
"Aku patah hati"
ngenjreng... ngenjreng....
"Untuk kesekian kali"
ngenjreng...ngenjreng.....
Plak...
Juna menimpuk Suhri yang sedang asyik bernyanyi di bawah pohon mangga. Ia yang kebetulan lewat, tiba-tiba berhenti ketika mendengar Suhri bernyanyi. Lagu yang ia nyanyikan sama seperti lagu yang dinyanyikan oleh Fira kemarin. Namun, Suhri mengubah lirik lagunya dari aku jatuh cinta menjadi aku patah hati.
Juna merasa jika murid tengilnya itu sedang mengejeknya. Karena lirik lagu yang dinyanyikan Suhri sesuai dengan keadaannya sekarang. Juna merasa geram dan dengan cepat mencopot sepatunya lalu melemparnya ke arah Suhri.
"Pak Juna...!!! Apaan sih, Pak? Kenapa saya di timpuk pakai sepatu Bapak?" tanya Suhri kesal.
"Kamu!!!."
"Iya, saya. Kenapa, Pak?."
"Kamu ngeledek saya?."
Suhri mengernyitkan dahi.
"Pak Juna mabok? Sudah jelas-jelas saya bawa gitar sambil nyanyi, kenapa dibilang ngeledek?."
"Lagu yang kamu nyanyikan itu ngeledek saya, Suhri...!!!" teriak Juna.
"Riyan, Pak, Rian!!! Suhri mulu, Suhri mulu. Sudah dibilangin jangan panggil saya dengan nama kampungan itu, tetep aja" omel Suhri dan ia hendak beranjak pergi tapi segera dicegah Juna.
"Kenapa lagi sih, Pak Juned?."
Plak...
Juna memukul bahu Suhri yang memanggil dirinya dengan nama Juned
"Bapak maunya apa sih? Saya lagi patah hati. Tolong jangan ganggu saya" Suhri segera menepis tangan Juna.
"Kamu patah hati?" tanya Juna.
"Iya...!!!."
"Sama siapa?."
"Bu Lia lah. Guru idola sejuta umat."
Plak... Plak... Plak...
Juna kembali memukuli Suhri berkali-kali. Entah mengapa mendengar ucapan muridnya itu membuat Juna kembali emosi. Untung saja Andika lewat. Ia segera berlari dan menarik Juna agar menjauh dari Suhri.
"Rian, ke kelas sana!" perintah Andika.
"Nah ini baru bener manggilnya. Nggak kayak Pak Juned" kata Suhri kemudian segera berlari.
Juna yang masih dalam keadaan emosi tentu saja langsung berteriak, memanggil Suhri sembari melemparkan kedua sepatunya ke arah Suhri. Untung saja murid Juna itu gesit seperti kancil sehingga ia tidak terkena lemparan sepatu Juna.
"Sudah, Jun! Sudah! Kamu kenapa sih ? Pagi-pagi malah ribut sama murid? Malu, Jun. Malu sama umur" kata Andika mencoba menenangkan Juna yang masih emosi.
Juna tak menjawab. Ia masih menetralkan emosinya.
"Saya paham jika kamu masih patah hati. Tapi kamu juga harus profesional, Jun. Rian itu murid kamu, dia bukan pelampiasan emosi kamu" kata Andika menasehati Juna.
Juna tak menjawab. Ia masih memilih diam. Andika mengerti jika rekannya itu masih terpukul dengan pernikahan Lia. Ia paham jika hati Juna sedang tidak baik-baik saja. Dua kali di tinggal menikah, tentu saja akan menorehkan luka yang dalam.
Andika hanya berharap jika Juna tidak terlalu larut dalam mode patah hatinya. Toh ini juga karena sikapnya yang kurang cepat dalam mengejar jodohnya. Jadi biarkanlah ini menjadi pelajaran untuk Juna.
"Ikhlaskan ya, Jun. Kamu sama Hani mungkin belum jodoh. Kamu jangan terus begini dong. Harus semangat! Eh kalau mau aku kenalin nih sama guru SMP Cendekia. Namanya Farhah, cantik kok. Tapi tetep lebih cantik Hani."
