
Atha masih menangis sesegukan setelah kepergian Dira. Sudah satu jam berlalu, ia masih mengurung diri di ruang kerjanya. Untung saja saat ini tidak ada jadwal visit atau operasi. Semesta seakan memberi ruang kepada Atha untuk menetralkan hatinya terlebih dahulu yang sedang porak-poranda.
Sudah berkali-kali Atha meneguk air mineral guna meredamkan emosinya. Sudah tak terhitung berapa kali ia memencet despenser untuk mengisi gelas kosong miliknya. Namun, Atha masih saja menangis mengingat pertemuannya dengan Adira, CEO paling tampan dan rupawan.
Ceklek.
Pintu ruang kerja Atha terbuka. Seorang suster masuk dan ia langsung terkejut melihat wajah Atha yang basah. Suster itu ragu apakah ia akan meneruskan langkahnya atau kembali keluar.
Di satu sisi ia kaget melihat dokter panutannya dalam keadaan kacau seperti itu. Di satu sisi ia sungkan, ingin menghibur tetapi merasa sadar diri.
Atha yang masih tenggelam dalam zona kesedihan rupanya tidak sadar jika sejak tadi ada seseorang yang berdiri mematung di depan pintu. Kaki kanannya bergerak maju, mundur menggambarkan keraguan pada dirinya. Dengan membaca doa, suster itu akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Atha.
"Dokter Atha? Dokter menangis? Ada apa dokter?" tanya Nina, suster yang berada di ruang kerja Atha.
Suster Nina segera mengambil tisu, menyodorkan kepada Atha agar mengusap wajahnya. Ia juga mengisi gelas kosong milik Atha dengan air mineral lalu menyodorkan kembali kepada Atha.
"Dokter, maaf kalau saya lancang. Saya sepertinya datang di waktu yang tidak tepat" ucap Nina merasa tak enak hati.
Atha menggeleng.
"Kalau dokter butuh teman curhat, saya siap mendengarkan cerita dokter. Tapi kalau dokter Atha keberatan, tidak apa-apa. Saya akan pergi" ucap suster Nina.
Atha menarik nafas panjang. Emosinya mulai turun perlahan. Atha meminta suster Nina untuk duduk. Saat ini Atha butuh teman untuk bercerita. Ia tahu seperti apa watak suster di hadapannya. Bertahun-tahun menjadi suster pendampingnya, membuat Atha yakin untuk bercerita pada Nina.
Atha bercerita tentang masalahnya. Mulai dari pertemuannya dengan Dira, pencarian Dira hingga perjodohan oleh keluarga Dira yang tidak berhasil.
Atha juga menceritakan perihal Juna. Bagaimana mereka bertemu hingga akhirnya ia menikah. Atha menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Nina sebagai pendengar hanya bisa berkomentar dalam hati. Hatinya terenyuh mendengar cerita Atha. Nina benar-benar mencerna dan berusaha menjadi penengah yang tidak memihak siapapun.
"Kasian sekali suami bu dokter, laki-laki baik seperti dia tidak pantas disia-siakan" ucap Nina setelah Atha selesai bercerita.
"Apa aku berdosa, sus?."
"Bukan hanya berdosa, dokter, bahkan Tuhan murka kepadamu. Bagaimana bisa dokter menyakiti laki-laki semanis dan sebaik Pak Juna? Hatinya yang rapuh pasti hancur berkeping-keping" ucap Nina lagi.
"Darimana kau tahu suamiku bernama Juna? Bahkan kau tidak mengenalnya."
Nina menghela nafas panjang. Atasannya ini rupanya sedang amnesia.
"Bukankah Pak Juna sering menginap di sini saat dokter dinas malam? Pak Juna sering menunggu bu dokter di sini. Saya pernah bertemu Pak Juna berkali-kali. Beliau dengan sabar menunggu bu dokter. Kadang sambil membuka laptop, mengerjakan pekerjaannya dari sini."
"Masak?" tanya Atha tak percaya.
"Aduh! Dokter Atha kebanyakan visit pasien, sampai suami sendiri tidak di visit. Bu dokter, saya saja yang melihat ketulusan Pak Juna meleleh lho. Andai saja Tuhan memberi Nina laki-laki seperti Pak Juna, Nina bakalan kurung dia seharian di rumah" ucap Nina bersemangat.
"Bu dokter, janganlah menunggu laki-laki yang sudah menjadi hak perempuan lain. Bu dokter juga sudah punya suami. Meskipun seandainya idola bu dokter lebih cakep dan lebih lebih yang lain dari Pak Juna. Tidak seharusnya bu dokter menyakiti Pak Juna. Durhaka lho" kata Nina lagi.
