HEI JUN

HEI JUN
79


__ADS_3

"Lita, Daniel, kita ada di mana? Kenapa kiri kanan hutan belantara dan rumput ilalang?" tanya Juna ketika mobil yang mereka tumpangi sedang melaju menuju hotel.


Lita dan Daniel saling melirik. Mereka bingung bagaimana akan menjawab pertanyaan Juna. Bos mereka sudah berpesan agar Juna tidak diberi tahu tentang tempat mereka berada sekarang. Biarlah Kiara yang akan memberi tahu Juna sendiri nanti.


"Kalian kenapa diam? Saya kan bertanya?."


Juna masih dalam mode bingung. Ia terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Posisinya yang duduk di samping sopir membuatnya tidak menoleh ke belakang, ke tempat Lita dan Daniel duduk.


"ADR group belum pindah kan? Masak iya perusahaan milik Tuan Dira berada di tengah hutan begini?" tanya Juna lagi. Ia seperti burung yang berkicau sendiri.


Lita dan Daniel saling pandang. Mereka saling memberi kode, berbicara dalam bahasa isyarat. Lita dan Daniel sepakat untuk pura-pura tidur agar terhindar dari pertanyaan Juna.


"Yah....!"


Juna tiba-tiba menoleh ke belakang. Dilihatnya Lita dan Daniel yang sudah terpejam diiringi dengan dengkuran halus dari mulut mereka.


"Pantas saja tidak ada yang menyahut. Ternyata mereka sedang tidur" gerutu Juna kesal.


Juna menoleh ke arah sang driver. Ia ingin bertanya tapi belum juga Juna membuka mulut sang driver mengangkat tangannya dan menunjukkan tulisan di dinding mobil.


Juna menghembuskan nafas kasar. Ternyata si sopir paham jika Juna ingin mengajaknya berbicara. Sopir itu menunjukkan stiker di dinding yang bertuliskan dilarang mengajak berbicara selama menyetir.


Juna mendengus kesal. Kalau sudah begini lebih baik ia mengikuti Lita dan Daniel saja, menyelam ke dunia mimpi yang indah.


"Pak Mayjuna! Pak, Bapak! Sudah sampai" Daniel menepuk bahu Juna agar dia segera bangun.


Juna mengerjapkan kedua matanya. Beberapa kali Juna menguap. Rasanya baru beberapa detik Juna tertidur, tapi Daniel sudah membangunkannya.


"Kita sudah sampai di Hotel Kogure, Pak" ucap Daniel sopan.


Hotel Kogura? Juna mengernyitkan dahi. Nama hotel yang disebutkan oleh Daniel terasa asing di telinga Juna. Ia membatin apa mungkin di New York ada nama Kogure? Juna merasa aneh karena nama itu terasa kurang pas di lidah orang Amerika.


Seingat Juna, Kiara menyuruh Juna untuk tinggal di apartemen miliknya bukan di hotel seperti yang disebutkan Daniel. Juna jadi curiga apa mungkin pesawat yang membawa mereka nyasar? Hawa di tempat itu sepertinya tidak cocok jika disebut dengan New York.


"Pak Mayjuna kenapa diam? Kita sudah sampai lho. Apa mau Lita gendong ke dalam?" tanya Lita dengan gaya genitnya seperti biasa.


"Eh? Jangan Lita! Nanti badan kamu remuk lho kalau gendong saya" Juna dengan polosnya mempercayai ucapan Lita.


"Yah, kalau begitu. Pak Mayjuna ajah yang gendong Lita. Anggap aja bulan madu."


Tuing


Daniel segera menjitak kepala Lita. Baru juga sampai sudah kegenitan pada Juna. Daniel benar-benar menjalankan perintah Kiara untuk menjaga Juna dari godaan makhluk bernama Lita. Daniel benar-benar tidak habis pikir. Apakah Lita tidak punya urat malu? Mengapa ia masih menggoda Juna yang notabene sudah beristri?


"Pak Mayjuna, Mari saya antar ke kamar! Saya sudah mengurus semuanya. Pak Mayjuna, silakan beristirahat!" ucap Daniel sopan.


Juna berjalan mengekori Daniel sedangkan Lita dengan gaya centilnya malah berjalan di samping Juna. Lita dengan santainya bergelayut manja pada Juna. Meski berkali-kali Daniel menarik tangan Lita agar menjauh dari Juna, Lita sepertinya tidak patah arang. Ia terus memepet Juna hingga akhirnya Daniel menyerah mengusir Lita.


"Ini kamar Pak Mayjuna" ucap Daniel.


"Lalu kamar kalian?."


"Kami...kami...kami kembali, Pak" jawab Daniel ragu.


"Kembali? Kembali kemana?" tanya Juna kaget.


"Ke Jakarta, Pak."


