HEI JUN

HEI JUN
111


__ADS_3

"Ayeshaaaa.....!!! Tunggu....!!!!"


Yesha memutar badannya ketika kedua indra pendengarannya mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang familiar bagi Ayesha. Meski tanpa melihat wajahnya, Yesha sudah dapat menebak siapakah orang yang memanggilnya.


"Athalia? Ada apa kau berteriak memanggilku?" tanya Yesha. Ia nampam melirik arlojinya karena sebenarnya sebentar lagi dirinya akan bergabung dengan dokter lain untuk melakukan operasi.


"Aku minta tolong" seru Atha dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Tolong? Tolong apa?" tanya Ayesha lagi.


Atha tak langsung menjawab. Ia mengambil sesuatu dari saku bajunya. Sampel rambut Arjuna dan Mayjuna. Ia sudah menempatkan dalam plastik kecil yang berbeda karena sebenarnya Atha sudah merencanakan tentang hal ini.


"Arjuna? Mayjuna?" Ayesha membaca nama yang tertera di plastik kecil itu. Ia sedikit bingung dan bertanya-bertanya tentang pemilik rambut itu.


"Aku tidak bisa bercerita sekarang. Juna pasti menyusulku ke sini. Yang jelas tolong lakukan tes DNA. Aku ingin tahu apakah Arjuna adalah anak Juna dan Diandra."


Seketika kedua bola mata Ayesha melebar. Mendengar nama Diandra, tanpa dijelaskanpun ia sudah paham.


"Tolong, aku tidak punya banyak waktu! Nanti aku akan menghubungimu lagi" kata Athalia kemudian ia memutar badannya dan berlari untuk kembali ke parkiran.


Bruggghhh.


Tubuh Atha terpental ke belakang. Karena terburu-buru membuatnya tidak fokus dalam berlari. Atha menabrak seseorang yang juga sedang tidak fokus berjalan. Orang itu tak lain adalah Juna yang sejak tadi berjalan sembari menoleh ke kanan dan kiri.


"Ya ampun, sayang!!! Pasti sakit sekali...!!!" teriak Juna ketika melihat istrinya sedang selonjoran di lantai.


Juna lalu mengangkat tubuh Athalia ala bridalstyle. Ia pun segera berlari mencari perawat atau dokter yang bisa membantunya.


"Mas...! Mas..! Mas Juna! Kita mau ke mana?" tanya Atha heran.


"Kamu harus diperiksa. Tubuhmu tadi terpental, sayang" jawab Juna cemas.


"Tidak! Tidak ! Tidak ! Berhenti, Mas! Berhenti aku bilang!" teriak Atha dan ajaibnya langkah kaki Juna segera berhenti.


"Turunkan aku! Aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa katamu? Sayang, kamu tadi terpental...."


"Mas...!!!" teriak Athalia memotong perkataan Juna lagi.


"Aku tidak apa-apa. Hanya terpental seperti itu tidak membuatku patah. Turunkan aku! Kita pulang sekarang" ucap Atha dengan nada suara yang lembut.


Juna mengangguk. Ia menurunkan tubuh Athalia dengan perlahan. Juna langsung menggenggam tangan istrinya. Ia khawatir jika Atha akan kembali terjatuh.


"Apakah sudah mendaftarnya?" tanya Juna.


"Sudah! Yesha yang mengurusnya" kata Atha berbohong.


"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang. Apa kau masih ingin membeli sesuatu?" tanya Juna.


"Tidak, Mas. Kita segera pulang saja karena aku sudah sangat lelah."


Juna mengangguk dan mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan area rumah sakit.


***


Tok...Tok...Tok...


Zeze segera berlari menuju pintu depan. Telinganya mau pecah mendengar suara pintu yang diketuk dengan tidak sabar. Andai saja Diandra tidak tidur, pastilah Zeze memilih diam saja di kamar membiarkan Diandra yang membuka pintu.


Bukan tanpa alasan Zeze menginginkan hal itu. Tamu yang tidak sabaran itu pastilah tamu Diandra. Sejak mereka tiba di kampung Diandra, tidak satupun orang yang mencari Zeze. Semua mencari Diandra.


Zeze juga agak ngeri-ngeri sedap. Ia mulai bertanya-bertanya tentang masa lalu Diandra. Apakah ia memiliki masalah di kampungnya? Apakah Diandra termasuk dalam DPO di kampungnya?


Sungguh Zeze ingin bertanya langsung kepada Diandra. Tapi melihat wajah Diandra yang berubah menyeramkan selama berada di kampung halamannya, membuat nyali Zeze menciut. Ia tidak berani bertanya dan membiarkan segala pertanyaan itu berputar di kepalanya.

__ADS_1


Ceklek.


Zeze membuka pintu secara perlahan. Nampak seorang ibu paruh baya dengan tampang kurang ramah menatap Zeze.