Atha menunduk. Ceramah dari anak buahnya perlahan mulai bisa membuka hatinya.
__ADS_1
"Bu dokter minta maaf sonoh ama Pak Juna! Mohon ampun, cium kakinya kalau perlu. Habis itu pakai baju dinas malam jum'at, biar cepet punya anak. Pak Juna pasti senang kalau bu dokter hamil" Nina kembali mengompori Atha.
Atha bergidik ngeri. Ia masih ragu untuk meminta maaf pada Juna. Ego nya masih tinggi. Di satu sisi ia tidak ingin minta maaf. Di satu sisi ia takut Tuhan murka.
"Bu dokter, mending program hamil dulu sama dokter Candra. Minta tips dan trik biar cepat hamil. Nanti malem habis minta maaf sama Pak Juna, langsung deh praktikin" bisik Nina sembari cekikikan.
Ceklek.
Pintu ruang kerja Atha kembali terbuka. Muncul seorang laki-laki mengenakan snelli dari balik pintu.
"Kenapa kalian menyebut namaku? Ada perlu?" ucap laki-laki itu yang ternyata adalah dokter Candra.
Nina segera bangkit dari tempat duduknya. Ia mempersilakan dokter Candra untuk duduk. Nina yang memang sudah akrab dengan dokter Candra langsung saja berbisik menceritakan sekilas tentang masalah yang dialami oleh Athalia.
Suster Nina lalu undur diri. Ia memberikan ruang untuk kedua dokter itu berbicara.
"Aku tidak tahu jika kau sudah menikah, Atha" ucap Candra membuka pembicaraan.
"Pernikahannya tertutup untuk umum. Aku hanya mengundang keluarga saja" jawab Atha dingin.
"Ohh... Lalu apa penyebab kesedihanmu? Apakah kau dan suamimu bertengkar? Nina bilang kau ingin program hamil. Apakah kalian bertengkar masalah anak?" tebak dokter Candra asal.
Atha menggeleng. Ia kemudian menceritakan secara garis besar tentang masalahnya dan Juna. Sama seperti Nina, dokter Candra hanya diam ketika menjadi pendengar setia. Ia baru membuka suara ketika Atha selesai bercerita.
"Pulanglah! Ikuti saran Nina! Segera minta maaf kepada suamimu. Laki-laki itu tidak bersalah, mengapa kau sangat tega menyakitinya?" sesal Candra.
"Aku tidak mencintainya, Can."
"Sulit, Can, sulit!."
"Sulit bukan berarti tidak bisa. Dia sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi kau yang menyia-nyiakan kebaikannya. Jangan sampai kau menyesal, Atha. Laki-laki baik seperti Juna tidak pantas kau sakiti. Pulang! Sambut dia dengan penuh cinta. Mulailah kehidupan rumah tangga kalian yang baru."
Atha belum bergeming. Ia masih menimbang- nimbang apakah akan mengikuti saran dari dokter Candra.
Sedetik, dua detik. Entah angin dari mana Atha langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menyambar kunci mobilnya dan berlari meninggalkan ruangannya. Atha masuk ke dalam mobil dan mengendarinya secepat mungkin. Ia ingin cepat-cepat tiba di apartemennya dan bersiap-siap untuk menyambut Juna.
Sesampainya di apartemen. Atha segera mandi dan berganti baju. Ia langsung menuju dapur untuk membuat makan malam. Atha membuka kulkas, melihat bahan makanan yang ada.
Bingung memilih, Atha mengeluarkan semua bahan makanan yang ia punya. Entah makanan apa yang akan ia buat. Atha akan memasak sesuai instingnya saja. Ia juga memesan beberapa kue secara online. Rencananya setelah makan malam, Atha akan mengajak Juna menonton sembari minum teh dan makan kue.
Dua jam berlalu, langit sudah nampak gelap. Atha melihat jam dinding di dapur. Pukul 18.00, satu jam lagi Juna pulang. Ia segera menata makanan di meja makan. Ada ayam balado, plecing kangkung dan udang asam manis. Atha juga menggoreng tahu, tempe, dan terong. Tak lupa ia membuat sambal terasi.
Atha jadi bingung sendiri ketika melihat semua masakan yang sudah tertata rapi di atas meja. Apakah habis jika makanan sebanyak ini hanya untuk mereka berdua? Atha yang dilanda kebingungan menjadi kalap. Ia asal memasak saja semua bahan yang ada. Entah Juna akan memilih makanan yang mana karena Atha sendiri tidak tahu kesukaan Juna.
