HEI JUN

HEI JUN
35


__ADS_3

Pagi ini Dira kembali memanggil Edward ke ruangannya. Ia ingin tahu apa saja yang sudah Edward lakukan untuk mengupgrade penampilan Juna. Sejak kemarin banyak sekali notifikasi masuk ke dalam ponselnya yang menandakan jika Edward menggunakan kartu saktinya berkali-kali.


"Tuan memanggil saya?" tanya Edward sopan, seperti biasa ia akan membungkuk terlebih dahulu kepada Dira.


"Ya. Ceritakan apa saja yang kalian lakukan kemarin! Ponselku tidak berhenti berbunyi, mengabarkan jika kartu saktiku berkali-kali digesek" kata Dira dingin.


Edward kembali membungkuk.


"Pertama-tama saya membawa Mas Juna ke mall, membeli baju dan perlengkapan yang lain. Mas Juna hanya membawa baju yang dipakainya saja saat dia dibawa kesini. Itupun seragam kurirnya."


"APA???!!! Jadi kemarin dia berkeliaran di sini dengan memakai seragam kurir?" teriak Dira, tangannya sudah siap melempar sepatu ke arah Edward.


Edward kembali membungkuk. Ia paham akan kesalahannya.


"Lanjutkan!."


"Setelah itu saya mengantar Mas Juna ke salon. Di sana Mas Juna di make over selama dua jam."


"Apakah dia ada perubahan?" tanya Dira.


"Setidaknya wajah Mas Juna lebih segar, Tuan" sahut Edward yang dibalas anggukan kepala oleh Dira.


"Saya juga mendaftarkan Mas Juna di fitness center dan di beberapa tempat kursus seperti menyetir, komputer, Bahasa Inggris dan matematika. Setidaknya Mas Juna sudah bisa menguasai hal itu sebelum kita kirim ke New York."


"Bagus! Kamu memang bisa diandalkan. Apakah Juna sudah menempati apartemen, Ed?."


"Maaf, Tuan! Mas Juna kembali menempati mess. Saya berfikir mess adalah tempat terbaik untuk Mas Juna saat ini. Saya khawatir Mas Juna nyasar atau hilang jika dibiarkan tinggal sendirian di apartement."


"Benar juga. Ngomong-ngomong sepertinya saya membatalkan mengirim Juna ke New York" kata Dira.


"Ba... Ba... Batal? Kenapa Tuan?" tanya Edward kaget.


"Saya akan mengirimnya ke Spanyol saja. Disana saya baru membuka perusahaan baru, kerja sama dengan perusahaan milik Elang. Jadi setidaknya Juna bisa belajar dari nol di sana."


Edward mengangguk.


"Gue juga mikir-mikir kali, Ed. Masak iya perusahaan mateng mau dikasik ke Juna? Aduduh.... bisa-bisa gulung tikarlah perusahaan warisan bapak gueh" kata Dira yang tanpa sadar berubah gaya bicaranya.


"Saya paham Tuan."


"Yaiyalah, lu harus paham. Kalau lu nggak paham, gue pecat lu sekarang" kata Dira ngegas. Hal itu membuat Edward menghela nafas kesal. Dirinya harus selalu menyimpan stok sabar yang banyak menghadapi bos absurd seperti Dira yang kadang dingin, kadang panas, kadang gesrek dan kadang-kadang lainnya yang sering membuat Edward mengelus dada.


"Sekarang panggilkan Juna! Saya ingin melihat hasilmu menguras isi dompetku kemarin."


Edward mengangguk. Ia segera menelpon Juna agar segera datang ke ruangan Dira. Edward juga membelikan Juna sebuah ponsel mahal karena menurut Edward ponsel jadul Juna sudah waktunya dimuseumkan.


Tok... Tok... Tok...


Edward langsung menyuruh masuk. Juna muncul dari balik pintu. Ia berjalan menghampiri meja Dira dan ketika jaraknya semakin dekat, Juna berhenti melangkah. Ia membungkuk, memberi hormat kepada Dira sesuai dengan apa yang di ajarkan Edward kemarin.


"Hmmm" Dira hanya bergumam melihat penampilan baru Juna. Setidaknya wajah lusuhnya sudah lebih licin saat ini. Dira akan menyuruh Edward untuk membawa Juna ke salon setiap hari agar penampilan Juna tidak bulukan seperti kanebo kotor.


"Tuan Adira memanggil saya?" tanya Juna sopan. Lagi-lagi ia membungkuk, mengikuti ajaran Edward kemarin.


