HEI JUN

HEI JUN
115


__ADS_3

Diandra bergeliat ke kanan dan kiri. Kedua matanya masih berat untuk terbuka. Diandra merasa aneh, pergerakannya terasa terbatas. Biasanya jika ia bergeliat, Diandra akan berguling-guling ke kanan sebanyak tiga kali laku ke kiri sebanyak tiga kali. Tapi, kenapa kali ini berbeda? Ia merasa kedua kaki dan tangannya terikat sehingga susah untuk digerakkan.


"Di mana ini?" gumam Diandra.


Kedua netranya langsung mengitari keadaan sekelilingnya. Diandra merasa tidak asing dengan tempat itu. Ia merasa pernah berada di sana.


"Arrggghhh...!" Diandra meringis kesakitan. Ia mulai memindai dirinya sendiri. Kedua netranha membola saat melihat kedua tangan dan kakinya diborgol.


Bagaimana ia bisa seperti ini? Mengapa ia seperti tawanan orang jahat? Seingatnya tadi ia sedang naik taksi hendak pulang menuju hotel. Ia gagal bertemu Juna.


Diandra mengingat-ingat lagi bagaimana bisa dirinya terdampar di sana. Menjadi tawanan mafia yang ia sendiri tidak tahu siapakan dalangnya. Diandra merasa tidak punya musuh.


"Kambing!" umpat Diandra.


Otak Diandra langsung teringat pada Arjuna. Jika ia berada di sini, bagaimana dengan Arjuna? Pastilah balita itu akan menangis. Zeze sudah kembali ke Bali pastilah Mbok De akan merasa kebingungan dengan situasi begini


Ceklek.


Pintu kamar terbuka.


"Kau sudah bangun?"


Diandra kaget ketika melihat sosok Arya muncul dari balik pintu. Arya berjalan menghampirinya sembari menyeringai lebar.


"Kau? Kau menculikku?" tanya Diandra.


Arya tidak menjawab. Ia malah tertawa terbahak-bahak.


"Lepaskan, kambing! Jangan beraninya keroyokan!" umpat Diandra.


Arya tak menggubris umpatan Diandra. Ia berjalan semakin mendekati Diandra yang berbaring dengan kedua kaki dan tangan yang sengaja ia borgol.


Arya mendekatkan wajahnya pada wajah Diandra. Dengan sekuat tenaga, Diandra menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, mencoba agar tidak menyentuh wajah Arya.


"Kau semakin cantik saja. Andai kau tidak bermain api dengan mantanmu yang miskin itu pastilah kita sudah bahagia sekarang" kata Arya sembari menampakkan senyum jahatnya.


"Jangan bermimpi, kambing! Kau impoten! Tidak mungkin aku bahagia dengamu" teriak Diandra.


"Impoten? Hahahahhaa... Itu dulu, sayang. Aku sudah berobat dan milikku tidak loyo seperti dulu. Bagaimana? Kau mau coba hah?" tantang Arya.


Diandra menggeleng.


"Sekali impoten tetap impoten. Aku tidak sudi mencoba milikmu, melihatnya saja aku malas" umpat Diandra.


"Sungguh? Aku yakin kau akan ketagihan setelah merasakannya."


Arya memanggil salah satu bawahannya. Laki-laki kurus berambut cepat masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu. Laki-laki itu menyodorkan secangkir minuman kepada Arya.


"Kau boleh peergi dan tolong beri tanda di depan pintu jika aku tidak mau diganggu" perintah Arya.


Laki-laki itu mengangguk dan langsung keluar dari kamar itu untuk melakukan perintah Arya selanjutnya.


"Apakah kau ingat dengan tempat ini, sayang? Tempat ini dulu kau gunakan bersama mantan kekasihmu yang miskin itu" ucap Arya sembari meneguk minuman di cangkir itu secara perlahan.


"Gara-gara skandal gilamu, kamar ini aku tutup. Aku selalu teringat bagaimana kalian bergumul dengan panas."


Pranggg.


Arya membuang cangkir yang sudah kosong. Benturan cangkir dengan lantai tentu saja menyebabkan cangkir itu pecah. Arya kembali tertaaa terbahak-bahak. Rasanya ia senang sekali karena waktu yang dinanti sudah datang.


"Kau gila!" teriak Diandra.

__ADS_1


"Gila? Sesama manusia gila tidak boleh saling mengumpat" sahut Arya santai.


"Apa maumu, Arya? Kita sudah selesai. Lepaskan aku karena anakku pasti menangis!" pinta Diandra.


