
Alunan lagu Panah Asmara yang dinyanyikan oleh Afgan mengalun indah menemani Juna yang sedang fokus mengemudi. Mobil toyota rush yang dipinjam Juna dari kantor melaju perlahan memecah jalanan ibu kota yang sedang tidak lenggang. Berkali-kali Juna harus menghentikan laju mobilnya. Entah karena lampu merah atau ada mobil yang hendak putar arah.
Meski lalu lintas yang dilewati Juna tidak baik-baik saja. Namun, wajah Juna tidak menampakkan kekesalan sedikitpun. Juna malah menampilkan senyum menawannya yang ia pelajari saat di Barcelona.
Juna nampak sangat bahagia. Berkali-kali Juna bersenandung, ber du di du di dam, mengikuti Afgan yang sedang bernyanyi. Jangan heran jika Juna hanya mampu ber du di du di dam. Karena ia memang tidak tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan. Hanya kata panah asmara yang bisa Juna tirukan, itupun karena diulang berkali-kali.
Mobil terus melaju dengan kecepatan standart. Pagi ini Juna akan menuju rumah sakit tempat Athalia bertugas. Ia akan memberi kejutan kepada dokter cantik itu. Juna sudah membeli beberapa oleh-oleh untuk Atha, mulai dari cokelat, boneka beruang yang besar dan beberapa gaun.
Oleh-oleh itu sudah Juna persiapkan satu minggu sebelum kepulangan Juna ke Jakarta. Juna tidak sabar melihat wajah ceria Athalia ketika menerima oleh-oleh darinya. Pasti gadis itu akan senang sekali, begitu pikir Juna.
Entah dorongan dari mana. Juna merasa ada yang kurang dengan oleh-oleh itu. Juna memperlambat laju mobilnya. Ia berharap menemukan toko bunga di sekitar jalan yang ia lalui.
Benar saja, beberapa ratus meter kemudian. Juna melihat toko bunga yang sedang ramai di kunjungi pembeli. Juna segera menepikan mobilnya. Ia membeli sebuket mawar merah untuk Atha. Tak lupa Juna juga meminta bunga itu diberi tulisan. Setidaknya sebuah kalimat romantis yang bisa membuat Athalia klepek-klepek saat membacanya.
Usai membeli bunga, Juna kembali melajukan mobilnya. Kali ini jalan yang ia lalui agak sepi sehingga Juna bisa menambah kecepatannya. Rumah sakit tempat kerja Athalia sudah dekat. Juna semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.
Tiba di rumah sakit, Juna sadar akan sesuatu. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam otaknya. Apakah Athalia masih bekerja di sini? Apakah Athalia sedang bertugas hari ini? Apakah Athalia masih ingat dengannya?
Ah, terlambat! Harusnya Juna menghubungi Atha terlebih dahulu untuk memastikan keberadaannya. Namun, Juna kembali tersadar jika ponselnya dilempar ke sungai oleh Dira karena kesal pasca penggerebekan Edward dan Lily.
Huh...! Juna menarik nafas panjang. Sepertinya dia akan modal nekat saja. Juna langsung keluar dari mobil, bergegas berjalan menghampiri security yang sedang berjaga di depan.
"Pak satpam! Pak, boleh bertanya?" sapa Juna.
Satpam itu mengangguk.
"Saya mau tanya apakah dokter Athalia masih bertugas di sini?."
Satpam itu diam sejenak kemudian mengangguk lagi.
"Syukurlah! Apakah Dokter Athalia sedang bertugas sekarang?" pertanyaan ketiga Juna di jawab gelengan kepala oleh satpam itu.
Juna langsung kecewa.
"Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya jaga di luar. Kalau Bapak mau tahu silakan tanya orang di dalam" ucapan satpam itu kembali membuat Juna sumringah.
Juna langsung masuk ke dalam, hendak bertanya kepada petugas rumah sakit yang sedang bertugas di bagian pendaftaran. Untung saja ia teringat kisah konyol bos absurdnya. Juna memilih menghampi perawat yang kebetulan melintas di hadapannya.
"Mbak suster, maaf menganggu sebentar?" tanya Juna sopan.
"Ya, ada apa?."
