
"Pak Mayjuna? Bagaimana Anda bisa ke sini?" tanya Diandra heran.
Juna membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Diandra. Namun, dengan secepat kilat Athalia menutup mulut Juna. Ia memberi kode agar Juna diam karena Atha yang akan menjawab pertanyaan Diandra.
"Maaf, jika mengganggu! Kami bisa ke sini karena bantuan Kiara yang mencari informasi tentang Mbak Zeze."
Diandra mengerutkan dahi. Ia merasa tidak paham dengan ucapan perempuan di hadapannya.
"Begini Mbak Diandra, waktu pemotretan kemarin Mas May bercerita jika ia bertemu dengan Mbak Diandra. Mas May juga mengatakan jika Mbak Diandra mempunyai anak laki-laki yang sangat lucu. Saya sedang hamil dan entah mengapa mendengar cerita suami saya, saya ingin melihat anak Mbak Diandra. Namanya bawaan ibu hamil. Saya sendiri heran dengan keinginan saya ini" kata Athalia mulai mengarang bebas tentang maksud dan tujuannya mendatangi Diandra.
Diandra manggut-manggut. Ia mencoba mencerna ucapan perempuan di hadapannya.
"Saya sampai tidak bisa tidur, Mbak. Rasanya ingin sekali menggendong anak Mbak Diandra. Maklum, saya butuh waktu lama untuk bisa hamil. Sekalinya hamil malah ingin gendong anak orang."
Juna menatap wajah istrinya dengan tatapan heran. Ia tidak menyangka jika Athalia bisa mengarang bebas seperti itu.
"Jadi saya meminta tolong kepada Kiara. Karena dialah yang menghubungi Mbak Zeze. Syukurlah dengan bantuan anak buah Kiara, kami mendapatkan alamat Mbak Diandra di sini."
Lagi-lagi Juna dibuat speechless dengan kebohongan Athalia.
"Anda segitunya ngidam ingin melihat anak saya padahal di luar sana banyak bocah-bocah yang lebih lucu dari pada anak saya" ucap Diandra yang merasa sedikit curiga dengan alibi yang dibuat oleh Athalia.
Athalia menunduk. Ia mengubah raut wajahnya menjadi sedih. Melihat Atha yang mulai berkaca-kaca membuat Juna seketika panik.
"Sayang, ke...ke...kenapa menangis? Kita ke sini kan mau...."
"Aku hanya ingin menggendong anak itu, Mas. Aku juga tidak tahu mengapa bisa sangat menginginkan hal itu" Atha buru-buru memotong ucapan Juna. Ia khawatir Juna keceplosan sehingga mengatakan tujuan mereka sebenarnya.
"Ah, maaf jika saha membuat Anda sedih. Saya paham jika hormon kehamilan membuat kita menjadi orang lain. Sebentar, saya akan bawa Juna ke sini. Dia sedang disuapi oleh Mbok De."
"Ah, Mbak Diandra! Saya ingin menyuapinya. Boleh?" pinta Atha yang langsung diiyakan oleh Diandra.
Diandra mengajak Atha ke halaman belakang. Do sana nampak Juna kecil sedang tertawa cekikikan bersama Mbok De. Wajah Juna belepotan, penuh dengan nasi. Mungkin saja balita itu sedang berulah, mengerjai diri sendiri dengan makanan yang seharusnya ia makan.
"Dia tampan sekali" seru Atha ketika melihat Juna kecil.
"Apakah Papa nya juga tampan?" lanjut Atha.
"Ya, Papanya tampan" gumam Diandra lirih.
Atha bisa mendengar nada sendu dalam ucapan Diandra. Namun, ia berpura-pura tidak tahu.
Juna kecil mengarahkan tangannya kepada Diandra. Bocah berumur dua tahun itu sepertinya ingin berada dalam dekapan ibunya.
Diandra yang peka langsung mengambil Juna. Bocah itu langsung tertawa sembari menepuk-nepuk pipi Diandra.
"Mbak... Boleh saya gendong?" tanya Atha.
Diandra nampak ragu untuk memberikan Juna. Namun, melihat netra Athalia yang sudah berkaca-kaca membuatnya tidak tega.
"Sambil duduk saja dan hati-hati. Anda sedang mengandung. Tidak baik menggendong Juna terlalu lama" kata Diandra menasehati.
Atha mengangguk. Ia segera mengambil alih Juna dari gendongan Diandra. Bocah laki-laki itu awalnya tidak mau. Namun, setelah beberapa kali di bujuk Juna kecil akhirnya luluh. Ia mengulurkan kedua tangannya kepada Athalia.
Athalia menyambut uluran tangan Juna kecil dengan senang. Ia langsung menciumi kedua pipi gembul Arjuna. Ah, andai saja Juna adalah anaknya! Andai saja Juna adalah darah dagingnya. Pastilah Atha dan Juna akan sangat bahagia.
