HEI JUN

HEI JUN
133


__ADS_3

Kiara terus mengomel di hadapan Lita. Sudah satu jam perempuan itu berjalan mondar-mandir memarahi anak buahnya yang sudah bertindak tidak sesuai perintah. Amarah Kiara seperti sinetron tersandung, yang tidak tamat sampai tujuh turunan.


Sungguh energi Kiara tidak habis-habis. Mungkin karena tadi pagi Kiara sudah menghabiskan dua piring nasi padang dengan lauk rendang dan ayam sambal ijo sehingga tubuh Kiara memiliki stok energi yang melimpah ruah.


"Nyonya, berhenti dong marahin Lita. Apa nggak kasian wajah Lita udah nggak secantik dulu?" ucap Lita sembari menangis tersedu-sedu.


"Nggak! Nggak ada ceritanya gue kasian sama ulet keket kayak elu! Disuruh apa, malah ngerjain apa. Lu pikir lu arteissss? Sampek seisi rumah full foto wajah lu?" Kiara sudah tidak lagi memakai bahasa formalnya.


"Kan Lita sudah bilang kalau rumah ini satu energi sama Lita jadi...."


"Diammmm.....!!!!" belum sempat Lita selesai berbicara, Kiara sudah membentaknya.


"Lu beresin kekacauan ini! Turunin semua foto unfaedah itu! Bakar atau kiloin ke tukang loak! Gue nggak mau tahu ,satu jam dari sekarang rumah ini sudah bersih dari wajah elu" perintah Kiara lagi.


"Yo ndak mampu~ aku turuti perintah kamu~ Lihat wajah aku ~~~ ngilu ninu ninu ninu~~~."


Plak!


"Dikasih perintah malah dangdutan. Sejak kapan lu ketularan si Kadir? Dikit-dikit nyanyi" ucap Kiara kesal.


Elang dan Juna tidak dapat menahan tawanya. Melihat Lita yang menyanyikan sebait lagu dangdut itu, beserta joget patah tulang membuat Elang teringat saat pesta pernikahannya. Tingkah Lita benar-benar mirip Dira. Mungkin jika mereka disandingkan bisa dijadikan teman duet.


"Nyonya, saya akan telepon tukang bersih-bersih untuk membereskan rumah ini."


"Nggak ada! Lu yang beresin" perintah Kiara tidak dapat ditawar.


"Nggak bisa, Nyonya. Lita kudu booking pesawat ke thailand" rengek Lita membuat Kiara ingin sekali menjambak rambutnya.


"Ngapain lagi sih ke Thailand? Lu nggak ada jatah cuti ya. Nggak ada tuh acara jalan-jalan ke Thailand" tolak Kiara.


"Oh, Nyonyaaaa.... ! Lita bukan mau jalan-jalan. Lita mau operasi plastik. Wajah Lita ngilu ninu ninu. Tak elok lah kalau ke kantor dengan wajah seperti ini" ucap Lita mulai merajuk.


"Makanya, jadi orang jangan kayak ulet keket. Dibabat istrinya Mas Juna, kapok kan lu?."


Lita menundukkan wajahnya. Ia menampakkan ekspresi pasrah, sedih, seakan-akan Lita adalah korban yang paling tersakiti.


"Sayang, sudah ya. Lita sudah menyesal. Jangan dimarahin lagi" bujuk Elang.


"Gimana aku nggak marah? Anak ini bener-bener. Bener-bener bikin tensi naik."

__ADS_1


"Sudah! Kita ke sini bukan mau perang. Ada hal penting yang harus dibahas dengan Mas Juna" ucap Elang menengahi.


"Hal penting? Dengan saya?" Juna sedikit kaget mendengar namanya disebut.


"Benar Mas Juna. Kemarin Pak Danu menelepon, bertanya tentang Mas Juna. Ada sedikit masalah dengan sekolah di kampung Pak Juna. Pihak kepala sekolah, komite dan dewan guru ingin mengadakan rapat dengan Mas Juna sehingga mereka berharap Mas Juna bisa datang ke sekolah" kata Kiara menjelaskan.


Juna menepuk dahinya. Ia lupa jika dirinya memiliki SMA Cendekia di kampung. Kesibukannya di Jakarta membuat Juna lupa dengan sekolah itu. Juna bahkan tidak pernah sekalipun menghubungi Pak Zaini atau Pak Udin untuk bertanya tentang SMA Cendekia.


"Mas Juna?" panggil Kiara membuyarkan lamjnan Juna.


"Ah, iya Nyonya Bos! Maaf, saya melamun karena saya sedang merutuki diri sendiri yang lupa akan tanggung jawab" sesal Juna.


"Jadi Mas Juna akan pulang kampung?" tanya Kiara.


"Sepertinya begitu."


"Tidak! Kamu tidak boleh pulang kampung, Jun" Atha menepuk paha Juna dengan keras.


"Lah? Kenapa tidak boleh?."


"Diandra ada di sana. Adiknya juga ada di sana. Kamu mau CLBK dengan kakak beradik itu?" Atha mendelikkan matanya kepada Juna.


