HEI JUN

HEI JUN
68


__ADS_3

"Pak May, lontong pecelnya sudah siap" ucap Fira sembari menyodorkan sepiring lontong pecel ke hadapan Juna.


Pagi ini adalah pagi pertama Juna menjabat status sebagai pemilik SMA Cendekia. Banyak hal yang harus ia urus untuk memajukan SMA itu. Sejak pukul enam pagi Juna mengurung diri di ruang kerjanya. Ia berkutat dengan berkas-berkas dan laporan yang ia terima dari Pak Zaini.


Juna baru menghentikan aktifitasnya ketika perutnya mulai perih. Ia melirik arlojinya. Kedua netranya langsung membola ketika jarum jam arlojinya menunjukkan pukul setengah sepuluh.


Juna langsung menelpon Pak Udin, meminta dikirimkan makanan dan minuman. Ia pikir Pak Udin sendiri yang akan mengantarkan sarapan Juna. Ia sedikit kaget ketika melihat Fira datang membawa nampan ke ruangannya.


"Bapak belum sarapan ya?" tanya Fira.


Juna mengangguk. Ia lalu meneguk teh hangat yang dipesannya kemudian mulai menyantap lontong pecelnya.


"Kamu mau?" tanya Juna.


Fira menggeleng.


"Tidak ada jam mengajar?" tanya Juna lagi.


Fira kembali menggeleng.


Juna tersenyum tipis. Sepertinya Fira benar-benar penasaran dengannya. Juna menyuruh Fira duduk di hadapannya. Daripada berdiri mematung seperti itu, lebih baik Fira duduk di hadapan Juna sembari menemaninya makan.


Fira tampak girang sekali. Ia langsung menarik kursi di hadapan Juna dan duduk dengan kedua tangan dilipat di atas meja.


"Kamu bukan anak SD, Fira. Kenapa tanganmu harus dilipat seperti itu?" tanya Juna.


Fira nyengir kuda.


Juna melanjutkan makannya. Ia berusaha cuek meskipun Fira menatapnya tanpa berkedip. Sebenarnya Juna heran, apa yang dilihat oleh Fira. Apakah Juna terlalu tampan sehingga mantan muridnya itu tidak bisa berpaling darinya?


Juna menyantap lontong pecelnya sampai habis. Ketika melihat Juna sudah selesai mengunyah, Fira buru-buru menyodorkan teh hangat kepada Juna.


Juna menerima teh hangat itu sembari tersenyum. Ia meneguk kembali sisa teh hangat miliknya sampai tandas.


Fira segera mengambil piring dan gelas bekas sarapan Juna. Ia lalu bangkit, hendak mengembalikan piring dan gelas itu ke warung Bu Udin.


"Fira!" panggil Juna.


"Iya, Pak May?."


"Setelah mengembalikan piring dan gelas itu, tolong ke sini lagi. Saya ada perlu" ucap Juna yang langsung dibalas Fira dengan anggukan kepala.


Juna kembali mengecek laporan dari Pak Zaini sembari menunggu Fira. Tak lama, Fira kembali muncul di ruang kerjanya. Juna langsung menyuruh Fira duduk.


"Pak May, ada perlu apa dengan saya?" tanya Fira.


Juna mengangguk.


"Saya ingin bertanya sesuatu. Saya harap kamu jawab dengan jujur."


"Bapak mau tanya apa?."


"Kamu anak Pak Narto?" tanya Juna langsung.


Fira langsung tersentak kaget mendengar perkataan Juna. Ia heran bagaimana Juna bisa tahu tentang ayahnya. Fira diam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa pada Juna.


"Jawab saja Fira! Yes or No" ucap Juna.


Fira mendengus kesal. Yes or No, katanya? Andai saja pertanyaannya maukah kau menjadi istriku? Pasti Fira akan langsung berkata Yes. Ia bukan tidak mau mengaku di hadapan Juna. Fira hanya tidak ingin ada orang asing yang mengetahui tentang keluarganya.

__ADS_1


"Fira? Mengapa melamun? Apakah pertanyaan saya sulit?" desak Juna.


