
Tok... Tok... Tok...
Juna menghentikan aktifitasnya ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Juna memang mulai beraktifitas lagi di SMA Cendekia. Ia ingin menyibukkan dirinya agar tidak larut memikirkan masalah rumah tangganya.
Sejak pukul enam pagi, Juna sudah memgurung diri di ruang kerjanya. Ia berkutat dengan laptop dan berkas-berkas yang merupakan pekerjaannya di Sanjaya corp.
"Masuk!" perintah Juna.
Ia sebenarnya enggan menerima tamu. Namun, ketukan pintu ruangannga tak kunjung berhenti. Juna akhirnya menyuruh si pengetuk pintu masuk agar ia tidak terganggu lagi.
"Pak May, maaf mengganggu" kepala Fira menyembul dari balik pintu. Ia kemudian melangkah perlahan menghampiri meja kerja Juna.
"Duduk! Ada perlu apa?."
Fira segera menuruti perintah Juna. Ia menarik kursi di hadapan Juna dan mendudukkan dirinya di sana.
"Pak May, emm emm emm" Fira nampak berfikir sejenak. Ia ragu untuk mengatakan tentang maksud dan tujuannya kesana.
"Emm emm apa Fira?."
"Emm emm saya mau minta maaf" ucapan Fira membuat Juna menaikkan satu alisnya.
"Minta maaf? Untuk?."
"Untuk permintaan Ayah saya. Pak May pasti kepikiran kan? Saya benar-benar tidak enak hati sama Pak May. Pak May tidak usah menghiraukan permintaan Ayah. Ayah memang banyak pikiran sehingga ucapannya ngelantur" kata Fira menjelaskan.
Juna mengangguk.
"Saya juga meminta maaf atas sikap saya selama ini Pak May. Saya sadar jika selama ini saya kurang sopan dengan Bapak."
"Oh ya? Kamu merasa begitu?" tanya Juna.
Fira mengangguk. Ia tak berani menatap Juna.
"Saya malah tidak merasa begitu Fira. Sudahlah, jangan merasa bersalah terus. Saya tidak merasa jika kamu tidak sopan pada saya. Anggaplah saya teman kamu. Saya tidak terlalu kaku kok dengan anak buah" ucap Juna.
"Terima kasih, Pak May. Saya mohon pamit karena ada jam mengajar" Fira langsung bangkit dan membungkukkan badannya. Ia lalu memutar badannya dan berjalan meninggalkan ruang kerja Juna.
Krucuk...krucuk..krucuk..
Perut Juna berbunyi. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Jam sarapan Juna sudah terlewat selama satu jam.
Juna bangkit dari tempat duduknya. Ia bergegas menuju warung Bu Udin untuk memesan lontong pecel. Entah mengapa Juna tidak pernah bosan menyantap jualan Bu Udin itu. Masakan rumahan itu sungguh membuatnya jatuh cinta.
"Eh, Pak May! Tumben kemari?" sapa Andika yang ternyata juga sedang sarapan di warung Bu Udin.
Juna tak langsung menjawab. Ia malah mengambil posisi tepat di sebelah kanan Andika.
"Waduh, Pak! Mimpi apa semalem duduk berdampingan sama pemilik sekolah begini. Pak May, maaf-maaf saja ya. Bukannya saya ngusir, tapi saya sungkan duduk satu bangku sama Bapak. Nanti orang-orang pikir saya mau ngejilat Bapak" ucap Andika hendak bangkit dari tempat duduknya.
Juna menggelengkan kepalanya. Ia langsung memberi kode kepada Andika untuk tetap duduk. Andika yang sudah berdiri, mau tidak mau kembali duduk. Ia menyantap kembali lontong pecel yang tinggal separuh porsi.
__ADS_1
Jika tadi Andika menyantap makanannya dengan grasa grusu. Setelah ada Juna, Andika memelankan tempo suapannya. Sungguh Juna ingin menjitak Andika yang bersikap sok sungkan kepadanya.
