HEI JUN

HEI JUN
47


__ADS_3

Kiara berjalan mondar-mandir di dalam kamar rawat Juna dengan gelisah. Saat ini ia bertugas menjaga Juna karena Elang sedang berbicara dengan dokter yang menangani Juna. Sudah dua jam berlalu dan Juna belum juga memberikan tanda-tanda akan segera bangun.


Kiara menghela nafas panjang. Ia benar-benar heran. Mengapa Juna bisa seperti itu? Apakah Juna memiliki riwayat penyakit jantung? Atau Juna memang terlalu shock dengan tingkah Lily yang bringas seperti tadi?


Entahlah, Kiara juga tidak tahu jawabannya. Ia berharap Juna segera bangun dari pingsannya. Kiara khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Juna dan itu bisa saja menyeret Dira sebagai dalang dari acara pertunangan paksa itu.


Pintu kamar rawat Juna terbuka. Elang muncul dengan wajah datar. Kiara segera menarik tangan Elang dan membawanya duduk di sofa yang tersedia di kamar itu.


"Apa kata dokter?" tanya Kiara.


"Kondisi fisik Mas Juna tidak ada masalah. Dokter sudah mengecek organ dalam dan luarnya. Semua bagus."


"Kalau semua bagus, kenapa Mas Juna masih belum sadar?" lanjut Kiara lagi.


"Mas Juna mengalami shock dan dokter mendiagnosa ada trauma yang dialami Mas Juna sehingga tubuhnya memberikan reaksi seperti itu."


"Trauma? Maksudnya apa?" tanya Kiara tak mengerti.


"Dokter menduga Mas Juna pernah mengalami hal serupa. Hal buruk yang terekam kuat di memori otaknya."


"Apakah Lily pernah melakukan itu sebelumnya? Bisa saja Mas Juna trauma karena Lily sering menyerangnya dengan bringas. Kau tahu sendiri Mas Juna itu lugu sekali. Pantas saja Mas Juna selalu minta pulang ke Indonesia. Ia pasti ketakutan berada di dekat Lily" kata Kiara berasumsi.


Elang menggeleng. Meskipun sedikit-banyak asumsi Kiara bisa diterima oleh logikanya. Namun, entah mengapa hati Elang menolak untuk menyetujuinya.


"Aku yakin bukan itu. Lily tidak sebringas itu. Malah selama Elang mengenalnya, Lily cenderung pendiam dan pemalu. Dia hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja."


"Tapi fakta di lapangan menyebutkan bahwa Lily sangat agresif, Elang. Ara saja yang menonton di bawah hampir jantungan. Apalagi Mas Juna?."


Elang tak menyahut. Ia pun tidak bisa berkomentar dengan apa yang menimpa Juna.


"Kalau ada apa-apa dengan Mas Juna bagaimana?" tanya Kiara memecah keheningan diantara mereka.


"Mas Juna tidak apa-apa, sayang."


"Tapi dia belum bangun juga!."


"Lagi tidur kali. Kiara sayang, kamu jangan panik ya. Mas Juna tidak apa-apa. Nanti dia akan bangun sendiri" jawab Elang mencoba menenangkan istrinya.


Kiara bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali berjalan mondar mandir di samping brangkar Juna. Entah, dorongan dari mana. Kiara mengambil ponselnya dan langsung melakukan panggilan video dengan Dira.


"Halo, Kiara sarang burung. Disini Mr. Adira, CEO paling tampan dan rupawan. Ada yang bisa saya bantu?" Dira menjawab panggilan Kiara seperti seorang resepsionis. Dira tidak melihat jika wajah Kiara sudah bertanduk, mirip seperti gunung merapi yang mau meletus.


"Kadirrrrrr....!!!! Ini semua gara-gara elu...!!! Lu harus tanggung jawab!!!" teriak Kiara. Ia sudah menyalakan kilatan amarah di kedua matanya. Andai saja Dira berada di hadapannya, Kiara pasti sudah mencabik-cabik wajah Dira dengan garang.


"Heh, lagi PMS lu? Gue sambut dengan penuh cinta malah ngejawab dengan emosi."


"Gimana gue nggak emosi? Lihat itu! Ini semua gara-gara elu!!!! Lu harus tanggung jawab!" Kiara mengarahkan layar ponselnya pada Juna.