"Maaf, Pak May, jika saya lama menjawab. Saya hanya tidak mau membahas perihal keluarga saya di sekolah" jawab Fira lugas.


"Kenapa?."


"Karena saya di sini kerja, bukan mengurus kartu keluarga. Eh?" Fira menutup mulutnya.


Juna tertawa. Ia tidak menyangka jika mantan muridnya itu lucu juga.


"Kamu tidak mirip dengan Diandra."


Deg!


"Bapak kenal Mbak Diandra?" tanya Fira kaget.


"Kenal. Diandra pernah menjadi rekan bisnis saya ketika di Surabaya. Dian mempunyai hotel kan di Surabaya?."


Fira mengangguk.


"Saya pernah menginap di hotel milik Dian selama seminggu. Kami berkenalan di sana" ucap Juna bohong.


"Katakan, apakah kau anak dari Pak Narto?."


Fira mengangguk.


"Kenapa kau tidak mirip dengan Diandra?."


"Kami beda ibu, Pak."


"Saya mempunyai hutang pada Diandra. Bisakah kau mengantarkanku untuk bertemu dengannya?" lagi-lagi Juna berbohong.


"Pindah? Dia membuka cabang hotel di sana?."


Fira menggeleng.


"Mbak Dian memilih pergi karena tidak mau rujuk dengan Mas Arya" ucap Fira lirih.


Deg!


Hati Juna seperti di cekik. Rujuk? Itu artinya Diandra dan Arya sudah bercerai. Juna langsung berkeringat dingin. Ingatannya tentang peristiwa panas mereka langsung muncul di kepalanya.


"Mereka cerai?" tanya Juna lirih.


"Benar, Pak. Mas Arya menjatuhkan talak 3 pada Mbak Dian."


"TALAK TIGA????" Juna berteriak mendengar ucapan Fira.


"Maaf, Pak. Seharusnya saya tidak menceritakan hal ini kepada orang luar. Ini aib keluarga kami" ucap Fira menunduk.


"Tidak! Tidak! Saya yang seharusnya meminta maaf karena memaksamu bercerita. Saya yang sudah tidak sopan bertanya tentang Diandra" ucap Juna buru-buru menenangkan Fira.


"Bapak tahu dari siapa jika saya adalah anak Pak Narto?" tanya Fira heran.


"Dari laki-laki yang berbicara denganmu di warung Bu Udin kemarin. Saya sempat mengobrol dengannya sebentar."


Juna sengaja tidak menyebut nama Suhri agar tidak terlihat dia mengorek informasi dari Suhri.


"Maaf, jika hal ini membuatmu tidak nyaman. Tapi saya memang ada keperluan dengan Diandra. Saya ada hutang padanya. Jika Diandra sudah berada di Bali, bisakah kau mempertemukanku dengan Pak Narto? Saya akan membayar hutang pada beliau saja" ucap Juna.

__ADS_1


Fira nampak berfikir sejenak. Juna gemas sekali melihat tingkah Fira yang tidak langsung mengiyakan permintaannya. Hampir saja Juna mendesak Fira lagi, sebelum akhirnya Fira mengangguk dan itu benar-benar membuat Juna senang.


Juna langsung mengajak Fira keluar dari ruangannya. Mereka berjalan menuju tempat parkir mobil Juna. Hari ini Lita memang mengirim sebuah mobil Honda Jazz edisi terbaru untuk Juna. Mobil itu adalah mobil paling pantas menurut Juna yang bisa ia pakai selama di kampungnya. Juna tidak mau terlalu wow dibandingkan dengan warga yang lain.


Juna dan Fira masuk ke dalam mobil. Banyak pasang mata memandang aneh kepada mereka. Juna tidak peduli. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya dan mulai menginjam pedal gas perlahan.


Mobil melaju. Fira yang duduk di samping Juna bertindak sebagai pemandu. Jalanan menuju rumah Fira memang tidak bagus. Juna akan mengirimkan surat protes kepada Bupati agar beliau lebih memperhatikan jalanan di desa.


