
"Jun, ponselmu berdering....!!!" Atha berteriak memanggil Juna yang kini sedang berada di kamar mandi.
Usai sarapan, Juna mendadak mules. Ia yang semula bersiap untuk berangkat ke kantor tentu saja harus menunda dulu keberangkatannya.
Sudah tiga puluh menit Juna di kamar mandi, belum ada tanda-tanda ia sudah selesai dengan urusannya. Atha yang berada di dapur buru-buru menyusul Juna ke kamar, mengecek apakah Juna baik-baik saja.
Lagi pula ponsel Juna berbunyi. Atha khawatir ada hal penting yang harus disamlaikan oleh si penelepon kepada Juna. Buru-buru Athe mengetuk pintu kamar mandi, memanggil Juna agar segera keluar.
"Jun, Mas Dira menelponmu" teriak Atha lagi.
Juna belum juga menjawab panggilan dari Atha. Karena ponsel Juna masih saja terus berbunyi, akhirnya Atha menggeser tombol hijau ke kanan guna menjawab panggilan dari Dira.
"Mayjuna...! Lama sekali kau mengangkat teleponku? Kau sudah pindah alam?" sambar Dira, seperti biasa tanpa salam tanpa kelembutan.
"Ma...maa...af, Mas Dira. Juna lagi di kamar mandi. Perutnya mules."
"Ck. Bininya!."
Terdengar decakan sebal dari seberang. Atha tahu jika Dira kesal karena yang menjawab teleponnya adalah Atha.
"Katakan pada Mayjuna jika Mister Adirra, CEO paling tampan dan rupawan menyuruhnya datang beserta istrinya ke bukit teletubbies. Nanti gue sharelock."
Klik.
Panggilan telepon terputus sebelum Atha sempat menjawab ucapan Dira. Tak lama ponsel Juna kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk melalui aplikasi hijau. Atha tidak berani membuka pesan itu. Bagaimanapun itu adalah privasi Juna dan Atha tidak pantas kepo dengan hal itu.
Atha meletakkan ponsel Juna di nakas. Melihat belum ada tanda-tanda dari suaminya yang akan segera keluar dari kamar mandi, membuat Atha memilih ke luar saja. Ia berjalan menuju ruang tengah untuk menonton televisi.
Hm... rupanya Atha rindu menonton TV. Sejak ia menjadi istri yang baik untuk Juna, aktifitas Atha lebih banyak di dapur dan ranjang. Atha segera menyambar remote televisi dan memilih channel satu persatu.
"Sayang...." panggil Juna dari dalam kamar.
Atha bergegas bangkit. Ia buru-buru ke kamar untuk mengecek keadaan Juna.
"Kenapa, Jun? Wajahmu seperti kesakitan?."
"Perutku sakit sekali. Saya tidak berhenti ke kamar mandi. Mules" ucap Juna yang saat ini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apa yang kau makan semalam? Mengapa bisa mules begitu, Jun?."
"Saya makan masakanmu. Tidak makan apa-apa lagi. Bukankah selama ini kamu selalu menyiapkan makananku?" ucap Juna balik bertanya.
Atha menggaruk kepalanya. Ucapan Juna memang benar adanya. Tak ingin melihat Juna terus-terusan memegangi perutnya, Atha bergegas mengambil obat yang ia simpan di tempat penyimpanan obat. Atha memberikan obat itu kepada Juna beserta segelas air mineral.
Gluk.
Sekali teguk, Juna langsung menelan obat itu. Ia meneguk air putih beberapa kali dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Tidak usah ke kantor kalau masih mules, Jun" ucap Atha.
Juna mengangguk. Ia masih meringkuk sembari memeluk guling untuk menahan sakit diperutnya.
Puk...puk...puk...
Atha menepuk bokong Juna perlahan, niatnya ingin mengeloni Juna agar kembali tertidur.
"Jun, tadi Mas Dira telepon."
"Mas Dira?" beo Juna.
"Maksudku Tuan Adirra. Dia menyuruh kita datang ke bukit teletubbies."
"Bukit teletubbie? Di mana itu?."
"Entahlah, Jun. Mas Dira sudah mengirimkan lokasi by phone..."
"Yasudah, kita ke sana" potong Juna cepat. Ia segera bangkit dari mode rebahannya.
__ADS_1
"Tapi kau sedang mules, Jun. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu" kata Athalia khawatir.
"Selama kau ada di sisiku, saya tidak akan apa-apa. Percaya deh" ucap Juna kemudian mengedipkan sebelah matanya.
"Mules mules masih bisa gombal kau."
