
Dua minggu kemudian
Sepasang suami istri duduk berdampingan di mobil. Mereka adalah Juna dan Atha yang baru saja tiba di Jakarta. Kandungan Atha sudah tidak bermasalah, perawatanmu sudah selesai sehingga Juna memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Sebenarnya Kiara meminta Juna berada di Spanyol saja sampai Atha melahirkan. Namun, Juna menolak dengan berbagai pertimbangan. Keberadaan Lily yang bisa menjadi duri dalam daging adalah salah satu dari beberapa alasan tersebut.
Selain itu, Juna melihat jika istrinya tidak nyaman berada di Spanyol. Setiap hari Atha merengek meminta kembali ke Jakarta sehingga membuat Juna pusing tujuh keliling.
"Mas..." panggil Atha.
"Hem??."
"Pulang ke rumah Ibu ya?."
"Ke rumah Ibu? Kenapa?" tanya Juna.
"Aku kangen tidur dengan Ibu, kangen masakan Ibu, kangen omelan Ibu."
"Kamu tidak kangen dengan tyrex saya?" tanya Juna keceplosan.
Atha langsung mendelik. Ia sedang tidak ingin membahas masalah ranjang di sini dan suaminya itu dengan polosnya bertanya hal itu di sini, di saat ada sopir yang mengantar mereka.
Sopir yang sedang fokus menyetir pun tentu saja mesem-mesem. Ia mencoba menahan tawanya agar majikannya tidak malu.
"Kita pulang ke apartemen dulu ya, sayang? Setelah itu baru pulang ke rumah ibu" bujuk Juna.
"Tidak mau, Mas. Aku sudah kangen dengan Ibu. Aku ingin tidur dengan Ibu. Mas Juna tinggal di apartemen saja sendiri. Aku mau tidur di rumah Ibu."
Juna mendengus kesal. Ia tentu saja mengalah pada istrinya. Juna memerintahkan sopir yang menjemputnya untuk mengantar ke rumah mertuanya meski hatinya berat.
Perjalanan menuju rumah Pak Fajar memakan waktu kurang lebih dua jam. Hal itu dikarenakan jarak rumah yang jauh dari bandara serta macetnya jalanan ibu kota.
Mobil mulai memasuki halaman rumah Pak Fajar. Baru saja mobil berhenti, Atha langsung membuka pintu dan berlari sembari memanggil kedua orang tuanya.
"Ibuuuuu.... Ayah..... Atha pulangggg...." teriak Atha melengking.
Bu Nora yang saat itu sedang memasak di dapur tentu saja kaget. Hari menjelang siang, mengapa ada orang yang berteriak? Ia buru-buru mematikan kompor dan berlari menuju teras rumah.
Tak jauh berbeda dengan Pak Fajar. Dirinya yang saat itu sedang berkebun di halaman belakang, langsung membuang peralatan berkebunnya. Pak Fajar kaget ketika mendengar teriakan Atha yang melengking seperti itu.
"Ibuuuu.... Ayahhhh......" Atha langsung memeluk kedua orang tuanya. Terlihat sekali jika Atha sangat senang bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Nak, kamu kenapa? Tidak biasanya bar-bar seperti ini?" tanya Pak Fajar heran.
"Atha kangen Ibu dan Ayah" Atha berjingkrak- jingkrak kegirangan.
Juna meringis melihat tingkah istrinya. Ia langsung berlari dan menangkap tubuh istrinya. Kalau tidak begitu, Atha tidak akan berhenti berjingkrak-jingkrak. Juna khawatir kandungan Atha kembali bermasalah.
"Sayang, jangan banyak tingkah! Ingat, ada siapa di sini!" ucap Juna sembari menunjuk perut Atha yang masih rata.
Pak Fajar dan Bu Nora saling memandang ketika mendengar ucapan Juna.
"Atha hamil?" tanya Bu Nora.