'Serem banget lah nih orang' batin Zeze.


"Maaf, Ibu, cari siapa?" tanya Zeze sopan.


"Saya mencari anak sialan itu" jawab Ibu itu ketus.


Zeze menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tentu saja bingung dengan jawaban dari Ibu itu.


"Maksud Ibu siapa ya ? Maaf, saya tidak paham" kata Zeze lagi.


"SAYA MAU KETEMU DIANDRA. ANAK SIALAN ITU HARUS BERTANGGUNG JAWAB DENGAN SEGALA KESIALAN YANG MENIMPA KELUARGA SAYA...!!"


Zeze langsung berlari. Teriakan Ibu itu membuat bulu kuduknya merinding. Ia masuk ke kamar Diandra tanpa mengetuk pintu lalu Zeze membangunkan Diandra dengan sekuat tenaga.


"Diandraaa...bangun! Ada raksasa di depan" kata Zeze.


Diandra menggeliat ke kanan dan ke kiri. Merasa aneh dengan ucapan Zeze membuat dirinya malas untuk membuka mata.


"Diandraa....cepat! Raksasanya di depan. Aku takut nih" rengek Zeze lagi.


Melihat tidak ada respon dari Diandra membuat Zeze bertindak nekat. Ia menarik tangan Diandra dan menyeretnya ke depan. Diandra yang masih dalam mengantuk itu perlahan membuka matanya. Sedikit demi sedikit Diandra mengumpulkan rohnya yang sudah melayang ke berbagai tempat.


"Apa sih, Ze? Ganggu orang tidur saja!" omel Diandra.


Zeze tidak menjawab. Ia terus menyeret Diandra ke teras rumah. Setelah jarak pintu depan sudah dekat, Zeze mendorong tubuh Diandra dengan keras. Niatnya agar Diandra cepat sampai ke hadapan ibu itu.


Bruuuuggg.


"Addoohhh...!!!" Diandra mengaduh. Dorongan Zeze meleset sehingga membuat dahi Diandra membentur pintu.


Plakkk!!!


Diandra mengerang. Baru saja hendak membuka mata dirinya sudah mendapat tamparan. Buru-buru Diandra membuka mata, ingin menampar balik orang sudah memberikan cap lima jari di pipinya. Amarah Diandra langsung naik saat tahu siapakah sosok yang telah menamparnya itu.


"Kau??? Wanita murahan!!."


Plakkk!!!


Kali ini Diandra yang menampar pipi Bu Tatik. Ia tersenyum senang karena bisa membalas perbuatan ibu kandung Fira itu.


"Dasar anak kurang ajar! Tidak punya sopan santun! Tidak tahu diuntung! Beginikah caramu berterima kasih kepadaku hah?" bentak Bu Tatik.


"Berterima kasih? Berterima kasih untuk?" tanya Diandra dengan seringai licik yang ia tampakkan di hadapan Bu Tatik.


"Kau masih bertanya? Jika tidak ada aku, siapa yang akan merawat ayahmu yang terkena stroke itu?. Kau memang anak durhaka. Kamu membuat malu keluarga dengan skandal panasmu itu. Kamu menghancurkan bisnis Ayahmu. Kau membuatnya miskin. Harusnya kamu yang merawat Ayahmu bukan kami" kata Bu Tatik meluapkan emosinya.


"Kenapa? Kau keberatan merawat Ayahku? Bukankah dulu Ayahku sering memberimu uang untuk berfoya-foya? Kau sendiri bersedia menjadi wanita simpanan Ayahku karena mengejar hartanya kan? Ha...ha...ha... kau memang perempuan tidak tahu diri. Mau enaknya saja" cibir Diandra.


Plakkk.


Bu Tatik kembali menampar Diandra.


"Oh, sudah berani main tangan rupanya. Kau belum tahu siapa Diandra. Kau belum tahu bagaimana jika aku mengamuk. Kau pasti mengira aku ini wanita lemah yang bisanya menangis di pojokan? Salah! Kau salah!"


Brakkk!!


Diandra membanting tubuh Bu Tatik ke lantai. Tindakan Diandra itu langsung mendapat teriakan histeris dari Zeze. Zeze berlari hendak menghampiri Diandra. Namun, Diandra dengan cepat memberinya kode untuk tidak ikut campur dalam urusannya.


"Wanita tidak tahu diri" ucap Diandra lalu menendang kaki Bu Tatik.


Bu Tatik berteriak kencang. Tendangan Diandra sangat keras sehingga membuat kakinya sakit.

__ADS_1


Diandra sedikit membungkuk. Ia menatap tajan ke arah Bu Tatik yang sudah nampak ketakutan.


"Kau itu tidak ada apa-apanya bagiku. Kau tidak tahu siapa aku. Berani sekali kau menamparku sebanyak dua kali."