Athalia turun dari tempat tidur. Ia menuntun Juna dan membantunya bersiap-siap. Secepat kilat, Atha berganti pakaian dan berdandan seadanya. Ia tidak mau mereka datang terlambat yang dapat mengakibatkan sang bos besar marah.
Usai beres dalam berbagai hal, Juna dan Atha berjalan beriringan keluar menuju basement. Mereka menuju mobil milik Juna yang terparkir rapi.
Juna dan Atha masuk ke dalam mobil. Kali ini Atha yang duduk di belakang kemudi sedangkan Juna berada di kursi belakang. Perutnya yang masih mules membuatnya ingin rebahan saja.
Atha menyalakan mesin, mobil sedan hitam milik Juna mulai melaju perlahan. Dengan bantuan ponsel pintar, Atha mulai menyusuri jalanan ibu kota menuju bukit teletubbies.
Atha mengemudikan mobil dengan perlahan. Sesekali diliriknya Juna yang sedang rebahan di kursi belakang. Mungkin karena efek obat yang diminum Juna sehingga ia terlelap di perjalanan.
***
"Kalian terlambat!."
Dira langsung melemparkan sepatunya ke arah Juna saat kedua netranya melihat Juna dan Athalia muncul.
Sudah dua jam Dira dan Kiara menunggu Juna. Sudah berkali-kali mereka berfoto dengan pasangan masing-masing. Andai saja Kiara tidak keukeuh ingin mengajak Juna untuk berfoto sekalian, pastilah acara foto maternity keluarga Dira sudah selesai.
"Maaf, Tuan! Saya sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa sat-set datang ke sini" tutur Juna sembari membungkuk, memberi hormat kepada Dira.
"Maafmu tidak ku terima. Karena baik kau enak badan ataupun tidak enak badan. Kau sama saja. Sama-sama lelet" cibir Dira membuang muka.
"Heh, Mas Juna baru datang! Kenapa sih pakai acara dimarahin segala?" tegur Kiara yang datang menghampiri mereka. Tadinya ia berada di mobil karena sedang memberi ASI kepada bayinya.
"Gue nggak suka orang ngaret. Lu tahu kan gue ini orang sibuk...."
"Udah! Gue nggak mau denger ceramah dari lu. Mumpung Mas Juna sudah datang. Mas Juna dan istri ganti baju dulu ya. Tuh di sana! Kita tungguin di sini" ucap Kiara memotong perkataan Dira.
"Dihhh.... Siapa juga yang mau nungguin si Juna. Gue mau kelonan ama ayang dan baby di perut" celetuk Dira yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kiara.
"Ya ampun...!!!! Mas Juna ganteng banget" teriak Kiara ketika Juna keluar dengan setelan tuxedonya.
Kiara buru-buru membawa Juna kepada tim yang akan merapikan dandanan Juna agar tampilannya sempurna.
"Nyonya bos, saya mau diapain lagi?" tanya Juna ketika ia melihat rambutnya digunting.
"Dirapikan sedikit, Mas Juna. Biar tambah ganteng" kata Kiara sambil tertawa cekikikan.
Tak lama muncullah Athalia. Ia keluar dengan mengenakan gaun indah berwarna maroon-hitam.
Kiara langsung sumringah. Ia kembali bergerak, menarik Atha dan membawanya kepada orang yang akan merapikan dandanannya.
"Bikin kayak lady rocker kayaknya bagus tuh" celetuk Kiara.
Otaknya kembali menghayal, seperti apa tampilan Atha jika didandani layaknya lady rocker. Atha yang kalem, didandani garang layaknya kucing garong. Pastilah, ini akan menjadi sesuatu yang beda dari seorang Athalia.
"Sayang, tema kita kan pangeran dan putri kerajaan. Kenapa istri Mas Juna didandani seperti lady rocker? Jangan ya?" bujuk Elang yang datang dengan menggendong bayi mungilnya.
Kiara menepuk jidatnya. Ia lupa dengan tema yang sudah dirancangnya dari awal. Buru-buru Kiara meralat ucapannya. Ia meminta Atha agar di dandani seperti Putri Elsa.
Satu jam kemudian...
Tiga pasang anak manusia sudah siap dengan posisi masing-masing. Dira dan istri yang sedang mengandung, Kiara dan Elang beserta bayi mungil yang digendong Papanya, serta Juna dan Atha yang masih dengan perut ratanya.
"Kayaknya keluarga gue di tengah deh" celetuk Dira. Ia ingin memberikan formasi yang menunjukkan urutan pasangan yang menikah terlebih dahulu.
