HEI JUN

HEI JUN
123


__ADS_3

Atha mencium bau obat-obatan yang menusuk indra penciumannya. Perlahan, ia membuka kedua matanya. Samar-samar, netranya melihat ruangan serba putih seperti tempat bertugasnya dahulu. Ia kembali menutup matanya sembari mengingat peristiwa yang telah terjadi.


'Perutku terasa sakit. Itu yang aku ingat' gumam Atha.


Atha kembali membuka mata, memindah keadaan di sekitarnya yang tidak ada seorangpun di sana.


'Ke mana Juna?' gumam Atha lagi.


Hatinya langsung mellow tatkala tidak melihat suaminya. Atha mulai menangis sesegukan. Pikirannya sudah berjalan ke sana ke sini.


Untung saja kedua indra pendengaran Atha sangat tajam. Ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Atha segera menghapus air matanya. Ia yakin jika dirinya tidak sendiri di runah sakit.


Ceklek.


Juna muncul dengan wajah yang masih basah. Kedua netranya langsung membulat ketika melihat Atha yang sudah sadar. Juna buru-buru menghampiri brangkar. Ia menatap wajah istrinya yang pucat tak berwarna.


"Sayang, kamu sudah sadar? Apakah ada yang sakit?" tanya Juna sembari menggenggam tangan kanan Atha dengan kedua tangannya.


Atha menggeleng.


"Aku kenapa, Mas? Mengapa sampai diinfus begini? Apa aku sakit parah? Apa perutku bermasalah?" tanya Atha.


Juna menggeleng. Ia kemudian mengusap perut Atha yang masih rata. Kedua netranya langsung berkaca-kaca mengingat apa yang diucapkan oleh dokter tadi.


"Ada nyawa di sini. Calon anak kita. Dia di sini" tunjuk Juna pada perut Atha.


"Calon anak kita? Jadi aku hamil?" tanya Atha.


Juna mengangguk.


"Maaf sudah menyakitimu. Gara-gara saya mabuk, kau jadi pelampiasan gairahku" ucap Juna penuh penyesalan.


"Lebih baik kau melampiaskan kepadaku, Mas, daripada kau malah bercinta dengan wanita lemper itu. Aku tidak rela. Sampai matipun aku tidak rela."


Juna terkekeh mendengar julukan wanita lemper dari Atha. Ia tidak menduga jika candaannya dijadikan label nama untuk Lily. Jangan salahkan Juna jika menyebut Lily dengan lemper. Pakaian yang dikenakan Lily berwarna hijau terang. Persis seperti daun yang membungkus kue lemper.


"Dokter bilang apa, Mas?" tanya Atha.


"Kamu harus istirahat. Sampai kandunganmu tidak bermasalah."


"Apakah itu artinya kita tidak akan pulang ke Jakarta?" tanya Atha sedih.


"Sepertinya begitu. Kita akan di Spanyol sampai dokter mengatakan kondisimu dan calon anak kita baik-baik saja. Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Nikmati saja apa yang ada" bujuk Juna.


Atha mengangguk. Ia lalu meminta Juna untuk mengambilkan air putih. Tenggorokannya kering sekali.


Juna bangkit mengambil gelas berisi air putih. Ia membantu Atha untuk bangun dan minum. Rupanya Atha benar-benar haus. Air putih di gelas itu habis tak bersisa. Juna kembali membantu Atha berbaring dan memastikan posisi istrinya sudah nyaman.


"Mas..." panggil Atha


"Hem....?."


"Sebenarnya aku sudah merasa jika aku hamil. Tapi...." Atha tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi kenapa, sayang?."

__ADS_1


"Tapi aku takut untuk melakukan tes kehamilan. Aku takut jika hasilnya tidak seperti yang aku harapkan. Aku takut hanya perasaanku saja sehingga aku membiarkan saja tanpa berbicara kepadamu" ucap Atha sedih.


"Sayang, sekarang apa yang kamu takutkan tidak terjadi. Kamu benar-benar hamil. Jangan banyak pikiran ya! Agar calon anak kita tidak bermasalah" bujuk Juna.


Atha mengangguk.


"Sayang, saya mau panggil dokter dulu. Kamu tidak apa-apa ya, saya tinggal sebentar?."


Lagi-lagi Atha mengangguk. Juna bangkit dari tempat duduknya. Ia mengucup kening Atha sebelum pergi memanggil dokter.


Untung saja Juna tidak perlu berjalan jauh. Karena ketika ia baru melangkah sejauh tiga meter, dokter yang menangani Atha muncul dari kamar rawat pasien yang lain.


Juna buru-buru menghampiri dokter itu. Ia mengatakan jika istrinya sudah sadar. Gegas, dokter itu berjalan menuju kamar rawat Atha.


Juna mengekori langkah dokter itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Nama Kiara muncul di latar ponselnya. Juna segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Kiara.


"Mas Junaaaa.....! Kata Edward, istri Mas Juna masuk rumah sakit? Ada apa? Sakit apa? Apakah parah?" tanya Kiara panik.


"Tenang, Nyonya! Tenang! Atha sudah tidak apa-apa. Rupanya dia sedang mengandung dan...semalam saya menggempurnya habis-habisa sehingga begini deh..." kata Juna malu-malu.


"APA??? Mas Juna akan jadi ayah??? Wah, selamat Mas Juna...!!!" teriak Kiara histeris. Kiara sangat senang mendengar kabar jika Atha sedang hamil.


"Hush...berisik banget sih, Kir? Gue mau tidur" celetuk Dira yang masih bisa didengar oleh Juna.


"Lu tuh yang berisik. Udah punya cerita sendiri juga, masih aja muncul di sini" omel Kiara dan seperti biasa pertengkaran kakak dan adik itu membuat Juna tertawa cekikikan.


