
Juna mengajak Atha berkeliling dari stand makanan yang satu ke stand makanan yang lain. Entah sudah berapa kali Juna dan Atha mencicipi makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Semua enak dan cocok di lidah mereka.
Saking asyiknya berwisata kuliner, Juna dan Atha tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Lily berdiri sembari bersedekap mengamati Juna yang nampak bahagia bersama istrinya.
Bagi Lily ini tidak adil. Seharusnya Juna berada di samping Lily. Seharusnya Juna menikah dengan Lily. Pernikahan Edward dan Lily hanyalah sebuah status saja. Tanpa rasa cinta dan kasih sayang. Sehingga meskipun sudah berjalan setahun lebih, Edward dan Lily masih tampak seperti dua orang asing.
"Aku harus merebutmu, honey. Perempuan itu tidak pantas bersanding denganmu. Apa bagusnya dia? Standart seperti pelayan di mansionku" gumam Lily.
Lily mengusap perutnya yang rata. Sedikit menyesali dengan pernikahannya karena sejatinya Lily tidak hamil setelah kejadian itu. Pernikahan yang terlalu terburu-buru.
"Aku harus kembali menjeratmu. Pasti sangat menyenangkan jika istrimu mendapati kita sedang memadu kasih" ucap Lily sembari menyeringai licik.
Lily berjalan mendekati tempat Juna dan Atha. Ia sengaja mengambil posisi yang tidak terlalu jaih agar bisa memantau gerak-gerik Juna dengan jelas. Raut kebencian jelas tercetak pada wajah Lily saat melihat pemandangan mesra di hadapannya.
Melihat Juna yang menyuapi Atha dengan telaten membuat hati Lily panas. Mengapa dulu Juna tidak selembut itu padanya? Mengapa dulu Juna tidak sebahagia itu dengannya? Lily berpikir jika Atha sudab mencuci otak Juna sehingga Juna bisa jinak kepadanya layaknya anak kucing.
"Sayang, saya mau ke toilet. Kamu tidak takut kan di sini sendirian?" tanya Juna lembut.
Atha menggeleng. Baginya berada di tempat penuh dengan makanan seperti itu tidak akan membuatnya takut.
Melihat wajah ceria istrinya membuat Juna yakin untuk beranjak. Ia segera berlari menuju toilet karena panggilan alam yang sudah di ujung.
Seutas senyum terbit di bibir Lily. Ia merasa ada peluang untuk menjerat Juna. Lily berjalan menuju meja bartender. Ia meminta sebotol vodka yang sudah tinggal separuh.
Lily membawa botol vodka itu menuju kamar mandi. Pikirannya sudah membayangkan sesuatu yang panas dan menyenangkan. Kapan lagi ia bisa bermain dengan Juna. Juna hanya perlu dibuat mabuk dan otomatis ia akan bernafsu sehingga tidak akan menolak serangan Lily.
"Tolong jaga di depan. Beri tanda jika toilet ini rusak" bisik Lily pada salah satu crew keamanan yang bertugas. Tak lupa Lily menyelipkan beberapa lembar uang euro pada saku kemeja uang itu dan dengan santainya Lily melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Ia melihat ada satu pintu yang tertutup. Lily yakin jika itu adalah Juna. Lily mengetuk pintu itu dan
Ceklek...
Saat pintu terbuka Lily langsung masuk dan menerjang Juna. Juna yang belum siap tentu saja kaget. Lily mendudukkan Juna di atas closet dan dengan cepat ia duduk dipangguan Juna. Lily membuka paksa mulut Juna dan memasukkan vodka yang dibawanya.
"Mmppphht..." Juna berusaha memberontak. Namun, Lily semakin kuat menduduki Juna. Ia juga semakin cepat meminumkan vodka pada Juna. Ia sudah tidak sabar melihat Juna kepanasan tersulut gairah esek-esek.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Lily?" tanya Juna. Ia memegang kepalanya yang sudah mulai berat.
Lily bangkit dari pangkuan Juna. Ia segera mengunci pintu kamar mandi. Melihat Juna hang sudah mabuk membuat Lily senang bukan main.
"Aarrrrggggghhh....." teriak Juna. Kedua matanya sudah berkunang-kunang.
Lily langsung melancarkan aksinya. Menerjang bibir Juna tanpa ampun. Juna pun tak menolak. Ia membalas tindakan Lily lebih bringas lagi. Kedua tangannya bergerilya ke sana ke sini membuat Lily semakin senang. Ia bahkan membantu Juna melepaskan gaun yang dikenakan Lily.
"Nikmati saja, honey! Kau perlu merasakan sensasi yang berbeda. Produk import memang lebih istimewa dibandingkan produk lokal" bisik Lily. Ia menuntun Juna agar bermain lebih ganas lagi di kedua aset kembarnya.
