
Pagi ini mentari bersinar sangat cerah. Juna melangkahkan kaki memasuki gerbang SMA Cendekia dengan ringan. Senyumnya terbit saat melihat Pak Udin menyambutnya di depan gerbang sekolah sambil tersenyum.
Pak Udin adalah satpam di SMA Cendekia yang merangkap sebagai tukang kebun. Setiap pagi Pak Udin akan berdiri di depan gerbang untuk menyambut para siswa dan guru yang datang ke sekolah.
"Pagi, Pak Juna" sapa Pak Udin saat Juna melintas di hadapannya.
Juna langsung membalas sapaan Pak Udin dengan ramah. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang guru sambil sesekali melihat ke arah lapangan. Juna tersenyum ketika melihat beberapa siswa yang berjalan sambil asyik bercanda.
Rindu. Ya, Juna merindukan suara berisik mereka. Beberapa hari mendekam di ruang tahanan yang sepi membuat Juna rindu dengan gelak tawa murid-muridnya.
"Hei,Jun....!!! sudah bebas kau???"
Andika, rekan kerja Juna di SMA Cendekia langsung berlari menghampiri Juna. Ia satu-satunya guru yang bisa dibilang dekat dengan Juna. Andika mengajar mata pelajaran biologi sedangkan Juna mengajar mata pelajaran olahraga.
"Alhamdulillah, Dika. Berkat bantuan Pak Zaini, aku bebas."
"Wah... syukurlah, Jun, kalau Pak Zaini mau turun tangan! Aku sempat khawatir beliau akan memecatmu ketika mendengar kabar kamu ditangkap" kata Dika lega.
"Bagaimana kamu bisa ditangkap polisi? Apa benar kamu mengganggu Diandra dan merusak acara pernikahannya?" tanya Dika.
"Aku tidak mengganggunya, Dika. Kau tahu sendiri sejak kami putus aku sudah tidak pernah menemuinya lagi."
Andika mengangguk membenarkan ucapan Juna. Dia memang mengetahui seperti apa kisah Juna dan Diandra sehingga tak heran jika Andika sangat terkejut ketika mendengar berita penangkapan Juna.
"Lalu kalau bukan masalah itu, kamu terjerat kasus apa sampai ditahan polisi?" tanya Dika lagi penasaran.
"Kasus bodong."
"Kasus bodong? investasi bodong?."
"Kasus bodong, Dika, bukan investasi bodong. Tidak ada kasusnya tapi aku ditahan."
"Hah??? Bagaimana bisa??? Lucu sekali" kata Andika tertawa.
"Memang. Pak Narto lucu sekali. Mungkin beliau sering menonton acara lawak sehingga membuat lelucon seperti ini" sahut Juna ngasal.
Bel masuk sekolah berbunyi. Juna dan Dika berpisah karena memiliki jadwal mengajar di jam pertama. Juna akan mengajar kelas X-1 sedangkan Dika akan mengajar di kelas XI-IPA 1.
Juna tidak langsung ke lapangan melainkan duduk di ruang guru karena sebelum pelajaran di mulai para siswa akan berdoa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya terlebih dahulu. Setelah selesai barulah Juna keluar menuju lapangan.
"Selamat pagi...!" Juna menyapa murid-muridnya yang sudah berbaris rapi tanpa ia perintahkan.
"Pagi, Pak Juna..." jawab mereka kompak.
__ADS_1
"Seperti biasa sebelum masuk ke materi inti, kalian pemanasan terlebih dahulu. Lari lapangan sebanyak tiga kali, lalu senam selama sepuluh menit. Taufik, kamu yang memimpin senam!" kata Juna memberikan perintah.
Tanpa banyak kata murid-murid Juna yang berjumlah delapan belas orang itu langsung melakukan pemanasan sesuai perintah Juna. Selagi mereka melakukan pemanasan, Juna pergi ke gudang untuk mengambil bola voli.
Juna menarik nafas panjang saat melihat hanya ada satu bola voli yang masih dalam kondisi baik. Memang keadaan sekolah memprihatinkan. Namun, Juna tetap bersyukur karena masih ada bola voli yang bisa di pakai.
Apa yang bisa diharapkan dari sekolah di pelosok desa yang minim bantuan seperti disini? Juna bisa mengajarkan materi sepak bola dan bola voli saja sudah untung. Meskipun Juna yakin murid-muridnya sudah bosan karena mereka akan mendapatkan materi itu selama tiga tahun.
Juna mengambil bola voli itu dan bergegas kembali menuju lapangan. Ia melihat mereka sudah selesai melakukan senam. Juna meniup peluit sambil melempar bola voli ke arah Taufik.
"Voli lagi, Pak?" tanya Taufik lesu.
"Nggak ada yang lain apa, Pak?."
"Sekali-kali bulu tangkis dong, Pak, basket, atau sepak takraw. Bosen, Pak, voli terus."
"Iya nih, Pak. Ganti dong. Masak voli mulu. Pak Juna nggak asik."
Juna menghela nafas panjang mendengar ocehan anak didiknya. Mereka baru kelas X tapi sudah mulai protes kepadanya. Baru tiga bulan Juna mengajar mereka dan mereka sudah mengeluh bosan dengan materi itu. Juna jadi berfikir Bagaimana dengan kelas XII yang hampir tiga tahun bertemu dengan materi itu? Pasti mereka sudah mual dan kembung dengan materi yang diajarkan Juna.
"Maaf ya anak-anak adanya cuma bola voli. Kalian harus maklum sekolah ini sekolah pelosok. Kalian sekolah di sini kan gratis jadi fasilitasnya ya begini" kata Juna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Huuuuuuuuu......" para murid serempak menyoraki Juna.