"Benar, Bu. Sudah masuk sepuluh minggu" jawab Juna.
Bu Nora langsung memeluk Atha kembali. Ia sangat senang mendengar berita kehamilan putrinya. Itu artinya mereka akan segera menimang cucu.
__ADS_1
Pak Fajar mengajak keluarga masuk ke dalam rumah. Tidak enak bergerombol di teras rumah. Ia juga paham jika anak dan menantunya sedang lelah sehingga ia berinisiatif untuk mengajak mereka duduk di ruang tamu.
"Ibu sedang masak gulai ikan. Kalian mau makan?."
"Mau, Bu! Mau! Atha lapar sekali" jawab Atha antusias.
"Lapar? Bukankah sebelum berangkat kesini kita sudah makan, sayang?" tanya Juna heran.
"Orang hamil memang begitu nak Juna. Dia makan tidak untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk si janin. Tunggu sebentar, Ibu selesaikan dulu memasak."
"Aku bantu, Bu."
"Tidak! Ajaklah suamimu ke kamar. Mandilah dulu! Nanti kalau selesai, Ibu akan panggilkan kalian."
Atha ingin menolak lagi tapi Pak Fajar memberikan kode untuk menuruti perintah Bu Nora. Dengan wajah merengut, Atha mengajak Juna ke kamarnya.
"Harusnya kita pindah ke lantai bawah" kata Juna ketika mereka masuk ke dalam kamar Atha.
"Ibu belum ada persiapan, Mas. Lagi pula kita juga datangnya mendadak."
Juna tersenyum jahil. Ia kemudian mengunci pintu kamar dan menutup tirai jendela di kamar Atha.
"Kalau kamu sudah ada persiapan belum?" tanya Juna. Ia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. Atha yang saat itu sedang membuka koper untuk mengambil baju tentu saja kaget.
"Persiapan? Persiapan apa?."
"Persiapan dimasuki si Tyrex."
Juna langsung membuka baju istrinya. Ia tidak membiarkan ada sehelai kainpun menutupi tubuh istrinya. Ia mulai memberi sentuhan-sentuhan kecil di leher istrinya. Sentuhan yang membuat Atha mulai meremang keenakan.
Sudah dua minggu lebih Juna puasa. Ia ingin berbuka puasa. Lagipula, Juna sudah bertanya kepada dokter mengenai kandungan Atha. Ternyata aman tapi tetap tidak boleh digempur habis-habisan.
"Saya sudah tidak tahan. Kita main di kamar mandi. Satu ronde saja cukup" bisik Juna lalu ia pun melepas semua pakaian yang melekat di badannya dan langsung membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.
Pertempuran keduanya memang tidak berlangsung lama. Juna hanya ingin melepas dahaga saja setelah berpuasa selama dua minggu. Juna tidak mau tamak. Ia bisa bertempur lagi esok atau lusa.
Bu Nora mengetuk pintu kamar Atha. Ia memanggil anak dan menantunya untuk segera makan. Atha langsung menyahut dan mengatakan akan segera turun. Mereka buru-buru mengeringkan rambut yang basah dan segera berpakaian.
"Hmm... Baunya enak sekali" ucap Atha saat dirinya sudah duduk di ruang makan.
Juna belum turun karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Kiara muncul di layar ponsel Juna sehingga ia memilih menjawab telepon dari Kiara terlebih dahulu.
"Ibu, aku mau ikannya yang banyak" kata Atha sembari menyodorkan piringnya.
Bu Nora hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tingkah putrinya ini kembali manja seperti bocah TK. Bu Nora mengambilkan nasi dan gulai ikan. Atha menerima piring berisi makanan itu dengan wajah berbinar-binar.
"Jangan makan dulu! Tunggu suamimu!" kata Bu Nora memperingati Atha yang hendak menyuapkan nasi ke dalam perutnya.
"Atha sudah lapar, Bu" rengek Atha.