"Biasa saja makannya. Sejak kapan kamu seperti siput kalau makan?" sindir Juna.
Ia langsung menyuapkan lontong pecelnya setelah Bu Udin menyodorkan pesanannya. Juna makan dalam diam. Seperti biasa ia akan menambah tempe dan bakwan goreng.
Juna membelah gorengan-gorengan itu terlebih dahulu menjadi bagian-bagian kecil. Ia menganggap gorengan itu sebagai lauk karena lontong pecel Bu Udin selain tidak mengenyangkan di perutnya juga tidak berlauk pauk. Hanya lontong dan sayur. Kurang bergizi menurut Juna.
Andika memperhatikan cara makan Juna. Ini adalah pertama kali ia melihat pemilik sekolah makan. Biasanya Juna akan makan di ruang kerjanya. Pemandangan itu membuat Andika tertegun.
"Juna?" Tanpa sadar, tangan Andika menyentuh bahu Juna.
Juna yang hendak menggigit bakwan goreng di piringnya tentu saja mengurungkan niatnya.
"Kamu manggil siapa?" tanya Juna membuat Andika langsung gelagapan.
"Eh, Eh, Maaf Pak May. Saya salah orang" Andika segera menarik tangannya. Ia benar-benar malu sudah berbuat lancang pada Juna.
"Santai saja. Lanjutkan makanmu" perintah Juna.
Andika mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba hatinya tidak tenang. Ia penasaran dengan sosok pemilik sekolah yang sedang makan di sampingnya. Andika lagi-lagi mengenali gestur tubuh Pak May. Benar-benar seperti Juna, sahabatnya yang diisukan tewas terbakar.
"Pak!" panggil Andika.
"Ya?."
"Boleh minta foto nggak?" tanya Andika malu-malu.
"Buat dipajang di story, Pak. Nanti saya tulis caption bersama Bapak pemilik SMA Cendekia yang baru, boleh kan Pak?" tanya Andika memelas.
Juna yang dasarnya memang polos hanya mengiyakan permintaan Andika. Andika segera mengambil ponselnya dan meminta Juna agar melihat ke arah camera.
"Senyum dong, Pak May! Satu...dua...tiga..."
Cekrekkkk
"Lagi ya, Pak! Satu...dua...tiga..."
Cekrekkkk
Andika langsung nyengir kuda. Ia mengucapkan terima kasih kepada Juna dan mempersilakan Juna untuk lanjut makan. Andika mengirim foto-foto yang baru ia ambil kepada seseorang. Ia melakukannya dengan tangan kirinya sehingga Juna tidak melihat apa yang ia kerjakan.
Tringgggg....
Ponsel Andika berbunyi. Ternyata panggilan video call dari Lia. Andika segera mengangkat panggilan video call itu. Tak lupa ia memasang headsfree agar Juna tidak mendengar suara si penelepon.
"Pak May, mohon maaf. Saya mau video call sama ayang. Pak May apa tidak keberatan jika saya menjawab video call si ayang di sini?" tanya Andika.
Juna mengangguk. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Andika. Juna lebih memilih menyantap bakwan goreng yang baru saja ia comot lagi dari nampan. Juna tidak tahu jika Andika dengan usilnya mengarahkan camera ponselnya ke arah Juna.
"Dikaaa.... Lu ngapain sih siang-siang begini ngirim foto sama cowok cakep? Nanti kalau laki gue tahu bisa ngamuk lho" omel Lia.
__ADS_1
Kedua tangan Lia langsung menutup mulutnya ketika bukan sosok Andika yang terlihat di layar ponselnya melainkan Juna yang sedang asyik melahap bakwan goreng.
"Dikaaa.... Mau lu apa sih? Siapa orang itu? Kemana wajahlu? Kurang kerjaan banget sih nih anak" Lia kembali mengomel.
"Aku jatuh cinta..... Untuk kesekian kali...."
Andika bukannya menjawab pertanyaan Lia melainkan bernyanyi lagu cinta milik Dewa 19. Andika memang sedang mengetes baik Lia dan Juna. Bagaimanakah reaksi dua orang itu ketika ia menyanyikan lagu itu. Lagu yang dinyanyikan Suhri saat Juna akan menembak Lia.