Bu Tatik mengggit bibirnya. Ia benar-benar ketakutan melihat Diandra sekarang.


"Kalau kau sudah menyerah merawat Ayahku. Lempar saja dia ke jurang, maka tugasmu sudah selesai. Jangan memintaku untuk merawat Ayah karena Ayah sendiri yang mengusirku saat itu."


"Ibu....." teriak Fira. Ia tiba-tiba muncul dan berlari menghampiri Bu Tatik.


Diandra memutar kedua bola matanya dengan malas. Melihat sosok ibu dan anak yang dibencinya membuat perutnya mual dan mules.


"Mbak, mengapa Mbak tega melakukan ini kepada ibu? Apa salah ibu, Mbak? Ibu itu orang tua kita. Seharusnya Mbak Diandra menghormati Ibu bukan malah menyakitinya seperti ini" ucap Fira dengan kedua mata yang sudah banjir air mata.


"Apakah ada alasan bagiku untuk tidak tega melakukan ini? Hei, bocah sialan! Ibumu menamparku sebanyak dua kali dan itu adalah balasan karena dia sudah berani menamparku" teriak Diandra.


"Maafkan Ibu, Mbak. Mungkin ibu kesal karena Mbak Diandra tidak menjenguk Ayah. Ayah sedang sakit Mbak. Tolong jenguk Ayah sekarang" pinta Fira.


"Jenguk? Kau pikir aku peduli. Ayah matipun aku tidak peduli" sahut Diandra disertai dengan tawanya yang meledak.


"Mbak...!!! Jangan mendoakan Ayah yang tidak baik! Apakah tida ada sedikit rasa kasian Mbak Diandra pada Ayah?."


Diandra kembali menyeringai. Ucapan Fira benar-benar membuatnya muak. Andai saja tidak ada Zeze dan Mbok De, Diandra pasti sudah mengamuk sembari memukuli Fira dan Bi Tatik.


Diandra harus menahan untuk tidak main tangan. Ia tidak mau dua orang asing yang tinggal satu atap dengannya mengetahui sisi lain dari dirinya.


"Untuk apa aku harus kasian? Ayah sedang mendapatkan balasan karena sudah membuatku berpisah dengan Juna. Juna sudah berada di alam lain. Aku tidak bisa lagi menemuinya" teriak Diandra histeris.


"Tidak! Pak Juna masih hidup. Pak Juna belum meninggal, Mbak."


Deg.


Fira menutup mulutnya. Ia keceplosan di jadapan Diandra dan ibunya.


"Apa katamu?" Mendengar ucapan Fira yang mengatakan Juna masih hidup membuat kedua netra milik Diandra berbinar-binar.


"Ulangi sekali lagi! Kau bilang apa? Juna masih hidup? Kau bilang Juna masih hidup?" tanya Diandra sembari berjalan mendekati Fira.


Fira menggeleng dengan cepat. Sayangnya Diandra tidak percaya dengan gelengan kepala Fira. Diandra yang sedang marah langsung mencengkram kerah baju Fira. Ia mendorong tubub Fira dan menempelkannya di dinding.


"Katakan sekali lagi! Juna masih hidup? Kau bilang Juna masih hidup?" teriak Diandra.


Fira menggeleng. Ia mulai ketakutan melihat Diandra semakin menggila.


"Jangan bohong! Kalau kau tidak mau mengaku, Ibumu akan aku habisi..."


"Jangannnnnn.....!!!" teriak Fira. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya dan memeluk kedua kaki Diandra. Fira benar-benar merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia keceplosan di hadapan Diandra.


"Kalau kau tidak mau Ayah dan Ibumu pindah ke alam lain, cepat katakan yang sebenarnya! Juna masih hidup atau tidak? Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya aku" ancam Diandra membuat Fira semakin ketakutan.


"Aku hitung sampai tiga. Satu.... Dua.....Ti...."


"Mbak....!!!! Iya, Pak Juna masih hidup. Dia masih hidup, Mbak. Jangan sakiti Ibu! Jangan sakiti Ayah!" teriak Fira sembari menangis meraung-raung.


Diandra segera menarik tubuh Fira agar berdiri menghadap dirinya. Ia tidak menyangka jika Fira bisa dijadikan informan baginya.


"Kalau Juna masih hidup, di mana Juna sekarang? Jawab Fira...!!! Jawab!!!."


"Iya, Mbak...! Fira jawab...! Fira tidak tahu Pak Juna ada di mana. Setahu Fira Pak Juna membeli SMA Cendekia. Pak Juna juga berganti nama menjadi Pak Mayjuna" ucap Fira.


Deg.


Diandra langsung melepas cengkramannya pada Fira. Mendengar nama yang Fira sebutkan barusan membuatnya teringat akan seseorang.


"Mayjuna? Jangan-jangan...?"

__ADS_1


__ADS_2