Kiara dan Elang kompak mengernyitkan dahi. Mereka tidak paham dengan apa yang diucapkan Atha. Paham, dengan reaksi pasangan suami istri tersebut membuat Juna langsung menjelaskan maksud dari perkataan istrinya.


"Tidak! Atha sedang hamil. Rentan sekali jika dibawa ke sana ke sini" tolak Juna halus.


"Fix! Kamu tidak mau mengajakku karena mau CLBK dengan kakak beradik itu kan? Hah, sudah terbaca jelas di wajahmu" cibir Atha sinis.


Juna segera melambaikan kedua tangannya. Ia memberi kode jika apa yang dituduhkan istrinya tidak tepat.


"Yasudah, sama Lita aja kalau gitu" celetuk Lita.


"Lita!!!" tegur Kiara yang langsung menarik bibir Lita yang dower.


"Kamu mau saya bikin seperti remahan rengginang?" Atha menatap Lita dengan tatapan laser. Sekretaris Kiara itu sepertinya tidak kapok berbuat ulah meskipun wajahnya sudah tidak berbentuk.


"Eh, nggak jadi! Sumpah, nggak jadi. Lita mau ke Thailand. Mau operasi plastik."


"Nggak ada operasi-operasian. Kerjaan lagi numpuk malah mau ke Thailand. Ntar aja kalau proyek di Sulawesi dah rampung" tolak Kiara.

__ADS_1


"Ah, Nyonya Bos! Kalau nunggu proyek rampung, wajah saya kapan benernya?" Lita sudah memasang tampang memelasnya.


"Sudah, sayang. Izinkan Lita ke Thailand. Papa nggak tega lihat wajahnya yang nggak jelas kayak gitu" ucap Elang terkekeh geli.


Kiara hanya mengangkat bahu. Ia sepertinya masih enggan memberi izin kepada sekretarisnya itu.


Tak jauh berbeda dengan Juna. Ia masih mendapati wajah menyeramkan istrinya. Athalia masih enggan memberikan izin pulang kampung untuk Juna.


Kiara vs Lita. Juna vs Atha. Setelah melalui perundingan yang alot akhirnya Lita mendapatkan izin untuk pergi ke Thailand begitu pula dengan Juna. Elang yang ebrtindak sebagai penengah dan penasehat, rupanya benar-benar menjalankan perannya dengan baik sehingga Kiara dan Atha mengangguk setuju.


"Jadi, Lita kapan berangkat nih?."


"Besok" jawab Kiara pendek.


"Kalau saya kapan, Nyonya Bos?" tanya Juna.


"Besok juga. Kalian berdua besok berangkat dari bandara Soekarno-Hatta. Lita, booking pesawat untuk Mas Juna! Pastikan kelas VVIP. Sampai di Juanda, suruh Pak Danu jemput! Kiara nggak mau Mas Juna nyasar" perintah Kiara yang langsung mendapat anggukan kepala dari Lita.


***


Juna menarik nafas panjang ketika kedua kakinya menginjak tanah di Desa Papaten. Ia baru saja tiba di kampung halamannya. Wajah Juna nampak sumringah, penuh dengan emot bunga-bunga bertebaran dan hati berwarna merah muda.


Pak Danu, yang bertugas menjemput dan mengantarkan Juna ke Desa Papaten memilih tetap berada di mobil. Ia membiarkan Juna berada di luar seorang diri. Juna sedang melepaskan rasa rindunya. Rindu dengan kampung halamannya.


Puas melepas rindu, Juna kembali ke mobil. Ia meminta Pak Danu agar mengantarkan dirinya ke pusara Bu Tias. Juna ingin bercerita kepada Emaknya. Rasanya, ia seperti anak durhaka yang baru bisa menyekar ke kuburan ibunya.


"Emak, Juna datang" gumam Juna lirih. Tangan kanannya menabur berbagai bunga di pusara Bu Tias.


Juna mengangkat kedua tangannya, memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Barulah setelah itu Juna mulai bercerita pada batu nisan Bu Tias.


Hampir setengah jam, Juna di sana. Andai saja tidak ada Pak Danu yang mengingatkan agenda Juna, pastilah Juna akan seharian bercerita di pusara Bu Tias. Juna pamit. Lalu mereka kembali ke mobil.


"Selanjutnya kita ke mana, Pak?" tanya Pak Danu.


"Ke hotel saja. Saya ingin beristirahat. Biarlah, besok saja saya ke SMA Cendekia. Hari ini saya ingin beristirahat dan berkumpul dengan kedua kakak saya" jawab Juna.


"Bukankah Pak Mayjuna mempunyai rumah di sini?" tanya Pak Danu heran.


"Sudah saya kontrakkan. Daripada kosong tidak berpenghuni, lebih baik dikontrakkan saja."

__ADS_1


"Pak Juna mau menginap di hotel mana?" tanya Pak Danu lagi.


"Hotel yang mana saja. Yang jelas bukan punya si Arya" ucap Juna.


__ADS_2