"Hati-hati! Saya sangat khawatir dengan kandungan Anda. Lebih baik kita ke dalam. Kasian suami Anda sendirian" kata Diandra memberi saran.
"Tidak apa-apa Mbak Diandra. Lebih enak di sini, sejuk sekali. Juna sepertinya nyaman di sini."
Atha kemudian mengambil tisu basah yang dipegang oleh Mbok De. Ia mengusap wajah Juna secara perlahan, membersihkan dari butir-butir nasi yang menempel di wajahnya.
"Apa Anda tidak keberatan jika saya tinggal sebentar? Saya ingin ke kamar mandi" ucap Diandra. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Mbok De dengan cepat, memberi kode agar Mbok De mengawasi Athalia dan Arjuna.
"Silakan Mbak Diandra! Saya tunggu di sini saja. Setelah selesai menyuapi Juna, saya akan pamit. Begini saja saya sudah senang."
__ADS_1
Diandra kemudian berlalu meninggalkan Atha dan Mbok De.
"Ibu sepertinya sangat suka anak-anak" tanya Mbok De.
Atha mengangguk. Ia memberikan senyum manisnya kepada Mbok De.
"Sudah hamil berapa bulan?" tanya Mbok De lagi.
"Baru masuk enam minggu" jawab Atha ngasal.
"Iya kah?" Mbok De memicingkan kedua matanya. Sebagai wanita berpengalaman ia bisa membedakan wanita hamil atau tidak hanya dengan melihatnya saja.
"Kenapa Mbok De?."
"Ah, tidak! Hanya bertanya saja. Apakah Ibu tidak mengalami mual?" tanya Mbok De lagi.
"Tidak, Mbok De. Kehamilan saya sangat aman. Hanya kalau ngidam harus segera dituruti. Saya akan menangis meraung-raung jika suami saya tidak mengabulkan permintaan saya" ucap Atha dan lagi-lagi ia mengarang bebas.
"Aduh, Arjuna rambutnya kotor! Sini Tante bersihkan!."
Atha tidak berbohong kali ini. Kepala Arjuna banyak dijatuhi daun-daun kecil. Mungkin Mbok De tidak nampak sehingga ia membiarkannya. Atha membersihkan rambut Juna dengan pelan. Tak lupa ia mencabut dua helai rambut Juna dan segera ia masukkan ke dalam saku bajunya.
Bocah itu sedikit meringis. Namun, dengan cepat Atha menoel-noel hidungnya sehingga Juna urung merengek. Atha juga bernyanyi sembari bertepuk tangan.
"Sayang...." panggil Juna.
Athalia menghentikan nyanyiannya. Ia melihat suaminya berdiri dengan raut wajah kesal. Atha paham penyebab Juna merasa kesal. Tingkahnya yang tidak sesuai dengan skenario Juna, pastilah membuat Juna dongkol.
Atha menyerahkan Arjuna kepada Mbok De. Ia segera bangkit menghampiri Juna.
"Ada apa, Mas?" tanya Atha.
"Kita pulang sekarang."
"Kita pulang sekarang, karena saya bosan menunggu di ruang tamu sendirian."
Juna langsung menarik tangan Atha. Mau tidak mau, Athalia menuruti kemauan Juna. Saat mereka hendak kembali ke ruang tamu, mereka berpapasan dengan Zeze. Juna langsung saja pamit kepada Zeze tanpa menunggu Diandra.
"Mas...!" panggil Atha saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Juna tak menyahut. Ia fokus mengemudikan kereta besinya. Sebenarnya Juna juga sedikit dongkol sehingga ia mengacuhkan panggilan Athalia.
"Kamu marah?" tanya Athalia lagi.
Juna menggeleng, tapi itu bukan untuk jawaban dari pertanyaan Athalia.
"Apa maumu, sayang? Mengapa kau merusak skenario yang sudah saya siapkan? Seharusnya tadi saya langsung mengaku saja pada Diandra. Jadi masalah ini selesai."
Atha menggeleng.
"Salah! Kamu salah, Mas. Justru jika kamu berkata jujur dengan Diandra, kau akan mendapat masalah baru."
"Masalah apa? Bukankah kamu sendiri yang menginginkan masa laluku cepat selesai? Untuk apa kau mengarang cerita seperti tadi? Kamu mengulur-ulur waktu" ucap Juna kesal. Nada suaranya sedikit meninggi.
Baru sekarang Juna merasa kesal.pada istrinya. Biasanya ia akan berkata dengan lemah lembut seperti softener.
Atha menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak boleh terpancing emosi juga. Saat ini Juna sedang kesal. Atha harus bisa meredam kemarahan suaminya agar tidak semakin menjadi-jadi.
"Maaf, jika aku mengulur-ulur waktu. Tapi aku punya alasan, Mas."
