HEI JUN

HEI JUN
99


__ADS_3

"Sayang, sepertinya sore ini saya ingin ke mall" ucap Juna ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Atha terdiam. Ucapan Juna itu terdengar aneh di telinganya. Pasalnya sejak ia berumah tangga dengan Juna, tak sekalipun Atha melihat Juna pergi ke mall. Paling mentok ke supermarket, membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas mereka.


Atha langsung curiga. Ada apa dengan suaminya ini? Datang-datang main gempur aja, habis mandi malah minta ke mall. Sungguh bukan kebiasaan Juna.


"Kau mau ngapain ke mall?" tanya Atha ketus.


Juna yang saat sedang mengeringkan rambutnya tentu saja heran dengan pertanyaan istrinya. Ngapain? Memang kalau ke mall mau ngapain selain belanja, makan dan nonton?


"Pertanyaanmu aneh" sahut Juna.


"Aneh? Apanya yang aneh? Justru kamu yang aneh. Tumben sekali kau ingin ke mall" ucap Atha cemberut.


Juna menghentikan aktifitasnya. Ia lalu menghampiri istrinya yang masih duduk di atas kasur. Tubuhnya ia tutupi dengan selimut, persis seperti kue gulung kesukaan Juna.


"Sepertinya kau harus dimintai jatah lagi" ucap Juna sembari memeluk tubub istrinya. Kedua tangannya berusaha membuka selimut yang membungkus tubuh Atha. Namun, Atha langsung memukul tangan Juna agar menjauh darinya.


"Hentikan! Aku mau mandi, Jun! Apa tidak kurang hah? Kau tadi menggempurku tanpa ampun. Tiga ronde, Jun! Tiga ronde" ucap Atha setengah berteriak.


"Jangankan tiga ronde! Kalau denganmu aku bisa beronde-ronde."


"Stop! Aku mau makan. Sejak tadi perutku keroncongan" ucap Atha kemudian ia bangkit dan berlari ke kamar mandi.


Juna tertawa cekikikan melihat tingkah istrinya itu. Ia kemudian melanjutkan aktifitasnya, mengeringkan rambut dan berpakaian.


Ceklek.


"Jun..."


Atha menyembulkan kepala di balik pintu kamar mandi. Juna kembali tertawa melihat tingkah istrinya itu. Apa-apaan dia? Kenapa malu-malu kucing seperti itu?


Apakah Atha tidak bisa keluar saja dari kamar mandi? Toh Juna sudah melihat dan merasakan seluruh badan istrinya. Ingin sekali Juna menarik tangan Atha agar ia keluar dari kamar mandi. Namun, niat iseng itu diurungkan Juna karena Juna khawatir istrinya akan semakin merajuk.


"Jun...! Aku memanggilmu. Mengapa kau diam saja?" tanya Atha cemberut.


"Iya, sayang. Saya datang. Butuh bantuan?" tanya Juna lembut.


Atha mengangguk.


"Aku lupa bawa baju ganti. Tolong ambilkan" bisik Atha dari jauh.


Juna yang memang tidak mendengar dengan jelas itu pun hanya bisa mengernyitkan dahi.


"Kamu butuh apa? Kenapa berbisik-bisik seperti itu?" tanya Juna lalu ia menghampiri Atha di depan pintu kamar mandi.


"Aku lupa bawa baju ganti. Tolong ambilkan!" ulang Atha.


"Baju ganti? Bukannya kau bisa mengambil sendiri, Sayang."


"Aku juga lupa bawa handuk, Jun."


"Masalahnya di mana?" tanya Juna pura-pura tidak paham.


"Juna!!!."


"Ya..." jawab Juna. Di saat istrinya sedang kesal seperti itu, Juna masih saja becanda.


"Aku sudah lapar, Jun. Tolong ambilkan makanan!"


"Makanan? Kau mau makan di kamar mandi?" tanya Juna.


