HEI JUN

HEI JUN
53


__ADS_3

Prang


Prang


Prang


Dira melempar asal semua piring yang ada di meja makan. Piring-piring tidak bersalah itu menjadi pelampiasan emosi Dira yang sudah sampai di ubun-ubun.


"Heh, berenti nggak! Piring gue cuma selusin. Kalau lu ngamuk pake acara pecahin piring-piring di sini. Besok-besok gue makan pakai daun" omel Kiara langsung merebut piring ke empat yang hendak dipecahkan oleh Dira.


Ceklek.


Elang muncul dari kamarnya. Ia yang semula kembali tidur setelah kepergian Dira yang lainnya tiba-tiba terbangun saat mendengar suara pecahan piring. Elang pikir ada kucing masuk ke apartemen mereka.


"Ara, Abang, kalian berantem sambil lempar-lemparan piring?" tanya Elang. Ia segera menelpon OB untuk membersihkan apartemen mereka.


"Hei, kenapa wajah kalian tegang semua? Ada apa?" tanya Elang lagi.


Tak ada yang menyahut. Sedetik kemudian Dira tiba-tiba mengambil piring di tangan Kiara dan melemparnya lagi.


Prang....


Dira langsung kabur, keluar dari apartemen Kiara. Ia masih kesal. Sepertinya jika Dira masih berada di tempat itu, piring Kiara yang tersisa 8 biji pasti dipecahkan semua oleh Dira.


"Abang kenapa?" tanya Elang.


"Ngamuk."


"Kenapa bisa ngamuk?."


"Soalnya...."


Tok...tok...tok...


Terdengar suara pintu diketuk. Kiara terpaksa tidak melanjutkan ucapannya melainkan bergegas ke depan untuk membuka pintu.


"Nona" sapa Edward. Ia datang dengan wajah penuh keringat dan nafas yang terengah-engah.


Kiara langsung menyuruh Edward duduk di sofa. Di sana juga ada Juna yang sedari tadi duduk sambil melamun.


Kiara mengambil beberapa minuman dingin di kulkas dan memberikannya kepada dua laki-laki bertampang lesu itu.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Dari tadi Elang tanya kok nggak ada jawaban?."


Kiara menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Ia memberi kode kepada Elang agar diam dan tidak bertanya lagi. Kiara mengambil ponselnya, menghubungi Dira yang ternyata sedang duduk di cafe samping.


"Gue habisin makanan dulu. Baru gue kesana" jawab Dira dan dia langsung memutuskan panggilan telepon begitu saja.


Dua puluh menit kemudian, terdengar suara pintu apartemen Kiara diketuk seseorang. Kiara bergegas membuka pintu dan


Wusssshhhhhh...


CEO paling tampan dan rupawan langsung menerobos masuk. Pandangannya langsung tertuju kepada dua manusia yang sedang duduk di sofa dengan wajah lesu.


Plak.


"Kau bekerja padaku sudah bertahun-tahun. Kalau kau sudah bosan, katakan saja! Ajukan surat resignmu segera! Saya akan tanda tangani langsung" sembur Dira pada Edward.


Edward tak menyahut. Ia hanya menunduk, merasakan sakit di wajahnya.


"Seorang asisten Mr.Adirra, CEO paling tampan dan rupawan, ditemukan sedang memadu kasih dengan tunangan orang lain. Dimana otakmu, Ed? Kau mau membunuh karierku? Untung saja kami yang memergoki ulahmu. Bagaimana kalau wartawan? Karirku langsung hancur, Ed" teriak Dira. Ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Kalau kau memang menyukai si dacokan, katakan padaku! Aku tidak perlu susah-susah menyuruh Juna untuk bertunangan dengannya. Jangan main belakang seperti ini. Ah, Asssyuuuuuu dah. Kesal! Kesal! Kesal."

__ADS_1


Kiara menghampiri Dira. Ia memberikan segelas air agar kakaknya itu tenang. Kiara paham saat ini Dira pasti sedang panas luar dan dalam sehingga butuh banyak air untuk mendinginkan kembali hati dan otaknya.


"Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud membuat malu Tuan Adira. Saya benar-benar tidak tahu dan tidak ingat bagaimana bisa saya berada satu kamar dengan Nona Lily."


"Cih! Mana bisa ingat kalau kau mabuk, Ed. Kau ini tidak pernah minum. Bisa-bisa kau meneguk minuman beralkohol tinggi? Apa maumu, hah? Nyoba ilmu?" cibir Dira.


Dira bisa tahu Edward seperti itu karena melihat pecahan botol di kamar 1521. Ia juga sempat mengendus bau alkohol yang menempel di baju Edward yang berceceran di lantai.


"Sepertinya ini juga salah saya, Tuan" kata Juna membuka suara.


"Kemarin saya meminta tolong Pak Edward untuk mencicipi jamu pesanan Lily. Mungkin jamu itu yang membuat Pak Edward mabuk," lanjut Juna.


