
Juna menatap frustasi hamparan kelopak mawar merah yang bertebaran di atas kasur pengantinnya. Kelopak mawar itu dirangkai menjadi huruf J dan A yang melambangkan inisial nama pengantin.
Juna tersenyum kecut. Seharusnya malam ini menjadi malam yang romantis bagi Juna. Seharusnya malam ini menjadi malam yang sempurna bagi Juna. Juna sengaja meminta pihak WO agar mendesain kamar pengantin mereka seindah mungkin. Kelopak mawar itu tak luput dari permintaan Juna.
Siapa sangka jika malam pertama yang selalu diimpi-impikan olehnya. Nyatanya menjadi malam yang suram bagi Juna. Istrinya belum pulang sejak tadi siang. Berkali-kali Juna menelpon Athalia tapi tidak dijawab.
Juna bingung harus berbuat apa. Ia ingin pergi mencari keberadaan Atha sendiri. Namun, baik orang tua Atha maupun nyonya bos nya melarang Juna.
Elang mengirim orang-orangnya untuk mencari Atha sedangkan orang tua Atha mendatangi rumah sakit dan tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh anaknya. Namun, sampai malam menjelang belum ada kabar tentang istri Juna. Athalia seakan raib, ditelan bumi.
Ceklek
"Mas Juna" kepala Kiara muncul dari pintu. Ia dan Elang memang sengaja belum pulang dari rumah Atha karena khawatir Juna depresi dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Dokter Atha sudah bisa dihubungi?" tanya Kiara basa-basi.
Juna menggeleng.
"Mas Juna tenang dulu ya. Elang sudah mengirim orang untuk mencari istri Mas Juna. Mertua Mas Juna juga sudah menanyakan ke pihak rumah sakit dan memang dokter Atha tidak kesana. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa dokter Atha kabur?" tanya Kiara. Ia benar-benar penasaran kronologi kaburnya istri Juna.
"Dia hanya marah, Nyonya."
"Marah?."
"Iya. Dia marah karena saya menikahinya."
"Dokter Atha sepertinya masih mengharapkan Kadir."
"Tapi Tuan Dira sudah menikah! Dia tidak boleh mengharapkannya lagi" ucap Juna sedikit emosi.
Kiara menepuk lengan Juna dengan perlahan. Sedih sekali rasanya melihat keterpurukan Juna yang belum usai.
"Apa saya kurang tampan, Nyonya?."
"Eh?."
"Apa saya kurang kaya?."
"Hmm..."
"Apa salah saya? Mengapa saya selalu apes dalam masalah cinta?" Juna meluapkan emosinya. Ia sepertinya sudah tidak tahan untuk bercerita.
"Mas Juna ganteng kok, kaya juga. Mas Juna jangan pesimis gitu dong. Ingat kata pepatah! Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Mas Juna bisa! Mas Juna kuat" ucap Kiara menyemangati Kiara.
"Apa saya perlu buang sial, Nyonya?" tanya Juna. Pertanyaan Juna itu sukses membuat Kiara terbatuk-batuk.
"Emang Mas Juna merasa sial?."
__ADS_1
Juna mengangguk.
"Saya rasa tidak ada wanita yang menyukai saya. Pasti aura ketampanan saya ketutupan sesuatu" ucap Juna lirih.
Kiara langsung mencubit pahanya mendengar ucapan polos Juna. Ia menahan tawanya agar tidak lepas. Kiara benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Juna berkata seperti itu? Juna mengaitkan kegagalan kisah cintanya dengan hal ghaib yang menurut Kiara tidak masuk akal.
"Sepertinya Mas Juna lupa kalau ada Lily yang klepek-klepek sama Mas Juna. Lily bahkan rela memggunakan cara licik agar Mas Juna menjadi miliknya meskipun salah sasaran" ucap Kiara cekikikan.
"Lily tidak masuk hitungan, Nyonya."
"Loh nggak bisa gitu dong. Lily kan wanita juga. Naksir Mas Juna juga. Masak sudah bikin skenario salah sasaran masih nggak masuk itungan?" protes Kiara.
Tring!
Ponsel Kiara berbunyi. Dira mengiriminya sebuah pesan. Sejak siang tadi, Kiara sudah berusaha menghubungi Dira. Ia berharap kakaknya itu mau membantu Juna. Namun, panggilan telepon Kiara tidak kunjung dijawab. Akhirnya Kiara mengiriminya pesan agar ketika Dira membuka ponselnya, ia bisa membaca langsung pesan dari Kiara.
Gemas dengan balasan pesan yang dikirim Dira, Kiara segera menelponnya. Sambungan pertama tidak diangkat. Kiara masih bisa bersabar. Dira baru mengangkat telponnya saat panggilan ke lima.
Kiara bisa bernafas lega. Setidaknya dengan Dira menjawab telponnya, Kiara akan memiliki bala bantuan untuk menyelesaikan masalah Juna.
"Opo??? Ganggu orang lagi meeting aja" sungut Dira kesal Ia baru saja selesai meeting dengan kliennya dari Arab Saudi. Dira memang sengaja mensenyapkan mode ponselnya karena dirinya tidak mau diganggu saat meeting.
"Mas Juna menikah hari ini."
"Terus?."
"Istrinya kabur setelah acara ijab kabul."
"Terus?."