Juna berjalan menuju pinggir lapangan. Ia mengamati mereka bermain sambil menunggu jam mengajarnya selesai. Juna melirik arlojinya, rupanya sudah hampir jam delapan. Waktu Juna untuk sarapan.
Juna bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju warung Bu Udin, istri Pak Udin yang berada di samping sekolah. Juna memang tidak pernah sarapan jika ada jadwal mengajar di jam pertama. Sehingga jika sudah jam delapan ia akan pergi ke warung Bu Udin untuk membeli sarapan.
"Lontong pecel sama es teh ya, Bu Udin. Seperti biasa, saya tunggu di samping lapangan" kata Juna kemudian pergi untuk kembali ke pinggir lapangan.
Juna duduk kembali di bangku yang terbuat dari bambu. Di pinggir lapangan itu banyak sekali bangku seperti ini. Setahu Juna yang membuat bangku-bangku itu adalah Pak Udin. Pak Udin membuatnya agar bisa dijadikan tempat duduk oleh siswa ataupun guru. Pak Udin sengaja menempatkan bangku-bangku itu di bawah pohon mangga agar rindang dan sejuk.
"Pak Juna, ini lontong pecel dan es tehnya."
Juna menoleh ke kiri. Nampak seorang siswi membawakan pesanan Juna. Bu Udin memang tidak pernah mengantarkan sendiri. Ia akan menyuruh siswa atau siswi yang kebetulan lewat di depan warungnya untuk mengantar pesanan guru-guru.
"Eh, terima kasih ya, Siti" sahut Juna sembari mengambil piring dan gelas dari tangan siswi itu.
"Nama saya bukan Siti, Pak" gerutu siswi itu.
"Loh? kok bukan? Kamu anak kelas XII-IPA kan?."
"Benar, Pak. Tapi nama saya bukan Siti. Siti kelas XII-IPS, Pak."
__ADS_1
"Terus kalau bukan Siti lalu nama kamu siapa?" tanya Juna.
"Nama saya Fira. Dih... Pak Juna sama murid sendiri aja lupa" gerutu Fira membuat Juna cekikikan.
Setelah memberikan pesanan Juna, Fira meminta izin untuk pergi karena dia harus segera masuk ke kelasnya. Juna mengiyakan dan dengan cepat Fira berlari menuju kelasnya.
"Dasar bocah!" cibir Juna.
Juna lalu membaca doa sebelum makan dan mulai menyantap lontong pecel buatan Bu Udin. Makanan seharga tiga ribu rupiah yang menjadi menu andalan Bu Udin. Murah meriah tapi tidak mengenyangkan. Karena porsinya yang sedikit untuk ukuran orang dewasa seperti Juna.
Biasanya Juna akan menambah tiga buah ote-ote dan 2 buah tempe goreng. Tapi karena tanggal tua dan dompet Juna sedang krisis, maka Juna menahan diri dan harus makan seadanya tanpa tambahan seperti biasa.
Saat Juna sedang asyik melahap lontong pecel, kedua netranya menangkap sosok perempuan asing yang berjalan menuju ruang kepala sekolah. Perempuan itu membawa map berwarna coklat sambil sesekali tersenyum ketika berpapasan dengan murid atau salah satu guru.
Ramah dan periang, begitulah kesan awal Juna untuk perempuan itu. Cantik? tentu saja. Meski dari jarak yang tidak dekat, Juna dapat melihat wajahnya yang putih bersih dengan pipi chubby yang membuatnya gemas.
Perempuan itu sepertinya bukan orang asli desa sini. Wajahnya sedikit chinese, kulitnya putih dan dandananya juga epic. Tidak mungkin gadis itu orang desa jika tampilannya modis seperti ini.
"Makan, woiii....!!! Makan...!!! Jelalatan aja tuh mata liat cewek bening" ledek Dika yang entah sejak kapan sudah berada di samping Juna.
"Em... em... em..." Juna langsung salah tingkah ketika diledek Andika.
"Siahhhh... malah kikuk nih orang. Juna, kenapa? terpesona ama tuh cewek?" ledek Andika lagi.
"Aduuhhhhh.... ternyata segampang ini Pak Juna move on dari Diandra? Anak juragan tembakau yang katanya paling cantik sejagad rayahhhh... ah.. ah.. ah..." ucap Dika terkekeh.
Juna meninju bahu Andika. Ledekannya yang mengungkit-ungkit Diandra tentu saja membuat Juna kesal.
"Dulu ada yang bilang tidak akan pindah ke lain hati meski Diandra telah menjadi istri orang. Ternyata oh ternyata... ada yang bening dikittt aja sudah mangap" ucap Dika membuat Juna harus membekap mulutnya. Juna khawatir celotehan Andika terdengar oleh orang lain.
"APA-APAAN SIH, JUN??? INI BUMBU PECEL NEMPEL DI MULUT AKU...!!!" teriak Andika. Ia menghempaskan kedua tangan Juna dengan keras.
"Kamu sih berisik banget. Ganggu aja orang lagi makan" kata Juna ketus.
"Makan apa makan?."
"Apa sih, Dika...???."
"Udah ngaku aja. Lagi liatin tuh cewek ya?" Andika terus meledek Juna sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Juna tak menyahut. Ia buru-buru bangkit meninggalkan Dika dengan alasan ingin mengembalikan piring dan gelas pada Bu Udin. Andika yang paham dengan tingkah Juna tentu saja berteriak, memanggil Juna agar tidak kabur.
Andika berusaha mencekal tangan Juna. Namun, gagal karena Juna segera mengambil langkah seribu untuk kabur meninggalkan Andika yang terus mengumpatnya dengan kesal.
__ADS_1