
"Semalem pulang bareng siapa?" Bu Tias langsung mengintrogasi Juna ketika melihat Juna baru keluar dari kamar.
Juna tak langsung menjawab melainkan melirik sebentar ke arah Bu Tias sembari berfikir jawaban apa yang harus ia berikan agar dirinya aman dari introgasi Bu Tias selanjutnya.
"Teman, Mak."
"Oh, teman! Terus motormu kemana?" tanya Bu Tias lagi.
"Masuk bengkel, Mak. Kemarin pecah ban."
"Oh, masuk bengkel! Ngomong-ngomong temanmu orang mana kok kata orang-orang kamu diantar naik mobil? Bagus juga mobilnya" tanya Bu Tias semakin penasaran.
Juna menarik nafas. Pagi-pagi bukannya sarapan nasi goreng malah sarapan pertanyaan. Juna bukannya tidak mengerti. Semakin lama pertanyaan Bu Tias pasti akan menjurus kepada masalah pendamping. Kalau sudah begitu Juna bisa apa?
Ia juga penasaran bagaimana Bu Tias bisa tahu jika dia diantar dengan mobil? Bu Tias sudah terlelap saat Juna tiba di rumahnya semalam. Kapan Bu Tias sempat mendapat info seperti itu? Tetangga mana sih yang ember dan kepo tentang hidup Juna ?
Bu Tias yang akhir-akhir ini semakin cerewet dengan kadar kepo yang tinggi membuat Juna ketar-ketir jika berhadapan dengannya. Seperti sedang disidang padahal Juna tidak melakukan kesalahan apa-apa.
"Kenapa diam?" tegur Bu Tias membuyarkan lamunan Juna.
"Eh, Juna nggak tau, Mak. Guru baru di sekolah. Juna juga sebatas kenal aja. Kebetulan kemarin motor Juna dibawa ke bengkel milik Om nya, dia ada di sana. Jadi ya dia nawarin nganterin Juna, Mak."
Bu Tias yang sedari tadi sibuk di dapur, kini berjalan menghampiri Juna. Juna mengernyitkan dahi ketika melihat Bu Tias membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas air.
"Baru juga dibatin. Eh ternyata dibuatin beneran" sorak Juna dalam hati.
Bu Tias memang tidak biasa memasak pagi-pagi. Beliau biasanya langsung pergi ke rumah Bu Hindun karena beliau bekerja di sana sebagai pembantu.
"Kata Bu Hindun kamu diantar gadis cantik. Kalah jauh dengan Diandra. Jun, dekati terus gadis itu! Kalau perlu ajak ke rumah. Ingat waktu tiga bulanmu mencari jodoh terus berjalan" ucap Bu Tias membuat Juna tersenyum masam.
"Emak nggak berangkat ke rumah Bu Hindun?."
"Sebentar lagi, Emak masih mau ngomong sama kamu."
"Juna buru-buru takut terlambat, Mak. Nanti malam saja, ya Mak."
"Tapi ini penting! Penting sekali" kata Emak masih mencoba menahan Juna di rumah.
"Nanti saja ya, Emak. Juna harus ke bengkel dulu buat ambil motor. Juna takut terlambat. Tidak enak dengan Pak Zaini. Juna berangkat, Mak."
Juna buru-buru mencium tangan kanan Bu Tias dan langsung kabur tanpa sempat menyantap sarapannya.
"Hufft.... nasib - nasib!!! pagi - pagi sudah disidang. Mana belum sempat sarapan lagi" gerutu Juna dalam hati.
Juna berjalan dengan cepat menuju gapura depan. Ia akan menunggu angkot warna putih yang melintas. Biasanya jam segini sudah ada angkot putih yang beroperasi karena banyak pelajar yang memakai jasanya.
"Pak Juna...!!!"
Deg
Juna menoleh ke arah sumber suara. Kedua netranya hampir copot melihat Lia sedang berdiri di depan mobilnya. Juna diam tak bergeming. Ia masih tidak percaya jika gadis yang dilihatnya adalah Lia.
"Hai, Pak juna! Ada jadwal jam pertama kan?" tanya Lia.
Juna mengangguk.
"Ayo, bareng gue aja!" ajak Lia.
__ADS_1
"Eh... beneran?" tanya Juna tidak percaya.
"Yaiyalah, Pak Juna. Gue tahu motornya Pak Juna masih di bengkel. Jam segini bengkelnya belum buka. Makanya gue kesini buat jemput, Pak Juna. Kenapa? nggak mau? apa ada yang ngamuk kalau gue jemput?" kata Lia.
"Eh... tidak apa-apa kok Lia. Kamu baik sekali. Terima kasih ya sudah repot-repot menjemput saya. Harusnya kan saya yang jemput kamu, ini malah terbalik" kata Juna malu-malu.