Berbeda dengan Atha. Ia tampak menunduk, menatap sedih pada perut ratanya. Baginya formasi yang dibentuk Dira seperti sindiran. Ia yang belum mengandung, kalah telak dari istri Dira dan Kiara.
"Bapak-Ibu....! Mari bersiap! Saya hitung sampai tiga. Tampilkan senyum yang paling menawan ya. Satu....dua....tiga..." seru Zeze, fotografer yang didaulat mengambil moment bersejarah itu.
Cekrek
__ADS_1
Cekrek
Cekrek
Beberapa foto dibidik kamera Zeze dengan apik. Ia dengan lihainya mengambil pose ketiga pasangan itu dengan angel yang pas.
Meski hatinya panas, melihat kemesraan Dira dan istrinya. Namun, Zeze tetap berlaku profesional. Ia tahu diri jika dirinya hanyalah fans berat seorang Adiraka, CEO paling tampan dan rupawan.
Zeze kembali mengarahkan ketiga pasangan itu dengan berbagai gaya. Setelah dirasa pas, ia kembali kebelakang lensa kamera untuk mengambil potret mereka.
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
Tak terasa sudah tiga puluh foto yang diambil oleh Zeze. Kiara meminta istirahat karena mereka akan kembali berganti kostum.
"Kir, ini kan acara gue. Bini gue yang mau foto bunting, kenapa lu yang nentuin tema sih?" protes Dira.
"Karena gue yang nikah duluan. Pemegang tahta tertinggi di antara kita bertiga. So? Jangan kebanyakan protes. Cepat ganti baju! Gue udah siapin di kamar ganti" kata Kiara judes.
Dira menghela nafas panjang. Mau tidak mau, dirinya mengikuti keinginan Kiara. Dira mengajak istrinya ke ruang ganti, berganti kostum yang entah sudah berapa kali mereka lakukan.
"Sayang, saya mules lagi" bisik Juna pada Atha.
"Kamu ke kamar mandi dulu, Jun. Aku tunggu di ruang ganti" kata Atha yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Juna.
Juna langsung berlari. Ia bertanya kepada seseorang yang berpapasan dengannya. Untung saja, letak toilet tidak sulit dicari. Juna langsung menuntaskan masalah perutnya agar tidak menjadi-jadi.
Ceklek.
Juna bernafas lega. Ia keluar dari kamar mandi dengan perut yang sudah aman. Juna menoleh ke kanan dan ke kiri, mengingat jalan menuju ruang pemotretan.
"Ke kanan apa ke kiri ya?" gumam Juna.
Ia menghitung kancing kemejanya. Setelah sampai di ujung, rupanya pilihan kanan yang tersisa.
Juna belok kanan. Ia berjalan lurus menyusuri area perbukitan buatan. Sesekali Juna menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mengingat apakah jalan itu adalah jalan yang dilaluinya tadi.
"Pa...pa...pa...!!!"
Juna menghentikan langkahnya. Ia merasa ada seseorang yang melemparinya dengan batu kecil. Seketika bulu kuduknya meremang tatkala Juna merasa ada tangan yang memegang kakinya. Juna menunduk, memastikan jika perasaannya benar.
"Papa......!!!"
Kedua netra Juna membola ketika melihat seorang balita laki-laki sedang menarik celananya.
"Papa...!!!" teriak balita itu lagi.
Juna yang memang suka dengan anak-anak langsung menggendong balita itu. Pipi gembulnya menjadi sasaran Juna. Balita itu tertawa ketika Juna mendusel-duselkan hidungnya pada pipi si bocah.
"Kamu anak siapa? Mengapa lucu sekali?" tanya Juna sembari mengusap-usap rambut balita itu.
"Anak Papa ganteng."
"Papa ganteng? Di mana Papamu?." tanya Juna. Ia celingak-celinguk mencari orang yang mungkin berstatus sebagai ayah dari anak itu.
"Papa....!!! Ganteng...!!!" ucap si bocah sembari menunjuk dada Juna. Tak ayal wajah Juna langsung merona merah kuning hijau mendengar ucapan balita itu.
"Juna....!!! Junaa....!! Kamu di mana, sayang???"
Juna menoleh ke kiri. Ia merasa jika orang yang dipanggil adalah dirinya. Namun, Juna langsung membeku ketika melihat sosok perempuan yang berjalan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan itu seperti sedang kebingungan mencari seseorang.
Nafas Juna langsung tidak teratur. Ia menatap perempuan itu dengan tubuh yang mulai gemetar. Lari! Juna ingin lari. Namun, kakinya seakan terkunci.
Sialnya, perempuan itu tiba-tiba melihat ke arah Juna. Ia berlari kecil menghampiri Juna sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Juna, kamu di sini?."