"Tunggulah! Kamu tidak akan mati jika menunggu suamimu."
Atha merengut. Ia mengurungkan niatnya untuk menyantap nasi gulai ikan di hadapannya. Lima detik kemudian, Juna muncul dengan setelan pakaian kerja. Kening Atha berkerut melihat penampilan suaminya.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Atha.
"Maaf, sayang, Ibu dan Ayah. Saya mendapat telepon dari kantor. Ada rapat mendadak. Saya harus hadir karena rapat ini membahas masalah di divisi keuangan" ucap Juna.
__ADS_1
"Tapi kamu belum makan, Nak" ucap Bu Nora.
"Sebenarnya saya masih kenyang, Bu. Tak apalah nanti saya makan di kantor."
Juna langsung mengecup kening istrinya. Tak lupa ia mencium tangan kedua mertuanya. Juna bergegas keluar dari rumah. Untung saja sopir yang mengantar Juna masih nongkrong di teras depan sehingga Juna tidak perlu memesan taksi online untuk berangkat ke kantor.
"Loh, Pak Juna? Mau ke kantor kah?" tanya sopir itu kaget.
"Benar, Pak. Ada rapat. Ayo, saya sudah terlambat!" ajak Juna dan ia langsung masuk ke dalam mobil.
***
Sanjaya corp.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Rapat selesai dan Juna bisa bernafas lega karena permasalahan di divisinya sudah selesai. Juna membereskan berkas-berkas laporan yang di bawanya. Ia akan pergi ke kantin untuk membeli makan siang.
"Mas Juna," panggil Kiara.
Juna menghentikan aktifitasnya. Ia berdiri dengan posisi sempurna menghadap Kiara.
"Ada apa, Nyonya Bos?" tanya Juna.
"Kemarin ada teman Mas Juna yang datang kesini waktu Mas Juna di Spayol. Dia mau ketemu Mas Juna."
Juna mengernyitkan dahi mendengar ucapan Kiara.
"Teman? Teman yang mana? Saya tidak punya teman di Jakarta, Bos."
Kiara mengangkat kedua bahunya.
"Dia bilang dia teman Mas Juna waktu di kampung" kata Kiara lagi.
Juna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa mungkin Andika?" gumam Juna lirih.
"Bukan. Dia menuliskan nama dan nomor ponselnya di buku tamu resepsionis. Coba deh Mas Juna ke sana, tanya sama Mbak resepsionis!" perintah Kiara.
Juna mengangguk. Ia kemudian pamit kepada Kiara. Juna melangkah setengah berlari. Ia masuk ke dalam lift lalu menekan angka 1.
Ting!
Pintu lift terbuka. Juna langsung berlari dan menghampiri meja resepsionis yang sedang dijaga oleh dua orang perempuan.
"Selamat siang, Pak Mayjuna" sapa duo resepsionis itu.
"Siang, kata Nyonya Bos kemarin ada orang mencari saya? Siapa ya?" tanya Juna to the point.
"Oh, iya! seorang laki-laki yang mengaku teman Pak Mayjuna. Laki-laki itu menulis nama dan ponselnya di sini."
Mbak resepsionis itu menunjukkan nama dan nomor ponselnya yang ditulis oleh Arya. Kedua alis Juna bertaut ketika melihat nama Arya yang terpampang di sana.
"Arya? Mantan suami Diandra? Untuk apa dia ingin menemuiku?" tanya Juna dalam hati.
"Apakah laki-laki ini mengatakan keperluannya bertemu dengan saya?" tanya Juna.
"Tidak, Pak!" jawab Mbak resepsionis serempak.
__ADS_1
Juna hanya mengangguk.
"Tolong hubungi dia dan atur pertemuan saya dengan dia! Mungkin nanti sore sepulang jam kerja saya bisa menemuinya" ucap Juna kemudian berlalu dari meja resepsionis.