
Juna berjalan mondar-mandir di samping brangkar yang sedang menjadi tempat tidur istrinya. Berkali-kali ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Raut wajah Juna juga terlihat panik. Berkali-kali kedua tangannya mencoba menyentuh lengan istrinya. Namun, Juna sepertinya ragu antara tega dan tidak tega untuk membangunkan istrinya.
"Tidak seperti biasanya Atha belum bangun jam segini? Obat apa yang dokter berikan sehingga istriku seperti ini?" gumam Juna.
Juna kembali menatap wajah istrinya yang sedang tidur dengan nyenyak. Tidak ada suara sedikitpun. Atha benar-benar tidur dengan tenang. Bagi Juna hal itu tidak wajar mengingat Atha seringkali terbangun jika hari menjelang pagi.
Ini sudah pukul 9 pagi dan Atha belum menampakkan tanda-tanda akan bangun. Jangankan bangun, bergeliatpun tidak. Juna yang merasa khawatir dengan keadaan istrinya segera keluar dari kamar rawat Atha. Ia berlari memanggil perawat agar memeriksa kondisi Atha.
"Lihat, sus! Istri saya masih saja tidur. Ini aneh, tidak seperti biasanya" lapor Juna kepada perawat yang memeriksa kondisi Atha.
"Istri Anda baik-baik saja, Pak" kata perawat itu sembari tersenyum kepada Juna.
"Baik-baik saja? Lalu mengapa ia belum bangun juga, sus?'" tanya Juna bingung.
"Pertama, efek kelelahan. Pasien benar-benar kurang tidur sehingga ia sangat kelelahan. Anda ingat-ingat berapa lama Anda menggempur istri Anda sebelumnya?" tanya perawat itu membuat Juna tersenyum malu.
"Kedua, mungkin bawaan bayi. Bapak tidak usah khawatir. Pasien akan bangun jika tubuhnya sudah merasa cukup untuk beristirahat. Jangan khawatir ya, Pak" kata perawat itu kemudian ia pamit keluar dari kamar rawat Atha.
Juna menarik nafas lega. Rupanya ketakutannya tidak perlu diperpanjang lagi. Ia menarik kursi agar bisa duduk di samping brangkar. Juna kembali menatap wajah istrinya dengan perasaan bersalah.
"Apa yang aku lakukan padamu? Mengapa kau sampai tidur panjang seperti itu?" gumam Juna lagi.
"Apa kau sekarang ingin menjadi putri tidur hemm??? Lalu kau akan bangun saat aku menciummu" Juna langsung tertawa cekikikan.
Tak ingin mengganggu istrinya lagi. Juna segera keluar dari kamar rawat Atha. Entah tiba-tiba saja perutnya merasa lapar. Juna, buru-buru pergi ke kantin. Ia tidak mau cacing-cacing di perutnya semakin ganas berdemo.
"Hem... beli apa ya?" gumam Juna sembari membaca menu makanan yang dijual di kantin.
"Sebenarnya saya pengen makan lontong kikil. Tapi di Spanyol nggak ada" gumam Juna lagi.
Juna terus membaca deretan makanan yang dijual di kantin rumah sakit. Dari 20 menu, tidak satupun yang menarik minat Juna. Ia yang sedang ingin makan makanan Indonesia, harus menelan kekecewaan karena tak bisa memenuhi keinginannnya.
"Pizza sajalah" kata Juna lalu memesan satu loyang pizza bertopping keju mozarella.
Juna memilih duduk di meja pojok sembari melihat ke arah jalan raya. Lima belas menit kemudian, pesanan Juna datang. Ia melahap pizza tersebut sedikit demi sedikit. Entah karena lapar atau memang doyan, satu loyang pizza habis dalam waktu sekejap.
Juna memegang perutnya. Rasanya ia belum kenyang. Juna memesan kembali pizza dengan ukuran yang sama tapi dengan topping berbeda. Kali ini memesan dua loyang, khawatir ketika Juna kembali ke kamar rawat Atha. Atha terbangun dan minta makan.
Ketika pizza kembali dihidangkan, perut Juna berbunyi sangat keras. Juna mengumpat dalam hati karena cacing di dalam perutnya benar-benar tidak punya malu.