"Mauku? Tentu saja aku ingin menghapus jejak mantan kekasihmu di tempatku. Aku akan menggantinya dengan jejakku sendiri."


"Jangan mimpi! Jangan mimpi!" Diandra memberontak ia mencoba melepaskan kedua tangan dan kakinya yang terborgol.


Arya kembali tertawa terbahak-bahak. Tingkah Diandra benar-benar membuatnya sakit perut. Percuma. Percuma Diandra memberontak karena borgol itu tidak akan lepas kecuali dibuka dengan kunci yang sudah Arya buang entah kemana.


Arya berjalan menghampiri nakas. Ia mengambil gunting dan..


Sraaaakkkkkk


Arya menggunting baju Diandra. Diandra berteriak memaki-maki Arya dengan bahasa binatang. Arya seperti menulikan pendengarannya. Melihat tubuh molek Diandra membuatnya semakin ganas menggunting pakaian Diandra.


Usai baju atasan Diandra yang sudah tak berbentuk, Arya beralih menggunting celana jeans yang dipakai Diandra. Kedua mata Arya sudah berkabut menandakan jika dirinya sudah diselimuti hawa panas.


Sraakkk...srakkk....srakkkkkk


"Hentikan, bodoh! Kau merusak baju dan celanaku!" umpat Diandra lagi.


Kedua netra Arya langsung membola melihat pemandangan di hadapannya. Tongkat saktinya juga sudah bereaksi meminta untuk segera keluar dari kardusnya.


Arya membuka bajunya. Tak lupa celana yang ia pakai juga turut ditanggalkan.


Tuingggg...


Tongkat sakti Arya mengacung tinggi. Diandra menelan ludah melihat tongkat sakti milik Arya yang tidak sama dengan yang dulu.


"Mau coba hah?" Arya mulai memainkan tongkatnya pada kulit Diandra.


Diandra memejamkan mata, mencoba agar tidak terbuai dengan permainan Arya.


Arya kembali menggunting penutup perangkat dalam yang menutupi bagian penting Diandra. Kalau sudah begini, libido Arya langsung meningkat.


Arya langsung melahap salah satu aset kembar milik Diandra. Libido yang naik membuat Arya bertingkah bringas dan tidak sabar. Tanpa menunggu Diandra siap, Arya langsung menancapkan tongkat saktinya pada mikim Diandra.


Dan sudahlah... jangan ganggu Arya yang sedang buka puasa. Meski Diandra berkali-kali berteriak, memaki-maki nama Arya, Arya tetap bekerja menuntaskan hasratnya yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.


Di tempat lain, tepatnya di dalam pesawat pribadi milik keluarga Sanjaya. Atha duduk di samping Juna sembari menekuk wajahnya. Kedua tangan Atha memegang perutnya. Entah Atha sedang sakit perut atau sedang lapar. Sejak tadi dia hanya diam saja, mengacuhkan Juna yang sedari tadi membaca majalah bola.


"Sayang, mengapa kau memegangi perutmu? Kau mules?" tanya Juna.


Atha menggeleng.


"Kenapa? Ada apa? Jangan diam saja karena saya tidak paham" kata Juna lagi.


"Mas...!!!" rengek Atha.


"Aku lapar tapi aku tidak mau makan" ucap Atha lagi.


"Lapar? Ya ampun, sayangku! Bukankah sejak tadi saya menyuruhmu makan? Entah sudah berapa kali Mbak-Mbak pramugari menawarimu makanan?."


"Aku tidak mau makan, Mas. Nanti pipiku tambah gembul. Kalau sudah begitu kamu pasti mengingat mantan calon gebetanmu" ucap Atha cemberut.


Juna tertawa terbahak-bahak. Ia mencubit kedua pipi istrinha karena merasa gemas. Juna segera memanggil pramugari dan meminta agar dibawakan makanan. Tidak butuh waktu lama, lima piring berisi berbagai macam makanan sudah tersaji di hadapan Atha.


Atha menahan air liurnya agar tidak jatuh. Ia ingin makan tapi gengsi pada Juna. Untung saja Juna kali ini tidak kumat. Ia yang paham jika istrinya dalam mode merajuk segera mengambil piring dan menyuapi istrinya.


"Aemmmm...."

__ADS_1


Atha mengunyah dengan cepat. Rupanya ia benar-benar lapar sehingga melahap makanan yang disuapkan Juna dengan cepat.


"Kau ini ada-ada saja. Lapar di tahan. Jangan seperti ini lagi! Saya tidak mau kamu sakit" ucap Juna sembari menyuapi Atha dengan makanan di piring kedua.


