HEI JUN

HEI JUN
48


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Lily menatap pantulan wajahnya di cermin. Sudut bibirnya terangkat ke atas melihat betapa cantik paras yang dimilikinya. Lily mengambil lipmate berwarna merah, menambahkan pada bibirnya yang menurutnya masih belum memancarkan aura kesexyannya.


Dua minggu sudah Lily tidak bertemu Juna. Acara pertunangannya yang kacau akibat Juna pingsan membuat Lily harus dikurung oleh Papanya. Carlos mewanti-wanti Lily untuk tidak bertemu dengan Juna terlebih dahulu sebab Juna sedang menjalani therapy untuk mengobati trauma yang dialaminya.


Sebenarnya Lily menolak untuk berpisah dengan Juna. Ia malah ingin berada di dekat Juna dengan dalih untuk menemaninya therapy. Bagaimanapun sebagai tunangan yang baik dan benar, Lily harus berada di sisi Juna.


Lily juga penasaran apakah penyebab Juna trauma. Menurut Lily tingkahnya tidak begitu ekstrim. Belum juga bikin anak, hanya pemanasan di daerah wajah dan Juna pingsan hanya karena hal itu.


"Nona, ini makanan yang Nona pesan sudah matang. Sesuai perintah Nona, rasanya harus sesuai lidah orang Asia" ucap salah satu maid yang bekerja di rumah Lily.


Lily tersenyum senang. Hari ini ia akan mengunjungi Juna di kantornya. Menurut informasi yang Lily dapatkan dari Elang, Juna sudah kembali masuk sejak dua hari yang lalu. Namun, Elang masih melarang Lily untuk langsung menemui Juna karena Elang khawatir Juna akan kembali pingsan.


Lily menurut, tapi tidak untuk hari ini. Ia akan datang ke kantor untuk menemui Juna. Rasa rindunya sudah tidak terbendung lagi. Lily sudah meminta salah chef di rumahnya untuk memasak nasi uduk. Semoga saja dengan makanan ini Juna bisa sedikit rileks saat bertemu dengan Lily.


"Apa ada lagi yang Nona perlukan?" tanya maid itu.


Lily menggeleng. Ia segera mengambil lunch box yang dibawakan oleh maidnya tadi dan melangkah riang keluar dari kamarnya.


"Mobil sudah siap, Nona" sopir pribadi Lily membungkuk lalu memberikan kunci mobil kepada Lily.


Lily mengangguk. Ia segera melenggangkan kedua kakinya menuju halaman rumah. Dibelakangnya, sopir pribadi Lily berjalan mengekorinya.


"Aku ingin menemui tunanganku. Jika Papa bertanya dan menyuruhmu untuk menyusulku, katakan saja jika aku tidak mau privasiku diganggu" perintah Lily pada sopir pribadinya.


Ia segera masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil melaju meninggalkan kediaman Lily. Keempat rodanya mulai memecah jalanan, berpacu dengan kendaraan lain ditengah padatnya kota Barcelona.


Satu jam kemudian, Lily sudah tiba di kantor tempat Juna bekerja. Tanpa harus izin kepada resepsionis atau pihak lainnya, Lily langsung melenggang manja menuju ruangan Juna. Ruangan khusus dimana Juna sedang ditempa dengan berbagai keahlian dan pengetahuan.


Ceklek.


Lily membuka pintu dengan perlahan. Kedua netranya dapat melihat dengan jelas sosok pujaan hatinya yang sedang duduk menatap layar komputer. Ada seorang laki-laki yang bertugas menjadi mentor Juna dan kebetulan laki-laki itu melihat kedatangan Lily.


Lily segera memberi kode agar laki-laki itu keluar dari ruangan Juna. Laki-laki itu mengangguk dan segera angkat kaki dengan perlahan.


Efek serius dan terlalu bersemangat. Juna benar-benar tidak menyadari jika mentornya sudah pergi. Ia terlalu fokus menghitung angka-angka yang akan diolah ke dalam data statistika.


Kedua telinganya bahkan tidak mendengar suara sepatu Lily yang beradu dengan lantai. Juna mungkin menduga jika itu adalah suara tukang yang sedang mengetok palu di ruang sebelah. Ia tidak sadar jika di belakangnya, Lily sudah berjalan mendekat dan siap untuk memeluknya.


"Honey, aku merindukanmu" suara manja Lily langsung membuat Juna terkejut. Lily bisa merasakan bagaimana tegangnya tubuh Juna ketika ia peluk seperti itu.


"Rileks, aku hanya memelukmu. Nikmati saja. Apa kau tidak merindukanku?" tanya Lily dan benar saja Juna langsung menarik nafas berkali-kali, meregangkan otot-ototnya yang semula kaku.


"Bagus. Tidak usah tegang seperti itu. Kau harus terbiasa dengan sentuhanku. Karena aku sekarang milikmu dan kau adalah milikku" kata Lily.


