
Atha mengoleskan lipstik berwarna merah terang pada bibirnya. Entah sudah lebih dari lima kali, bibir mungilnya ia lapisi dengan lipstik. Sudah tiga puluh menit, Atha berdiri di depan kaca. Ia merias wajahnya dengan berbagai macam alat make up.
Kali ini Atha mencoba tampil lebih berani. Ia juga memilih gaun yang tak kalah menantang. Seumur-umur Atha baru sekarang memakai gaun press body tanpa lengan dengan belahan paha yang tinggi. Warnanya juga terang menyala. Mungkin orang-orang akan silau jika melihat penampilan Atha sekarang. Jauh dari kata kalem dan elegan.
Atha membuka kopernya. Ia mengambil heels berwarna silver dan langsung memakainya. Sekali lagi ia berkaca, memastikan jika dandanannya sudah sempurna untuk menghadiri acara pernikahan rekan bisnis keluarga Sanjaya.
"Dia pikir aku tidak bisa cantik? Kau belum lihat bagaimana kalau singa betina mengamuk" gumam Atha sembari mengambil foto mirror selfie beberapa kali.
Atha tersenyum lebar. Ia melihat hasil foto-foto dirinya. Ia memilih satu foto yang paling cantik menurutnya, lalu ia menguploudnya di story media sosialnya.
I' m ready for tonite, begitulah caption yang disematkan oleh Athalia. Ia sangat senang karena bisa berdandan seperti Lily. Kalau sudah begitu, tidak akan ada yang meremehkan Atha lagi.
Ceklek.
"Astagaaa...!!! Sayang...!!" teriak Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kedua bola matanya hampir copot ketika melihat penampilan istrinya. Wajah full make up dan gaun kurang bahan.
Juna buru-buru menghampiri Atha. Ia memutar tubuh istrinya ke kanan dan ke kiri. Berkali-kali ia mengelus dada. Baju yang dikenakan Atha sungguh ketat sehingga memamerkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Astagaaa....!!!" teriak Juna. Lagi-lagi Juna dibuat jantungan ketika melihat punggung istrinya terekspose sempurna. Untung tidak bolong seperti sundel bolong.
Juna bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan istrinya? Setelah kemarin kesambet roh kembaran Kiara dan Dira. Sekarang, Atha kesambet roh kembaran Lily. Apa mungkin kedatangan Lily kemarin memberikan aura negatif kepada istrinya? Sehingga Atha bertingkah aneh seperti itu?
"Kau berisik sekali, Mas! Apa yang membuatmu berteriak seperti itu?" tanya Atha sok polos.
"Sayang...sayang...sayang... Ayo ganti baju! Aduh, kamu kesambet apa sih sampai memakai baju seperti itu" Juna segera berjalan menuju laci. Ia mengambil gunting besar guna melenyapkan pakaian laknat Athalia.
"Kau mau apa? Mengapa kau membawa gunting?."
Sraakkkkkk
Juna tak menjawab. Ia langsung mengeksekusi gaun kurang bahan yang dikenakan Athalia. Atha berteriak. Ia memukul punggung Juna berkali-kali.
"Kenapa bajunya digunting, Mas? Gaun itu mahal. Aku membelinya di butik terkenal" kata Atha gusar.
"Sayang, kamu tidak boleh memakai gaun seperti itu. Apa kau tidak sadar jika gaun itu kurang bahan? Kau bisa masuk angin."
"Gaun itu bagus, Mas. Aku belinya pakai dollar. Nggak ada gaun seperti itu di Jakarta."
Juna kembali menggelengkan kepalanya. Roh kembaran Dira kembali merasuki tubuh Atha. Sejak kapan istrinya itu punya uang dollar? Setahu Juna, isi dompet Athalia semuanya rupiah. Atha juga tidak memegang kartu saktinya karena ia selalu menolak jika Juna memberikan kartu saktinya.
Atha merajuk. Ia membuka baju yang sudah digunting oleh Juna dan menggantinya dengan daster rumahan. Atha langsung naik ke atas kasur. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh badannya dengan selimut itu.
"Ngambek deh" gumam Juna.
Ia lalu melangkah menuju tempat tidur, menyusul istrinya yang bersembunyi di balik selimut.
