HEI JUN

HEI JUN
107


__ADS_3

Kabar munculnya Diandra bersama baby Arjuna langsung viral di seantero Desa Papaten. Tak perlu media sosial untuk menyebarkannya. Cukup dari mulut ke mulut, kabar itu langsung meluas.


Berawal dari obrolan Bu Tatik dan Fira di halaman depan rumah mereka. Ibu dan anak itu tidak menyadari jika sejak tadi ada beberapa gank ibu-ibu ghibah yang bersembunyi dibalik pepohonan.


Niat awal mereka hanya penasaran dengan tamu yang datang ke rumah Bu Tatik. Jarang-jarang, Bu Tatik menerima tamu yang membawa mobil mentereng. Biasanya tamu yang berkunjung ke rumah Bu Tatik adalah para petani atau tengkulak sayur yang akan membeli hasil panen dari sawah Bu Tatik. Jadi tak usah heran jika jiwa kepo gank ibu-ibu ghibah itu langsung muncul tatkala melihat kedatangan Diandra dengan mobil bagus.


Hasil menguping obrolan Bu Tatik dan Fira, mereka lalu berghibah sepanjang perjalanan pulang. Banyaknya orang-orang yang berpapasan dengan mereka, sedikit banyak mendengar apa yang mereka bicarakan.


Mulut ke mulut, berita itu tersebar dengan cepat. Bahkan Haris dan Ines yang tinggal di Kabuoaten sebelah juga mendengar kabar itu.


Bak tersambar petir di siang bolong. Mereka sangat kaget ketika mendengar kabar hal itu. Bukan tentang kedatangan Diandra, melainkan kabar jika Diandra datang bersama bayi bernama Juna.


Haris dan Ines langsung menduga jika itu adalah anak dari Juna. Mereka langsung memutuskan untuk mengabari Juna mengenai hal itu.


"Jadi Diandra pulang?" tanya Juna. Saat ini ia sedang menerima telepon dari Haris.


"Benar, Jun. Baiknya kamu juga segera pulang. Lakukan tes DNA dengan anak yang dibawa Diandra. Mas Haris khawatir jika anak itu adalah benihmu" terdengar nada cemas dari ucapan Haris.


"Baik, Mas. Juna akan segera pulang. Mas Haris dan Mbak Ines tidak usah khawatir. Juna akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Juna, Mbak Ines hanya berharap jika anak itu bukan benihmu. Tapi Mbak juga barus menerima jika anak itu adalah keponakan Mbak" kali ini Ines yang berbicara pada Juna.


"Mbak, tenang saja. Jangan memikirkan anak itu adalah benih Juna atau tidak! Juna akan bergerak cepat. Setidaknya kabar burung itu harus segera diperjelas" ucap Juna lalu ia mengakhiri sambungan teleponnya.


"Hmm... aku keliling Jakarta untuk mencarinya, ternyata kamu malah pulang" gumam Juna sembari mengotak-atik ponselnya.


"Siapa yang pulang, Mas?" tanya Atha yang muncul dari kamar mandi.


Saat Juna menerima telepon dari Haris dan Ines. Atha sedang menyelesaikan ritual mandinya. Ia memang mendengar suara Juna sedang bercakap-cakap, tapi tidak jelas. Atha hanya mendengar kata pulang ketika ia baru keluar dari kamar mandi


"Eh, kamu tanya apa sayang?."


"Siapa yang pulang, Mas?" ulang Atha.

__ADS_1


Juna tertawa cekikikan. Telinganya belum terbiasa mendengar panggilan baru dari istrinya. Ia yang merasa berbunga-bunga itu selalu ingin mengulang ucapan Athalia.


"Mas...!!!" tegur Atha.


"Iya, sayang."


"Kamu pengen piring hah? Sejak aku memanggilmu dengan sebutan Mas, kau selalu saja membuatku mengulang pertanyaan yang sama. Nggak tanggung-tanggung. Nyaris tiga kali" gerutu Atha sebal.


Juna kembali terkekeh. Ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Atha dari belakang. Melihat Atha yang masih memakai bathrobe membuat jiwa keomesan Juna muncul. Ia langsung memberi serangan ringan pada istrinya itu.


"Berhenti! Aku lagi datang bulan" Atha langsung menghempaskan kedua tangan Juna.