Juna memejamkan matanya. Ia berhitung dari satu sampai delapan seperti arahan psikiaternya. Juna harus melawan rasa takutnya. Ia mulai mensugesti dirinya sendiri dengan kalimat- kalimat positif yang dapat menguatkan hatinya.


"Juna, ini hanya pelukan, tidak akan membahayakan dirimu. Dia Lily, tunanganmu. Dia tidak akan berbuat jahat kepadamu. Tenang, Juna! Tenang" Juna mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Ia berharap rasa takutnya akan hilang.


"Apa kau lapar? Aku membawakan nasi uduk untukmu. Kata Elang, kau sangat suka nasi uduk. Jadi aku meminta chef di rumah untuk memasak itu" Lily melepas pelukannya dan berpindah tempat. Ia menarik kursi di sebelah Juna dan duduk di tempat itu.


"Lily...."


"Ya?."

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat denganku dulu! Aku...aku..."


Lily segera menempelkan telunjuknya di bibir Juna. Andai saja boleh, Lily ingin menempelkan bibirnya saja. Lebih romantis dan hot, pikir Lily.


"Aku tidak membawa virus. Aku juga tidak berbahaya. Honey, aku tidak tahu trauma apa yang kau alami. Kau tidak sendiri. Aku akan menemanimu melewati masa-masa sulitmu" ucap Lily.


Lily menggenggam tangan kanan Juna dengan kedua tangannya. Dia bisa merasakan kulit tangan Juna yang dingin. Wajah Juna juga mulai memproduksi keringat dingin. Apakah Juna setakut itu padanya? Apakah wajah Lily menyeramkan sehingga Juna ketakutan seperti itu?


"Ayo, makan dulu! Aku akan menyuapimu" Lily segera melepas genggaman tangannya dan mulai membuka lunch box yang ia bawa dari rumah tadi.


"A...a...aku makan sendiri" cicit Juna menunduk.


"No! Aku akan menyuapimu seperti biasa" tolak Lily.


Wajah Juna langsung memerah. Seketika ingatannya muncul saat Lily selalu mendaratkan kecupan-kecupan ringan saat menyuapinya.


"Hei, Jun! Aku hanya menyuapimu. Mengapa kau sampai berkeringat dingin seperti itu?" tanya Lily heran.


Juna tak menyahut. Ia sedang mencoba melawan rasa takutnya.


Melihat Juna yang pucat pasi seperti itu, membuat Lily segera bangkit. Ia menutup kembali lunch box nya dan menarik tangan Juna agar bangkit dari tempat duduknya.


Lily membawa Juna keluar dari ruangannya. Otak Lily segera memberi sinyal agar membawa Juna ke ruang terbuka. Mungkin dengan begitu Juna akan merasa rileks dan nyaman bersamanya.


"Ke...ke...kenapa di sini?" tanya Juna gugup.


"Aku mau kau mendapat udara segar. Sepertinya AC di ruanganmu rusak sehingga kau berkeringat dingin seperti itu. Ayo, honey, kita makan di situ!" ajak Lily. Ia membawa Juna agar duduk di bangku kosong.


Lily menyerahkan botol air mineral kepada Juna. Juna langsung meneguk air itu hingga tandas. Setelah itu, Lily segera menyuapi Juna. Setidaknya hawa dingin air yang diminum Juna dapat menenangkan hatinya.


Perlahan dan penuh kasih sayang. Lily menyuapi Juna sampai sepiring nasi uduk pun habis. Juna rupanya mulai rileks berada di samping Lily. Ia tak lagi berkeringat dingin dan gugup.


Juna segera menggeleng, menolak ajakan Lily.


"Nanti malam ada pertandingan sepak bola di Stadion Barcelona. Apa kau mau melihatnya? Aku bisa menyuruh assistenku untuk membelikan tiketnya."


Juna kembali menggeleng. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menonton pertandingan sepak bola itu secara langsung.


"Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan mengantarmu pulang" ucap Lily. Ia segera membereskan lunch box bekas makan Juna.


"Tidak, Lily! Aku akan kembali ke kantor" tolak Juna cepat.


"No, no, no! Kau harus banyak istirahat. Kita pulang sekarang. Aku akan mengantarkanmu."


Lily langsung menarik Juna. Mereka kembali berjalan beriringan. Lily menghubungi seseorang di kantor Juna, menyuruhnya agar membawa mobil Lily ke depan lobby. Lily dan Juna akan menunggu di sana.


Benar saja, mobil Lily sudah bertengger di depan lobby saat Lily dan Juna tiba. Lily segera menyuruh Juna masuk dan duduk di kursi samping pengemudi sedangkan dirinya yang akan menyetir.


"Aku tidak mau pulang, Lily" rengek Juna.


"Aku tidak mau kau kelelahan. Kau harus segera pulih karena akan banyak acara penting yang harus kita hadiri bersama" ucap Lily mulai melajukan mobilnya.