Dira menatap layar ponselnya dengan seksama. Dilihatnya seorang laki-laki sedang berbaring di atas brangkar.


"Eh, Juna ya? Kalian lagi dimana? Kenapa si Juna tiduran disitu?" tanya Dira heran.


"Tiduran kata lu? Kadir....! Mas Juna pingsan gara-gara tunangan sama Lily."


"Pingsan? Emang mereka habis ngapain?."

__ADS_1


Kiara hendak berteriak lagi. Namun, Elang segera merebut ponsel Kiara dan mengambil alih pembicaraan. Saat ini Kiara sedang emosi. Ia pasti akan meledak-ledak dan hal itu bisa saja mengganggu kenyamanan pasien.


Elang memberi kode kepada Kiara untuk diam. Ia lalu menceritakan kejadian saat pertunangan Juna dan Lily dengan tenang.


"Jadi si dakocan nyerang Juna sampai pingsan?" tanya Dira. Ia bukannya merasa bersalah malah tertawa cekikikan di sana.


"Lu kok bisa-bisanya sih ketawa?" tanya Kiara kesal.


"Gimana gue nggak ketawa? Si Juna itu cupu banget. Baru dicium aja udah klenger. Gimana nanti pas malam pertama? Masak iya mau pingsan lagi? Hahahahaha" Dira kembali tertawa bahkan sampai memegang perutnya.


"Berenti nggak ketawanya! Lu nggak ada rasa bersalah sedikitpun. Lu nggak nyadar apa? Ini semua gara-gara elu, Kadir!" bentak Kiara.


"Lah? Kenapa gue? Salah gue di mana coba?."


"Lu yang udah paksa Mas Juna buat tunangan sama Lily."


"Gue nggak maksa. Dia aja yang diem-diem bae" sahut Dira membela diri.


"Gimana mau ngomong kalau Mas Juna nggak paham apa yang lu omongin? Pokoknya lu harus tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Mas Juna."


"Dih... Kenapa gue? anak, bukan. Bapak, bukan. Pacar, bukan."


"Tapi lu yang ACC Mas Juna tunangan sama Lily! Mas Juna nggak cinta sama Lily. Dia tertekan, Kadir!."


"Alah! Lu dulu juga nggak mau tunangan sama Elang. Sekarang malah nempel kayak cicak-cicak di dinding" cibir Dira.


"Beda ceritalah!" bantah Kiara.


"Sama aja. Nanti Juna bakalan nempel juga kayak cicak sama si dakocan" Dira terkekeh lagi.


"Lu masih bisa ketawa lagi? Gue di sini ketar-ketir woy."


"Kadir!!!."


"Opo???."


Elang kembali hendak mengambil ponsel Kiara. Namun si pemilik ponsel langsung melotot ke arah Elang, memberi kode agar dirinya tidak ikut campur. Elang menurut. Mungkin lebih baik ia memesan makanan online saja untuk berjaga-jaga jika Kiara lapar setelah mengamuk kepada Dira.


"Pokoknya lu harus tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama Mas Juna" ucap Kiara tegas.


"Kenapa gue? Emangnya dia hamil anak gue?" Dira tetap menolak.


"Mas Juna begitu gara-gara elu, kadir....!!!" teriak Kiara.


"Dia cuma tidur."


"Tidur kok nggak bangun-bangun."


"Mati kali" sahut Dira santai.


"Jaga mulut lu, Kadir! Awas aja ya kalau Mas Juna sampai kenapa-kenapa. Gue aduin Mama biar lu cepet-cepet dikawinin sama dokter Athalia."


Deg.


Juna langsung membuka mata ketika mendengar nama yang disebutkan Kiara. Ia langsung duduk sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

__ADS_1


Melihat Juna yang tiba-tiba duduk, membuat Kiara langsung memutuskan panggilan videonya. Ia segera menekan tombol untuk memanggil tim medis agar datang ke ruangan Juna.


"Mas! Mas Juna! Sehat, Mas?" tangan Kiara bergerak ke kanan dan ke kiri tepat di wajah Juna.


"Mas Juna ingat Kiara? Nggak amnesia kan?" tanya Kiara lagi.


Juna menggaruk tengkuknya. Ia merasa heran dan bingung dengan keadaannya saat ini. Perasaan tadi telinganya mendengar nama Athalia disebut lalu kenapa setelah Juna membuka mata tidak ada Athalia di sana?