Sebenarnya saat itu Andika dan Lia berada tak jauh dari tempat Juna dan Suhri. Mereka diberi tahu Suhri jika Juna akan menembak Lia. Info dari Suhri itulah yang membuat Andika dan Lia bersembunyi agar bisa mengintip persiapan Juna yang akan menembak Juna.
Namun, sayang belum juga menembak. Juna sudah dipanggil Pak Zaini dan diminta pergi untuk pelatihan. Sebenarnya saat itu Lia sangat kecewa. Ia sampai menggigit bahu Andika sebagai pelampiasan amarahnya.
"Nggak jelas nih anak. Malah nyanyi" kata Lia ketus.
"Pak Andika lagi ngerayu istrinya?" tanya Juna.
Andika tidak menjawab. Ia hanya nyengir kuda menanggapi pertanyaan Juna. Juna yang sedikit tidak asing dengan lagu yang dinyanyikan Andika sebenarnya sedikit kaget. Ia teringat saat dirinya hendak menembak Lia tapi gagal sebelum pelatuk ditarik.
"Oh cintakuuuu.... Ku mau hanya kamuuu... Yang jadi kekasihku... Jangan pernah berubah...."
Andika mengganti lagu baru. Ia menyanyikan lagu milik Marcel yang berjudul jangan pernah berubah. Lagu itu adalah lagu kebangsaan Lia saat dirinya galau menerima atau menolak lamaran Noval.
"Dikaa... Stop nyanyi nggak jelas! Anak gue nangis denger suara elu."
Lia buru-buru memutuskan panggilan video callnya. Hal itu membuat Andika berteriak agar Lia tidak melakukan hal itu.
"Yah...." gumam Andika kecewa.
Juna yang melihat tingkah aneh Andika hanya mampu mengelus dada. Tiba-tiba ponsel Juna berbunyi. Nama Kiara muncul di layar ponsel Juna. Juna buru-buru mengambil ponselnya. Ia dengan asal menyomot selembar uang pecahan seratus ribuan.
"Mas Juna, halooooo! Haloo! Haloooo!" teriak Kiara.
"Halo, Nyonya. Sebentar saya pindah tempat dulu."
Juna buru-buru pergi meninggalkan warung Bu Udin. Sinyal di tempat itu jelek sehingga suara Kiara terdengar tidak jelas. Juna tidak sadar jika dompetnya masih berada di atas meja warung Bu Udin. Ia yang tergesa-gesa menjawab panggilan telepon dari Kiara melupakan benda penting itu.
"Eh, dompet Pak May!" gumam Andika dalam hati.
Andika mengambil dompet milik Juna. Niat hati akan membawa dompet itu ke sekolah dan mengembalikan pada Juna. Entah setan darimana, tangan Andika malah membuka dompet Juna. Ia melihat jejeran kartu pada dompet itu.
"Wah, KTP Pak May nih! Namanya emang kayak gitu" seru Andika.
Ia hendak menutup dompet Juna. Namun, lagi-lagi ada setan yang mengalihkan pandangannya. Andika tertegun ketika melihat tempat tanggal lahir yang tertera pada KTP itu.
'Kok sama kayak tempat tanggal lahir Juna?' gumam Andika.
Andika mengambil kartu KTP itu. Namun, kedua netranya terbelalak manakala melihat ada kartu KTP lagi di belakangnya. Kartu KTP itu sudah pudar. Mungkin sudah cetakan lama.
Andika buru-buru mengambil KTP itu. Jantungnya seakan mau copot saat melihat wajah yang nampak di foto itu. Ia membandingkan kedua KTP itu. Tanggal lahirnya sama dan....
Andika kembali hampir dibuat jantungan. Tanda tangan di kedua KTP itu sama. Andika hampir limbung. Ternyata firasatnya tidak salah.
__ADS_1
'Orang itu... Orang itu.... Juna???"