Tepat tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Fira. Rumah itu mungil, bercat hijau daun dan memiliki halaman yang luas. Ada tiga pohon mangga di samping rumah itu. Selain itu, banyak sekali bunga-bunga yang ditanam di depan rumah Fira. Sungguh penampakan rumah mungil yang nyaman dan asri.


Fira segera mengajak Juna untuk masuk ke dalam rumahnya. Siang hari begini, Ibunya pasti sudah pulang dari ladang. Ibu Fira masih memiliki sepetak tanah yang dikelola sendiri.


Dari sanalah, mereka menyambung hidup. Meskipun kadang hasil panen yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Setidaknya mereka masih bisa makan dan tidak mengutang.


"Ibu, Fira pulang" seru Fira. Ia segera masuk mencari sosok Ibunya.


Juna yang merasa sebagai tamu, memilih duduk di luar. Ada kursi panjang yang bisa ia gunakan sembari menunggu Fira.


"Loh, ada tamu?" tanya Bu Tatik, Ibu dari Fira.


Juna bangkit dari duduknya. Ia kemudian menyalami Ibu Fira dengan sopan.


"Beliau Pak May, Bu. Pemilik sekolah yang baru" ucap Fira yang tiba-tiba muncul di belakang Bu Tatik.


"Pemilik sekolah? Astaga!!!! Fira, mengapa kau tidak menyuruhnya masuk? Bapak pemilik sekolah, mari masuk kedalam! Maaf, jika rumahnya kecil dan jelek" ucap Bu Tatik malu.


Juna tersenyum. Ia menolak untuk masuk. Juna lebih suka duduk di luar sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan kepalanya.


Bu Tatik langsung masuk ke dalam. Ia muncul kembali dengan nampan yang berisi banyak dengan toples kue kering. Ia meletakkan toples-toples itu di atas meja. Membuka satu-persatu tutup toples agar Juna bisa mencicipi kue kering buatan Bu Tatik.


Juna kelabakan. Ia tidak kuasa menolak ketika Bu Tatik tidak berhenti menyodorkan toples kue kepadanya. Kebiasaan warga desa di sini adalah mereka akan tersinggung jika tamu tidak mencicipi kudapan yang disediakan.


Juna sebagai tamu berusaha menghormati tuan rumah. Meski perutnya sudah kenyang, Juna tetap mengambil kue kering itu dan mencicipinya satu-persatu.


"Ibu, Pak May sudah kenyang. Beliau baru saja selesai makan. Sudah, jangan diteruskan!" Fira mengambil nastar yang hendak dimakan oleh Juna.


"Maaf, ya, Pak May. Ibu saya memang heboh kalau kedatangan tamu."


"Tidak apa-apa, Fir. Jangan dimarahi seperti itu ibunya" ucap Juna. Ia teringat akan Bu Tias saat melihat tingkah Bu Tatik.


"Pak May, kesini mau ketemu Bapak. Katanya ada urusan penting" ucap Fira sebelum ibunya bertanya mengenai kedatangan Juna ke rumahnya.


"Penting? Apakah suami saya ada salah?" tanya Bu Tatik cemas.


"Tidak, Bu. Saya hanya ingin membayar tanggungan. Saya ada hutang dengan Diandra."


Wajah Bu Tatik langsung masam ketika mendengar nama Diandra. Raut wajah tidak suka langsung ditampakkan oleh Bu Tatik.


"Anak itu ada hutang sama Bapak?" tanya Bu Tatik ketus.


"Tidak, Bu. Justru saya yang ada hutang dengan Diandra. Apakah boleh saya bertemu dengan Pak Narto?" tanya Juna sopan.


Bu Tatik mengangguk. Ia segera mengajak Juna masuk. Juna mengekori Bu Tatik menuju sebuah kamar yang terletak di belakang. Di belakang Juna, Fira mengekorinya. Sehingga ketika orang itu berjalan seperti sedang berbaris.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Kedua netra Juna melotot saat melihat sosok laki-laki tua yang berbaring di atas kasur.


"Di...di...dia Pak Narto?" tanya Juna tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2