"Junaaaa....!!! Aku jadi salah ngomong kan."


Atha kemudian keluar dari kamar mandi. Ia bergegas mengambil baju miliknya di lemari. Atha yang sedang kesal itu, lupa jika masih ada Juna di kamarnya.


'Hehehe'


Juna tertawa dalam hati. Juna tersenyum nakal melihat pemandangan indah di hadapannya. Seketika Atha tersadar jika Juna berada di belakangnya. Ia buru-buru memakai pakaiannya di hadapan Juna.


"Kenapa buru-buru berpakaian, Sayang?" bisik Juna. Tak lupa ia memeluk istrinya dari belakang.


"Junaaa...!!! Ayolah! Aku sudah lapar. Jangan seperti ini!."

__ADS_1


"Ganti bajumu!" perintah Juna.


"Ganti baju? Kenapa?."


"Kita akan ke mall. Setelah makan, kita berangkat. Saya tunggu di meja makan" ucap Juna kemudian mengecup singkat bibir istrinya.


***


Atha mengeratkan rangkulannya di lengan Juna. Sejak mereka memasuki area mall, banyak pasang mata yang tak henti mencuri-curi pandang ke arah Juna. Atha tentu saja kesal. Apakah para gadis itu tidak melihat jika Juna datang bersama dirinya? Apakah perempuan itu tidak melihat rangkulan tangan Atha di lengan Juna?


Ingin sekali Atha mencongkel bola mata mereka yang sudah mencuri-curi pandang ke arah suaminya. Atha merasa risih, Atha merasa jengkel.


"Sayang, kita ke sana!" ajak Juna.


Ia lalu menuntun tangan istrinya menuju toko pakaian wanita. Juna dan Atha disambut oleh karyawati toko yang masih muda belia. Karyawati itu tersenyum ke arah Juna sehingga membuat Atha kembali kesal.


"Selamat sore, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?."


"Saya mau mencari baju untuk istri saya. Tolong pilihkan yang paling bagus untuknya!" perintah Juna pada karyawati itu.


"Juna...!" panggil Atha.


"Kenapa, Sayang?."


"Ini toko mahal, Jun. Jangan membeli baju di sini! Satu potong baju di sini sama seperti sepuluh baju di tempat langgananku. Ayo, kita pergi saja!" bisik Atha.


Juna menggeleng. Istrinya itu ada-ada saja. Kenapa Atha masih mengkhawatirkan harga baju? Toh Juna pasti mampu membelinya. Jangankan baju di situ, SMA Cendekia saja bisa ia beli.


Juna tidak menghiraukan ajakan Atha. Ia malah melenggang masuk, mencari gaun untuk istrinya.


Baru lima menit melihat, Juna sudah memegang lima gaun. Karena Juna juga payah dalam hal fashion, jadi ia main comot saja gaun-gaun yang ada di gantungan.


Ia memberikan gaun itu kepada Atha dan menyuruhnya untuk mencoba. Atha tentu saja menolak. Namun, Juna memaksanya dan mengancam akan mengambil lebih banyak lagi bajunya.


"Jun, aku tidak suka bajunya! Lihatlah! Belahan dada rendah, tanpa lengan dan tinggi gaun ini di atas lututku" keluh Atha ketika ia keluar dari kamar ganti.


Juna tersenyum sumringah. Ia buru-buru membawa Atha masuk kembali ke ruang ganti.


"Kau gila, Jun! Kau mau aku memakai baju begini? Akan banyak mata yang melihat tubuhku, Jun! Lagi pula aku bisa masuk angin" kata Athalia.


"Saya tidak menyuruhmu memakainya di luar rumah. Pakai jika di rumah" ucap Juna lalu ia kembali mengecup bibir istrinya.


"Cepatlah ganti baju! Saya akan keluar untuk memilih baju yang lain" kata Juna lagi dan ia buru-buru keluar dari bilik ganti sebelum mendapat pukulan dari istrinya.


