HEI JUN

HEI JUN
83


__ADS_3

Tok tok tok


Andika mengetuk pintu ruang kerja Juna. Sesuai perintahnya, ia diminta menemui Juna saat jam istirahat. Andika tidak tahu ada keperluan apa Juna memanggilnya. Seingatnya mereka janjian akan makan siang bersama di warung Bu Udin.


Apakah Juna membatalkan janjinya? Ataukah Juna memang ada keperluan lain? Entahlah, Andika juga tidak tahu.


"Masuk!."


Andika membuka pintu perlahan. Juna menganggukkan kepalanya sebagai kode agar Andika masuk. Tentu saja kode dari Juna diterima baik oleh Andika. Ia segera berjalan mendekati meja kerja Juna.


"Wah, rame banget mejamu, Jun! Dapat makanan dari mana?" teriak Andika kegirangan.


Andika langsung menarik kursi di hadapannya. Ia duduk dan langsung mencomot kue lupis di hadapan Juna.


"Lia sudah datang?" tanya Juna mengacuhkan pertanyaan Andika. Juna ingat akan janjinya untuk makan siang bersama di warung Bu Udin.


"Belum, Jun. Kalau dia sudah sampai pasti akan telepon. Eh, ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaanku. Ini dapat dari mana?" lagi Andika menyomot kue lupis milik Juna.


Meskipun Juna sudah menjabat sebagai pemilik SMA Cendekia, Andika tetap bersikap biasa saja. Juna memang melarang Andika untuk terlalu formal padanya. Ia tidak mau ada kecanggungan antara dirinya dan Dika.


"Saya beli di pasar. Entah kenapa saya ingin makan kue lupis. Rindu jajanan jadul kesukaan Emak."


"Sering-sering aja ke pasar, Jun. Kamu belinya banyak banget jadi kan bisa ngincip" celetuk Andika cengengesan.


Juna membiarkan Andika menyantap makanan yang ada di mejanya. Ia lebih memilih kembali fokus kepada laptopnya. Pekerjaan Juna banyak yang belum selesai akibat ditinggal liburan ke Afrika.


Kringggg


Ponsel Andika berbunyi. Nama Lia terpampang di layar ponselnya. Andika buru-buru menjawab panggilan dari Lia. Ia tidak mau mendapat amukan dari Emak-emak menyusui seperti Lia.


"Di mana lu???? Gue udah di warung Bu Udin. Kenapa lu sama Pak Juna nggak ada???" sambar Lia ketika teleponnya terhubung.


"Hani! Biasakan salam sebelum ngamuk! Heran deh sudah jadi emak-emak menyusui tetep aja ngegas" omel Andika.


"Sorry! Gue udah lapar nungguin kalian. Kalian di mana? Apa gue pesenin duluan?" tanya Lia.


"Emmm... Kayaknya Juna nggak jadi makan di warung Bu Udin. Ini di ruangannya banyak makanan. Lu ke sini aja ya" jawab Andika.


"Sungkanlah gue. Lu jemput gue di warung Bu Udin, biar gue ada teman ke sana."


"Ho'oh" jawab Andika. Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya dan pamit kepada Juna.


Andika bergegas keluar dari ruangan Juna. Ia bergerak sedikit berlari karena khawatir Lia akan mengamuk jika menunggunya terlalu lama. Hanya butuh waktu lima belas menit, Lia dan Andika akhirnya tiba di ruang kerja Juna. Wajah Lia langsung sumringah ketika melihat Juna yang sedang serius di hadapan laptop.


"Pak Juna keren banget! Sejak kapan bisa main laptop, Pak?" tanya Lia.


Andika segera menyikut lengan Lia. Pertanyaan konyol Lia itu seperti menyindir Juna. Juna yang dulu memang gaptek. Tak heran jika Lia kaget ketika melihat Juna berada di hadapan laptop.


"Sejak saya di Jakarta, saya les komputer" jawab Juna.


Ia menyuruh Andika dan Lia duduk di hadapannya.


"Wah, jadi Pak Juna di Jakarta? Kenapa nggak mampir ke rumah Lia?."


"Bodoh! Emangnya Juna tahu rumah lu di mana?" cibir Andika. Ia kembali sibuk menghabiskan sisa kue lupis yang sejak tadi dicomotnya.


"Sudah jangan bertengkar! Lia, ayo makan! Saya tidak jadi makan di warung Bu Udin. Saya bawa makanan sendiri."


Juna menyodorkan piring kepada Lia dan Andika. Mereka mulai menyantap makanan yang tersaji di meja. Sesekali mereka bercerita, bertukar pengalaman satu sama lain.


