
Lily memindai penampilan Atha dari atas sampai bawah. Ia mengumpat kasar di dalam hati karena menurutnya perempuan yang mengaku istri dari Juna itu benar-benar kampungan. Lily sangat heran bagaimana bisa Juna memilih perempuan seperti Atha? Tidak sexy, tidak cantik, dan dandanannya standart seperti mbak-mbak rumahan.
Lily merasa di atas angin. Jika ia mau hitung-hitungan, tentulah Lily menang telak. Bodynya yang semok bak gondola Mang Ujang adalah daya tarik yang tidak dimiliki oleh perempuan lain.
Lily memandang sinis ke arah Atha. Sepertinya ia akan mengintimidasi Atha agar merasa tidak percaya diri sehingga ia malu berada di samping Juna.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Atha sengit.
"Honey, apa benar dia istrimu? Aku tidak percaya jika seleramu turun drastis seperti ini" ejek Lily.
"Diamlah, Lily! Dia istriku dan jangan merendahkannya" tegur Juna.
Atha menarik tangan Juna.
"Ya, sayang?."
"Dia siapa? Mengapa menyebalkan sekali?" bisik Atha.
"Dia istrinya Pak Edward. Memang agak geser. Sudah jangan diambil hati!" bisik Juna.
"Kenapa kalian berbisik-bisik? Apakah kalian tidak bisa jika berbicara langsung di hadapanku?" gerutu Lily kesal.
"Lagipula apa kau tidak merindukanku? Kita sudah hampir dua tahun tidak bertemu. Aku rindu...."
"Lily...!!!" Edward segera berlari dan menarik tubuh Lily agar menjauh dari Atha dan Juna. Ia menatap kepada istrinya yang sepertinya sedang membuat ulah pada Juna dan Atha.
"Maaf, Pak Mayjuna dan Ibu! Apakah istri saya mengganggu kalian?" tanya Edward.
Lily berdecih ketika mendengar kata istri dari mulut Edward. Ia langsung membuang muka, mengacuhkan Edward yang terus mendelik ke arahnya.
"Mengapa kau ada di sini? Bukannya kau ada urusan di Madrid?" tanya Edward kesal.
"Awalnya aku akan berangkat. Tapi entah mengapa mobilku malah menuju ke sini. Aku pikir kenapa? Ternyata jodohku ada di sini" kata Lily sembari tersenyum lebar.
"Jaga ucapanmu! Pak Mayjuna sudah menikah. Apa kau buta hah? Istrinya ada di samping Pak Juna dan kau tidak menghormatinya" tegur Edward.
Atha mencengkram tangan Juna. Ia tidak terima jika Lily mengatakan Juna sebagai jodohnya. Andai saja tidak ada Edward, pastilah Atha akan menjambak rambut Lily. Jika perlu Atha akan merobek mulut Lily juga.
Juna yang paham jika istrinya sedang marah, segera meminta Edward untuk mengantarkan mereka ke hotel. Atha harus istirahat. Juna tidak mau mood istrinha menjadi jelek dan itu bisa membuat rencana honeymoonnya batal.
Edward mengangguk. Ia segera mengajak Juna dan Atha segera pergi meninggalkan restoran. Mereka mengacuhkan Lily yang sejak tadi memanggil nama Juna dan merengek minta ditemani.
Sesampainya di hotel, Edward segera pamit untuk kembali ke restoran. Edward juga paham jika pasangan suami istri itu butuh istirahat. Buru-buru ia mengucapkan selamat beristirahat dan bergegas kembali ke restoran.
"Wanita itu menyebalkan!" kata Atha ketika Juna menutup pintu kamar hotel.
"Apa hubunganmu dengannya, Mas? Mengapa dia memanggilmu honey? Apa dia mantan kekasihmu?" tanya Atha kesal.
Juna tak menjawab. Ia malah membuka retsliting baju istrinya. Atha jika sudah ngambek pastilah akan terus mengomel. Saat ini sedang tidak ingin berdebat. Ia ingin bikin anak saja.
Setelah semua kain yang menutupi tubuh istrinya terlepas. Juna langsung menggendong Atha ke kamar mandi dan menggarapnya di sana.
Usai bermain di kamar mandi, Juna memindahkan Atha ke kamar. Awalnya Juna hanya ingin bermain satu ronde saja. Namun, entah mengapa istrinya itu seperti sedang menggodanya. Atha yang biasanya diam dan pasrah, berubah menjadi genit dan sedikit agresif.
Jadilah ronde kedua tidak dapat diabaikan. Mereka bermain lagi hingga dua jam lamanya. Juna menyeka keringatnya, ia sudah lemas. Tumben sekali Athalia segar bugar meski sudah bermain dalam jangka waktu yang lama? Biasanya Atha akan selalu mengomel dan menyuruh Juna berhenti jika mereka bermain lebih dari satu kali.