Atha bergegas berganti baju. Rasanya ia tidak perlu untuk mencoba baju yang lain. Satu tipe, hanya beda warna. Sepertinya Juna akan menyuruhnya memakai gaun itu dari hari Senin sampai Jum'at, persis seperti baju dinas.


Dan lagi Atha kembali dibuat terkejut saat dirinya keluar dari ruang ganti. Juna sudah menenteng sepuluh gaun lagi untuknya. Gaun itu ia berikan kepada kasir untuk segera dibayar. Atha bergerak cepat menghampiri Juna. Ia tidak mau Juna membeli baju-baju sexy seperti itu.


"Juna...!! Kau apa-apaan?" tanya Atha.


Juna bukannya menjawab pertanyaan Atha, ia malah mengambil baju yang dipegang istrinya. Dengan santai, Juna memberikan baju-baju itu kepada kasir yang sedang menghitung belanjaannya.


"Sekalian sama yang ini."


Juna menyodorkan kartu saktinya kepada kasir. Sekali gesek, selesai pembayaran belanjaan Juna. Ia lalu mengajak Atha untuk keluar dari toko baju itu. Tujuan Juna sekarang adalah toko sepatu.


"Jun, sepatuku masih banyak" ucap Atha.


Namun, lagi-lagi Juna mengacuhkan rengekan istrinya. Ia memutari etalase sepatu dari kanan ke ke kiri, mengambil sesuka hati tanpa tahu nomor dan harga dari sepatu itu.


Dengan enteng, sepuluh pasang sepatu dan sepuluh pasang sandal dengan berbagai model sudah berganti tangan dari Juna ke karyawati toko. Juna meminta kepada karyawati itu untuk memasangkan kepada Atha. Jika ukurannya tidak pas, Juna meminta agar dicarikan ukurannya.


Atha hanya bisa pasrah. Terserahlah! Mau menolak juga tidak akan dihiraukan. Jadilah Atha mendapatkan sepuluh sepatu dan sepuluh sandal dengan berbagai model.


"Jun, kita pulang saja ya! Belanjaan kita sudah banyak" ajak Atha. Ia tidak ingin suaminya itu semakin kalap berbelanja.


"Tidak! Aku akan membawamu ke salon. Di sana aku melihat ada salon" ucap Juna kemudian menarik tangan Atha.


Atha kembali mengekori Juna. Kedua tangannya sudah penuh dengan belanjaan dan Juna masih membawanha ke salon. Ah, rasanya Atha sudah tidak kuat berjalan.


Juna langsung masuk ke dalam salon. Ia disambut oleh karyawan laki-laki yang lemah gemulai. Karyawan itu tersenyum genit kepada Juna. Tapi, namanya Juna pasti tidak sadar dengan ulah karyawan itu.


"Syelamat syoreee, Tuan ganteng. Mau paket apah yaw" ucap lelaki gemulai itu.

__ADS_1


"Make over istri saya. Buat secantik mungkin. Warnai rambutnya agar lebih berkilau" perintah Juna.


"Baik dwong. Yuk, cyin! Ikut mamake" karyawan salon itu menarik tangan Atha. Ia menarik kirsi dan mendudukkan Atha di sana.


Atha menurut saja. Ia membiarkan lelaki gemulai itu melakukan tugasnya.


"Sayang, kamu di sini dulu! Saya mau meletakkan barang-barang ini di mobil."


Atha mengangguk saja. Ia melambaikan tangan ketika Juna mulai meninggalkan salon.


"Syuami yey udah ganteng, dompet tebel, baik lagi. Mamake mau dwong jadi simpenan?" kata lelaki gemulai itu.


Atha langsung melotot. Ia mencubit paha lelaki itu dengan gemas. Atha melotot ke arah lelaki itu. Ia menampakkan wajah judesnya dengan sempurna.


"Wadawww! Istrinya garang bo'. Kirain pendiem ternyata macan juga. Pasti yey di ranjang begitu juga khaaaannn...."