Juna tak menyahut. Ia memilih angkat kaki dari hadapan Andika. Juna melangkah menuju parkiran. Moodnya sedang tidak bisa diajak untuk bekerja. Pulang atau kembali berkelana mungkin pilihan yang baik saat ini. Siapa tahu Juna kembali bertemu dengan Atha, perempuan yang ia temui di pantai kemarin.
"Eh, Pak Juna! Mau kemana, Pak?" tanya Lia.
Juna memicingkan kedua matanya. Ia heran melihat Lia yang berada di sekolah. Pengantin baru itu apakah tidak mengambil cuti? Ataukah cuti nikahnya sudah selesai?
Tidak mungkin Pak Zaini hanya memberi waktu cuti sebentar mengingat Lia sekarang adalah adik iparnya. Juna menduga Lia pasti bosan sehingga memilih tetap masuk meski jatah cutinya masih ada.
"Pak Juna kok melamun?" tanya Lia lagi.
"Oh... maaf. Saya mau pulang" jawab Juna.
"Pulang? Bukannya ini belum jam pertama? Pak Juna tidak mengajar?."
"Oh iya...!!! Maksud saya mau mengajar. Permisi" ucap Juna kemudian melewati Lia begitu saja.
Juna berjalan menyusuri koridor sekolah dengan tergesa-gesa. Seperti biasa murid - murid yang berpapasan dengannya akan memberi salam dan mencium tangan Juna. Beberapa kali Juna harus berhenti karena berpapasan dengan murid yang hendak mencium tangannya.
"Pak Juna....!!!."
__ADS_1
Juna menoleh ke belakang dan ternyata Lia juga berjalan di belakangnya. Juna Sedikit kaget dengan keberadaan Lia. Karena ia pikir mereka sudah berpisah sejak diparkiran tadi.
"Eh... Bu Lia di belakang saya? Maaf saya tidak tahu."
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Lia.
"Silakan, Bu! Dari tadi Bu Lia kan sudah bicara?."
"Jangan di sini lah, Pak. Di warung Bu Udin saja ya?" tawar Lia.
"Di ruang guru saja, Bu, sepertinya tidak ada orang kok" jawab Juna kemudian melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Lia menghela nafas. Ia memyusul Juna yang terus melangkah seperti orang kesetanan. Sesampainya di ruang guru Lia langsung menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Juna.
"Langsung saja. Kenapa Pak Juna tidak datang ke acara pernikahan saya?" tanya Lia.
"Saya ada urusan mendadak."
"Apakah sangat penting sehingga Pak Juna tidak menghadiri acaraku?."
"Penting, Bu. Sangat penting. Oleh sebab itu maaf sekali saya tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan Bu Lia dengan Noval."
"Tapi kata Dika, dia melihat Pak Juna dan menyuruhnya untuk masuk?."
"Benar. Waktu saya mau masuk, saya dapat telpon dari rumah karena ada urusan mendadak. Maaf ya, Bu Lia. Lagi pula saya ini bukan orang penting. Jadi meski tidak hadir, tidak akan berdampak apa-apa. Bu Lia jangan khawatir meskipun saya tidak datang, doa restu saya sudah saya kirimkan dari jauh" kata Juna enteng.
Lia menghentakkan kakinya kemudian berlalu meninggalkan Juna. Ia kesal dengan respon Juna yang nampak mengentengkan acara pernikahannya. Lia memilih duduk di tempatnya.
Juna melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Sepuluh menit lagi jam pertama di mulai. Juna segera bangkit dan pergi meninggalkan ruang guru. Ia memilih menunggu di lapangan saja, agar tidak berada satu ruangan dengan Lia.
Baru saja Juna menginjakkan kaki di lapangan, gerbang sekolah dibuka oleh Pak Udin. Lalu masuklah dua buah mobil ambulan. Juna mengernyitkan dahi. Ambulan? Ada apa ini? Siapa yang sakit? Ia segera berlari menghampiri mobil ambulan itu yang sudah terparkir rapi di pinggir lapangan.
"Nggak usah panik, Pak Juna. Mereka datang hanya untuk memberikan vaksin pada murid-murid" kata Pak Udin yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Juna.