"Dasar goblok! Mana ada jamu bikin mabuk? Jamu itu bikin segar bugar, awet muda, mengobati sakit pinggang dan pegal linu. Juna, kau mau saja dibohongi si dakocan. Minuman itu alkohol bukan jamu" ucap Dira dan sepertinya ia sedikit menemukan benang merah atas kejadian itu.


"Tapi saya bersumpah, Tuan. Lily mengatakan jika itu adalah jamu dan meminta saya mencicipi. Tapi berhubung saya sakit perut dan kebetulan ada Pak Edward di sana. Saya meminta tolong Pak Edward untuk menggantikan tugas saya."


"Dan dengan bodohnya, si Edward malah meminumnya sampai habis" ucap Dira sembari bertepuk tangan sarkas.


"Sepertinya Lily mau menjebak Juna tetapi salah sasaran" celetuk Kiara.


"Dasar manusia-manusia bodoh!" umpat Dira lagi. Ia sepertinya akan lebih banyak mengumpat daripada melawak saat ini. Selera humornya seketika hilang, berganti dengan emosi yang tidak stabil. Persis seperti wanita PMS yang telat diberi jatah bulanan.


"Elang, telpon Carlos sekarang!" perintah Dira.


"Carlos? Papanya Lily?."


"Tentu saja papanya dakocan. Memangnya kau mengenal banyak Carlos di sini hah? Kau ini membuatku semakin emosi saja."


Elang mengangguk. Ia segera melakukan perintah kakak iparnya itu. Elang sengaja menjauh dari tempat mereka berbicara karena jujur dirinya masih belum paham apa yang terjadi.


"Kalian harus menikah besok" ucap Dira tiba-tiba.


"Kalian? Kalian siapa?" tanya Kiara.


"APA?!" teriak Edward, Juna, Kiara, dan Elang bersamaan. Elang yang baru saja menelpon Carlos seketika menjatuhkan ponselnya akibat kaget.


"Lu jangan gila, Kadir!" protes Kiara.


"Gue akan lebih gila lagi kalau seumpama bulan depan dapat kiriman test pack dari dakocan" jawab Dira dingin.


"Tapi si Lily kan tunangannya Mas Juna."


"Tapi dia bikin anak sama Edward, Kir! Apa lu nggak nyium tuh kamar bau apaan? Meski gue nggak hadir semalem, gue yakin Edward sudah nyembur berkali-kali ama si dakocan. Kalau dakocan hamil bagaimana? Lu mau si Juna yang tanggung jawab?."


"Kalau seumpama nggak hamil?."


"Kiaraaaaa..... Terus lu mau kasik Juna bekasnya Edward, hah? Meski gue kejam ama Juna, gue juga punya perasaan kaleeeee! Nggak mungkin gue suruh Juna nikahin dakocan kalau si dakocan udah disembur sama Edward. Paham nggak lu?????" teriak Dira.


Elang langsung berlari menghampiri Dira dengan membawa segelas susu coklat dingin. Elang merasa ngeri melihat wajah iparnya yang dilanda amarah itu. Kalau Dira tidak segera diredakan emosinya, bisa-bisa apartemennya meledak terkena amukan dari seorang Dira.


"Edward, kamu mau nikah sama Lily?" tanya Kiara.


"Harus mau. Gue nggak terima penolakan."


Kiara ingin membantah lagi. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kiara langsung bangkit dan berlari untuk membuka pintu.


"Mr. Carlos, mari masuk!" ajak Kiara sopan.


Carlos mengangguk. Ia sedikit kaget ketika mendapati banyak orang sedang berkumpul di sofa. Ada apa gerangan?


Kiara menyuruh Carlos untuk duduk. Ia juga meminta Elang membuatkan minuman untuk Carlos.


"Ada apa Mr. Adira menyuruh saya kesini? Apakah kalian sedang membahas hal penting sehingga semua orang dikumpulkan di sini?" tanya Carlos.

__ADS_1


"Saya tidak mau basa-basi. Saya memanggil anda kesini untuk memberitahu jika besok Edward dan Lily akan menikah" ucap Dira dingin.


"Edward? Mengapa Edward? Bukannya anak saya bertunangan dengan Juna?" tanya Carlos lagi.


"Pertunangan Lily dan Juna saya batalkan detik ini juga."


"Batal? Kenapa batal, Tuan?."


"Karena saya memergoki anak Anda dan asisten saya dalam satu kamar dalam keadaan polos, tanpa corak sedikitpun."


"APA?! Kenapa bisa begitu?."


"Jangan tanya kami! Tanyakan anakmu yang nafsuan itu! Saya memergoki mereka di kamar 1521. Saya kira kamar itu tidak asing untuk Anda" ucap Dira menyibir Carlos.