"Ya, saya memanggil kamu. Sudah makan belum????."


"Eh?" Juna yang awalnya dalam posisi siap seketika kaget melihat perubahan Dira.


"Su... su... dah" jawab Juna.


"Nggak usah gugup kaleee...." ucap Dira membuat Juna bergidik ngeri dengan tingkah Dira.


"Langsung ajalah. Saya lagi malas berbasa-basi. Duduk!."

__ADS_1


Juna mengangguk. Ia segera menarik kursi di hadapan Dira dan duduk sesuai perintah. Dilihatnya Dira nampak sedang berfikir sebelum memulai pembicaraan dengannya.


"Mas Juna, setelah saya pikir-pikir. Saya tidak jadi mengirim Mas Juna ke New York."


"Alhamdulillah...." sahutnya.


"Tapi ke Spanyol."


Deg...


"Spanyol???" tanya Juna kaget.


"Ya, kamu akan mengurus perusahaan baru saya disana. Perusahaan ini merupakan kerja sama antara perusahaan saya dan Elang."


"Elang? Burung?" tanya Juna polos.


Plak...


"Bukan, Junaaa...! Elang itu nama calon suami Kiara" kata Dira sembari menimpuk Juna dengan gulungan kertas.


"Kamu akan dikirim ke sana setelah menyelesaikan training di sini. Minimal tiga bulan, maksimal satu tahun."


"Selamanya saja Tuan. Saya nggak keberatan kok" celetuk Juna.


"Juna...!!!" lagi-lagi Dira melempar gulungan kertas ke arah Juna. Ia kesal sekali karena Juna susah diatur.


"Dengar...! Kamu mendapatkan perusahaan di Spanyol. Tugasmu mengelolanya, jangan sampai bangkrut! Kalau bangkrut, saya kirim kamu ke antartika buat jadi relawan pinguin" kata Dira dengan kedua mata yang sudah melotot.


Juna menunduk.


"Berikan KTP kamu! Edward akan mengurus segala administrasi atas namamu."


Juna mengangguk. Ia mulai takut membantah Dira karena ancaman Dira yang selalu di luar nalarnya. Juna segera mengambil dompetnya, mengambil KTP dan menyerahkan kepada Dira.


Dira menerima KTP Juna. Dahinya langsung berkerut ketika melihat nama asli Juna. Ia bahkan meminta kacamatanya khawatir jika kedua netra Dira mulai rabun.


"Iya, Tuan. Kenapa?"


"Ya ampun, Juna...!!! Nama ini mana cocok kalau dibawa ke Spanyol. Yang ada nanti kamu jadi bahan ghibah karyawan di sana. Masak iya nama karyawannya Ferguso, nama bosnya Ahmad Junaidi? Ya nggak cocok kali" jawab Dira kesal.


Juna diam. Ia membiarkan Dira ribut sendiri. Pasalnya Juna sendiri tidak mengerti dimana letak masalah yang diributkan Dira. Toh selama ini memang namanya Ahmad Junaidi, masak iya mau diganti Junaido?


"Saya tidak mau tahu. Kamu harus ganti nama, Juna. Edward, buatkan nama yang bagus untuk Juna."


"Tidak usah, Tuan...." tolak Juna.


"Tidak ada penolakan! Edward, cepat buatkan nama yang bagus buat Juna!" teriak Dira.


Edward langsung berfikir.


"Juan Carlos."


"Bodoh! Namanya Juna bukan Juan. Cari lagi!."


Edward kembali berfikir.


"Alexander Juna."


"Nggak! Namanya mirip Om nya si Elang. Cari lagi!"


"Emm....Emm... " Edward berfikir keras. Mencari gabungan nama yang cocok untuk Juna.


"Lama....! Kau benar-benar minta dipensiunkan, Ed. Biasanya kau cepat sekali dalam bertindak. Cari nama saja nggak dapat-dapat" omel Dira persis seperti emak-emak yang mengomel karena harga sembako naik.

__ADS_1


"Saya akan buat sayembara. Perintahkan seluruh karyawan disini untuk membuat nama yang bagus untuk Juna. Saya tunggu dua jam dari sekarang. Kirim lewat email! Bagi yang terpilih, saya beri hadiah sepulu juta."


Deg


Juna langsung melotot mendengar perkataan Dira. Sepuluh juta? Sepenting itukah nama Juna harus ganti sampai-sampai Dira membuat sayembara seperti itu? Uang sepuluh juta, bukan nominal yang kecil dan Dira dengan entengnya menjadikan itu sebagai hadiah?