"Sayang, ada apa denganmu? Mengapa kau berbeda malam ini?" tanya Juna dengan nafas terengah-engah.
"Apanya yang berbeda?" tanya Atha. Tangannya mulai menyentil-nyentil Tyrex Juna.
"Kamu seperti sedang bernafsu sekali. Apa kau minum sesuatu sehingga gairahmu tinggi?" tanya Juna heran.
"Tidak. Aku hanya marah saja" jawab Atha santai.
"Marah? Marah kepada siapa?" ucap Juna sedikit gelisah karena Tyrexnya kembali bangkit sedangkan dirinya sudah lelah.
__ADS_1
"Wanita bule tadi. Aku kesal padanya, Mas. Aku kesal. Andai saja tidak ada Pak Edward, aku sudah merobek mulutnya" kata Atha geram.
"Hei! Sejak kapan kau bar-bar seperti Kiara? Biasanya kau kalem dan tenang seperti ibu peri" tanya Juna heran.
"Sejak aku merasa dalam zona bahaya, Mas. Aku rasa banyak perempuan yang mengincarmu. Aku tidak boleh terlalu kalem. Pelakor ada di mana-mana. Aku tidak mau lengah dan kecolongan" ujar Atha dengan semangat membara.
Juna tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja pemikiran istrinya itu. Juna tidak merasa seperti itu. Mana ada yang mengincar Juna? Juna tidak merasa tampan seperti Dira. Juna tidak merasa banyak uang seperti Dira sehingga menurutnya tidak ada perempuan yang mau mengincarnya.
Juna memeluk tubuh polos istrinya. Ia menghujani wajah Athalia dengan kecupan bertubi-tubi.
"Istriku sudah mulai bisa cemburu hah? Lucu sekali kamu, sayang" ucap Juna.
"Apanya yang lucu? Aku bukan doraemon atau chibi maruko chan, Mas" jawab Atha ketus.
Juna kembali tertawa. Entah sekarang Juna merasa jika istrinya sudah tertular Dira. Apa mungkin Atha kesambet roh halus yang menyerupai Dira dan Kiara? Pasalnya setelah mereka melakukan pemotretan bersama, tingkah Athalia sedikit banyak mirip dengan kedua bos nya. Kadang Absurd kadang bar-bar.
"Mas...." rengek Atha.
"Hem...."
"Mau lagi."
"Apa?" tanya Juna kaget.
"Mau lagi..." ulang Atha.
"Apa kamu tidak capek, sayang? Si Tyrex sudah berkelana selama tiga jam lho" tanya Juna heran.
Atha menggeleng. Ia malah memainkan Tyrex Juna yang sudah berdiri. Kalau sudah begini bagaimana Juna bisa menolak? Ia akhirnya mengabulkan keinginan istrinya untuk bermain lagi meskipun Juna sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur.
***
Pagi menjelang. Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Juna yang terbangun terlebih dahulu bergegas ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya. Ia sedikit kaget mendapati banyak sekali tanda cinta pada tubuhnya. Juna menghitung berapa banyak Atha membuat maha karya semalam.
"Istriku jadi ganas begini" gumam Juna kemudian ia tertawa mengingat pergulatan mereka semalam.
Atha memang tidak pernah membuat tanda cinta di tubuh Juna. Saat mereka bercinta, selalu Juna yang berkreasi. Atha cenderung pasif dan pasrah. Juna kembali cekikikan. Sepertinya ia akan meminta kembang tujuh rupa kepada Edward dan membawa Atha untuk berendam di sungai.
Ceklek.
Juna keluar dari kamar mandi. Ia sudah berpakaian lengkap. Dilihatnya Atha yang masih bergelung dalam selimut. Ia membiarkan saja istrinya yang masih terlelap.
Juna menghubungi pihak hotel dan meminta agar diantarkan makanan. Sembari menunggu makanan datang, Juna mengambil ponselnya dan menghubungi Kiara.
"Halo, Nyonya Bos! Apa kabar?" tanya Juna.
"Mas Juna sehat? Tumben-tumbenan nelpon tanya kabar" jawab Kiara heran.
"Ah...Nyonya Bos kenapa heran begitu? Wajarkan kalau saya tanya kabar?" kilah Juna.
Kiara menggeleng, padahal Juna tidak bisa melihat jika Kiara sedang menggelengkan kepala.
"Mas Juna sudah sampai di Barcelona?" tanya Kiara.
"Sudah, Nyonya."
"Apakah Edward mendampingi kalian?."
"Iya, Nyonya Bos."
"Syukurlah. Aku merasa lega jika Edward mendampingi kalian. Tapi... Apakah di sana ada Lily?" tanya Kiara cemas.
"Ada, Nyonya. Kemaren saya sudah bertemu dengan dia."