Carlos menggaruk tengkuknya. Wajahnya langsung warna-warni. Ia seperti ingin marah tapi disisi lain hatinya malu ketika Dira menyebutkan kamar yang ditempati anaknya itu.


"Ya, kamar itu milik saya. Hanya saya yang boleh memakai kamar itu."


"Biar nggak ketahuan kalau mau kikuk-kikuk sama cewek. Pak Carlos kalau mau bercocok tanam mesti di kamar itu kan? Cih! Ini yang dinamakan buah yang jatuh dekat dari pohonnya" sambar Dira cepat.


Kiara dan lainnya langsung menganga ketika mendengar ucapan Dira. Mereka tidak menyangka jika perilaku Carlos seperti itu. Ternyata Carlos adalah tipe tua-tua keladi. Meski sudah tua tetap aja pengen kayak anak muda-mudi.


Carlos tertawa cengengesan. Ia langsung malu melihat ekspresi orang-orang di sana. Pasti mereka berpikiran macam-macam tentang Carlos.


Carlos sudah menjadi duda sejak Lily berumur 6 tahun. Istrinya meninggal karena penyakit leukimia. Carlos tidak menikah lagi karena Lily tidak pernah mau menerima wanita yang ia kenalkan padanya.


Lily selalu mengamuk dan akan merajuk pada Carlos bahkan pernah kabur karena Carlos tetap saja memaksa Lily untuk menerima calon ibu sambungnya. Sejak saat itu, Carlos menyerah. Ia memantapkan hati untuk tidak menikah lagi.


Namun, kebutuhan biologisnya harus tetap dipenuhi sehingga ia mengambil jalan pintas. Bercinta dengan perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan. Dengan begitu Lily tidak akan merajuk lagi dan ia bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya kapan saja.


"Sekarang apa mau Anda, Mr.Adira" ucap Carlos.


"Seperti yang Anda dengar tadi. Saya akan menikahkan Edward dan Lily besok."


"Kenapa tidak dengan Juna saja?" tanya Carlos.


Brak!


Dira menggebrak meja.


"Jangan samakan otak kami dengan otakmu, Carlos. Juna bukan sapi perah yang akan mau-mau saja menikah dengan perempuan yang jelas-jelas sudah bergulat dengan orang lain. Tidak ada bantahan dan penawaran lagi. Nikahkan mereka besok. Jika besok Lily tidak hadir atau kabur. Jangan panggil saya Mr. Adira, CEO paling tampan dan rupawan jika perusahaanmu akan baik-baik saja" ancam Dira dan itu membuat Carlos langsung ketar ketir.


"Baiklah jika itu mau Anda, Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya. Saya pastikan besok Lily dan Edward akan menikah" ucap Carlos.


Carlos kemudian pamit. Ia harus segera mengatur pernikahan Lily dan Edward besok. Untung saja ia memiliki banyak anak buah sehingga banyak tangan yang akan membantunya.


"Kau beruntung" ucap Dira pada Juna setelah Carlos pergi dari apartemen Kiara.


"Tapi kau juga bodoh!" maki Dira lagi.


"Bisa-bisanya kau percaya jika minuman itu adalah jamu. Andai saja tidak ada Edward, kau sudah pasti meminumnya. Kau jangan telalu polos! Dunia bisnis itu kejam. Kejadian ini bisa aja terjadi di kemudian hari. Pakai instingmu. Peka, Jun! Peka! Jangan plonga-plongo kayak jemuran tetangga! Gemesssss gueh sama elu" ucap Dira lalu mengambil roti yang dipegang Elang dan digigitnya dengan gemas.


"Maaf, Tuan! Saya memang bodoh" ucap Juna menunduk.


"Makanya kalau di suruh belajar itu yang serius. Jangan minta pulang terus! Saya membawamu kesini agar kamu fokus belajar, tidak kepikiran dokter nggak jelas itu. Saya mau kamu pintar, memiliki pengetahuan luas, memiliki skill yang mumpuni. Apa kau tidak ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, Jun? Apa kau mau selamanya jadi manusia kerupuk yang adem ayem melempem kalau kena angin?" omel Dira lagi.


"Sudah, jangan marah-marah terus! Lebih baik kalian semua istirahat. Semua menginap di sini! Besok kita akan berangkat bersama-sama ke pernikahan Lily dan Edward" ucap Kiara.


"Juna tidak akan ikut" potong Dira cepat.


"Kenapa, Kadir?" tanya Kiara.


"Gue nggak mau besok si dakocan bikin drama kalau liat Juna. Besok Juna kembali ke kantor. Belajar yang benar! Paham?!" teriak Dira.

__ADS_1


Juna mengangguk. Dira bangkit dan menyudahi pembiacaraan kali ini dengan mengetuk meja sebanyak tiga kali. Mereka langsung membubarkan diri, masuk ke kamar masing-masing yang ditunjukkan oleh Kiara.


__ADS_2