
Athalia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia lelah sekali. Kegiatannya bersama Juna di sore ini sungguh membuat fisik dan batinnya lelah. Fisiknya memang lelah berjalan. Namun, hati lelah karena lagi-lagi ia bertemu dengan masa lalu Juna.
Pertanyaan yang sama selalu melintas di dalam benaknya. Apakah ia harus memberi tahu Juna? Apakah ia boleh egois saja? Ah, Atha pun sepertinya sudah bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Andai saja ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan cara menghitung kancing. Pastilah, Atha akan melakukannya.
"Yesha"
Entah angin dari mana, tiba-tiba saja nama Yesha muncul di otaknya.
"Apa aku harus bercerita padanya?" monolog Atha.
Ia masih ragu untuk berbagi masalahnya. Ia memejamkan kedua matanya sembari menghitung dari satu sampai sepuluh.
"Aku butuh teman untuk bercerita" gumam Atha.
"Tapi aku tidak mungkin bercerita kepada Juna" gumam Atha lagi.
Atha lalu bangkit dari tidurnya. Ia turun dari kasurnya, berjalan menuju meja riasnya. Atha mengambil tas selempang yang tadi ia pakai saat berjalan-jalan dengan Juna. Ia membuka tas itu guna mengambil ponselnya.
"Telepon atau chat ya?" tanya Atha pada diri sendiri.
Ia melirik jam di layar ponselnya. Masih pukul tujuh malam. Sepertinya masih wajar jika ia menelepon Yesha sekarang.
"Tidak! Bagaimana jika Juna mendengar percakapanku?" tanya Atha lagi mengingat mereka sudah kembali menginap di apartemen milik Juna.
Saat ini Juna sedang berada di ruang kerjanya. Ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dilimpahkan oleh Kiara. Atha khawatir saja jika nanti Juna tiba-tiba muncul saat ia menelepon Yesha. Bisa tamat riwayatnya jika Juna tahu tentang apa yang ia pikirkan.
"Chat saja. Nanti kan bisa di hapus" gumam Atha lagi.
Ia segera menekan aplikasi gagang telepon berwarna hijau dan mengirim pesan untuk Yesha.
[*Yesha_] : Ada apa, Tha?
[Atha] : Aku ingin cerita. Kamu ada waktu?
[Yesha_] : Gue free. Telpon aja ya. Gue males ngetik*.
Belum sempat Atha membalas pesan dari Yesha, ia sudah mendapatkan telepon dari Yesha. Atha menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia menjawab telepon dari Yesha.
"Ada apa, Tha? Ada masalah dengan Juna?" tanya Yesha to the point.
Atha menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi kode agar Yesha tidak terlalu keras berbicara.
Yesha yang mendapatkan kode seperti itu tentu saja heran. Ada apa gerangan? Tumben-tumben Atha menyuruhnya agar tidak berisik.
"Aku ada masalah. Tapi aku takut Juna mendengarkan pembicaraan kita" bisik Atha.
"Suamimu di mana sekarang?."
"Dia di ruang kerjanya. Aku takut dia tiba-tiba masuk" jawab Atha lagi.
Yesha menggelengkan kepalanya. Ia juga bingung harus berkomentar apa pada Atha.
"Masalahnya apa, Tha? Kenapa kamu sepanik ini?" tanya Yesha. Ia dapat melihat wajah Atha yang tidak tenang seperti biasa.
Atha menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan Diandra saat di rumah Kiara dan di mall. Tak lupa ia mengatakan jika Diandra membawa anak yang bernama Juna.
__ADS_1
Atha menceritakan ketakutannya. Kemungkinan Juna akan berpaling atau bahkan berpoligami mengingat ia mempunyai ikatan anak dengan Diandra sedangkan dengan dirinya, Juna belum memiliki anak.
"Apa lu yakin itu anak Juna? Bisa jadi kan Diandra menikah sama orang lain terus punya anak namanya Juna" ucap Yesha.
"Setahuku Diandra memang sudah menikah tapi bercerai akibat skandal panasnya dengan Juna."
"Lu kan nggak tahu setelah itu dia nikah lagi apa nggak?. Menurut gue, jangan gegabah! Lu pastiin dulu deh, itu anaknya Juna atau bukan."
"Tapi kalau melihat umur anak itu dan rentang waktu kejadian panas itu, memang klop kok" bantah Atha.
"Ya, kita kan nggak tahu kebenarannya seperti apa. Kalau memang lu mau tahu pastinya. Juna harus melakukan tes DNA dengan anak itu."
"Bagaimana caranya? Aku saja bertemu anak itu saat di mall. Aku tidak tahu alamatnya" ucap Atha frustasi.
"Lupakan! Tidak ada gunanya kau menghawatirkan sesuatu yang belum pasti."
"Bagaimana kalau Juna bertemu dengan mereka?."
"Biarkan saja. Lagi pula wajah Juna sudah berubah. Diandra tidak akan mengenalinya. Dengan Juna bertemu Diandra, gue bisa liat Juna masih trauma apa nggak" sahut Yesha santai.
"Yesha!!! Nggak! Juna nggak boleh ketemu mereka. Juna nggak boleh ketemu mereka."
"Kamu itu manusia biasa, Atha. Jika Tuhan sudah berkehendak akan mempertemukan mereka, kamu mau apa? Jangan melawan takdir, Tha! Ikuti alurnya!" ucap Yesha kemudian ia menutup panggilan teleponnya.
Atha meraup wajahnya dengan kasar. Ia kembali merasa gelisah. Bercerita dengan Yesha tidak memberinya solusi, bahkan Atha semakin frustasi.
Atha beranjak dari tempat duduknya. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar. Sepertinya Atha butuh menghirup udara segar.