"Vaksin?."
Pak Udin mengangguk.
"Lalu pelajarannya?."
"Hari ini bebas, Pak. Memangnya Pak Juna tidak baca info dari kepala sekolah? Pak Zaini kan sudah memberi tahu jika hari ini tidak ada pelajaran karena murid-murid akan divaksin. Setelah itupun mereka akan pulang" kata Pak Udin.
Juna menepuk dahinya. Ia langsung tertunduk lesu. Juna melangkai gontai menuju tempat duduk di pinggir lapangan. Juna memperhatikan dokter dan perawat yang keluar dari ambulan. Kedua netranya langsung membola ketika melihat sosok gadis berambut panjang yang turun terakhir kali.
Deg...
Juna segera bangkit dan berlari. Ia berteriak memanggil Athalia yang saat itu sedang berbicara dengan rekannya.
"Atha...!!!" Juna memanggil dengan nafas ngos-ngosan. Ia membungkuk sembari memegang kedua lututnya.
"Atha...!!!" panggil Juna lagi.
"Juna? Hei, kita bertemu lagi. Kamu mengajar di sini?" tanya Atha.
Juna hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Aku mau bicara" kata Juna.
"Upss maaf, Juna. Aku tidak bisa sekarang. Kau tahu kan kalau aku sedang bertugas."
"Nanti setelah tugasmu selesai. Aku akan menunggumu."
Atha mengangguk. Ia kemudian pergi bersama rekan-rekannya untuk melaksanakan tugas mereka. Juna bernafas lega. Setidaknya pencariannya berakhir.
"Maaf, membuatmu menunggu" Athalia menghampiri Juna setelah ia menyelesaikan tugasnya.
"Tidak apa-apa. Ayo kita ke warung Bu Udin! Kamu pasti lelah."
Mereka berjalan beriringan menuju warung Bu Udin. Juna memesankan lontong pecel dan segelas es teh untuk Atha dan dirinya.
"Makan dulu! Kamu pasti lapar."
"Aku makan dan kamu silakan berbicara apa yang ingin kamu katakan."
"Aku tidak ingin berbicara apa-apa. Aku hanya ingin tahu kisahmu. Lanjutkan ceritamu!."
"Kenapa? Penasaran ya?" Athalia menggoda Juna dengan menggerakkan kedua alisnya.
"Bisa dikatakan begitu."
"Sebenarnya kisahku tidak menarik. Kami tidak pernah berkenalan, tidak pernah bercakap bahkan kami sudah tidak bertemu lagi sejak insiden itu."
"Insiden apa?" tanya Juna penasaran.
"Bullying. Aku adalah siswi korban bullying dan pemuda itu tidak sengaja berada di tempat yang sama denganku ketika aku dibully teman- temanku. Pemuda yang memberikan bros kelinci ini sebagai hadiah karena aku berhenti menangis."
"Siapa namanya?."
__ADS_1
"Adira Putra Sanjaya, nama itu yang aku baca pada name tag snellinya. Entah itu namanya atau bukan."
"Dia dokter juga?" tanya Juna.
"Aku rasa begitu. Tidak mungkin kan pemuda itu memakai snelli jika dia bukan dokter?."
"Kalau ternyata bukan?."
"Itu artinya aku salah sangka" Athalia tertawa enteng.
"Mengapa kau sesantai itu Athalia?."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus menangis? mengamuk seperti orang gila? atau kabur ke jalanan tanpa arah dan tujuan sepertimu?" Athalia kembali tertawa.
Tiba-tiba Lia masuk ke warung Bu Udin. Atha yang melihat kedatangan Lia, seketika berhenti tertawa. Suasana yang semula ceria berubah menjadi canggung.
Lia langsung membuang muka dan pergi mencari tempat duduk yang jauh dari tempat mereka. Athalia mengamati Lia dengan seksama. Seketika senyum Athalia terbit dan ia langsung menyenggol lengan Juna.
"Dia yang membuatmu patah hati?" bisik Atha.
Juna tak menjawab.
"Cantik, menarik, dan sepertinya dia juga ada rasa padamu. Tapi....."