"Maaf, Mas Juna jadi di kacangin."


"Siomayyyyy kali, di kacangin?" teriak Dira dan lagi Juna sampai memegang perutnya karena tak kuasa menahan tawanya.


"Mas Juna....! Halo...! Mas Juna masih di sana kan?" panggil Kiara.


"Masih, Nyonya Bos."


"Mas Juna mau langsung pulang atau bagaimana? Biar Kiara hubungi Kapten Jack dulu."


"Ah, begini Nyonya. Atha harus dirawat dulu sampai kandungannya kuat. Jadi, saya juga tidak tahu kapan akan pulang" kata Juna menjelaskan.


"Oh, yasudah. Nanti kalau Mas Juna mau pulang, langsung hubungi Kiara. Oke?????."


"Siap, Nyonya Bos. Terima kasih atas bantuannya" sahut Juna dan telepon pun terputus.


***


Surabaya.


Ponsel Arya berdering kencang, mengganggu si empunya ponsel yang sedang tidur. Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Arya baru tidur selama dua jam.


Seperti biasa, setelah proses rujuknya dengan Diandra selesai. Arya langsung menggarap Diandra tanpa ampun. Laki-laki iti seperti kecanduan berolahraga ranjang dengan Diandra.


Arya selalu mengurung Diandra di apartemen barunya guna melampiaskan hasratnya. Mereka tidak berhenti bermain, istirahat hanya untuk makan, mandi dan tidur. Kadang, jika Diandra sudah terlalu lelah. Ia akan pura-pura tidur agar Arya tidak menggerayanginya.


Bukan tanpa alasan Arya melakukan hal itu pada Diandra. Selain karena ia baru buka puasa, Arya ingin menghapus jejak Juna dalam tubuh Diandra. Arya juga ingin Diandra cepat hamil sehingga Diandra tidak lagi mengurus Arjuna. Memang terkesan jahat, tapi begitulah Arya. Ia tidak rela bagi-bagi.


"Hem???" terdengar suara serak dari mulut Arya.

__ADS_1


"Maaf, mengganggu pagi-pagi Bos! Saya hanya mau laporan" kata orang suruhan Arya.


"Laporan apa?."


"Saya mengikuti perempuan yang membawa anak Nyonya Diandra. Ternyata mereka tinggal di Bali, Bos."


Arya langsung bangkit dari tidurnya. Ia melirik Diandra yang masih terlelap. Perlahan, Arya turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Ia tidak ingin Diandra mendengar pembicaraannya.


"Bali?" ulang Arya.


"Benar, Bos. Nyonya Diandra memiliki rumah dan beberapa ruko di sini."


"Cih! Itu hasil menguras uangku. Lalu mengenai ayah dari anak itu. Apakah kau sudah mendapatkan infonya?" tanya Arya lagi.


"Pak Mayjuna Juli Agustino adalah pemilik SMA Cendekia, dia juga menjabat sebagai direktur keuangan di Sanjaya corp."


"Di...di...direktur keuangan? Di Sanjaya corp? Bangslot!!! Si miskin itu jadi direktur?" tanya Arya dengan nada suara yang tinggi.


"Benar, Bos."


Arya memukul kakinya sendiri. Ia kesal karena merasa dikalahkan oleh Juna. Selama ini Arya merasa di atas angin, merasa jauh lebih baik dan lebih kaya daripada Juna.


"Saya akan menemuinya" kata Arya.


"Bos akan ke Jakarta?."


"Tentu! Kau berjaga di Bali. Awasi perempuan itu. Saya akan bertemu dengan Juna terlebih dahulu. Jika waktunya cukup, saya akan mengajak Juna agar langsung terbang ke Bali."


"Baik, Bos. Saya akan menjalankan tugas dari Bos Arya."


Klik.


Arya memutuskan panggilan teleponnya. Ia lalu mengisi bath tube dengan air hangat. Arya masuk ke dalam bath tube. Ia berendam sembari merenung, memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan agar Juna percaya kepadanya.


Lama Arya berendam hingga kulitnya keriput. Ia lalu beranjak dari bath tube, mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya.


Arya keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Diandra masih tertidur pulas.


"Tahan ya! Kamu puasa dulu soalnya saya mau ke Jakarta" gumam Arya.


Arya berjalan menghampiri kasur. Ia kembali naik ke atas kasur dan berbaring di samping Diandra.


"Sayang, bangun! Ini sudah pagi" bisik Arya di telinga Diandra.


Diandra bergeliat. Kedua netranya seakan sulit untuk terbuka. Diandra semakin menarik selimutnya. Ia masih belum mau bangun karena rasa kantuknya masih kuat.


"Baiklah kalau kau tidak mau bangun. Tidurlah dulu! Saya mau ke Jakarta. Kamu baik-baik di sini. Jangan coba-coba kabur jika kau mau anakmu itu masih bernyawa" ancam Arya yang sebenarnya tidak didengarkan oleh Diandra.


Arya segera turun dari kasur. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil asal baju dan celana yang akan ia pakai hari ini. Arya berpakaian dengan cepat. Ia juga sudah menyuruh bawahannya untuk memesan tiket pesawat jurusan surabaya-jakarta paling pagi.


Usai bersiap dengan segala printil-printilannya. Arya membuka pintu apartemen dan keluar. Di depan pintu sudah berdiri dua orang bawahannya yang bertugas menjaga Diandra selama dirinya di Jakarta.


"Jaga baik-baik! Jangan sampai dia kabur!" ucap Arya.


Kedua orang itu mengangguk dan Arya melenggang pergi meninggalkan unit apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2