily.


"Aduh....!" tiba-tiba Lily oleng dan nyaris tumbang. Untung saja Juna segera bergerak dan menangkap tubuh Lily sehingga Lily tidak jatuh ke lantai.


"Kamu kenapa?" Juna langsung khawatir melihat Lily yang memijat pelipisnya.


"Aku tidak tahu, Jun. Kepalaku pusing sekali" ucap Lily lalu menyandarkan kepalanya di dada Juna.


"Bolehkah aku meminta tolong kepadamu?" tanya Lily.


"Apa?."


"Tolong antarkan aku ke kamarku! Mungkin aku harus istirahat sebentar."


Glek.


Juna langsung gemetar mendengar ucapan Lily. Kamar? Otak Juna langsung berkeliling, memberikan respon negatif yang memunculkan kembali traumanya. Juna ingin menolak, tapi ia tak tega membiarkan Lily seperti itu. Meskipun hati dan otaknya bertentangan, Juna akhirnya mengiyakan permintaan Lily.


Juna langsung mengangkat tubuh Lily, menggendongnya ala bridal style. Juna bergegas membawa Lily ke kamar miliknya, kamar yang memang di sewa Lily untuk dirinya bermalam.


Kamar yang di sewa Lily berada satu lantai dengan ballroom. Hanya saja letaknya yang agak jauh. Juna merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia langsung membawa Lily tanpa bertanya terlebih dahulu? Andai saja ia tahu letak kamar Lily jauh, Juna pasti akan meminta kursi roda.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Juna segera membawa Lily masuk. Ia merebahkan tubuh Lily di atas kasur.


"Honey, kepalaku pusing sekali" rengek Lily.

__ADS_1


"Mau aku panggilkan dokter?."


"Tidak! Tidak! Aku hanya kurang istirahat saja. Oh iya, bolehkah aku minta tolong lagi?" tanya Lily.


"Apa?."


"Kembalilah ke tempat pesta. Tolong ambilkan minuman pesananku! Aku menyuruh Andrew, salah satu pelayan yang bertugas di area minuman. Katakan padanya jika kau akan memgambil minuman pesananku."


"Minuman? Minuman apa?" tanya Juna heran.


"Itu minuman herbal. Kalau kata Elang, jamu. Apakah kau bisa mengambilkannya untukku, honey?."


Juna mengangguk cepat. Ia tidak perlu berpikir lama untuk membantu Lily. Juna pikir minuman itu akan membantu Lily memulihkan kondisinya. Juna tidak mempunyai pikiran negatif sedikitpun.


"Tapi tolong kau cicipi dulu!" cicit Lily.


"Kenapa?."


"Aku khawatir minuman itu tidak manis. Kau tahu sendiri seperti apa rasanya jamu."


"Pahit" sahut Juna.


"Ya! Oleh sebab itu aku meminta jamu yang manis."


"Baiklah. Apa ada lagi?" tanya Juna memastikan.


"Tidak ada. Setelah kau cicipi jamu itu, segeralah kesini. Aku butuh jamu itu untuk memulihkan kondisiku" ucap Lily sembari memejamkan mata.


Juna mengangguk. Ia kemudian keluar dari kamar Lily dan berlari, kembali ke tempat pesta ulang tahun Lily dirayakan.


"Mas Andrew, saya mau mengambil minuman pesanan Nona Lily" ucap Juna sopan.


Andrew mengangguk. Ia kemudian mengambil sebuah botol beling berwarna hijau dari bawah meja.


"Ini pesanan Lily?" tanya Juna heran. Pasalnya ia ragu jika isi dalam botol itu adalah jamu.


Juna berfikir mungkin saja botol itu adalah botol refiil sehingga isi dan tempatnya tidak sama. Juna meminta Andrew untuk menuangkan isi dari botol itu pada gelas kecil. Seperti perintah Lily, Juna harus mencicipi dulu minuman itu karena Lily khawatir jika jamu yang ia pesan tidak manis.


"Mas Juna...!" seseorang menepuk bahu Juna dari belakang. Juna menoleh dengan cepat. Nampaklah Edward sedang berdiri sembari memegang piring kecil yang terisi dengan kue-kue mini.


"Pak Edward? Hai, lama tidak berjumpa" sapa Juna.


"Mas Juna sedang apa di sini?."


"Saya sedang mengambil minuman milik Lily."


"Minuman apa?" tanya Edward kepo.


Juna menunjukkan botol minuman yang dipegang oleh Andrew.


"Jamu, Pak Edward."