Seketika raut wajah Juna berubah sedih. Mendengar Atha kedatangan tamu bulanan memberi kode bahwa kecebong-kecebong miliknya tidak ada yang nyangkut. Juna mendesah kesal. Sepertinya besok ia akan berkonsultasi kepada dokter mengenai kesuburan kecebong miliknya.


"Sayang, datang bulannya apa tidak bisa ditunda bulan depan?" tanya Juna memelas.


"Ngawur kamu, Mas. Memangnya jadwal piket bisa di request?" Atha bergegas mengambil baju. Ia kembali masuk ke kamar mandi untuk berganti baju. Atha melakukan hal itu agar dirinya aman dari serangan Juna.


"Mas, pertanyaanku belum dijawab" kata Atha ketika ia kembali keluar dari kamar mandi.


"Ya ampun!!! Baru juga sepuluh menit, kamu sudah lupa. Aku tanya siapa yang pulang, Mas?" Athalia semakin gemas dengan suaminya itu.


"Oh, itu! Diandra yang pulang."


Deg.


Seketika Athalia menghentikan tangan kanannya yang sedang menyisir rambut panjangnya.


"Diandra? Dia pulang? Pulang ke mana?."


"Ke Desa Papaten. Tadi Mas Haris meneleponku."


"Lalu? Apa rencanamu, Mas?" tanya Atha cemas.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang. Saya sudah memberi tahu Nyonya bos jika kita akan pulang kampung. Kamu mau saya segeea menyelesaikan masa lalu saya kan?."


Atha mengangguk.


"Tapi, kamu benar-benar siap bertemu Diandra? Kalau trauma kamu muncul bagaimana?" hati Athalia kembali dilanda kecemasan.


"Bukankah ada dirimu yang akan selalu mendampingiku, wahai sayangku. Tenanglah, suamimu ini sudah membulatkan tekad. Kita harus menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Baiknya kita segera berkemas. Kapten Jack sudah bersiap-siap mengantarkan kita ke Surabaya" ucap Juna.


***


Arya sedang duduk di kursi kebesarannya. Kursi berputar, adalah tempat duduk favorit Arya. Karena selain ia mendapatkan kenyamanan saat duduk, Arya juga bisa menggerakkan kursi itu ke kanan dan kiri.


Di hadapan Arya, berdiri seorang laki-laki berumur sekitar dua puluh tahun. Laki-laki itu adalah orang suruhan Arya yang datang untuk mengabarkan perihal kemunculan Diandra bersama balita bernama Juna.


"Mantan istriku masih punya nyali rupanya. Di mana kau melihatnya?" tanya Arya.


"Saya tidak melihat langsung, Bos. Saya hanya mendengar dari obrolan ibu-ibu yang berbelanja di warung Pak Mustofa" jawab orang suruhan Arya.


"Bodoh! Bisa saja itu hanya hoax."


"Tidak mungkin, Bos. Beberapa ibu-ibu itu ada yang melihat kedatangan Ibu Diandra di rumah Pak Narto. Ibu datang bersama balita laki-laki bernama Juna."


"Selidiki lagi! Cari di mana Diandra tinggal! Rasanya aku juga perlu membuat perhitungan dengan dia" perintah Arya yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.


Di tempat lain, Diandra sedang menatap tanah kosong bekas rumah Juna dahulu. Ia berdiri seorang diri karena Zeze dan Mbok De sudah Diandra antarkan ke hotel terdekat.


Diandra ingin bertemu Juna. Diandra pikir dengan mendatangi rumah Juna, maka dirinya akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Tapi, bukan Juna yang ia lihat melainkan tanah kosong yang sudah tidak ada apa-apa.


Di mana Juna? Apa yang terjadi pada Juna? Apakah kabar yang mengatakan jika Juna sudah meninggal itu benar? Apakah berita tentang Juna tewas akibat rumahnya kebakaran itu benar?


'Jun, aku pulang. Kamu di mana?' guman Diandra lirih.

__ADS_1


'*Aku berharap berita itu bohong, tapi melihat penampakan rumahmu yang sudah tiada membuat keyakinanku luntur'


'Jika benar kamu tewas akibat rumahmu terbakar . Aku tidak terima, Jun. Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki hal ini. Jika terbukti ada pihak yang sengaja membakar rumahmu, aku akan bertindak. Kau tenanglah di sana, karena akulah yang akan membalaskan dendammu*'


__ADS_2