"Saya mau bertanya apakah Dokter Athalia sedang bertugas sekarang? Saya ingin bertemu dengan beliau dan sialnya ponsel saya ketinggalan sehingga tidak bisa menghubungi beliau" ucap Juna berbohong sedikit tak apa lah demi masa depan yang cerah.
"Dokter Athalia sedang ada jadwal operasi. Mungkin setengah jam lagi selesai" jawab perawat itu.
"Saya boleh minta tolong?."
Perawat itu diam sejenak, lalu ia mengangguk.
"Tolong sampaikan pesan saya kepada Dokter Athalia jika calon suaminya sudah menunggu di kantin" ucap Juna asal.
__ADS_1
"Calon suami?" perawat itu terkejut. Kedua netranya langsung memindai penampilan Juna dari atas ke bawah. Perawat itu memberi nilai 9,2 dari 10 pada Juna.
"Athalia biasanya makan di stand apa?" tanya Juna.
"Biasanya dokter akan duduk di meja nomor 9. Meja itu sudah dipesan oleh bu dokter sehingga tidak ada yang berani duduk disana" kata perawat itu menerangkan.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu di meja nomor 9. Tolong sampaikan kepada Athalia, calon suaminya yang tampan dan dermawan sedang menunggunya" ucap Juna yang entah mengapa dirinya semakin narsis dan over PD. Mungkin saja pengaruh dari Dira yang notabene adalah maha gurunya.
Juna segera pamit dari hadapan perawat itu. Ia kembali ke mobilnya, mengambil oleh-oleh untuk Athalia. Juna yang memang pernah beberapa kali ke rumah sakit ini, sudah hafal dimana letak kantin. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit.
Sesampainya di sana, Juna langsung menuju meja nomor 9. Awalnya Juna ditegur oleh pihak kantin karena memakai tempat itu. Namun, Juna segera memberi pengertian bahwa ia akan makan siang dengan dokter Athalia. Tak lupa Juna menyelipkan beberapa lembar uang Euro kepada orang itu agar segera pergi.
Bukan apa-apa, Juna ingin merancang meja itu sedemikian rupa. Juna menata barang-barang yang ia bawa serapi mungkin. Juna mendudukkan boneka beruang di salah satu kursi sebagai perwakilan dirinya yang sedang menunggu kedatangan Atha.
Juna sendiri memilih duduk di tempat yang agak jauh dari meja nomor 9. Ia sengaja ingin membuat kejutan untuk Athalia.
Satu jam kemudian, kedua netra Juna membulat ketika melihat sosok Athalia sedang berlari menghampiri meja nomor 9. Atha terlihat kebingungan ketika mendapati banyak barang di meja itu.
Juna segera bangkit dan berjalan menghampiri Atha. Tak lupa ia memegang buket bunga mawar yang tadi dibelinya di jalan.
"Hai, lama tidak bertemu!" sapa Juna. Ia berdiri tepat di samping Atha yang sedang sibuk membuka paper bag yang Juna letakkan di meja.
Athalia menoleh. Ia sedikit kaget melihat sosok laki-laki tampan yang berdiri sembari tersenyum ke arahnya. Atha memicingkan matanya. Ia merasa sedikit asing dengan sosok di hadapannya.
"Kamu siapa? Berani-beraninya kau mengaku sebagai calon suamiku!" terlihat kilat amarah terpancar di mata Athalia.
Juna tak menyahut. Ia menarik kursi kosong dan mendudukkan Athalia di sana. Tak lupa Juna menyerahkan buket bunga mawar itu kepada Atha.
"Hei, jawab pertanyaanku! Kenapa malah senyum-senyum? Nggak waras!" maki Atha.
"Aku tidak mengenalmu dan kau berani sekali mengatakan jika kau adalah calon suamiku. Memangnya kau siapa hah?" ucap Atha kali ini dengan nada suara yang agak tinggi.
Juna tak langsung menjawab. Ia melirik pergelangan tangan Atha. Sudut bibir Juna terangkat ketika melihat Atha memakai gelang yang ia berikan dulu.
"Kau melupakanku? Padahal aku tidak pernah sedetikpun melupakanmu" ucap Juna.
"Jangan bertele-tele, Pak! Saya tidak kenal Anda."