"Aku benci kamu" ucap Atha. Ia membuanf muka saat Juna menatap wajahnya.
Juna terkekeh melihat tingkah istrinya. Ia semakin merasa jika istrinya perlu berendam di dalam sungai agar tidak konslet seperti itu.
"Sayang, dengarkan aku. Gaun itu tidak bagus. Saya sudah menyiapkan gaun untukmu. Mengapa malah membeli gaun seperti itu? Gaun pilihan saya tak kalah bagus kok, belinya pakai euro lagi bukan dollar" bujuk Juna dengan suara yang lembut selembut detergen.
__ADS_1
"Gaunmu jelek, mirip kurungan ayam" cibir Atha dan itu lagi-lagi membuat Juna terkekeh geli.
"Mana ada kurungan ayam? Itu kurungan beruang, sayang, bukan kurungan ayam."
"Juna...!!!" teriak Atha kesal. Ia langsung mendaratkan sebuah pukulan di bahu Juna. Atha yang sudah kesal, semakin menjadi-jadi setelah mendengar ucapan Juna.
"Kamu sejak kapan bar-bar seperti ini hah? Kesambet di mana? Kemana istriku yang lemah lembut seperti putri keraton?" goda Juna.
"Dengar ya, sayangku! Jangan pernah membeli apalagi memakai baju seperti tadi. Saya tidak suka dan tidak ikhlas. Lekuk tubuhmu terlihat jelas. Banyak laki-laki yang akan menikmati tubuh molekmu dan saya tidak ikhlas akan hal itu" ucap Juna lagi.
"Aku hanya ingin tampil cantik, Mas" kata Atha.
"Memangnya selama ini kamu tidak cantik? Justru kamu terlihat menakutkan jika memakai gaun seperti itu. Saya pikir sundel bolong nyasar ke sini. Ternyata.... Ah, istriku sedang cosplay tokoh hantu" ucap Juna cekikikan.
Atha memonyongkan mulutnya. Ia sedikit malu mendengar ucapan Juna yang mengatakan jika dirinya seperti sundel bolong.
Juna beranjak dari tempat tidur. Ia kemudian mengambil gaun yang tadi dibelinya secara online. Juna membangunkan istrinya. Ia membuka baju daster yang dipakai Atha lalu memakaikan gaun yang dibelinya.
"Cantik sekali. Kalau seperti ini seperti putri keraton istriku ini" puji Juna membuat Atha tersipu malu.
"Make up nya hapus ya. Ini terlalu tebal. Kamu bukannya tambah cantik melainkan tambah aneh seperti dakocan. Ayo, saya bantu benerin make up kamu! Kita harus cepat karena sebentar lagi akan ada sopir yang menjemput kita" ajak Juna.
Atha mengangguk. Perhatian dan kasih sayang Juna membuat rasa kesalnya menguap. Juna segera mendudukkan Atha di depan meja rias. Ia membersihkan make up di wajah Atha dan membantu Atha untuk berdandan ulang.
Juna memilihkan warna lipstik untuk istrinya. Ia tidak mau Atha memakai lipstik terlalu terang karena itu dapat menggoda iman laki-laki hidung belang di tempat acara.
Ting!
"Sopir sudah menunggu, sayang. Ayo kita segera keluar" ajak Juna.
Atha mengangguk. Ia segera berdiri dan bergegas berjalan di samping Juna.
"Sayang, kamu belum pakai alas kaki" ucap Juna.
Atha melihat ke bawah. Ia tersenyum malu menyadari kesalahannya.
"Pakai flatshoes saja ya? Jangan heels! Saya takut kamu keseleo."
Atha hanya mengangguk. Juna mengambilkan flatshoes untuk Atha dan memakaikannya. Tak lupa Juna mengambil tas kecil untuk Atha guna menyempurnakan tampilan istrinya.
"Terima kasih, Mas! Sayang kamu" ucap Atha kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Juna.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju lobby guna menghampiri sopir yang sudah siap untuk mengantarkan mereka.
***
"Selamat datang Pak Mayjuna dan istri. Maaf saya tidak bisa menjemput kalian secara langsung" ucap Edward lalu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Juna.
Juna membalas uluran tangan Edward. Setelah itu Edwars beralih mengulurkan tangannya kepada Athalia.