Lia mengibaskan tangannya, memberi kode agar Juna segera masuk ke dalam mobilnya. Juna yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu, tentu saja langsung berlari menuju mobil Lia. Namun, baru saja tangan ini memegang knop pintu mobil. Juna mendengar seseorang kembali memanggil namanya.
"Junaaaaaa.....!!!!."
Bruggg
"Wadawwww....!!!" teriak Juna.
Diandra tiba-tiba berlari dan menubruk tubuh Juna dari belakang. Sialnya lagi, tangan laknatnya malah langsung mencengkram belalai Juna dengan keras. Juna meringis menahan sakit. Bagaimana Juna tidak meringis, jika barang berharganya dipegang seperti itu? Tiba-tiba lagi, tanpa permisi terlebih dahulu.
Juna yang kaget sekaligus kesakitan, langsung saja reflek memukul tangan Diandra. Ia menghempaskan kedua tangan Diandra dengan kasar. Juna memutar badannya dan melangkah ke kiri untuk menjaga jarak dengan Diandra
"Apa - apaan kamu, Di???" bentak Juna gusar.
Diandra tidak menjawab. Ia malah tersenyum dan berjalan mendekati Juna. Juna mengumpat dalam hati, kenapa harus muncul wanita ini? Kemana urat malunya ? Tindakan Diandra barusan adalah suatu pelecehan yang ia lakukan terhadap Juna.
Saat ini Juna sedang di pinggir jalan raya, banyak abang becak dan sopir angkot putih yang sedang mangkal. Juna pasti sedang menjadi pusat perhatian mereka. Di tambah lagi ada Lia yang sedang menunggu Juna di mobilnya. Sungguh insiden barusan membuat Juna semakin malu saja.
"Sayang.... aku kangen sama kamu" Diandra langsung memeluk Juna dengan tangan kirinya sedangkan tangannya mengusap belalai Juna yang sudah mulai bereaksi.
"Sial....!!! Pakai bangun segala. Dasar Diandra tidak tahu malu. Bisa-bisanya ia berbuat hal menjijikan di tempat umum seperti ini" umpat Juna dalam hati.
Juna kembali memukul tangan Diandra dan mendorong tubuhnya dengan keras.
"Sadar, Di!!! Apa yang kamu lakukan barusan?? Kamu ini istri orang. Jangan membuatku terkena masalah lagi. Aku tidak mau ribut dengan Arya dan Pak Narto" bentak Juna keras.
Diandra hendak melangkah mendekati Juna. Namun, Juna cepat-cepat menatapnya dengan tajam sehingga Diandra mengurungkan langkahnya.
"Dengarkan baik-baik!!! Sejak kamu lebih memilih meninggalkanku dan menikah dengan Arya, aku sudah tidak ada rasa denganmu. Rasaku sudah mati. Kau sendiri yang mengatakan jika Arya jauh lebih baik dari aku. Jauh lebih tampan dari aku. Jauh lebih kaya dari aku" kata Juna penuh emosi.
"Tapi punya dia kecil. Lebih besar punyamu, Sayang. Upssss!!!" Diandra menutup mulutnya yang keceplosan.
Ucapan Diandra tadi sontak membuat orang-orang tertawa kencang.
"Astaga.... Diandra!!!" pekik Juna. Ia benar-benar tidak menyangka jika gadis polos yang menjadi pacarnya dulu berubah menjadi error begini.
Juna bergegas masuk ke dalam mobil Lia. Ia melirik ke kaca spion mobil, nampak Diandra masih saja mengejar Juna. Diandra benar-benar tidak putus asa. Ia mengetuk - ngetuk kaca mobil sambil berteriak memanggil Juna.
Lia yang sepertinya juga jengah dengan tingkah Diandra, akhirnya menurunkan kaca mobil di samping Juna. Ia memberi kode agar Juna berbicara pada Diandra dulu sebelum akhirnya mereka berangkat.
"Pulanglah, Di. Aku harus bekerja!!!" bentak Juna.
"Tidak mau, Jun. Aku masih ingin bersamamu" Diandra merengek seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan oleh ibunya.
"Kau sendiri yang meninggalkanku dan memilihnya. Kalau masalah miliknya yang kecil, bawa saja ke Mak Erot atau pompa ke bengkel sebelah. Aku yakin nanti akan besar sendiri" ucap Juna kesal kemudian ia menekan tombol untuk menutup kaca jendela mobil.
Lia yang paham segera melajukan mobilnya. Sungguh Juna benar-benar tidak enak hati kepada Lia. Juna menjadi bingung harus berbicara apa mengenai Diandra yang tiba-tiba memeluknya. Juna takut jika Lia berfikir yang tidak-tidak dan berubah menjadi tidak simpati lagi pada Juna.