Lily yang sudah tidak sabar segera membuka retsliting celana Juna. Tonjolan Tyrex Juna sudah terlihat jelas. Lily tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Ia mengusap sang Tyrex dari balik celana boxer yang dikenakan Juna dan...
Brakkk.
"Brengseeeek...!!!"teriak Atha.
Atha muncul bersama Edward yang membantunya mendobrak pintu kamar mandi. Wajah Atha merah padam melihat kondisi Lily dan Juna. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menjambak rambut Lily.
"Wanita siallan! Wanita murahan! Seribu dapat tiga! Kau sudah bersuami tapi masih mengganggu suamiku!"
Plak...Plak...Plak...
Edward yang semula ingin beranjak untuk melihat Juna, harus menunda langkahnya sejenak. Edward menahan tawanya mendengar umpatan Atha. Bisa-bisanya Atha menyamakan Lily dengan snack yang bisa dapat tiga biji jika membayar seribu?
Puas menampar, Atha menyeret Lily agar keluar kamar mandi. Ia melanjutkan aksinya di lorong kamar mandi karena lebih leluasa untuk bertindak bar-bar.
"Pak Edward, apakah Anda keberatan jika istri Anda saya cakar wajahnya?" tanya Atha.
"Silakan, Ibu! Lakukan apa yang Ibu mau. Saya akan mengurus Pak Mayjuna yang sepertinya mabuk berat. Saya akan bawa ke kamar. Silakan Anda bersenang-senang di sini! Setelah puas, hubungi saya!" ucap Edward kemudian ia berlalu dari hadapan Atha untuk memapah Juna keluar dari kamar mandi.
Tak lupa Edward juga membenarkan celana Juna yang sudah dibuka oleh Lily. Keadaan Juna yang kacau harus segera diatasi agar tidak menimbulkan masalah.
Plak.
"Kau mau menjebak suamiku, hah? Tamparan perkenalan dariku belum cukup untukmu?" ucap Atha geram
__ADS_1
Plak... Plak...Plak..
Atha semakin bar-bar. Selain menampar Lily, Atha juga mengacak-acak rambut dan wajah Lily. Tubuh polos Lily tak luput dari amukan Atha. Ia tidak memperdulikan teriakan Lily yang meringis kesakitan.
Atha sudah memperingatkan. Namun, Lily tidak mendengarkan. Inilah akibatnya jika mengusik singa betina yang sedang lapar. Dandanan Lily sudah berantakan. Baju jaring-jaringnya sudah basah karena Atha menjadikannya kain pel.
"Ibu, Pak Mayjuna..." kata Edward yang datang sembari berlari kecil.
Melihat kedatangan Edward membuat Atha berhenti mengacak-acak wajah Lily.
"Ada apa Pak Edward?."
"Pak Mayjuna mabuk berat dan dia sedang turn on. Semoga Anda paham" kata Edward tidak melanjutkan ucapannya.
Edward menyerahkah key card pintu kamar yang ditempati Juna. Atha mengambil kartu itu dengan cepat.
"Kau bisa urus istrimu kan, Pak Edward?" tanya Atha dingin.
"Bisa, Ibu. Biarkan wanita gila ini menjadi urusan saya" ucap Edward. Sebenarnya Edward juga merasa malu dengan tingkah Lily.
Atha mengangguk. Ia bergegas pergi meninggalkan kamar mandi. Atha mempercepat langkahnya menuju kamar yang ditempati Juna. Ia khawatir jika suaminya itu bertindak aneh.
Ting!
Pintu kamar yang ditempati Juna terbuka setelah Atha menempelkan kartu akses untuk masuk. Atha masuk dan meletakkan kartu itu di tempatnya.
Baru saja menutup pintu. Tangan Juna langsung menarik Atha ke dalam pelukannya. Juna menyerang bibir Atha dengan ganas.
"Mmpppp...Mas... Bennnn...tar...." Atha melepaskan diri dari Juna. Ia melihat tampilan suaminya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.
"Aku mau kamu" bisik Juna sembari menjilati leher istrinya.
Atha menghela nafas panjang. Baru saja mengisi perut dengan kalori yang cukup dan kini ia harus membakar kalori itu dengan berolahraga bersama Juna.
Juna membuka gaun yang dikenakan Atha. Ia lalu membopong istrinya dan menjatuhkan di atas kasur.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Mas! Perutku masih kenyang" ucap Atha.
Namanya juga lagi mabuk. Juna mengacuhkan ucapan istrinya dan langsung mengeksekusi Atha dengan bringas. Entah sudah berapa kali Atha berteriak karena pelepasan yang di alaminya, Juna seakan tidak mau berhenti dan terus bermain hingga Atha tertidur akibat kelelahan.