Di waktu yang sama. Ketika Atha sedang sibuk berkutat di dapur, Juna sedang berada di ruang kerja Kiara. Ia sedang di sidang oleh Dira. CEO paling tampan dan rupawan itu meluapkan kekesalannya.
"Letakkan ponselmu di atas meja!" perintah Dira.
Juna melirik ke arah Dira sebentar, kemudian dengan perlahan ia mengambil ponsel di sakunya dan meletakkan di atas meja sesuai perintah Dira.
__ADS_1
Dira mengambil ponsel Juna Ditatapnya Juna dengan tajam dan....
Braakkkkk
Kedua netra Juna nyaris copot. Di depannya, Dira membanting ponsel Juna dan menginjaknya sampai hancur. Juna ingin berteriak, ingin meminta Dira agar berhenti. Namun, Juna takut karena bos absurdnya itu tidak bisa diganggu jika sedang melakukan sesuatu.
"Dasar bodoh! Kau sudah diinjak-injak seperti ini. Tapi kau masih diam saja. Mayjuna! Kau laki-laki apa bukan hah? Aku sebagai kakak angkatmu merasa malu mengetahui hal ini."
Juna menelan salivanya. Ia tidak berani membuka suara. Rasanya Juna ingin menghilang saja jika berada bersama Dira. Andai saja ada Kiara, Juna tidak akan setakut ini.
"Apa bagusnya dokter tidak terkenal itu? Kau ini anak angkat keluarga Sanjaya. Adik angkatku, Kakak angkat Kiara, ipar angkat Elang. Kamu ini orang penting, Juna. Bagaimana bisa kau diam saja saat harga dirimu diinjak-injak seperti itu? Andai kau tahu, aku lebih suka kau menikahi si dakocan daripada dokter tidak terkenal itu. Setidaknya Lily mencintaimu meskipun over dosis" omel Dira.
"Maaf, Tuan" ucap Juna lirih.
"Nanti, tunggu lebaran kalau minta maaf" sahut Dira ketus.
Juna menunduk.
"Gara-gara lu, cerita gue nggak lanjut-lanjut. Gue jadi balik lagi kesini! Harusnya si othor ngelanjutin cerita gue. Tapi dia nggak sempat karena bini lu yang kebanyakan drama. Bisa-bisa cerita gue nggak laku" omel Dira menjadi-jadi.
Suasana hening beberapa saat. Dira mengisi gelas dengan air mineral dan meneguknya. Terlalu lama mengamuk membuat tenggorokannya sakit. Dira sepertinya harus membeli tenggorokan baru yang lebih tahan badai jika dipakai mengamuk. Ia akan mulai mencari di online shop, siapa tahu ada.
"Gue beri waktu sebulan untuk lu berfikir. Cerai atau talak si dokter tidak terkenal itu" kata Dira memberi tawaran.
"Tu...Tuan, cerai dan talak sama saja. Tuan menyuruh saya pisah dengan Atha?" tanya Juna tak percaya.
"Kenapa nggak? Dokter tidak terkenal itu sudah menginjak-injak harga dirimu. Gue sebagai kakak tertua di keluarga Sanjaya merasa tersinggung" ucap Dira emosi.
Juna yang semula duduk langsung bangkit dan berlari menghampiri Dira. Ia bersimpuh di hadapan Dira, meminta agar Dira tidak menyuruhnya bercerai dengan Atha.
"Lu dipelet apaan sih sama dokter itu? Tetep aja nggak mau pisah. Sebel gue."
"Saya mencintainya, Tuan."
"Tapi dia mencintaiku" ucap Dira bangga.
"Begini saja. Aku memberimu waktu sebulan untuk berfikir. Pergilah dari Jakarta! Kamu bisa pergi ke Pare atau ke Madura. Kalau memang kalian masih ada jodoh, Tuhan pasti akan membuka jalan untuk kalian."
Juna diam sejenak.
"Saya pulang ke Madura saja, Tuan."
"Begitu? Baiklah, berangkatlah sekarang! Lita akan mengurus keberangkatanmu."
"Sekarang? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Juna kaget.
"Terus elu mau nunggu lebaran kuda? Juna, jangan banyak membantah. Cepat keluar, temui Lita! Dia akan mengurus keberangkatanmu ke Madura."
"Lalu ponsel saya?."
__ADS_1
"Beli lagi, Junaaaa....!!!! Kamu bukan orang kere yang nggak mampu buat beli hape" teriak Dira.
Dira menyuruh Juna segera keluar dari ruangannya. Ia tidak mau emosinya berlanjut jika Juna masih berada di ruangannya.