HEI JUN

HEI JUN
109


__ADS_3

Arya mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Ia beberapa kali menarik nafas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Ya, sejak kemarin pikiran Arya kacau balau. Hatinya tidak tenang dan gelisah. Arya selalu teringat bayangan Diandra. Mantan istrinya itu membuat ia tidak bisa tidur semalaman.


Mungkin Arya sedang terkena virus CLBK. Cinta Lamanya yang Belum Kelar pada Diandra membuat hatinya gundah gulana. Arya merindukan Diandra. Rasanya ia ingin sekali menarik Diandra dan mengurungnya di dalam kamar.


"Bos tidak kacau sekali. Apa Bos Arya tidak tidur?" tanya Mamad, salah satu bawahan Arya.


Arya tak menyahut. Ia hanya menggeliat ke kanan dan ke kiri. Persis seperti perawan yang sedang galau.


"Bos mau sarapan? Pembantu di rumah bilang jika Bos Arya belum makan sejak kemarin."


Arya tetap tak menyahuti ucapan Mamad.


"Yasudah jika Bos tidak mau bicara. Saya permi..."


"Tunggu, Mad! Saya mau curhat" cegah Arya dengan cepat.


Mamad mengerutkan dahinya. Mengar kata curhat keluar dari mulut Arya membuatnya terperangah. Ada apa dengan Bos nya itu? Sejak kapan ada kata curhat dalam kamus Arya?


Arya menyuruh Mamad untuk duduk. Mamad yang berstatus sebagai bawahan, tentu saja tidak boleh menolak perintah atasan.


"Mad, saya mau curhat" Arya mengulangi ucapannya.


"Curhat? Tentang apa, Bos?."


Arya menutup mulutnya. Ia sedikit menunduk, pipinya seketika merona. Persis seperti perawan yang malu-malu kucing.


"Kemarin kamu ikut demo ke rumah kontrakan Diandra?" tanya Arya.


Mamad mengangguk. Bagaimana mungkin ia tidak ikut berdemo? Mamad kan bertugas sebagai seksi konsumsi. Ia harus berada di sana untuk membagikan nasi bungkus dan air gelasan kepada pendemo.


"Diandra makin cantik ya, Mad? Ah, membuatku semakin tergila-gila!" ucap Arya tersipu-sipu.


Ucapan Arya itu suksea membuat Mamad sesak nafas. Sejak kapan Bos besarnya berubah menjadi bucin seperti itu? Seingatnya, dulu waktu Arya menikah dengan Diandra tak sebucin ini. Apalagi saat menikah kedua kalinya. Arya nampak acuh dan dingin.


Mamad menjadi heran. Setan mana yang sudah merasuki tubuh Arya sehingga bisa membuat Arya seperti itu?


"Mad, kamu saya beri tugas" ucap Arya lirih.


"Tugas? Tugas apa bos?."


"Culik Diandra! Bawa ke sini! Saya mau nikahin dia lagi."


"APA...???" tanpa sadar Mamad berteriak mendengar ucapan Arya.


"Ma...ma...maaf, Bos. Serius ini? Bos nyuruh saya nyulik Diandra?" tanya Mamad memastikan.


"Seriuslah."


"Tapi itu kriminal, Bos" ucap Mamad mengingatkan.


"Sejak kapan kau memikirkan perintahku termasuk kriminal atau tidak? Aku menyuruhmu untuk menculik Diandra. Artinya lakukan itu sekarang" perintah Arya.

__ADS_1


Mamad langsung mengangguk. Ia langsung membungkuk dan segera pergi dari hadapan Arya.


Puk...Puk...Puk..


Arya menepuk pelan burungnya.


"Sepertinya aku harus pijat keperkasaan. Aku tidak boleh mengecewakan Diandra. Mantan istriku itu harus aku buat klepek-klepek dan ketagihan" gumam Arya sembari tersenyum-senyum sendiri.


***


"Di, aku boleh bertanya?" tanya Zeze ketika melihat Diandra sedang menonton televisi sendirian.


Diandra mengangguk tanpa menoleh ke arah Zeze. Kedua netranya lebih memilih menonton wajah ganteng Rapi Mamad dari pada melihat wajah Zeze.


Zeze langsung duduk di sebelah Diandra. Ia mengambil posisi yang enak, yang sekiranya aman untuk dirinya.


"Kau mau tanya apa?" nada suara Diandra terdengar dingin.


"Tapi kamu jangan marah ya? Aku takut kamu ngamuk, Di" ucap Zeze ragu.


Diandra tertawa terbahak-bahak. Ia lalu menyuruh Zeze untuk bertanya apapun tanpa ragu.


"Laki-laki tadi itu mantan suamimu?" tanya Zeze.


"Laki-laki yang mana?."


"Laki-laki yang kamu tendang anu nya" ucap Zeze.


"Dulu aku terpaksa menikah dengannya. Karena Ayahku memiliki hutang padanya. Aku terpaksa putus dengan kekasihku dan memilih menikah dengannya" ucap Diandra mulai bercerita.


"Kau tidak mencintai dia?."


"Tidak sama sekali. Aku hanya cinta uangnya. Kau tahu? Selama menjadi istrinya, aku menguras uangnya. Ruko dan rumah di Bali adalah hasil menguras uang Arya."


"Gila....!!! Aku nggak nyangka kamu ganas juga."