Atha berjalan keluar dari unit apartemen Juna seorang diri. Ia bahkan lupa berpamitan pada Juna. Atha berjalan sambil melamun.
Atha tersadar jika ia sudah berada di lobby. Atha memukul pelan kepalanya. Bisa-bisanya ia berjalan sambil melamun tanpa arah seperti itu.
Atha memutar balik tubuhnya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju unitnya. Atha khawatir Juna akan mencarinya mengingat Atha tidak membawa ponsel dan dompet. Atha buru-buru masuk ke dalam lift dan menekan angka 9.
Ting!
Pintu lift terbuka. Wajah Atha langsung kaget ketika melihat Juna sudah berada di depan pintu lift. Sepertinya Juna keluar untuk mencarinya. Terlihat dari wajah Juna yang panik dan berubah lega saat melihat Atha muncul dari lift.
"Sayang, kau kemana hah? Kau membuatku panik."
Juna langsung menarik tubuh Atha keluar dari lift dan segera memeluknya dengan erat.
"Maaf, Jun! Aku keluar sebentar untuk mencari udara segar" ucap Atha.
Juna segera mengurai pelukannya. Ia kembali menarik tangan Atha dan membawanya pulang ke unit mereka.
Juna langsung membawa Atha ke kamar mereka. Ia menyuruh Atha naik ke atas kasur untuk melakukan sesi pillow talk.
Mereka merebahkan tubuh masing-masing, tidur dengan posisi saling berhadapan sembari memeluk guling.
Juna menatap wajah istrinya dengan sendu. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Atha terlalu lama di kamar. Juna pikir Atha akan segera tidur mengingat Atha mengeluh jika dirinya kelelahan saat berbelanja.
Rupanya Juna salah besar. Atha malah menunggunya di kamar hingga bosan. Andai saja Juna mengerjakan tugas dari Kiara di kamarnya, mungkin Atha sudah terlelap di sampingnya.
"Kau bosan di kamar? Maaf, saya terlalu lama di ruang kerja sampai mengacuhkanmu" ucap Juna membuka obrolan.
__ADS_1
Atha menggeleng.
"Saya pikir kamu akan tidur duluan. Jadi saya menyelesaikan semua pekerjaan Nyonya bos dulu sampai tidak tahu waktu."
"Tidak apa-apa, Jun! Itu memang tugasmu. Aku tidak mau kau melalaikan tugas dari atasanmu. Maaf jika aku membuatmu khawatir" ucap Atha sembari menundukkan kepalanya.
"Jun, apa aku boleh bertanya?."
Juna mengangguk.
"Mengapa hari ini kau membelikan aku banyak sekali baju dan sepatu?."
"Karena kamu istriku. Istri yang paling saya cintai."
Cup
Juna mengecup singkat bibir Atha.
"Apakah kita akan menetap di sini?."
"Mau menetap atau tidak, saya akan membelikanmu baju dan sepatu. Mengapa kamu bertanya seperti itu? Kita menikah sudah lama tapi saya belum pernah membelikanmu apa-apa" ucap Juna.
"Barang-barangku masih ada, Jun."
"Berikan saja pada panti asuhan. Besok saya akan mengisi lemarimu dengan yang baru."
"Jangan, Jun! Jangan buang-buang uang!" tolak Atha. Ia merasa sungkan pada Juna.
"Saya tidak buang uang, sayang. Saya memakai uang itu untuk mempercantik istriku sendiri."
Ucapan Juna membuat pipi Atha merona. Hatinya menghangat, merasakan perhatian Juna kepada dirinya. Namun, Atha sepertinya malu untuk merespon ucapan Juna. Ia hanya menggihit bibirnya, menahan senyum.
"Jun, apa tidak sebaiknya kita kembali ke Surabaya? Kamu kan masih tahap penyembuhan trauma."
Juna menggeleng.
"Kita harus di sini, sayang. Nyonya Kiara menunjukku sebagai penggantinya selama dia cuti hamil. Saya yang memegang Sanjaya corp."
"Bukankah ada Mr. Adirra, CEO paling tampan dan rupawan?."
Juna menggeleng.
"Tuan Dira sudah kembali ke New York. Tugasnya untuk mendampingi Nyonya Kiara sudah selesai."
"Itu artinya kau akan satu ruangan dengan Lita?" raut wajah Atha kembali masam. Ia ingat betul bagaimana tingkah sekretaris Kiara itu saat Juna bertanding tenis. Kegenitan, persis seperti cacing kepanasan.
"Tentu saja, tidak. Kami punya ruangan sendiri. Lagi pula tidak hanya Lita yang membantuku. Ada sekretaris laki-laki juga. Sayang, jangan berfikiran macam-macam. Saya tidak akan macam-macam di kantor" ucap Juna meyakinkan hati Atha.
Atha mengangguk meskipun hatinya masih gundah gulana, memikirkan pertemuannya dengan Diandra.
Sebenarnya Atha ingin sekali membahas tentang Diandra. Namun, ia ragu untuk mengatakan hal itu. Atha takut merusak suasana nyaman di kamar mereka.
"Sepertinya kita harus tidur. Besok saya harus ke kantor pagi-pagi" ucap Juna kemudian ia mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Atha mengangguk. Ia memindahkan guling yang sedari tadi dipeluknya. Begitu pun Juna. Pertama kalinya sejak mereka menikah, Atha memeluk Juna terlebih dahulu. Ia menyandarkan posisinya di dada bidang Juna, mencari posisi ternyaman untuk dirinya terlelap.
__ADS_1
Juna tersenyum senang tatkala melihat wajah istrinya sudah terlelap. Juna menegratkan pelukannya dan menyusul Atha ke alam mimpi.