
"Lia.....!!! Liaa.....!!! Liaa......." Andika kembali menghubungi Lia setelah ia menemukan fakta tentang pemilik SMA Cendekia yang baru.
"Apaan sih, Dikaaaa??? Tadi gue nelpon, lu malah nyanyi nggak jelas. Sekarang lu nelpon malah teriak-teriak. Anak gue baru tidur" omel Lia.
"Lia...!!! Gue ada info. Info. Penting. Penting sekali" ucap Andika dengan mata berbinar-binar.
"Info apa sih? Lu udah jadi agen lambe-lambe hah?."
"Nggak. Bukan. Aduh! Bingung kan gue mau ngomong apa. Itu lho, Lia. Orang yang di foto tadi."
"Yang foto sama elu?" tanya Lia memastikan.
"Iya. Lu kenal nggak?."
Lia menarik kedua alisnya. Pertanyaan aneh sepupunya ini benar-benar tidak perlu dijawab. Bagaimana mungkin Lia kenal dengan laki-laki itu? Liat wajahnya saja baru beberapa menit yang lalu.
"Dia Juna, Lia! Dia Juna!!!" teriak Andika histeris.
"Bangun woy! Bangun! Tampang kayak Shah rukh khan kayak gitu lu bilang Pak Juna? Hello?? Sadar dong, Dika! Lu sendiri yang bilang kalau Pak Juna tewas akibat kebakaran kan?" sergah Lia.
Andika ingin menjelaskan dengan kata-kata. Namun, ia sepertinya bingung merangkai kata. Akhirnya Andika kembali membuka dompet Juna. Ia memperlihatkan kedua KTP yang ada di dompet Juna.
Awalnya Lia tidak paham dengan maksud Andika. Namun, beberapa detik kemudian. Lia membuka mulutnya. Ia menangkap maksud dari Andika.
"Mana mungkin, Dika?."
"Apa mungkin Juna sebenarnya selamat? Lalu dia operasi plastik dan kembali kesini. Lu harus tahu kalau dia adalah pemilik SMA Cendekia yang baru" ucap Andika menganalisis.
"APA??!!! PEMILIK SMA CENDEKIA??? BAGAIMANA BISA???" Lia berteriak tanpa sadar sehingga membangunkan anaknya yang tidur.
Lia buru-buru mematikan ponselnya. Anaknya menangis. Lia harus segera menyusuinya agar bayi mungilnya berhenti menangis dan kembali tidur. Biarlah nanti ia akan kembali menghubungi Andika jika bayinya sudah tidur.
"Yah, dimatiin!" gerutu Andika.
Andika kembali menatap dompet milik Juna. Ia ingin memastikan jika dugaannya benar. Jiwa kepo Andika sedang tinggi. Ia tidak akan bisa tidur jika belum mendapat kepastian tentang dugaannya itu.
Andika segera meninggalkan warung Bu Udin. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju SMA Cendekia. Tujuannya saat ini adalah bertemu pemilik sekolah untuk memastikan apakah benar dugaannya.
Tap...tap...tap...
Andika melihat Juna sedang menelpon di depan ruang aula. Ruang aula berada di lantai dua. Mungkin saja Juna sedang mencari posisi yang bagus sehingga ia berdiri di sana untuk menelepon.
Huh! Andika membelokkan langkahnya ke kiri. Ia menaiki anak tangga dengan cepat. Tidak butuh waktu lama bagi Andika untuk bisa berada di lantai yang sama dengan Juna. Ia langsung memperlambat jalannya ketika jaraknya dengan Juna sudah dekat
"Juna!" panggil Andika.
"Ya?" jawab Juna.
Juna yang saat itu posisinya sedang membelakangi Andika, langsung saja memutar tubuhnya.
__ADS_1
"Ada apa Andika? Kamu mencariku?" tanya Juna polos. Ia tidak menyadari kesalahan dari ucapannya.
"Juna?" Andika mengulangi memanggil Juna. Ia ingin memastikan lagi jika orang di hadapannya memang benar-benar sahabatnya.
"Kenapa kau terus memanggilku, Dika? Ada perlu a....pa" Juna menyadari kesalahannya. Ia langsung menutup mulutnya.