Juna tidak membantah lagi. Ia memilih duduk dengan tenang sembari melihat pemandangan dari kaca mobil. Hening, baik Juna maupun Lily tidak ada yang membuka obrolan. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Satu jam kemudian, mobil Lily sudah memasuki area apartemen milik Juna. Apartemen itu diberikan Dira kepada Juna saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Spanyol.

__ADS_1


Juna dan Lily segera keluar dari mobil. Mereka langsung masuk karena sudah ada sesorang yang akan memarkirkan mobil Lily di basement. Lily berjalan mengekori Juna karena ia tidak tahu nomor unit apartemen Juna.


"Kenapa kau ikut masuk?" tanya Juna. Rupanya ia tidak menyadari bahwa sedari tadi Lily memang mengekorinya ke dalam.


"Tentu saja aku akan menemanimu, Juna."


"Tidak! Kau pulang saja. Aku akan beristirahat."


"Karena kau akan beristirahat. Maka aku akan menemanimu. Honey, tenanglah! Aku tidak akan menerkammu" ucap Lily menertawakan ketakutan Juna.


Juna mengangkat bahu. Ia melanjutkan langkahnya menuju unit apartemennya. Juna dan Lily masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju apartemen Juna.


Ting!


Pintu lift terbuka. Juna dan Lily segera keluar secara bergantian. Juna kembali melangkah hingga tiba di unitnya. Ia segera menempelkan kartu akses dan menekan password.


Ting!


Pintu apartemen Juna terbuka. Ia langsung masuk tanpa menyuruh Lily untuk masuk juga. Toh, Lily tanpa disuruhpun akan masuk sendiri. Begitu pikir Juna.


"Aku mau mandi, Lily" cicit Juna.


"Lalu?."


"Emm...bisakah kau di luar saja?" tanya Juna.


"Kenapa aku harus di luar? Kalau kau mau mandi, mandi saja sana. Aku akan menunggu di sini" ucap Lily. Ia kemudian berjalan menuju kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa ia olah.


Juna menarik nafas. Ia kemudian berlalu meninggalkan Lily yang sedang sibuk mengobrak-abrik isi kulkasnya. Juna bergegas ke kamar mandi. Tak lupa ia membawa baju ganti juga. Juna juga mengunci pintu kamar mandinya, khawatir Lily akan menerobos masuk dan ikut mandi bersamanya.


Setengah jam berlalu, Juna keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Kepalanya celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Lily. Juna hanya waspada, khawatir Lily tiba-tiba menyerangnya lagi.


"Kau mencariku, honey?."


Juna langsung terlonjak kaget ketika mendengar suara Lily. Kepalanya auto menoleh ke arah Lily dan betapa terkejutnya Juna ketika melihat Lily sudah berganti baju.


"Ke...ke...kenapa pakai piyama?" tanya Juna gugup. Pasalnya ia juga mengenakan piyama karena bersiap akan tidur.


"Aku akan menemanimu tidur" jawab Lily santai.


"Tidak! Tidak! Aku akan tidur sendiri" Juna kembali berkeringat dingin.


"Ayolah, Juna! Kau harus banyak berinteraksi denganku agar traumamu hilang. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Hanya menemani tidur dan sedikit kecupan tentunya" jawab Lily sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan, Lily! Aku mohon pulanglah saja. Aku tidak akan nyaman jika kau berada di sini" pinta Juna memelas.


"Sstttt..! Kau belum tahu rasanya tidur dipeluk wanita cantik sepertiku. Diam dan jangan banyak membantah. Kalau kau seperti itu terus. Kau tidak akan sembuh dari traumamu" ucap Lily.


Lily kemudian menarik tangan Juna. Ia menuntun Juna agar berbaring di ranjang tidurnya. Lily sengaja menyalakan lampu tidur dan beberapa aroma therapi untuk menenangkan pikiran dan tubuh Juna.


Meski di luar masih siang, Lily tak peduli. Setidaknya tidur siang ini akan menjadi langkah awal untuk menciptakan kemesraan antara dirinya dan Juna. Jika kali ini berhasil, Lily tidak akan menampik akan seterusnya tidur sekamar dengan Juna. Dengan begitu, Juna akan terbiasa bersama Lily.


"Aku tidak bisa tidur jika kau memelukku seperti ini Lily" ucap Juna membuyarkan lamunan Lily.


Lily yang semula sudah berbaring di sisi Juna, terpaksa bangun kembali. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Juna dan mengecup singkat keningnya.

__ADS_1


"Tidurlah! Kau harus terbiasa tidur denganku. Aku tidak akan melakukan apapun. Hanya memelukmu, honey, tidak lebih" ucap Lily dan ia kembali berbaring di sisi Juna.


Juna menarik nafas panjang. Ia kembali menghitung dalam hati. Butuh waktu lama bagi Juna agar bisa terpejam. Meski tidak nyaman di awal, Juna akhirnya bisa terlelap dalam pelukan Lily.


__ADS_2