"APA???!!! Kenapa kalian kembali? Lalu saya sendirian gitu?" tanya Juna dengan suara yang agak meninggi.


"Eh, Pak Juna jangan marah dong! Kalau Pak Juna mau Lita nggak balik juga nggak apa-apa. Lita temenin di sini. Gimana?."


"LITA...!!!" Daniel segera menarik rambut panjang Lita agar Lita menjauh dari Juna.

__ADS_1


"Kami hanya menerima perintah Pak. Silakan Pak Mayjuna menghubungi Nyonya Kiara! Kami pamit dan selamat bersenang-senang."


Daniel membuka pintu kamar Juna. Ia dengan cepat mendorong Juna agar masuk. Dengan gerakan seribu tangan, Daniel segera memasukkan koper milik Juna dan menutup pintu kamar Juna. Tak lupa Daniel juga menarik Lita agar segera pergi dari kamar Juna.


"Ada apa ini?" gumam Juna. Ia pun merasa aneh dengan tingkah Lita dan Daniel.


Juna segera mengambil ponselnya dan menghubungi Kiara. Pikirannya sudah penuh dengan pertanyaan. Hatinya tiba-tiba gelisah, merasa tidak nyaman berada di kamar hotelnya.


"Halo, Mas Juna! Sudah sampai?" tanya Kiara saat panggilan telepon Juna sudah terhubung.


"Halo, Nyonya bos! Saya baru sampai."


"Yasudah, Mas Juna istirahat saja. Kiara tutup teleponnya."


"Tunggu, Nyonyaaaaa! Saya mau bertanyaaaa...." teriak Juna.


"Eh, kenapa Mas Juna berteriak? Ada apa?."


"Nyonya, saya ada di mana ya? Mengapa ini tidak seperti New York? Nyonya mengatakan jika saya dikirim untuk rapat pemilik saham di ADR group. Lalu mengapa saya terdampar di hutan belantara seperti ini?" Juna langsung menyerbu Kiara dengan rentetan pertanyaan.


"Emm... mungkin pesawatnya nyasar, Mas Juna."


"Lalu kenapa Daniel dan Lita pergi? Saya sendirian di sini, Nyonya" tanya Juna lagi.


"Soalnya ada masalah di Jakarta. Jadi mereka harus buru-buru balik."


Sreettt.


Ponsel di tangan Kiara beralih tempat. Elang sengaja mengambil ponsel itu agar Kiara tidak lagi berbicara pada Juna.


"Calon Mama, tidak boleh bohong. Nanti anak kita jadi pembohong" ucap Elang ketika Kiara hendak protes kepadanya.


Elang menyuruh Kiara duduk. Ia langsung mengambil alih komando untuk menjelaskan kepada Juna.


Juna langsung membeku. Afrika? Di mana lagi itu? Kemarin dibuang ke Spanyol. Sekarang dibuang ke Afrika.


"Sa...sa...saya nanti ngapain, Mas Elang? Saya takut disini sendirian. Saya mau pulang saja" kata Juna lemas.


"Ya, nggak ngapa-ngapain. Mas Juna liburan aja di sana. Safari trip. Jalan-jalan di hutan sambil melihat hewan-hewan liar secara langsung."


"He..he...hewan? Nanti kalau saya dimangsa harimau bagaimana?" Juna langsung pucat pasi.


"Mas Juna tidak perlu khawatir. Nanti akan ada pemandu wisata yang menemani Mas Juna. Sudah, jangan berfikiran yang aneh-aneh! Safari trip mengasyikkan kok, Mas Juna. Tidak perlu takut."


"Maaf ya Mas Juna. Kiara nggak jujur. Kiara tuh ngidam Mas Juna nyanyi sama harimau. Makanya Kiara kirim Mas Juna ke sana" kata Kiara yang tiba-tiba merebut kembali ponsel miliknya dari Elang


"Sayang!!!" tegur Elang.


Kiara menjulurkan lidahnya. Ia mengacuhkan teguran Elang yang melarangnya berbicara pada Juna.


"Ngidamnya bisa diganti nggak, Nyonya? Saya takut" tawar Juna.


"Nggak bisa, Mas. Ini kemauan dedek bayi. Mas Juna sekarang tidur dulu. Besok akan ada orang yang jemput Mas Juna."


"Terus saya nyanyi lagu apa, Nyonya?."


"Jaran goyang. Nanti jangan lupa videoin pas lagi nyanyi sama harimau. Video call juga boleh. Bye, Mas Juna" ucap Kiara kemudian langsung mematikan ponselnya.


***


"Kiara, tunggu!!!."


Kiara langsung memutar bola matanya dengan malas. Niat hati ingin mencari jajanan di kantin. Namun, langkahnya harus berhenti karena ada seseorang memanggilnya.