Andika langsung memeluk tubuh Juna. Ia sekarang yakin jika sosok di hadapannya adalah Juna. Ia berkali-kali menepuk bahu Juna sembari memanggil nama Juna.
"Hentikan, Dika!" Juna melepas pelukan Dika.
"Kamu Juna? Kamu masih hidup, Jun?" tanya Andika tak percaya.
Juna menoleh ke kanan dan ke kiri. Untung saja tidak ada orang di sekitar aula. Mungkin mereka tidak berani naik ke atas karena melihat Juna yang sedang menelepon. Juna bisa bernafas lega. Setidaknya perkataan Andika hanya di dengar olehnya.
"Aku masih hidup. Kamu kaget?" tanya Juna.
"Ba...ba...gai...mana ceritanya, Jun?."
"Panjang, Dika. Aku tidak mungkin bercerita di sini."
"Mau ke cafe milikku? Sejak aku membuka cafe, kau belum pernah ke sana. Ayolah, Juna! Aku benar-benar penasaran dengan perjalananmu" Andika memohon dengan wajah yang dibuat imut.
Juna melirik arlojinya. Sebenarar lagi juga jam istirahat. Juna menggerakkan kepalanya sebagai kode ajakan kepada Andika. Andika tersenyum lebar. Mereka kemudian berjalan beriringan menuruni anak tangga.
Juna dan Andika tidak tahu. Jika di balik pintu ruang aula, ada Fira yang bersembunyi. Ia benar-benar shock mendengar pembicaraan kedua laki-laki itu.
'Jadi benar dugaanku. Laki-laki itu adalah Pak Juna. Wajahnya memang berbeda, tapi tingkah laku Pak Juna tetap akan sama. Aku harus menyusul mereka. Aku juga ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan Pak Juna'
"Cafe kamu bagus, Dika. Makanannya juga enak" puji Juna.
Andika tersenyum lebar. Ia memberi waktu pada Juna untuk menyicipi semua makanan yang ia sajikan untuk Juna. Andika memang sengaja melakukan itu. Ia ingin menjamu kawan lamanya yang kini menjadi bos nya itu.
"Cafemu ramai juga. Jarang sekali ada cafe di sini yang bisa ramai. Aku masih ingat perkataan Bu Yatik, jika daerah di sini tidak cocok untuk berjualan. Pasti tidak akan laku dan kamu bisa mematahkan mitos itu" ucap Juna.
Andika kembali tersenyum lebar. Ia benar-benar tidak menyangka jika Juna masih mengingat mitos itu. Dulu Andika memang ditentang habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Ia dilarang membuka cafe di sana karena ada mitos yang mengatakan seperti itu. Andika tidak patah arang. Ia tetap melanjutkan keinginannya itu dan membuktikan jika mitos itu tidak benar.
"Lebarkan lagi cafemu, Dika! Lihatlah, banyak sekali pengunjung yang harus menunggu agar mereka mendapatkan tempat duduk. Sayang sekali jika mereka nantinya akan pindah ke tempat lain" saran Juna.
"Mauku begitu, Jun. Tapi dananya nggak ada. Uangku masih muter. Nantilah kalau sudah ada dana, sedikit demi sedikit akan aku kembangkan cafe ini" ucap Andika.
"Butuh berapa? 1 M cukup? Aku mau kok menjadi investor. Katakan saja kau butuh berapa! Kita bisa bekerja sama, Dika."
Dika tertegun mendengar ucapan Juna. Segampang itukah kawan lamanya itu menawarkan uang 1 Milyar? Sekaya apa Juna sekarang hingga uang 1 Milyar seperti hal receh bagi Juna?
"Kenapa diam, Dika? Kurang ya kalau 1 M?" tanya Juna.
"Eh, bu...bukan, Jun! Kaget aja kamu gampang banget nawarin jadi investor."
"Karena aku melihat peluang usaha di sini bagus. Jadi buat apa dipersulit. Kalau kamu memang mau, nanti aku akan suruh orang untuk mengurusnya" jawab Juna enteng dan itu lagi-lagi membuat Andika menganga.
__ADS_1
"Kau sudah jadi orang kaya, Jun? Gimana ceritanya?."