"Apa?? Apa alasanmu?" sambar Juna.
"Aku nggak bisa ngomong sekarang."
Juna memukul kemudi setir guna melampiaskan amarahnya. Tidak mungkin kan Juna akan memukul Athalia? Meskipun ia sedang dalam mode kesal dan marah. Juna tetap tidak bisa menyakiti istrinya. Selain itu KDRT, Juna juga bukan tipe laki-laki ringan tangan.
__ADS_1
"Mas, apakah bisa kalau kita ke Surabaya sekarang?."
Juna langsung menoleh ke arah istrinya. Ia kembali dibuat kaget dengan tingkah Athalia.
"Mau apa?."
"Aku ada perlu sama Ayesha. Sekalian aku ingin periksa lagi mengenai kondisi rahimku" kata Athalia.
"Harus sekarang?."
"Iya, aku khawatir Yesha mendapat tugas ke luar kota. Aku tidak nyaman jika berkonsultasi dengan dokter lain."
Juna mengangguk. Ia langsung menginjak oedal gas dalam-dalam, melajukan mobilnya ke arah Surabaya.
***
RS. Siloam Surabaya.
Mobil Juna memasuki parkiran Rumah Sakit Siloam Surabaya. Ia menarik nafas panjang, merasa bersyukur karena mereka diberi keselamatan selama perjalanan.
Jarak tempuh Pamekasan-Surabaya yang memakan waktu kurang lebih empat jam tentu saja membuat Juna lelah. Perjalanan ini tidak ada dalam rencana Juna. Harusnya sekarang ia sedang kelonan dengan istrinya, berikhtiar untuk mencetak generasi penerusnya.
Namun, apalah daya seorang Juna. Jika istrinya sudah meminta sesuatu, dirinya tidak tega untuk menolaknya. Meski lelah, Juna tetap saja menuruti kemauan Athalia untuk pergi ke Surabaya bertemu dengan Yesha.
Mobil sudah terparkir sempurna. Atha dengan segera melepas seatbelt nya. Atha tidak langsung membuka pintu mobil. Ia memutar badannya ke kanan, menghadap Juna dan berteriak.
"Mas, ada uban!" teriak Atha.
Ia segera mencabut rambut Juna dan memasukkan kembali ke dalam sakunya. Juna yang saat itu sedang lengah, tentu saja kaget. Ia merasa sedikit tidak percaya dengan ucapan istrinya yang mengatakan jika ada uban di rambutnya.
"Saya belum tua. Tidak mungkin ada uban, Sayang" ucap Juna kali ini emosinya sudah stabil kembali.
"Bener, Mas! Sini aku cari lagi."
Atha dengan cepat memegang rambut Juna. Ia berpura-pura mencari uban padahal faktanya memang tidak ada.
"Ya ampun, ubannya banyak sekali!" seru Atha sembari kembali mencabut rambut Juna.
Juna mengaduh kesakitan karena istrinya itu menarik helai rambutnya dengan keras.
"Ah, ternyata sudah tidak ada. Mas, aku masuk dulu. Kamu pulang saja! Nanti aku akan pulang bersama Yesha."
"Hah?" Juna melongo mendengar ucapan istrinya .
"Istirahat? Istirahat di mana? Kita tidak punya rumah di Surabaya, Sayang."
Atha menepuk jidatnya. Ia segera menelepon Pamannya untuk mengatakan jika dirinya akan menginap di salah satu rumah milik Pamannya yang biasa Atha pakai jika ia berada di Surabaya.
Atha juga meminta agar rumah itu dibersihkan sehingga Juna bisa langsung beristirahat.
"Saya tidak mau ke sana sendiri, sayang. Sudahlah, saya tunggu di sini."
"Tapi pemeriksaannya lama, Mas!" cegah Atha.
"Kamu belum ambil nomor antrean, pastilah lama. Kamu pasti mendapat nomor akhir. Sudahlah lebih baik kita pulang sekarang. Periksa besok saja."
"Tidak...!!!" pekik Atha. Teriakan Atha tentu saja membuat Juna semakin heran.
"Saya antar ke dalam. Ayo, kita pakai kartu sakti milik keluarga Sanjaya. Dengan begitu kamu akan menjadi pasien prioritas."
"Tidak! Tidak! Tidak! Kamu tetap di sini. Biarkan aku yang masuk. Aku akan mendaftar untuk pemeriksaan besok. Tunggu di sini" ucap Athalia.
Ia membuka pintu mobil dan berjalan dengan tergesa-gesa. Juna hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Juna tidak bisa diam saja. Ia terlalu penasaran.
Juna membuka pintu mobil. Ia keluar dan langsung berlari untuk menyusul Athalia ke dalam rumah sakit. Juna penasaran apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Ia khawatir jika Atha melakukan hal-hal aneh.
__ADS_1