Kringgg.


Ponsel Juna berbunyi.


"Ya?."


"Juna, apa kau sudah makan siang?."


Ternyata Athalia yang sedang menelpon Juna. Ia yang sedang berada di rumah merasa gelisah dengan Juna. Atha khawatir Juna tidak menyantap makanan yang ia masak mengingat saat di pasar Juna banyak sekali membeli jajanan.

__ADS_1


"Ini sedang makan siang. Kenapa?" tanya Juna.


Andika dan Lia saling lirik. Mereka memperlambat suapan sendok ke dalam mulutnya guna bisa menguping pembicaraan Juna.


"Aku takut saja kamu tidak makan masakan yang aku masak, Jun. Tadi kau beli banyak kue di pasar."


"Jangan khawatir! Saya tidak sendiri. Ada Andika dan Lia di sini. Mereka ikut makan siang dengan saya" ucap Juna.


"APA??? LIA??? JUNA, KAMU MAKAN SIANG DENGAN LIA??" teriak Atha kaget.


Juna yang mendengar teriakan Atha lebih kaget lagi. Ia tidak menyadari jika ucapannya sudah mengobarkan api cemburu di hati Atha.


"Saya memang makan siang dengan Andika dan Lia. Kenapa? Ada masalah?" tanya Juna polos.


"MASALAH, JUN! ITU MASALAH BUAT AKU!."


Atha langsung memutuskan sambungan telepon. Hal itu kembali membuat Juna kaget.


Tak mau ambil pusing. Juna melanjutkan makan siangnya kembali. Ia tidak menyadari jika dua orang di hadapannya sedang menatap dirinya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Siapa, Jun?" tanya Andika memberanikan diri bertanya.


"Athalia" jawab Juna pendek.


"Siapamu, Jun" tanya Andika lagi.


"Ayank" jawab Juna lagi.


Andika tergelak. Ia menduga Juna sedang bercanda. Berbeda dengan Lia. Lia langsung cemberut mendengar kata ayank yang dilontarkan oleh Juna. Entah mengapa hatinya tidak terima jika Juna memiliki tambatan hati.


"Di Jakarta kerja di mana, Pak Juna?" tanya Lia mencoba mengalihkan perasaannya yang tidak karuan.


"Di Sanjaya corp."


"Sanjaya corp? Pak Juna kerja di sana? Noval juga bekerja di sana lho, Pak. Dia menjabat sebagai menager" ucap Lia antusias.


"Wah, kok bisa satu tempat kerja. Kalau kamu bagian apa, Jun?" tanya Andika.


"Di...di..direktur?" sendok yang dipegang Lia langsung terjatuh. Ia kaget mendengar jabatan Juna yang lebih tinggi dari Noval. Lia sampai menganga. Ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Juna.


"Juna keren banget sih! Pantas saja bisa beli SMA Cendekia. Keren! Keren! Keren!" puji Andika.


"Ja...jadi SMA Cendekia dibeli sama Pak Juna?" Lia kembali menganga.


Juna mengangguk. Ia tetap fokus menyantap makanannya. Juna tidak sadar jika Lia sedang kaget berkali-kali lipat ketika mendengar ucapan Andika. Juna mah emang begitu. Tidak peka.


"Ada yang nyesel, nih" goda Andika.


Lia langsung mendaratkan pukulan keras di paha Andika. Lia kesal karena Andika malah menggodanya di hadapan Juna. Untung saja penyakit tidak peka Juna sedang kumat. Sehingga ia tidak menyadari perubahan wajah Lia yang kesal seperti itu.


Tok...tok...tok...


Juna berteriak, menyuruh masuk orang yang sudah mengetuk pintu ruang kerjanya. Pintu terbuka perlahan, nampak kepala Pak Udin menyembul dari balik pintu.


"Pak May, maaf mengganggu! Ada ibu di luar" kata Pak Udin.


"Ibu? Ibu siapa?" tanya Juna.


Pak Udin membuka pintu ruang kerja lebar-lebar. Nampak Athalia berdiri sembari melipat kedua tangannya di dada. Atha menatap tajam ke arah Juna. Terlihat jelas jika dirinya sedang menahan amarah.


"Ibu ini, Pak May. Maaf, saya tidak tahu namanya! Silakan, Ibu! Saya permisi" kata Pak Udin kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Juna.


Atha masuk dengan wajah datar. Ia melirik dengan tajam kepada Lia dan Andika. Atha menatap Juna, yang di tatap malah tersenyum lebar. Sungguh, Juna seperti tidak sadar jika sebentar lagi dirinya akan mendapat amukan dari Atha.