Atha tak menyahut. Mulutnya masih sibuk mengunyah. Ia seperti orang kelaparan yang berhari-hari tidak makan. Dua piring berisi makanan habis dalam waktu sekejap. Kini Juna beralih pada piring ketiga. Tangannya sudah siap menyuapi Atha.


"Itu apa, Mas?" tanya Atha.


"Ini... entahlah! Sepertinya ini sup. Lihatlah ada wortel dan beberapa sayur yang lain."


"Kalau sup kenapa tidak berkuah?" tanya Atha lagi .


"Mungkin kuahnya tumpah. Sudahlah, sayang! Ayo makan lagi! Saya senang melihatmu makan dengan lahap seperti ini."


Juna kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya. Atha menggigit bibirnya, merasakan rasa makanan yang menurutnya aneh.


"Kenapa?" tanya Juna.


"Rasanya asin, Mas. Ini sup keju deh. Bukan sup sayur" kata Atha.


"Kau tidak suka?."


"Tidak! Aku tidak suka asin. Ini benar-benar asin" kata Atha membuat Juna mengerutkan kening.


"Bukankah kamu lebih suka keju daripada cokelat? Mengapa sekarang tidak mau dengan makanan ini?" tanya Juna.


"Entahlah, rasanya aneh dan membuatku ingin muntah saja. Jauhkan makanan aneh itu! Aku ingin minum jus. Rasa asin ini harus segera hilang dari lidahku."


Juna menggelengkan kepalanya. Ia segera mengambil gelas berisi jus melon dan menyodorkan kepada Atha. Atha meneguk jus melon itu, barus seteguk lagi-lagi ia protes tentang jus melon itu.


"Ada apa, sayang?" tanya Juna.


"Jusnya kurang manis, Mas. Apakah di sini kriilsis gula sehingga membuat jus saja tidak manis" gerutu Atha kesal.


Juna mengambil alih gelas di tangan Atha. Ia meneguk jus melon yang tidak manis itu. Juna mengerutkan dahinya. Tidak ada yang salah dengan jus melon ini. Sudah pas manisnya. Lalu mengapa Atha mengatakan jika jus melon itu tidak manis.


"Sayang, ini sudah manis lho. Kamu mau semanis apa lagi?" tanya Juna.


"Jus itu tidak manis, Mas! Kau tidak percaya kepadaku?" ucap Atha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Juna langsung meletakkan gelas jus melon itu. Ia buru-buru memeluk Athalia karena khawatir semakin merajuk. Melihat mood Atha yang tidak bagus sejak kemarin membuat Juna sedikit frustasi. Hal itu berdampak buruk pada kegiatan tyrexnya yang vakum karena Atha benar-benar tidak mau disentuh.


"Sayang, jangan menangis!."


"Kau tidak percaya padaku, Mas! Kau lebih membela si pembuat jus melon itu" kata Atha sembari menangis tersedu-sedu.


Juna semakin mengeratkan pelukannya. Ia semakin heran dengan tingkah istrinya yang menangis hanya karena masalah jus yang kurang manis.


"Tidak! Saya percaya padamu. Jus itu memang tidak manis. Lidahku yang bermasalah. Sudah, ya, sayangku. Jangan menangis lagi! Saya tidak suka melihatmu sedih seperti ini" bujuk Juna.


"Kau harus menuruti kemauanku" kata Athalia disela-sela tangisannya.


"Iya, iya sayang. Saya turuti kemauanmu. Kau mau apa?" tanya Juna.


"Aku mau belanja di Spanyol. Pokoknya setelah mendarat, kita langsung pergi berbelanja."


Juna terjengkit kaget mendengar ucapan istrinya. Ia kembali dibuat heran. Pasalnya Atha adalah tipe yang tidak suka berbelanja. Semua barangnya saja Juna yang membelikan.


Juna menduga jika istrinya sedang kesurupan. Sepertinya ia harus menelepon Haris agar pergi ke orang pintar untuk menerawang istrinya. Juna takut jika Atha benar-benae kesambet.


"Kenapa diam, Mas? Kau keberatan?" tanya Atha membuyarkan lamunan Juna.

__ADS_1


"Ah, tidak! Tidak! Saya tidak keberatan. Syaa hanya memikirkan apakah kamu tidak lelah jika baru mendarat sudah mau berbelanja?" kilah Juna.


"Tidak, Mas! Aku masih semangat. Sepertinya aku ingin memborong banyak benda di Spanyol" kata Athalia dengan kedua mata yang berbinar-binar.


__ADS_2