"Jamu?" Edward langsung menyatukan kedua alisnya ketika melihat penampakan botol minuman yang dikatakan jamu oleh Juna.


Juna mengangguk.


Andrew mengetuk meja beberapa kali. Ia menyodorkan gelas kecil yang berisi minuman pesanan Lily. Namun, tiba-tiba saja Juna merasa sesuatu yang mendesak di dalam tubuhnya. Sesuatu yang harus ia keluarkan saat itu juga.

__ADS_1


Juna langsung meringis. Ia harus berfikir cepat dalam bertindak. Karena jika tidak, Juna akan kelepasan di tempat umum. Juna pasti akan merasa malu tujuh turunan jika hal itu terjadi.


"Kenapa Mas Juna?" tanya Edward bingung.


"Pak Edward, tolong saya!" Juna berjalan menghampiri Edward. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Edward.


"Tolong?."


"Saya mau ke kamar mandi. Sakit perut, Pak. Saya minta tolong, Pak Edward bawakan minuman itu ke kamar 1521. Disana Lily sedang menunggu minuman itu" ucap Juna sembari meringis menahan sakit.


Edward tak menyahut.


"Tolong, Pak! Sudah di pucuk nih" ucap Juna memelas.


Edward mengangguk. Kasihan juga melihat Juna yang meringis seperti itu.


"Pak Edward, tolong cicipi dulu! Lily khawatir jamu yang dipesannya tidak manis. Saya benar-benar sudah tidak tahan, Pak. Tolong ya!."


Juna langsung berlari mencari kamar mandi terdekat. Untung saja saat ia kembali ke ballroom, Juna sempat melihat tulisan toilet di sebelah kiri. Sehingga ia tidak perlu berputar-putar tidak jelas hanya untuk mencari toilet.


Edward menggelengkan kepalanya. Ia lalu mengambil gelas yang disodorkan oleh Andrew dan meneguknya dengan cepat.


Gluk.


"Jamu? Mengapa rasanya seperti vodka?" gumam Edward.


Edward meminta Andrew untuk menuangkan minuman itu pada gelasnya lagi. Ia ingin memastikan apakah benar jika minuman yang dipesan Lily adalah jamu.


Gluk.


Gelas kedua berhasil diteguk oleh Edward. Ia merasa jika minuman itu adalah sejenis alkohol bukan jamu.


Edward membuang gelas bekas minumnya begitu saja. Ia lalu mengambil botol minuman tadi untuk diantarkan ke kamar Lily.


"1521" rupanya Edward masih ingat nomor kamar yang diucapkan Juna.


Edward berjalan sedikit tergesa. Namun, tiba-tiba ia merasakan hawa panas dalam tubuhnya. Edward mempercepat langkahnya. Ia semakin gelisah dan gerah. Penglihatannya pun mulai kabur.


Untung saja Edward berpapasan dengan salah satu room boy. Ia minta diantarkan ke kamar 1521 dan dengan senang hati room boy itu mengantarkan Edward bahkan membantu Edward membuka pintu kamar dengan bantuan kunci cadangan.


Ceklek.


Pintu kamar Lily terbuka. Room boy itu langsung pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Edward masuk dengan langkah sempoyongan. Entah mengapa ia malah menyukai minuman pesanan Lily. Edward meneguk kembali minuman itu hingga nyaris habis. Edward pikir minuman itu bisa meredakan hawa panas dalam tubuhnya.


Tapi, Edward salah besar. Hawa panas itu semakin menyerangnya. Edward langsung melucuti pakaiannya dan melempar dengan asal.


Suasana kamar yang gelap membuat Edward semakin kesulitan dalam berjalan. Lily memang sengaja mematikan lampu kamarnya. Karena ia ingin menyerang Juna tiba-tiba.


Mendengar suara seseorang memasuki kamarnya, Lily segera bangkit dari tidurnya. Kedua netranya dapat menangkap sosok yang sedang berjalan sempoyongan meskipun dalam keadaan gelap.


Lily langsung berjalan menghampiri Edward dan memeluknya. Postur tubuh Edward yang hampir menyerupai Juna, membuat Lily langsung meyakini jika laki-laki yang sedang dipeluknya adalah Juna.


"Honey, apakah kau sudah siap untuk bermain?" bisik Lily.


Edward tak menjawab. Ia langsung melahap bibir mungil Lily dengan ganas. Kedua tangannya sudah bergerilya, berpetualang di tubuh Lily.


"Aku suka kau ganas begini. Ayo, kita main sampai pagi!" ucap Lily sembari melucuti pakaian yang melekat di badannya

__ADS_1


__ADS_2