"Kiara sarang burung my little pony. Juna itu sekarang anak buah elu bukan anak buah gue. Gue nggak ada urusan lagi dan nggak ada kewajiban lagi buat bantu dia" sahut Dira santai.
"Tapi si cewek kabur kan gara-gara elu, Kadir. Bantuinlah! Kasian Mas Juna."
"Apa? Apa telinga gue salah nangkap sinyal? Lu bilang gara-gara gue? Emang gue ngapain? Dari tadi meeting juga" sungut Dira kesal.
"Dia kabur kan gara-gara suka sama lu, Kadir."
"Terus kalau dia suka sama gue, salah gue? Gue aja nggak pernah nanggepin dia. Lagian si Juna ngapain sih nikahin dokter nggak terkenal itu? Mending ama Lily. Udah cantik, semok, ganas lagi. Hahahaha" ucap Dira tertawa terbahak-bahak.
Kiara mengerang kesal melihat Dira yang tidak ada rasa simpatik sedikitpun pada Juna. Ingin sekali Kiara merobek mulut Dira agar berhenti tertawa.
"Stop ketawa, Kadir! Lu emang manusia nggak punya perasaan!" umpat Kiara.
"Gimana gue nggak ketawa? Si Juna masih aja apes. Masak ngenes di malam pertama? Lagian kenapa tadi nggak diiket aja sih tuh cewek biar nggak lari kemana-mana?."
"Maaf, Tuan! Saya tadi hanya shock melihat tingkah dia" sahut Juna.
__ADS_1
"Eh, malah nyaut si Juna. Hahahahaha" ucap Dira kembali tertawa.
"Kadir, bantuinlah! Malah ngakak" tegur Kiara lagi.
"Lu mau gue bantu apa? Gue kirimin pasukan bala-bala? Apa pasukan huru hara?" tanya Dira.
"Kirimin detectiv buat cari istrinya Mas Juna. Ini udah hampir jam sepuluh malem lho. Mas Juna bisa nggak malam pertama nanti."
Tawa Dira kembali pecah mendengar ucapan jujur adiknya. Ia tidak menyangka jika Kiara mengkhawatirkan malam pertama Juna.
"Beri gue waktu paling lama satu jam" ucap Dira.
Telepon terputus. Kiara menghela nafas panjang. Ia melirik Juna yang sedari tadi menjadi pendengar setia percakapan dirinya dan Dira.
Tepat satu jam setelah telepon Dira terputus. Sebuah pesan masuk ke ponsel Kiara. Kiara segera mengecek isi pesan itu. Kedua netra menyipit ketika melihat sebuah peta lokasi yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal.
"Mungkin saja istri Mas Juna di sini" guman Kiara lirih.
Ia segera menarik tangan Juna agar keluar dari kamar. Dicarinya keberadaan Elang yang sedari tadi memang berada di lantai bawah. Elang sibuk memantau pergerakan orang-orangnya yang berpencar mencari keberadaan Athalia.
Ponsel Kiara berbunyi. Ia langsung menjaeab panggilan telpon dari Dira.
"Kadir...!" Kiara kembali meloudspeaker ponselnya agar Juna dan Elang mendengar pembicaraan mereka.
"Orang-orang suruhan Elang memang payah. Masak mencari dokter tidak terkenal saja lama" cibir Dira.
"Maaf, Abang. Elang memang belum suhu dalam mencari orang" sahut Elang.
"Bodoh! Malah nyaut nih anak. Eh, Juna, Kiara, Elang dengerin baik-baik. Orang suruhan gue sudah nemuin dimana istrinya Juna sembunyi. Mereka udah ngirim lokasi kan sama elu, Kir?."
"Udah" sahut Kiara sedikit berteriak.
"Yaudah sama pergi. Dia ada di unit apartemen nomot 337. Lagi ngadem sambil makan seblak di dalem" ucap Dira kemudian menutup telponnya.
Kiara dan Elang mengangguk bersamaan. Mereka langsung ke luar, memanggil sopir untuk mengantarkan mereka.
Kiara membaca peta lokasi yang dikirim oleh orang suruhan Dira. Ia segera menyuruh sopir untuk mengantarkan mereka sesuai rute yang ditunjukkan peta lokasi itu.
Rupanya lokasi yang dikirim orang suruhan Kiara cukup jauh. Butuh waktu dua jam untuk sampai kesana. Mobil berhenti tepat di depan loby apartemen de'fave, tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian Athalia.
Juna langsung keluar dari mobil. Ia berlari menuju unit 337. Juna seperti orang kesetanan. Ia bertanya kesana kesini, meminta petunjuk arah menuju unit 337.
Kiara dan Elang menghela nafas. Kondisi Kiara yang sedang hamil tidak memungkinkan untuk berlari mengejar Juna. Elang juga tidak mungkin berlari dan meninggalkan Kiara. Sehingga mereka sepakat untuk berjalan biasa saja. Toh, unit apartemen itu tidak akan kabur.
Berbeda dengan Juna. Ia sudah tiba di depan pintu unit 337. Nafasnya ngos-ngosan. Juna segera mengetuk pintu apartemen dengan cepat. Ia tidak sabar ingin memastikan keadaan istrinya. Dalam hati ia berdoa, semoga saja Athalia benar-benar berada di dalam.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka.
"Atha....!!!" Juna langsung menubruk tubuh Atha dan memeluknya dengan erat. Ia sangat lega bisa menemukan keberadaan istrinya itu.