"APA...??? MAS JUNA KETEMU LILY??? Mas Juna, Lily nggak macem-macem kan? Lily nggak bikin onar kan?" tanya Kiara cemas.
__ADS_1
"Tidak, Nyonya. Tidak. Nyonya tenang saja. Ada Pak Edward yang menjaga saya dari dia. Tidak perlu risau, Nyonya Bos" kata Juna berusaha menenangkan Kiara.
"Yasudah jika Lily tidak membuat onar. Jangan lupa datang ke acara pernikahan rekan bisnis saya. Cantumkan nama Sanjaya di belakang nama Mas Juna agar mereka tahu jika ada perwakilam dari saya yang datang" kata Kiara.
"Siap, Nyonya Bos. Anda tenang saja."
Kiara lalu memutuskan sambungan telepon. Juna segera meletakkan ponselnya di atas meja. Terdengar suara pintu diketuk. Juna bergegas untuk membuka pintu.
Ceklek.
"Honey.."
"Lily?" Juna langsung mendorong tubuh Lily agar tidak masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mau Atha tahu dengan kedatangan Lily yang tidak diharapkan.
"Mau apa kau?" tanya Juna. Saat ini mereka sedang berdiri saling berhadapan di depan pintu. Juna memang sengaja berbicara di luar. Ia tidak mau Atha terbangun dan mengamuk jika tahu Lily datang ke kamar mereka.
"Aku kangen kamu, honey" ucap Lily manja dan ia sudah siap mendaratkan kecupan untuk Juna.
Untung Juna langsung menghindar sehingga kecupan Lily nyasar ke pintu kamar hotel.
"Honey, kamu jahat sekali. Bibirku hampir jontor karena menubruk pintu" gerutu Lily.
"Salah sendiri main nyosor" gumam Juna. Ia terkekeh dalam hati.
"Honey, ayo temani aku sarapan! Sudah lama aku tidak menyuapimu."
"Tidak, Lily! Tidak! Apa kamu sudah gila hah? Aku sudah beristri dan kamu juga sudah bersuami. Berhenti mendekatiku!" usir Juna.
Lily menggeleng.
"No! Aku tidak menginginkan laki-laki itu. Yang aku inginkan cuma kamu, honey."
Lily yang sudah dilanda rindu menahun sudah tidak bisa mengontrol hatinya. Ia langsung memeluk Juna dengan erat, tidak peduli jika banyak orang yang melihat adegan mereka.
Juna memberontak, berusaha lepas dari pelukan Lily. Namun, bukannya lepas Lily malah semakin mengeratkan pelukannya.
Ceklek.
Atha muncul dari balik pintu. Ia yang geram melihat tingkah Lily langsung saja menarik rambut panjang Lily dan...
Byuurrrrrr.....
Tanpa rasa berdosa, Atha menyiram kepala Lily. Lily menjerit histeris. Ia basah kuyup seperti habis kejebur got.
"Sayang...." Juna langsung memeluk Atha. Melihat tampang mengerikan dari istrinya, membuat Juna takut.
Sebenarnya sejak tadi Atha sudah mengetahui jika Lily sedang menggoda Juna. Ia mengintip dari celah pintu kamar hotel. Atha sengaja mendiamkan Lily karena ia ingin melihat sejauh apa Lily berulah.
Barulah ketika melihat Lily memeluk Juna, Atha langsung naik darah. Ia mengambil teko berisi teh lalu menyiramnya kepada Lily. Atha kesal sekali melihat perempuan itu bersikap genit kepada suaminya. Atha ingin sekali menggaruk wajah Lily dengan garpu agar tidak kegatelan lagi terhadap Juna.
"Masuk!" perintah Atha pada Juna.
Juna langsung menurut. Ia ngeri juga melihat wajah Atha yang menyeramkan seperti itu. Juna langsung masuk ke dalam kamar, membiarkan Atha berdua dengan Lily.
"Apa suamimu tidak punya salep 99 sehingga kau gatal kepada suamiku hah?" tanya Atha setelah memastikan Juna masuk ke dalam kamar.
Lily mengernyitkan dahi. Pasalnya ia tidak paham tentang salep 99 yang dikatakan Atha.
"Jangan mendekati suamiku lagi! Aku bisa bertindak lebih kejam daripada itu."
"Kau pikir aku takut? Hahahahahaa... Tidak! Tidak sama sekali."
Plakkk
Atha menampar Lily. Pipi kiri Lily langsung merah terkena stempel telapak tangan Atha. Lily meringis kesakitan. Ia sedikit kaget karena tidak menyangka jika Atha akan menamparnya seperti itu.
__ADS_1
"Tamparan perkenalan. Kalau kau mengacuhkan ucapanku, aku pastikan kau akan mendapatkan lebih dari itu" ucap Atha dingin lalu ia masuk ke dalam kamar meninggalkan Lily seorang diri.