__ADS_1


Kiara bukannya tidak tahu siapa yang memanggilnya. Tanpa harus menolehpun dirinya sudah hatam dengan pemilik suara itu. Dokter Athalia, orang yang tidak ingin ia temui, berlari menghampirinya.


Kiara tidak tahu jika sejak satu jam yang lalu Athalia sudah menunggunya di lobby. Atha tidak ingin masuk ke ruangan Kiara karena sungkan dan takut. Ia memilih aman dengan menunggu Kiara keluar dari ruangannya dan benar saja penantiannya selama satu jam tidak sia-sia.


"Pagi-pagi makan semangka."


"Cakeppppp...!!!" teriak karyawan Sanjaya yang berada di lobby.


"Hufftt... Nggak Jadi deh, ada istri duhaka."


Kiara langsung membalikkan badannya usai menyelesaikan pantunnya. Ia dengan santainya melenggang pergi meninggalkan Athalia.


Atha langsung mengejar Kiara. Responnya yang bagus membuat Atha bisa mendahului Kiara. Ia langsung menghadang langkah Kiara dengan merentangkan kedua tangannya.


Kesal. Kiara ingin mengamuk rasanya melihat tingkah Atha. Perutnya sudah berbunyi minta diisi dan Atha dengan tidak tahu dirinya menghalangi langkah kaki Kiara.


"Buah selasih, buah mengkudu."


"Cakeepppppp" teriak karyawan Sanjaya corp lagi.


"Mau apa sih kamu????."


Kiara mendelikkan kedua matanya. Ia membuang buka dengan kedua tangan melipat di depan dada.


"Kemana Juna?" tanya Atha.


"Auk."


"Kiara, tolong jangan sembunyikan Juna. Kata satpam sekolah, Juna pergi ke luar negeri. Kamu pasti tahu kan kemana Juna? Tolong beri tahu aku" pinta Atha memelas.


Kiara tak bergeming. Ia malah menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Kiara, aku mohon!."


"Ogah!!!."


"Apa perlu aka mencium kakimu? Tolong beri tahu dimana Juna! Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya. Kiara, tolong beritahu aku!" Atha langsung bersimpuh, memeluk kedua kaki Kiara.


"Hei, dokter tidak terkenal! Kemana aja lu? Dulu Mas Juna kau sia-siakan. Udah baik-baik kalian gue kirim ke Paris buat bulan madu, malah lu tinggalin. Sekarang lu kesini, mohon-mohon buat ketemu Mas Juna? Oh, tidak segampang itu" ucap Kiara geram.


"Aku harus apa agar kau mau memberi tahu keberadaan Juna? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, Kiara."


"Nggak ada. Gue udah eneg sama lu."


"Aku istrinya, Kiara! Aku istrinya! Aku berhak tahu di mana suamiku" teriak Atha.


"Oh, kamu istrinya Mas Juna toh? Kemana aja, bu? Kenapa baru sekarang ngaku kalau istrinya Mas Juna."


"Aku memang salah, Kiara. Aku sadar."


"Sadar setelah di skak mat sama Abang Dira. Hei, bu dokter! Setelah sadar nggak ada harapan sama Abang gueh, sekarang mau balik sama Mas Juna? Lu pikir Mas Juna ban serep?."


"Aku memang bodoh, Kiara. Aku memang bodoh mengharapkan cinta Tuan Dira. Aku sadar akan kesalahanku. Tolonglah, Kiara! Beritahu aku di mana Juna!" pinta Athalia memelas.


Kiara berdecak sebal. Ia memanggil satpam dan menyuruhnya untuk mengusir Athalia. Kiara sudah malas berurusan dengan Atha. Perutnya lebih penting untuk diisi.


Dua orang satpam datang. Mereka langsung menyeret Atha keluar dari kantor Sanjaya corp. Atha meraung-raung. Ia bersikeras tidak ingin keluar sebelum bertemu Juna. Atha terus berteriak memanggil nama Juna dan Kiara. Ia tidak peduli jika saat ini dirinya menjadi tontonan karyawan Sanjaya corp.


"Maaf, kami hanya menjalankan tugas" ucap salah satu satpam yang berhasil membawa Athalia keluar.


"Saya hanya ingin bertemu Juna, Pak. Saya hanya ingin bertemu suami saya" tangis Athalia pecah. Ia menjatuhkan tubuhnya di trotoar.


"Maaf, Ibu. Pak Mayjuna tidak ada di sini. Kemarin Pak Juna pergi diantar Bu Lita dan Pak Daniel. Saya tidak tahu kemana. Maaf, saya hanya satpam. Tidak bisa memberi info banyak" ucap satpam itu kemudian meninggalkan Atha yang masih menangis di luar.

__ADS_1


__ADS_2