"Mppphhhfffft......."
Juna menoleh ke arah Lia. Juna melihat wajah Lia merah padam. Lia juga menggigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
"Lia, kamu kenapa?" tanya Juna cemas.
"Mmmppphhhhttt.... hahaaa... ha... ha... Pak Juna... itu... pacarnya... kocak banget sih??? Sumpah gue dari tadi nahan ketawa liat tingkahnya" kata Lia sembari menghapus air mata di kedua netranya.
"Dia bukan pacar saya. Dia istri orang."
"Gue tahu, Pak. Kayaknya dia nyesel milih ninggalin Pak Juna. Punya lakinya kecil. Ha...ha...ha... bar-bar banget tuh cewek. Pak Juna nggak ngilu ya diremes begitu kayak tadi?" tanya Lia dengan tawa yang masih belum reda.
"Saya jijik, Lia" kata Juna membuat tawa Lia berhenti.
"Loh kenapa jijik? Emang dulu nggak sempet, hah ???" tanya Lia, ia menoleh sebentar ke arah Juna sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Sempet apa, Lia? Kamu masih kecil jangan bicara aneh-aneh."
"Dih... mentang-mentang Pak Juna udah tua malah ngatain gue anak kecil. Gue udah 22 tahun, Pak. Udah ngerti masalah begituan. Temen-temen gue udah banyak yang nggak perawan."
"Eh.. benarkah?."
"Bener dong. Kota besar, Pak. Biasa... cinta satu malam. Habis main langsung kelar. Ha...ha.. ha..." kata Lia kembali tertawa.
"Kalau kamu masih per..." Juna hendak bertanya tapi ia urungkan karena Juna merasa pertanyaannya kurang sopan.
"Masih, Pak. Masih. Meski gue tumbuh di kota besar, gue nggak suka kelayapan kok. Lebih suka ngerjain PR atau dagang roti goreng. Hahaha..."
"Duh... manis sekali. Benar-benar calon istri idaman" ucap Juna.
"Idaman siapa?."
"Saya."
"Eh???."
Juna dan Lia sama-sama kaget. Mereka saling menatap beberapa detik dan Lia tersadar jika mereka sudah tiba di sekolah.
"Sudah nyampek, Pak" kata Lia canggung.
"Terima kasih, ya Lia" ucap Juna tak kalah canggung.
Mereka masuk ke sekolah bersama-sama . Di sepanjang perjalanan, banyak mata melihat ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Pastilah nanti akan timbul gosip antara Juna dan Lia karena murid dan guru SMA Cendekia sama saja. Suka bergosip dan suka mengurusi kehidupan orang.
Juna melirik ke arah Lia yang terlihat cuek dengan situasi seperti ini. Beberapa kali ia melemparkan senyumnya kepada murid yang menyapanya. Mungkin memang seperti itu watak Lia sesungguhnya. Cuek dan santai.
"Hani.... !!! Wah, lu dateng bareng Juna???."
Andika langsung mengoceh ketika Juna dan Lia masuk ke ruang guru. Juna segera berbelok ke tempat dudukku, khawatir menjadi pengganggu diantara mereka.
"Yang lu liat bagaimana?."
"Nggak gimana-gimana sih. Eh lu bawa mobil kan? Gue pinjem dong, mau nganterin barang ke cafe. Gue nggak bisa kalau bawa motor. Banyak banget soalnya" kata Dika yang dibalas delikan tajam Lia.
Juna sedikit kaget mendengar Dika yang mengubah gaya bicaranya mengikuti Lia. Namun, Juna menutupi hal itu dengan pura-pura membaca berita di koran.
"Pakai aja!! Gue duluan, ada jam" kata Lia. Ia memberikan kunci mobilnya kepada Dika kemudian berlalu meninggalkan ruang guru.
Juna kembali kaget melihat Lia yang gampang sekali menyerahkan mobilnya kepada Dika. Berbagai pertanyaan muncul di otak Juna.
Apakah memang watak Lia yang baik hati? Atau mereka memang dekat sehingga Lia segampang itu meminjami Dika mobil? Lia belum seminggu mengajar Di SMA Cendekia. Bagaimana mungkin Lia dan Dika bisa seakrab itu? Sedekat apa sih hubungan mereka sekarang?
__ADS_1
Sepertinya Juna harus bertanya langsung kepada Dika tentang hubungan mereka. Jika memang Dika mengincar Lia, Juna harus segera menghadangnya. Juna tahu seperti apa playboy bernama Andika itu. Ia tidak hanya akan menyakiti Lia tetapi akan merusak rencana Juna untuk mendekati Lia.