"Mas Juna ngomong dong! Kiara takut Mas Juna kenapa-napa" Kiara mulai menggoyangkan kedua bahu Juna. Ia benar-benar takut ada masalah dengan Juna melihat sejak tadi Juna sama sekali tidak merespon ucapannya.


Tim medis datang. Mereka segera meminta Elang dan Kiara untuk keluar. Dokter akan memeriksa Juna secara intensif untuk mengetahui perkembangan kesehatan Juna.


Tidak butuh waktu lama. Tim medis yang terdiri dari satu orang dokter dan dua orang perawat keluar dari kamar rawat Juna. Kiara langsung berlari menghampiri dokter itu untuk menanyakan kesehatan Juna.


"Seperti yang saya katakan tadi Mr. Elang. Kondisi fisik pasien tidak apa-apa hanya mentalnya saja yang bermasalah. Pasien butuh psikiater untuk membantu mengatasi traumanya."


Elang mengangguk dan tim medis itu segera berlalu dari hadapan mereka. Ketika tim medis sudah pergi, Kiara langsung masuk menemui Juna. Ia sudah tidak sabar ingin mengintrogasi Juna mengenai traumanya.


"Mas Juna, mau makan? Haus? Apa mau lanjut tidur?" ucap Kiara menawari Juna.


Juna menggeleng.


"Mas Juna trauma ya sama Lily? Sabar ya, Mas. Nanti biar Elang ngomong sama Mr.Carlos perihal pertunangan kalian" bujuk Kiara lagi.


Juna tak menyahut. Ia hanya menunduk.


"Sayang, Mas Juna jangan diintrogasi dong. Kasihan" tegur Elang.


"Kayaknya Mas Juna memang perlu psikiater. Nanti Elang akan tanya pihak rumah sakit apakah di sini juga ada psikiater.


"Mas Elang, apakah dokter yang merawat saya adalah seorang perempuan?" tanya Juna.


"Laki-laki, Mas. Kenapa?" Elang balik bertanya.


Juna kembali menunduk mendengar ucapan Elang. Ia pikir dokter yang merawatnya adalah Athalia. Sebab kedua telinganya sangat jelas mendengar nama itu. Kalau bukan Athalia yang merawatnya. Mengapa Juna mendengar namanya? Apa mungkin dokter laki-laki itu hanya sementara merawat Juna dan nantinya Athalia akan menggantikan dokter laki-laki itu?


Ah, mana mungkin. Sekarang Juna berada di Spanyol dan Athalia bertugas di Jakarta. Tidak mungkin ia akan berada di sini. Juna kecewa. Kecewa akan keinginannya yang tidak menjadi kenyataan.


"Mas Juna, kenapa sedih? Mau ganti dokter perempuan? Mas Juna ngomong aja sama Kiara. Nanti Kiara carikan dokter perempuan yang cantik dan sexy. Tapi Mas Juna janji jangan pingsan lagi ya."


Juna tersenyum kecut.


"Ngomong-ngomong Mas Juna trauma kenapa? Apa Lily sering nyerang Mas Juna kayak tadi?" tanya Kiara. Ia sudah tidak dapat menahan rasa keingintahuannya mengenai kisah Juna.


"Saya tidak apa-apa, Nona."


"Tidak apa-apa kok sampai pingsan? Emangnya Lily serem ya?" tanya Kiara lagi.


"E...e...tidak, Nona. Mungkin saya saja yang gampang kaget" jawab Juna berbohong.


"Sudahlah, sayang. Mas Juna jangan diintrogasi lagi" tegur Elang lagi.


"Mas Elang, acara pertunangannya...?" ucap Juna menggantung.


"Entahlah. Saya juga tidak tahu. Om Carlos belum menghubungi saya. Mas Juna tidak usah memikirkan itu."

__ADS_1


"Betewe Mas Juna siap kalau ketemu Lily lagi?" tanya Kiara yang langsung dijawab Juna dengan gelengan kepala.


"Sepertinya Mas Juna harus disterilkan dulu deh dari Lily. Kamu hubungi bapaknya biar Lily dikurung dulu. Nanti kalau Mas Juna sudah siap, baru deh ketemuan lagi. Tapi tetep bilangin juga, jangan asal nyosor aja. Biar Mas Juna nggak pingsan lagi" omel Kiara yang langsung dibalas Elang dengan anggukan kepala.


__ADS_2