"Aku muak dengannya, Ze. Dia selalu membanggakan hartanya. Orang selalu menganggapnya sempurna padahal burungnya mati tidak bisa diajak perang" cibir Diandra.


"Burung? Mati? Maksudnya?" tanya Zeze tidak mengerti.


"Dia impoten, Ze. Itulah alasan awal aku bermain api dengan Juna."


"Juna? Juna siapa?" tanya Zeze semakin penasaran.


"Juna adalah mantan kekasihku. Aku bermain api dengan Juna di belakang Arya. Namun, sialnya Arya memergokiku sedang *** *** dengan Juna sehingga keributan terjadi dan kami cerai."


Zeze menutup mulutnya yang hampir menganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika Diandra, orang yang dikenalnya bisa bertingkah seperti itu.


"Terus mantan kekasihmu ke mana? Dia nggak tanggung jawab gitu?" tanya Zeze lagi.


"Kata orang-orang dia meninggal karena rumahnya kebakaran. Tapi aku tidak percaya. Aku masih yakin jika Juna masih hidup."

__ADS_1


"Jika suatu saat keyakinanmu itu benar. Juna tiba-tiba muncul di hadapanmu. Apa yang akan kamu lakukan, Di?" tanya Zeze.


"Aku akan menyeretnya ke KUA. Bagaimanapun dialah yang merenggut mahkotaku. Aku tidak menikah lagi sampai sekarang karena aku merasa tidak pantas untuk laki-laki manapun. Aku hanya ingin Juna menjadi suamiku bukan yang lain."


"Kau menyerahkan mahkotamu kepada Juna? Gila kamu, Di! Kau sudah bersuami tapi kau menyerahkan mahkotamu kepada laki-laki lain. Benar-benar tidak bisa dimaklumi" kata Zeze sembari mengelus dada.


"Aku tidak minta kau memakluminya. Kau harus tahu suamiku impoten dan aku butuh nafkah batin. Juna bisa memberiku nafkah batin meskipun dia tidak bisa memenuhi kebutuhanku secara finansial."


Zeze tak bisa lagi berkata-kata. Ia sungguh tidak satu paham dan tidak satu frekuensi dengan jalan pemikiran Diandra. Diandra lebih mirip perempuan yang sedang sakit jiwa. Ia benar-benar tidak memakai otaknya sebelun melakukan sesuatu.


"Andai Juna hidup dan dia sudah beristri. Apa yang akan kamu lakukan?."


"Tentu saja aku akan mendepak istrinya. Jika perlu ke neraka."


"Diandraaa.....!!!!" Zeze tanpa sadar berteriak. Seketika tubuhnya gemetar setelah mendengar penuturan Diandra.


Zeze merasa Diandra adalah orang yang berbahaya. Ia bisa saja menghabisi nyawa orang-orang hang tidak sepaham dengannya.


Tok...tok...tok...


Zeze segera bangkit. Baginya ketukan pintu itu adalah sebuah menyelamat hidupnya. Ia yang sudah gemetaran menjadi sulit untuk membuka kunci pintu rumah kontrakannya. Beberapa kali mencoba dan akhirnya bisa juga.


Ceklek.


"Eh?" Zeze terpaku melihat Juna dan Atha berdiri di hadapannya. Ia sedikit bingung dengan kedatangan mereka berdua.


Seingat Zeze, ia tidak begitu kenal dengan Juna. Ia tidak pula memberi tahu alamat kontrakannya kepada siapapun. Lalu bagaimana bisa Juna berdiri di hadapannya? Apakah mereka kesasar? Atau bagaimana?


"Pak May? Kenapa bisa ke sini?" tanya Zeze gugup.


"Saya ada perlu dengan Diandra. Apakah dia ada di rumah?" ucap Juna.


"A... A...da kok. Mari masuk dulu! Saya akan panggil Diandra" ucap Zeze kemudian ia berlari untuk memanggil Diandra.


Juna dan Atha duduk berdampingan di sofa. Mereka saling melirik satu sama lain.


"Kamu yakin akan melakukan ini, Mas?" bisik Atha tepat di telinga Juna.


Juna mengangguk.


"Bukankah masa lalu saya harus segera selesai? Saya tidak mau kamu kepikiran dan itu bisa membuatmu stress" ucap Juna sembari mengelus puncak kepala Atha dengan sayang.


"Aku hanya khawatir, Mas. Firasatku sejak tadi tidak enak. Mas, bagaimana kau kita batalkan saja. Kita minta bantuan Kiara atau Tuan Dira" kata Atha memberi saran.


"Tidak usah, sayang. Ini masalah saya. Mereka tidak perlu terlibat. Rasanya saya sudah terlalu banyak merepotkan mereka. Biarlah saya yang akan mengurus masalah ini. Kamu tenang saja. Suamimu ini akan bisa mengatasinya dengan cepat" ucap Juna meyakinkan istrinya.


Atha menggeleng. Ia tidak setuju dengan ucapan Juna. Atha mengambil kedua tangan Juna dan menggenggamnya dengan erat.


"Tolong, dengarkan aku! Firasatku benar-benar tidak enak. Tolong, jangan beri tahu sekarang tentang siapa dirimu! Kita harus membaca situasi. Kita tidak boleh gegabah, Mas!" ucap Atha memberi peringatan kepada Juna.


"Tenanglah, sayang! Kau terlalu berlebihan. Semuanha akan baik-baik saja. Berdoalah semoga urusan hari ini lancar sesuai apa yang kita harapkan."

__ADS_1


__ADS_2