Juna segera melahap pizza dengan topping sosis dan keju. Niat hati ingin menyisihkan untuk istrinya, tapi apa daya dua loyang pizza dihabiskan juga. Juna langsung merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. Sejak kapan perut Juna jadi perut karet yang tidak kunjung kenyang padahal sudah makan tiga loyang pizza?
"Tidak bisa dibiarkan! Lama-lama perutku bisa kayak gentong kalau terus begini" ucap Juna lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kembali menuju kamar rawat Atha. Juna berharap Atha sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Namun, Juna kembali menelan kekecewaan. Atha masih tidur pulas di atas brankar. Bagaimana ini? Haruskah Juna membangunkan Atha? Jam tidur Atha benar-benar tidak wajar. Bagaimana Juna tidak khawatir?
Lagi, Juna berlari memanggil perawat. Ia melaporkan lagi perihal istrinya yang belum bangun. Perawat itu langsung menampakkan wajah datar dan dingin. Ia nampak kesal dengan keluhan Juna yang sudah ia beri penjelasan tadi.
"Istri Anda sedang beristirahat. Bisakah Anda tenang? Baterainya sedang habis, jadi wajar jika pasien tidur selama itu" kata perawat itu kesal.
"Tapi...tapi...."
"Jangan terlalu khawatir, Pak. Istri Anda sedang tidur bukan mati suri" kata perawat itu kemudian ia bangkit meninggalkan Juna.
***
Di Jakarta, Arya menatap kagum bangunan tinggi yang menjulang ke atas. Kedua netranya tak berkedip sedikitpun menatap gedung Sanjaya corp. Dalam hati, Arya menghitung berapa biaya pembangunan gedung itu. Berapa milyar uang yang digelontorkan untuk membangun gedung itu. Rasanya dompet Arya tak mampu untuk membangun gedung semewah itu.
Arya pun meragukan jika Juna bekerja di sana. Seorang guru olahraga tidak mungkin menjadi direktur keuangan di Sanjaya corp. Arya tahu betul seperti apa kemampuan Juna. Ia sering melihat Juna yang hanya duduk-duduk santai ketika mengajar.
Lalu, bagaimana bisa sekarang Juna menjadi direktur keuangan? Mungkinkah ia salah orang? Arya juga tidak lupa bagaimana Juna melunasi hutang-hutang Pak Narto, membeli SMA Cendekia layaknya membeli rengginang.
Arya yakin jika anak buahnya salah orang. Lagi pula wajah Juna yang ia kenal dengan Juna yang melunasi hutang Pak Narto sangatlah jauh berbeda. Tidak mungkin Juna si miskin melakukan operasi plastik. Uang dari mana coba?
"Pak! Cari siapa? Kenapa dari tadi Bapak berdiri saja di sini?" tegur security yang sejak tadi memperhatikan Arya.
"Heuh? Eh! Anu... Anu... Pak" jawab Arya gelagapan.
"Anu anu, anu apa? Ngomong yang jelas!" kata security itu tegas.
"Oh, Pak Mayjuna! Masuk ke dalam, tanya sama resepsionis. Jangan berdiri di sini! Saya pikir Bapak mau minta sumbangan" ucap Pak security.
Pak security lalu mengantar Arya masuk ke lobby. Ia juga mengantarkan Arya menemui resepsionis. Meski wajah Pak security garang, tapi hatinya baik juga. Security itu lalu kembali ke posisi semua setelah memastikan Arya berada di hadapan resepsionis yang akan membantunya bertemu dengan Juna.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis itu dengan ramah.
Arya kembali tak berkedip. Melihat wajah cantik Mbak-Mbak resepsionis membuatnya berdecak kagum. Arya tidak habis pikir apa yang dimakan perempuan di hadapannya sehingga bisa canti seperti itu? Sepertinya Arya harus bertanya agar Diandra bisa semakin kinclong dan glowing seperti perempuan di hadapannya.
"Saya mau bertemu dengan Bapak Mayjuna July Agustino" kata Arya.
"Pak Mayjuna? Maaf, Pak. Beliau sedang berada di Spanyol."
"Spanyol???" kedua netra Arya terbelalak. Ia juga menjewer telinganya karena khawatir jika Arya salah dengar.
"Benar, Pak. Beliau sedang menghadiri acara pernikahan rekan bisnis Nyonya Kiara, CEO di sini."