Andai saja boleh memilih, Juna lebih suka di Jakarta saja. Tidak perlu ganti nama. Tidak perlu jauh-jauh pindah. Juna ingin sekali protes, tapi ia takut. Nyalinya langsung ciut jika melihat Dira sudah melotot ke arahnya.


Dua jam kemudian, Edward membuka laptopnya untuk memeriksa email. Benar saja dalam sekali klik ribuan email masuk berisi saran nama yang cocok untuk Juna. Edward benar-benar tidak menyangka jika karyawannya sangat antusias mengikuti sayembara yang dibuat Dira.


"Bacakan, Ed! Saya akan mengomentari" perintah Dira yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Edward.


"Baiklah Tuan, saran nama yang pertama Den Bagus Junaisia."


"Tolak! Kurang kebarat-baratan."


"Sir Juna Alexander."


"Tolak! Nanti dipikir keturunan bangsawan Inggris."


" Aiman Juna Panjaitan."


"Tolak! Juna orang madura, kenapa malah diberi nama batak."


Edward terus membaca saran nama yang masuk. Hingga seribu nama lebih, Dira masih saja menolak usulan nama dari karyawannya. Dira yang kesal memilih mengambil alih laptop milik Edward dan membacanya sendiri. Lama ia memindai nama-nama itu satu-persatu. Hingga akhirnya ujung bibir Dira tertarik ke atas mengakhiri pergerakan jarinya mengulur kursor laptop.


"Mayjuna July Agustino" ucap Dira membuat Edward dan Juna menoleh bersamaan.


Edward segera menghampiri Dira. Ia menatap layar laptopnya yang menampakkan sebuah nama, hasil kiriman salah satu karyawannya dari divisi pemasaran.


"Bagus kan, Ed?" tanya Dira bangga.


Edward tidak menjawab. Ia merasa ada yang janggal dengan nama itu. Edward membaca nama itu berkali-kali hingga akhirnya ia tersadar dari mana nama itu berasal.


"Tuan, menurut saya jangan pakai nama itu."


"Kenapa hah??? Ini namanya bagus lho. Mayjuna July Agustino. Tidak kampungan dan berbau espanyola. Juna pasti akan jauh dari sial kalau mengganti namanya menjadi seperti ini" sahut Dira bangga.


"Tapi Tuan, nama itu lebih mirip dengan nama-nama bulan yang digabung menjadi satu."


Brakk


Dira memukul meja. Ia tidak terima dengan alasan Edward. Dira mengklaim dirinya sebagai orang yang berselera tinggi. Mana mungkin Dira tidak tahu nama yang bagus dan nama yang jelek?


"Jadi kau tidak setuju, Ed?."


Edward diam.


"Kamu pikir kamu itu Papaku hah? Aku tidak peduli kamu setuju atau tidak. Pilihanku jatuh pada nama ini. Sayembara selesai" kata Dira memutuskan sepihak.


"Tapi Tuan Dira juga bukan bapak saya. Jadi tidak berhak mengganti nama saya" cicit Juna.


Dira langsung mendelik ke arah Juna. Juna yang mendapat tatapan horor seperti itu langsung menunduk dan meminta maaf atas ucapannya.


"Dengar kalian berdua! Kau, Junaidi, tidak berhak menolak apa yang aku putuskan karena kau penerima hadiah dariku. Dan kau Edward, kau juga tidak berhak karena kau bukan atasanku. Paham kalian?" gertak Dira.


"Paham, Tuan" cicit Edward dan Juna bersamaan.


"Edward, sekarang kau urus masalah perubahan nama Juna. Sekalian beri hadiah sepuluh juta kepada pemenang sayembara ini."


"Baik, Tuan!" jawab Edward sembari membungkuk.


"Dan kau, Mayjuna July Agustino. Kembali ke posisi semula. Belajar yang rajin agar kau bisa segera ku kirim ke Spanyol."

__ADS_1


"Baik, Tuan!" jawab Juna dan ia segera berlalu meninggalkan ruangan Dira bersama Edward.


Juna menghela nafas panjang. Ia melangkah dengan gontai. Baru tiga hari Juna berada di Jakarta, ia sudah tidak betah. Juna tidak sanggup jika berada di bawah kendali seorang Dira yang selalu memerintah sesuai kehendaknya tanpa bisa ditolak. Juna ingin kembali saja ke Pare, menjadi pengantar paket yang memecah jalanan setiap hari. Hati senang, beban ringan. Tidak tertekan seperti sekarang.


__ADS_2