"Sudahlah, jangan membahasnya!" Juna bangkit lalu meninggalkan warung Bu Udin.
Atha berteriak memanggil Juna. Ia berlari berusaha mengejar Juna. Juna tidak merespon. Ia memilih terus berjalan dengan cepat.
"Juna, jika kamu tidak berhenti sekarang jangan harap aku mau berbicara lagi denganmu" ancaman Athalia berhasil membuat Juna berhenti.
"Kamu ingat perkataanku saat memasangkan ini?" Atha meraih tangan kanan Juna dan memperlihatkan gelang biru pemberiannya.
"Kamu pasti lupa!!! Bukankah aku sudah bilang kamu harus peka terhadap sekitar?."
Juna diam membisu.
"Juna, kamu tahu kenapa kamu patah hati? Kenapa gadis itu memilih menikah dengan pria lain meskipun ia memiliki rasa kepadamu?."
Juna tetap diam.
"Karena kamu kurang peka. Kamu kurang peka membaca situasi di sekitarmu sehingga kamu tidak cepat bergerak. Apa kamu melihat tadi bagaimana raut wajah perempuan itu?."
Juna menggeleng.
"Dia kecewa melihat kita. Dia pasti berfikir jika kamu gampang sekali pindah ke lain hati."
"Omong kosong. Kamu tidak pernah bertemu dengannya tetapi sudah menyimpulkan sebanyak itu. Apa jangan-jangan kamu itu dukun yang menyamar menjadi dokter?" tuduh Juna dan Atha hanya melotot ketika mendengar itu.
"Ckckckckckck... pantas ditinggal nikah. Kamu memang tidak peka. Cobalah perhatikan ekspresi dan bahasa tubuh lawan bicaramu. Meskipun bukan dukun, jika kamu peka saja. Kamu bisa mengetahui isi hati mereka."
"Maaf, dokter Athalia, sepertinya pembicaraan kita sudah melenceng jauh. Saya juga harus pulang karena ini sudah siang" kata Juna.
Juna hendak berlalu meninggalkan Athalia. Namun, ia mencekal pergelangan tangan Juna dan...
Bukkkk...
Juna segera memutar badannya ketika mendengar Athalia mengaduh kesakitan. Ia segera mengulurkan tangan untuk membantu Athalia berdiri. Athalia mengulurkan tangan kanannya hendak menyambut uluran tangan Juna. Namun, tiba-tiba seseorang menepis tangan Atha dengan keras.
"Aku peringatkan jangan kau sentuh kekasihku!."
Deg...
Diandra berdiri di antara Juna dan Atha. Ia menatap nyalang kepada Atha seakan siap untuk menerkamnya hidup-hidup.
"Diandra...!!! Kau...???."
"Diam, Jun...!!! Diam...!!!! Jangan coba-coba untuk mendekatinya karena aku tidak segan-segan akan melukai wanita keparat ini" ancam Diandra. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Juna.
"Sudah ku katakan jika aku menginginkanmu, Jun. Itu artinya tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku" teriak Diandra.
Plakkk...
Juna menampar Diandra.
"Kamu gila!!! Berhenti mengejarku! Kamu sudah menjadi istri orang. Jaga sikapmu!."
"Aku tidak peduli...!!! Aku tidak peduli...!!! Aku hanya menginginkanmu, Jun...."
"Tapi aku tidak...."
Juna mendorong tubuh Diandra hingga tersungkur. Ia langsung menghampiri Atha dan membantunya berdiri. Juna segera mengajaknya pergi ke tempat parkir untuk mengambil motor.
Ia membonceng Athalia, membawanya pergi meninggalkan sekolah. Juna tidak mau drama Diandra semakin menjadi-jadi jika mereka masih berada di sana.
"Apa dia masa lalu mu?" tanya Atha.
Juna mengangguk.
__ADS_1
"Berhati-hatilah dengannya! Dia sangat berbahaya. Dia bisa menghancurkan hidupmu, membawamu jatuh ke titik terendah jika kamu tidak kuat melawannya" pesan Athalia terdengar serius sekali di telinga Juna.