Arya kembali dibuat jantungan. Si Juna ke Spanyol hanya untuk kondangan? Ini gila! Tidak masuk akal bagi Arya!
__ADS_1
Dirinya saja yang terkenal anak juragan paling kaya di desanya, pergi kondangan paling jauh hanya ke Jakarta. Si Juna yang menurut Arya miskin, pergi kondangan ke Spanyol? Sekaya apa Juna sekarang? Arya semakin yakin jika ia salah orang.
"Kenapa, Pak?" tanya resepsionis itu.
"Hem..begini Mbak. Saya ingin mencari teman saya bernama Juna. Saya diberi alamat ini. Tapi kok rasanya bukan ya? Juna teman saya itu guru olah raga, tidak mungkin bekerja di kantor sebesar ini."
"Mungkin saja teman Anda salah memberi alamat, Pak. Mana mungkin guru olahraga bekerja di sini? Lagipula Pak Mayjuna yang saya bicarakan adalah seorang direktur keuangan bukan guru olahraga."
Arya manggut-manggut. Sedikit banyak ada kebingungan dalam hati dan kepalanya.
"Ada tamu untuk saya?" tanya Kiara yang tiba-tiba muncul di hadapan resepsionis.
"Selamat pagi, Nyonya. Tidak ada tamu untuk Nyonya. Tapi Bapak ini mencari Pak Mayjuna" resepsionis itu menunjuk ke arah Arya. Berhubung Arya sedang menghitung kancing, jadilah ia tidak memperhatikan keberadaan Kiara.
"Anda siapa? Mengapa mencari Mas Juna?" tanya Kiara to the point.
"Hah? Hah?" Arya kaget akibat tepukan keras dibahunya. Kiara memang usil. Orang lagi sibuk menghitung kancing malah ditepuk bahunya. Kaget kan si Arya?
"Kamu siapa? Mengapa mencari Mas Juna?" ulang Kiara.
"Sa...sa...saya Arya, teman main kelereng Juna waktu di desa" jawab Arya berbohong.
"Teman bermain kelereng? Di desa mana kalian bermain?" selidik Kiara yang tentu saja tidak langsung mempercayai ucapan Arya.
"Desa Papaten, Nyonya. Di Madura lebih tepatnya" jawab Arya.
Kiara menganggukkan kepalanya. Mendengar daerah yang disebutkan Arya membuat Kiara yakin jika Arya adalah teman Juna.
"Mas Juna sedang berada di Spanyol. Istrinya sedang di rawat di sana. Mungkin dia belum pulang dalam waktu dekat. Silakan Anda menuliskan nama dan nomor telepon. Nanti kalau Mas Juna sudah kembali ke Jakarta, saya akan beritahu jika temannya datang ke sini" kata Kiara.
Arya mengangguk pelan.
"Nyonya, saya mau bertanya boleh?" tanya Arya ragu.
"Silakan!."
"Apakah Juna yang bekerja di sini adalah guru olahraga di SMA Cendekia? Karena jujur saya sedikit tidak percaya jika Juna menjabat sebagai direktur keuangan di sini" kata Arya.
"Benar! Mas Juna dulu adalah guru olahraga. Saya bertemu dengan dia ketika di Pare, Kediri. Mas Juna menolong saya yang saat itu sedang diculik. Sehingga sebagai ucapan terima kasih, saya memberi jabatan itu kepada Mas Juna beserta saham di dua perusahaan."
"Sa...sa...saham?" Kepala Arya langsung berputar-putar. Ia tidak bisa membayangkan sekaya apa Juna sekarang.
Arya ingin bertanya lagi. Namun, ia takut hatinya tidak akan kuat menerima kenyataan. Arya memilih segera angkat kaki dari Sanjaya corp setelah menulis nama dan nomor ponselnya di buku yang disodorkan oleh resepsionis.
__ADS_1
"Sialan, aku kalah telak!" umpat Arya ketika keluar dari kantor Sanjaya corp.
"Aku harus mengurung Diandra. Dia tidak boleh kembali pada Juna. Diandra itu mata duitan. Dia pasti akan berusaha sekuat tenaga agar bisa kembali bersama Juna. Aku harus menyusun rencana, tapi otakku sedang buntu" gerutu Arya.