"Jadi kamu makan siang dengan perempuan ini, Jun?" Atha menunjuk Lia dengan tangan kanannya.


"Bukankah saya sudah bilang?" sahut Juna santai.


Atha menggigit bibirnya. Ia menahan gejolak emosi di dalam dadanya.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa? Apa saya salah?" Juna buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Ia bergegas mendekati Atha.


"Pulang, Jun!" suara Atha bergetar.


"Pulang? Kenapa harus pulang?" tanya Juna tak mengerti.


"Pokoknya kamu pulang, Jun. Aku tidak mau kamu makan siang dengan dia."


Andika dan Lia saling pandang. Dua orang yang sedang menjadi penonton itu dibuat bingung dengan drama yang mereka lihat di hadapan mereka. Mereka juga bertanya-tanya siapakah perempuan yang sedang berbicara dengan Juna. Juna tidak pernah bercerita, pantas kan kalau dua orang itu bingung bin heran.


"Apa salah Lia? Mengapa saya tidak boleh makan siang dengan dia?."


"Aku tidak suka, Jun! Aku tidak suka!."


Atha menghentakkan kakinya. Ia kemudian memutar tubuhnya dan berlari meninggal ruang kerja Juna.


"Jun!" panggil Andika saat Juna hendak berlari menyusul Atha.


"Dia siapamu?."


"Ayank" lagi-lagi Juna menjawab seperti itu.


"Pacar, Pak Juna?" tanya Lia.


"Bukan. Katanya sih istri" sahut Juna.


"Istri?."


"Kok katanya?" Andika dan Lia bertanya bersamaan.


Juna tidak mengindahkan pertanyaan kedua tamunya. Ia langsung berlari mengejar Atha. Untung saja Atha sedang ditahan oleh Pak Udin sehingga Juna bisa segera menyusulnya.


"Masuk ke mobil! Kita pulang!" Juna segera menarik tangan Atha. Ia menuntun Atha masuk ke dalam mobil.


Pak Udin yang paham akan situasi yang terjadi, hanya bisa mengulum senyum. Ia segera berlari untuk membuka gerbang saat melihat Juna sudah masuk ke dalam mobil.


PIM...PIM...


Mobil Juna melaju perlahan meninggalkan lingkungan sekolah. Pak Udin melambaikan tangan sembari berdoa, semoga saja tidak terjadi perang antara Juna dan Atha.


"Kamu marah?" tanya Juna.


"Apa yang membuatmu marah?" tanya Juna lagi.


"Aku tidak suka kau makan siang dengan Lia. Kau mau CLBK dengan Lia? Kamu mau kembali dengan masa lalumu?" tuduh Atha.


"CLBK? Dengan Lia? Hei, kamu tahu kalau saya pernah naksir Lia?."


"Tentu saja! Bukankah kita bertemu pertama kali saat kamu patah hati, Jun. Aku mengira kau akan bunuh diri, ternyata kamu hanya patah hati. Kehabisan bensin dan melipir ke pantai seorang diri" ucap Atha masih dalam emosinya.


"Benarkah? Maaf, aku tidak ingat tentang itu."


"Kau tidak mengingat pertemuan denganku tetapi kau mengingat cintamu pada Lia. Kau keterlaluan, Jun! Kau keterlaluan" pekik Atha histeris. Ia kini menangis akibat sakit hati dengan Juna.


Juna buru-buru menepikan mobilnya. Ia menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya.


"Kau istriku kan?" tanya Juna.


Atha mengangguk.


"Jangan menangis! Saya tidak ingin melihat istriku menangis. Maaf, jika saya melupakanmu. Saya juga tidak tahu mengapa lupa denganmu. Maaf, sekali lagi maaf."


Juna kembali menghapus air mata yang membasahi pipi Atha. Ia kemudian mendaratkan kecupan singkat di kening, mata dan kedua pipi Atha. Juna membawa tubuh Atha dalam dekapannya. Ia memeluk istrinya itu dengan sayang.


"Apa telah terjadi sesuatu saat kamu di Afrika, Jun?" tanya Atha.


"Saya tidak tahu. Saya hanya ingat setiap hari saya berada di hutan. Saya bermain dengan banyak hewan liar."


"Apakah terlalu sering bermain dengan hewan-hewan di hutan membuatmu lupa denganku?" tanya Atha sedih.

__ADS_1


"Entahlah. Saya juga tidak mengerti. Lebih baik kita pulang dan tidur siang. Jujur, memelukmu seperti ini terasa nyaman sekali" ucap Juna yang langsung membuat wajah Atha merah merona.


__ADS_2