Juna mengangkat bahu. Sebenarnya ia enggan menjawab pertanyaan Andika. Namun, karena Andika memiliki level kepo yang tinggi sehingga mau tidak mau Juna akhirnya bercerita.
"Jadi, kamu memang tidak ada di rumah saat kebakaran itu?" tanya Andika ketika Juna sidah selesai bercerita.
Juna mengangguk.
"Pantas saja kedua kakakmu tidak mau mengusut kasus kebakaran itu lebih lanjut. Ternyata mereka ingin menyelamatkanmu, Jun."
Juna kembali mengangkat bahunya.
"Apa kau tahu nasib Pak Narto dan Diandra?" tanya Andika lagi.
"Aku sudah bertemu Pak Narto. Dia ayahnya Fira kan?."
"Dia tahu kalau itu kamu?."
"Tentu tidak, Dika. Kalau dia tahu jika pemilik SMA Cendekia adalah aku. Mana mungkin dia menyuruhku menikahi Fira" Juna keceplosan.
"APA???!!!" teriakan Andika membuat Juna sadar jika ia lagi-lagi keceplosan. Juna memukul bibirnya yang tidak bisa menjaga rahasia dirinya sendiri. Bocor sekali kayak atap rumah.
"Jun, bukannya aku mau ikut campur. Tapi jika aku boleh menyarankan janganlah kau menyanggupi permintaan Pak Narto itu. Kau masih ingatkan dengan Diandra?" tanya Andika khawatir.
Juna menghela nafas panjang. Perkataan Andika benar-benar menyubit ulu hatinya.
"Aku ingat, Dika. Aku selalu ingat. Bahkan bayangan ketika Diandra melakukan itu selalu menghantuiku."
Juna menerawang.
"Maaf, Jun! Bukannya aku ingin mengingatkanmu tentang hal itu..."
"Aku mengerti, Dika! Aku tidak menyalahkanmu. Aku dan Diandra memang memiliki masa lalu. Masa lalu yang menurutku belum selesai. Ada kekhawatiran dalam diriku jika aku bertemu lagi dengan Diandra. Jujur aku takut. Aku takut, Dika" curhat Juna.
Andika menepuk bahu Juna. Ia menguatkan sahabatnya itu.
"Jadi, itu alasannya mengapa kau mengganti nama dan wajah?" tanya Andika.
"Bukan! Bos ku yang mengganti namaku. Kalau wajahku, aku tidak tahu mengapa bisa berubah seperti ini? Aku mengalami perubahan saat menetap di Spanyol."
"Spanyol? Kau menetap di Spanyol, Jun? Alamak, Junaaaa! Benar-benar jadi horang kayah kau sekarang" puji Andika, tanpa sadar ia bersorak sembari bertepuk tangan.
"Tenang saja Juna. Kau tidak perlu takut jika bertemu Diandra. Wajahmu benar-benar berubah. Andai saja aku tidak melihat cara makanmu di warung tadi, aku juga tidak akan sadar jika Pak Mayjuna July Agustino adalah Ahmad Junaidi" ucap Andika lagi.
"Mungkin aku harus menutup mulutmu agar tidak memberi tahu yang lain, Dika" ucap Juna dingin.
"Tak perlu kau tutup juga, aku tidak akan buka rahasiamu. Cukup aku yang tahu tentang rahasiamu, yang lain jangannnnn...." kata Andika menirukan ucapan ibu-ibu di iklan.
Juna melanjutkan menyantap makanan yang dihidangkan oleh Andika. Sesekali ia membuka pembicaraan dengan Andika. Mereka mengenang masa lalu, saat Juna menjadi guru olah raga di SMA Cendekia.
__ADS_1
Mereka mengobrol dan tertawa lepas. Mereka tidak menyadari jika Fira berada di cafe milik Andika juga. Ia duduk di meja yang terletak tepat di belakang meja Juna.
Posisi Fira dan Juna saling membelakangi sehingga baik Juna dan Andika tidak menyadari keberadaan Fira. Lagipula kedua laki-laki itu sibuk mengobrol sehingga mengacuhkan keadaan sekitar. Namanya juga kawan lama. Lama tidak bersua.