Omongan karyawan salon itu membuat wajah Atha merah padam. Ia malu sekali mendengar ucapan lelaki itu. Atha memilih diam. Ia tidak menanggapi ucapan karyawan salon itu.


Dua jam kemudian, Atha sudah selesai dengan make overnya. Ia menatap penampilannya di depan kaca. Atha benar-benar tidak percaya. Wajahnya bisa berbeda seperti ini.


"Bagus kan hasil kerja mamake? Makanya buang tuh kacamata. Menutupi keindahan hayati tau" omel karyawan itu.


Atha kembali mengacuhkan omelan laki-laki itu. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari salon itu. Lagi pula perutnya kembali keroncongan. Ia ingin ke foodcourt untuk membeli makanan.


Karena Juna tak kunjung muncul, Atha memilih membayar sendiri. Ia mengeluarkan kartu debit miliknya untuk membayar. Kedua bola matanya nyaris copot ketika melihat deretan angka yang tertera di struk pembayaran. Sepertinya setelah ini, ia akan merampok dompet milik Juna.


Atha keluar dari salon dengan terburu-buru. Ia tidak memperhatikan jalan sehingga tanpa sengaja Atha bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya juga terburu-buru. Mereka jatuh tersungkur di lantai. Atha meringis kesakitan, merasakan nyeri di kedua sikunya.


"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja menabrak Ibu."


Atha mendongakkan kepalanya. Ia terkejut ketika melihat sosok yang baru saja bertabrakan dengannya.


"Saya sedang mengejar anak saya. Dia memang sedang aktif-aktifnya. Maaf, sekali lagi maaf" kata perempuan itu kemudian berlalu dari hadapan Atha.


Atha bangkit dari duduknya. Ia segera memutar tubuhnya dan berjalan mengikuti perempuan itu.


"Juna, mama bilang apa? Jangan berlarian di mall! Kamu bisa hilang" tegur Diandra.


Bocah laki-laki itu tertawa mendengar omelan Diandra, berbeda dengan Atha yang diam mematung bersembunyi di belakang pilar.


"Ma...ma....ma... Juna mau es klim."


"Es krim? Nanti setelah kita makan. Juna harus makan biar cepat besar."


"Kalau Juna matan banyak, Juna dapat hadiah ya Ma?."


"Oke, Juna mau apa?."


"Juna mau Papa."


Diandra tertawa. Ia kemudian menggendong bocah laki-laki itu dan membawanya menuju food court yang berada di lantai atas.


Atha menunduk lesu. Lagi-lagi ia bertemu dengan masa lalu Juna.


Puk


Seseorang menepuk bahu Atha. Atha terjungkat kaget dan segera memutar tubuhnya.


"Sayang, kenapa di sini? Kenapa tidak menungguku di salon?" tanya Juna. Ia yang kebingungan akhirnya lega ketika menemukan istrinya.


"Aku lapar, Jun. Aku mau cari makan. Lagipula mengapa kau lama sekali? Bukankah kau bilang mau meletakkan barang-barang belanjaan?" gerutu Atha.


"Maaf, sayang. Setelah meletakkan barang belanjaan tadi. Saya malah belanja lagi. Jadinya saya bolak balik ke parkiran. Kamu lapar ya? Ayo, kita ke food court!" ajak Juna.


Atha menarik tangan Juna. Ia teringat jika Diandra juga menuju ke food court. Atha tidak mau mereka bertemu. Atha tidak mau Juna mengetahui tentang anak laki-laki Diandra.


"Aku ingin makan bakso saja, Jun. Bakso di abang-abang gerobak."


"Bakso di abang-abang gerobak?" ulang Juna.


Atha mengangguk.


"Baiklah, kita cari di jalan. Pasti banyak abang tukang bakso yang berjualan di pinggir jalan" ucap Juna.

__ADS_1


__ADS_2