"Mari masuk, scan barcodenha dulu!" kata Edward yang langsung dituruti oleh Juna.
__ADS_1
Juna dan Atha masuk beriringan menuju venue pernikahan. Atha tak dapat menahan rasa takjubnya ketika melihat dekorasi dan interior venue itu yang sangat mewah dan elegan. Berkali-kali Atha menganga dan melamun sehingga Juna harus menepuk bahu istrinya agar tersadar lamunannya.
Edward menunjukkan meja untuk Juna dan Atha. Ia mengantarkan pasangan suami istri itu dan memastikan jika mereka mendapatkan pelayanan yang nyaman.
Edward memang diberi tugas oleh Kiara untuk mendampingi Juna. Kiara khawatir Juna kesasar atau hilang. Kiara juga takut jika Lily berulah yang bisa menyebabkan Juna kembali trauma. Oleh sebab itu Kiara meminta bantuan Edward Meskipun Edward sudah tidak bekerja di Sanjaya corp.
"Apa ada yang kurang, Pak Mayjuna dan istri?" tanya Edward sopan.
"Tidak, Pak Edward. Kami sudah nyaman."
"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu" kata Edward lagi.
"Loh? Mau ke mana Pak Edward?" tanya Juna bingung.
"Saya akan duduk di sana. Meja saya di sana, Pak Mayjuna" kata Edward sembari menunjuk meja yang berada di depan.
Juna mengangguk. Ia kemudian mempersilakan Edward untuk pergi.
Tak lama acarapun dimulai. Juna dan Atha mengikuti rangkaian acara sakral itu dengan hikmat. Alunan musik syahdu, untaian kalimat-kalimat indah sungguh membuat hati para undangan tersentuh.
Berkali-kali Atha menyeka sudut matanya. Ia teringat saat mereka menikah dulu. Tidak ada senyum pada wajahnya. Tidak ada rona bahagia yang terpancar dalam dirinya. Atha langsung murung. Ia benar-benar menyesal telah bersikap seperti itu.
"Sayang, kenapa sedih?" tanya Juna. Ia langsung mengambil tissu dan menyeka sisa-sisa air mata di sudut mata istrinya.
"Aku hanya ingat saat kita menikah, Mas. Aku benar-benar jahat. Acara sesakral itu malah aku acuhkan. Aku memang jahat, Mas" ucap Atha. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Juna.
Juna mengusap surai indah istrinya. Ia menenangkan hati istrinya yang entah mengapa berubah menjadi mellow.
"Jangan sedih! Semua sudah berlalu. Apa kamu mau mengadakan resepsi, sayang? Kemarin kita hanya mengadakan akad sederhana. Banyak dari teman kita yang belum diundang" kata Juna menawari.
"Tidak, Mas!" tolak Atha cepat.
"Nanti saja kita undang teman-teman kita kalau aku sudah mengandung" lanjut Atha.
Juna memeluk Atha dengan erat. Kalau sudah membahas masalah itu, Juna akan bingung untuk menanggapi. Biarlah ia diam saja mencari aman. Daripada salah menjawab, bisa berabe kan?
"Honey..."
Juna dan Atha kompak menoleh ke belakang. Mereka langsung memasang tampang jutek ketika melihat Lily yang berjalan menghampiri meja mereka.
Lily berjalan berlenggak-lenggok. Ia sengaja ingin menggoda Juna agar tergiur dengan tubuh moleknya. Tak hanya itu, Lily juga memakai gaun jaring-jaring berwarna hijau terang yang lebih banyak mengekspose tubuhnya daripada menutupi tubuhnya.
"Mas, fansmu datang" bisik Atha kesal.
Juna bergidik ngeri melihat penampilan Lily yang mirip daun pisanv yang terkena angin topan. Andai saja ada karung, Juna pasti akan menutupi Lily dengan karung sehingga pandangan matanya tidak ternoda.
"Sayang, apa kamu lapar?" tanya Juna.
"Lapar?" Atha balik bertanya.
"Ya, melihat Lily seperti itu membuatku ingin makan lemper. Ayo, kita ke stand makanan! Siapa tahu di sana ada lemper" ajak Juna mengacuhkan kedatangan Lily yang sudah duduk di hadapan mereka.
__ADS_1