"Kalau dengan orang yang memberikan gelang itu, Anda kenal?" Juna menunjuk gelang di pergelangan tangan Atha. Ia lalu menunjukkan gelang biru pemberian Atha saat pertama kali mereka bertemu.
"Kau?."
"Siapa?."
Athalia tidak dapat menjawab pertanyaan Juna. Ia antara yakin dan tidak yakin untuk menyebutkan satu nama.
"Siapa aku?" ulang Juna.
"Juna? Tapi..."
"Kenapa?."
__ADS_1
"Wajahmu tidak seperti Juna. Kau bukan Juna. Juna tidak sepertimu" sangkal Atha.
"Kalau Juna tidak sepertiku, lalu Juna seperti apa?."
"Juna....."
"Jelek, hitam, jerawatan, bulukan dan satu lagi TIDAK PEKA" sambar Juna. Ia sengaja menekankan dua kata terakhir itu.
"Aku Juna. Ahmad Junaidi yang sudah berganti nama menjadi Mayjuna July Agustino."
Athalia langsung memukul bahu Juna. Ia benar-benar yakin jika di hadapannya adalah Juna. Atha memang takjub dengan penampilan Juna yang baru, benar-benar berbeda.
Berkali-kali Atha memukuli Juna, melampiaskan rasa kesal dan gemasnya. Apalagi postur tubuh Juna saat ini sangat nyaman dijadikan samsak, sehingga Atha ketagihan untuk memukuli Juna.
"Hei, sayang! Berhentilah memukuliku! Apakah begini caramu menyambut calon suamimu hah?" tanya Juna.
"Jangan asal ngomong, Jun! Ucapanmu tadi berhasil membuat heboh orang-orang di ruanganku" ucap Atha kesal.
"Hei, aku tidak asal bicara. Hari ini aku datang kesini untuk melamarmu. Wahai Nona Athalia yang cantik, maukah kau menikah denganku?" ucap Juna.
Plak.
Atha melemparkan buket bunga ke wajah Juna. Ia menganggap Juna tidak serius dan hanya mengerjainya saja.
"Jangan becanda, Jun!" ucap Atha ketus.
"Becanda? Aku tidak becanda. Hei, apa kau tidak melihat kesungguhan dalam ucapanku?."
Atha menarik nafas panjang. Rasanya sulit sekali menjawab pertanyaan Juna. Hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Masih ada satu nama yang terpatri di dalam hatinya. Meski Athalia mengalami penolakan akan cintanya. Namun, tidak terbesit dalam benaknya untuk membuka hati kepada Juna. Atha masih meyakini cintakan akan berlabuh kepada pujaan hatinya. Meskipun ia tidak tahu, kapan waktu itu akan datang.
"Apa kau masih mengharapkan laki-laki itu?" tanya Juna.
"Kau sudah bertemu lagi dengan laki-laki itu?" tanya Juna lagi.
"Atha, jawab aku! Apa kau sudah memberikan cintamu kepada laki-laki itu?."
"Stop, Juna! Stop! Aku sudah ditolak olehnya dan aku tidak akan membuka hati selain untuknya."
Deg.
Perkataan Athalia seperti serangan ribuan paku di hati Juna. Sakit. Sakit karena Athalia sudah jelas menolaknya. Sakit, karena melihat gadis yang diincarnya sedih karena cintanya ditolak.
"Kau akan menunggunya?" tanya Juna.
"Ya! Dan aku yakin kami akan bersatu" jawab Atha mantap.
"Bangunlah, Bu Dokter! Laki-laki itu sudah menolakmu. Kau sendiri pernah berkata jika dirimu bukan cenayang yang bisa melihat masa depan? Hei, lihatlah aku! Aku datang untuk menjadikanmu permaisuriku. Aku datang untuk memberikan cintaku. Atha, untuk apa kau masih mengharapkan laki-laki itu jika ada aku?."
"Jangan pernah berbicara cinta di hadapanku, Jun karena kau sendiri juga tidak tahu apa itu cinta! Kau sendiri masih bingung dengan perasaanmu. Kau hanya menjadikanku pelarian."
"Tidak! Aku serius. Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Tunggulah kedatanganku ke rumahmu! Aku akan melamar langsung kepada orang tuamu" ucap Juna lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Atha sendiri.
__ADS_1